Solo Butoh #1

Untuk pertama kalinya, Studio Plesungan mengadakan Solo Butoh, yang merupakan ajang pertunjukan Butoh, sebuah seni gerak yang pada awalnya dirintis di Jepang pada tahun 1950an. Butoh di Jepang muncul seiring bersama gerakan di dunia seni rupa dimana saat kaum avat garde muncul untuk mendobrak konvensionalitas seni pada jaman itu. Seni yang menggunakan medium utamanya adalah tubuh dan gerak ini memiliki prinsip bahwa tubuh kita menyandang dimensi raga dan nyawa, jasad dan jiwa. Tubuh dalam Butoh menjadi tataran metafora kisah.kisah hidup dan mati manusia dalam peradabannya. Tubuh Butoh tidak hanya menjadi pelaku namun juga menjadi wadah sebuah proses untuk menjadi sebuah pemaknaan baru. Butoh mengungkapkan realitas

Dalam sejarahnya, sejak persinggungan Butoh dengan dunia seni pertunjukan, khususnya tari di Eropa, Butoh diterima lebih sebagai pertunjukan tari. Pergeseran pemaknaan Butoh yang menjadi sebuah tari, menjadi perdebatan bagi kalangan

Pada perkembangannya sekarang, Butoh memberi banyak tawaran dengan berbagai variasinya dari segala jenis alirannya. Bagi sebagian pelaku Butoh, panggung-panggung kecil dan alternatif atau eksperimenal seperti di cafe atau bar, di galeri kecil, ruang-ruang alrenatif, masih menjadi pilihan mereka untuk menampilkan karyanya dalam kesederhanaan. Sementara, banyak juga kelompok-kelompok Butoh yang mengisi panggung-panggung teater besar dan menampilkan Butoh dengan tatanan koreografi yang merujuk pada estetika panggung kontemporer.

Butoh banyak diminati pula oleh para pelaku teater di seluruh dunia. Pemahaman Butoh oleh para praktisi teater sedikit agak berbeda dengan mereka yang berada dalam orientasi tari. Estetika tubuh kepurbaan dan metafora ketubuhan Butoh banyak diadaptasi dalam bentuk physical theatre.

Tokoh-tokoh Butoh yang dikenal besar pengaruhnya, seperti Tatsumi Hijikata, Kazuo Ohno, Maro Akaji, Yoko Ashikawa, Ushio Amagatsu, Anzu Furukawa, Katsura Kan, Kim Itoh, Waguri, Charlotta Ikeda, Min Tanaka, Saburo Teshigawara, Yoshito Ohno, dan masih banyak lagi, masing-masing mempunyai kekhasan metode dan gaya yang berbeda- beda, yang kemudian hingga generasi ketiga di tahun sembilanpuluhan dan generasi ke empat di abad milenium ini, memperkaya ragam Butoh di seluruh dunia. Butoh tidak akan pernah mati, karena Butoh yang sesungguhnya tetap bisa berjalan di jalur-jalur seni marjinal dan non komersial. Kekuatan Butoh dalam lsafat tubuh dan posisi kebudayaan Jepang, menjadi semacam kritik yang terus mengidap dalam perkembangan kebudayaan masyarakat Jepang khususnya, namun juga bagi kebudayaan masyarakat lain yang ingin memahami hubungan sejarah gelap bangsanya dengan kemanusiaan dalam peradaban kini.

Butoh hadir sejak tahun 70-an di Indonesia, melalui beberapa lokakarya yang diberikan di komunitas seni, teater maupun lembaga pendidikan seni pertunjukan. Min Tanaka, Waguri, Yoshito Ohno dan Katsura Kan, adalah tokoh-tokoh yang telah kerap kali hadir dalam pertunjukan maupun pelatihan Butoh. Penularan tehnik dan metode ini banyak disalurkan dalam berbagai bentuk kreasi berbagai pertunjukan tari dan teater di Indonesia. Misalnya sperti kelompok teater tubuh seperti Teater Payung Hitam dari Bandung, adalah salah satu yang nampak banyak mengadaptasi metode ketubuhan Butoh dalam banyak penyajian naskahnya. Di dunia tari pun banyak sekali yang mengadaptasi tubuh Butoh dalam karya-karya kontemporernya, seringnya digabung dengan eksplorasi yang digabungkan dengan pemaknaan baru atas tubuh tradisi. Marintan Sirait, perupa dan seniman performance art dari Bandung, menggunakan elemen Butoh dalam proses penciptaan gerak dalam karya-karya performancenya. Dia banyak memaknai tubuh dengan elemen waktu dan terciptanya suasana.
Pendek kata, Butoh tidak lagi menjadi kata asing bagi pelaku dan publik seni di tanah air, terutama di tahun delapanpuluhan dan sembilanpuluhan. Namun apresiasi dan kritik nampaknya tidak terjaga dikarenakan menurunnya jumlah pertunjukan Butoh. Lalu bagaimana kita bisa paham tentang sebuah bentuk kesenian tanpa sering mengamatinya?
Studio Plesungan menyelenggarakan Solo Butoh terutama untuk menjalin kembali mata rantai pengetahuan yang terputus tentang Butoh dan pengaruhnya di tanah air. Tidak semata untuk melestarikan praktik Butoh, namun lebih memberi kesempatan dan ruang untuk mempelajarinya dan mengapresiasi karya-karya Butoh. Selain sebagai salah satu pilihan yang bisa ditawarkan bagi mereka yang haus akan pengetahuan lain tentang tubuh dan ketubuhan, mengenal Butoh dengan lebih dekat akan memberi kontribusi tentang asal usul pengaruh gerak yang nampak tidak asing ini di dunia tari dan terater kita.
Solo Butoh merupakan program baru Studio Plesungan yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali dan mengundang seniman-seniman serta peminat Butoh dari berbagai belahan dunia.

Dalam Solo Butoh #1, Studio Plesungan mengundang Katsura Kan, salah satu tokoh dan guru Butoh yang telah sering mengunjungi Indonesia sejak tahun 80-an. Diawali dengan workshop yang telah Katsura Kan berikan di tahun 2014 dalam rangkaian acara „undisclosed territory #7“, kali ini Kan hadir khusus untuk memberi workshop dan mengajak para pesertanya untuk tampil bersama maupun secara individual di ajang Solo Butoh #1. Dengan tema „Surealisme Daging – surrealisme of flesh“ workshop yang diberikannya mencakup materi-materi tentang sejarah Butoh, metode observasi untuk memahami daya kognitif baru tentang tubuh, mengamati mitologi sabagai gagasan, dan bagaimana mentransformasikan gagasan kedalam sebuah karya untuk disajikan kepada publik.

WORKSHOP by Katsura Kan , Japan

PERFORMANCE : Saturday, 16 December 2017

Katsura Kan

Agus Margiyanto

Eva Kurnia
Hana Yulianti

Kurniadi Ilham
Djiwo

Mechtildis Halim

Retno Sulistyorini

Takashi Takiguchi

YuFang Du

Zanudhimas Safrudin

Musik:
Misbahuddin, Reza Iriansyah, Gondrong Gunarto
dibantu oleh Aco dan Dion

Light : Yunianto Dwi Nugroho