Artist in Residence
Kamelia Kenchana
16 – 30 Juni 2025

Selama masa residensinya di Studio Plesungan, Kamelia Tufah Kenchana akan memperdalam eksplorasi artistiknya tentang ritual penyembuhan yang diwujudkan melalui keterlibatan langsung dengan jamu, obat herbal tradisional Indonesia. Residensi ini berangkat dari ketertarikannya pada pengetahuan yang diwariskan melalui tubuh—pengetahuan yang hidup dalam gestur, ritme, suara, dan relasi sosial sehari-hari.
Dalam prosesnya, Kamelia berupaya mengikuti keseharian perempuan jamu gendong di Solo, untuk mengamati dan merespons praktik meracik serta membagikan jamu sebagai tindakan perawatan yang bersifat komunal. Ia menempatkan jamu bukan semata sebagai objek etnografis, melainkan sebagai praktik hidup yang terus beradaptasi, sekaligus menyimpan ingatan budaya yang berlapis.
Residensi ini juga membuka ruang bagi Kamelia untuk menyelami konteks budaya Jawa melalui kunjungan ke museum, pertunjukan seni, serta dialog dengan seniman dan komunitas lokal. Pertemuan-pertemuan ini menjadi bagian penting dalam memperluas pemahamannya tentang ritual, tubuh, dan penyembuhan sebagai praktik yang bersifat relasional dan kontekstual.
Di akhir residensi, Kamelia akan membagikan proses riset dan refleksi artistiknya melalui sebuah presentasi publik dan diskusi seniman, sebagai bagian dari praktik berbagi pengetahuan dan proses yang masih terus berlangsung.
Kamelia Tufah Kenchana (lahir 2000) adalah seniman rupa asal Singapura yang praktiknya sangat dipengaruhi oleh latar belakang panjangnya dalam seni pertunjukan. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam pelatihan dan pementasan tari tradisional Melayu, Kamelia membawa kepekaan koreografis ke dalam karya-karya rupanya yang mencakup performans, instalasi, dan video. Ia meraih gelar BA (Hons) in Fine Art dari Nanyang Academy of Fine Arts, bekerja sama dengan University of the Arts London.
Berakar pada warisan budaya Jawa–Melayunya, praktik Kamelia menelusuri tema-tema tentang ingatan budaya, pengetahuan yang terpatri dalam tubuh, serta penyembuhan melalui ritual. Tubuh kerap hadir dalam karyanya sebagai subjek sekaligus medium—melalui gerak, gestur, dan pengalaman sensorik—untuk menavigasi narasi personal maupun kolektif. Dengan menggabungkan metodologi performans dan strategi visual, Kamelia memposisikan praktiknya dalam lintasan seniman yang menantang batas-batas disipliner. Melalui karyanya, ia mengundang audiens untuk terlibat dalam tindakan-tindakan intim: mengingat, merebut kembali, dan menyambung ulang ingatan serta identitas.
___________________________________
During her residency at Studio Plesungan, Kamelia Tufah Kenchana will deepen her artistic exploration of healing rituals through direct engagement with jamu, a traditional Indonesian herbal medicine. The residency is grounded in her interest in embodied forms of knowledge—knowledge that lives within gesture, rhythm, sound, and everyday social relations.
As part of her process, Kamelia seeks to follow the daily practices of a jamu gendong woman in Solo, observing and responding to the acts of preparing and sharing jamu as communal gestures of care. She approaches jamu not as an ethnographic object, but as a living practice—one that continually adapts while carrying layered cultural memory.
The residency also provides a space for Kamelia to engage with Javanese cultural contexts through visits to museums, traditional performances, and sustained dialogue with local artists and communities. These encounters form an integral part of her inquiry into ritual, the body, and healing as relational and situated practices.
At the conclusion of the residency, Kamelia will share her ongoing research and artistic reflections through a public presentation and artist talk, framing the residency as an open and evolving process.
Kamelia Tufah Kenchana (b. 2000) is a Singaporean visual artist whose practice is deeply informed by her extensive background in the performing arts. With over a decade of training and performance in traditional Malay dance, she brings a choreographic sensitivity to her visual works, which span performance, installation, and video. She holds a BA (Hons) in Fine Art from the Nanyang Academy of Fine Arts, in collaboration with the University of the Arts London.
Rooted in her Javanese–Malay heritage, Kamelia’s practice explores themes of cultural memory, embodied knowledge, and healing through ritual. The body frequently appears in her work as both subject and medium, employing movement, gesture, and sensory experience to navigate personal and collective narratives. By merging performance methodologies with visual strategies, she situates her practice within a lineage of artists who challenge conventional disciplinary boundaries. Through her work, Kamelia invites audiences into intimate acts of remembering, reclaiming, and reconnecting.
PRESENTASI PUBLIK

“Kembali ke Tanah Air Jamu”
oleh Kamelia Tufah Kenchana
Sabtu, 28 Juni 2025
Pukul 15.00 – 18.00 WIB
Studio Plesungan
Selama tiga minggu residensi di Solo, Kamelia berupaya berinteraksi dengan jamu bukan sekadar sebagai ramuan tradisional, melainkan sebagai praktik hidup yang tertanam dalam ingatan budaya Jawa. Meskipun tidak sepenuhnya dapat mendampingi seorang praktisi jamu gendong seperti yang direncanakan, ia menemukan berbagai cara bermakna untuk terhubung dengan komunitas jamu di tempat asalnya.
Melalui kunjungan ke kafe-kafe jamu, percakapan dengan perempuan jamu gendong di pasar, serta pertukaran cerita dengan warga setempat, jamu hadir sebagai bahasa perawatan yang diwariskan lintas generasi dan terus bertransformasi. Kunjungan ke fasilitas riset dan klinik jamu memperlihatkan bagaimana praktik penyembuhan tradisional tetap bertahan dan beradaptasi dalam konteks kontemporer.
Melalui tulisan, pengamatan, dan refleksi tubuh, Kamelia mulai merumuskan kemungkinan pengembangan karya performans di masa depan yang berfokus pada gestur, ritual, dan ingatan sensorik. Presentasi publik ini akan menjadi ruang berbagi atas proses yang masih berlangsung—sebuah riset jangka panjang tentang bagaimana penyembuhan dapat dipahami, dibagikan, dan dibayangkan kembali melalui praktik seni.
During her three-week residency in Solo, Kamelia approached jamu not simply as a traditional remedy, but as a living practice deeply embedded in Javanese cultural memory. Although she was unable to fully shadow a jamu gendong practitioner as initially planned, she found meaningful ways to connect with the jamu community in its place of origin.
Through visits to local jamu cafés, conversations with jamu gendong women in markets, and exchanges with community members, jamu emerged as a language of care—passed down through generations and continually transformed. Visits to a jamu research facility and an active clinic further revealed how traditional healing practices persist and evolve within contemporary contexts.
Through writing, observation, and embodied reflection, Kamelia began to imagine how these encounters might inform future performance-based works centered on gesture, ritual, and sensory memory. This public presentation offers insight into an ongoing process—part of a longer inquiry into how healing can be held, shared, and reimagined through artistic practice.

