KENTA MASUKAWA

Artist In Residence

KENTA MASUKAWA

18 Dec 2025 – 19 Jan 2026

Perjalanan Memasak dan Mebuat Koreografi Kenta Masukawa

Bekerja sama dengan Kyoto Art Center, Studio Plesungan dengan senang hati menyambut Kenta Masukawa sebagai seniman residensi.

Residensi Kenta Masukawa di Studio Plesungan berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: apakah gagasan tentang tubuh lokal masih dapat dipertahankan di era kapitalisme global dan sirkulasi yang semakin terhomogenisasi? Bagi Masukawa, tubuh lokal bukanlah identitas yang stabil, melainkan kehadiran yang rentan, terbentuk dari pertemuan sejarah, geografi, kebiasaan, dan kondisi hidup yang spesifik. Justru kerentanan inilah, serta rasa kehilangan terhadap tubuh-tubuh yang tak lagi dapat diakses, yang mendorong pencarian koreografisnya.

Masukawa mendekati tubuh melalui praktik arkeologis. Alih-alih merekonstruksi masa lalu yang autentik, praktiknya menggali tubuh-tubuh bayangan melalui tubuh masa kini, yang mana jejak pengetahuan yang terwujud dalam gestur, sensasi, dan praktik keseharian, sering kali berada di luar kesadaran. Penggalian ini tidak bersifat nostalgis, melainkan generatif: sebuah tindakan yang melahirkan kenikmatan, gerak, dan kemungkinan artikulasi baru.

Selama residensi, Masukawa menempatkan risetnya dalam praktik memasak sehari-hari di Jawa. Dengan mengunjungi keluarga-keluarga di sekitar Studio Plesungan, warung makan, pabrik tempe dan tahu, serta pasar tradisional, ia mengamati makanan bukan sebagai simbol budaya, melainkan sebagai proses tubuh yang dibentuk oleh kebiasaan, memori lintas generasi, struktur sosial, dan kondisi sejarah. Apa yang dimasak, mengapa dimasak, dan bagaimana proses memasaknya menjadi pintu masuk menuju koreografi berlapis dari kehidupan sehari-hari. Menu mengungkap preferensi yang diwariskan dan kebiasaan yang tak terucap. Dapur memperlihatkan sejarah material melalui alat, noda, bau, dan tata ruang. Gestur memasak seperti menggenggam, memotong, mengaduk, membawa intensitas taktil berupa berat, kelembapan, kecepatan, dan resistensi.

Alih-alih mendokumentasikan gestur-gestur tersebut secara visual, Masukawa menerjemahkannya ke dalam sensasi tubuh. Melalui perhatian yang ditingkatkan terhadap tekstur, tekanan, dan ritme, ia mengubah konteks hidup menjadi notasi tari, sebuah kosakata sensasi yang memperluas jangkauan ekspresif tubuh. Di Studio Plesungan, notasi-notasi ini dikembangkan menjadi gerak dan dibagikan sebagai karya dalam proses, dengan penekanan pada proses alih-alih hasil akhir.

Praktik Masukawa sangat dipengaruhi oleh Butoh, khususnya komitmennya untuk merasakan tubuh dari dalam dan penolakannya terhadap bentuk-bentuk yang mapan. Pada saat yang sama, ia tetap kritis terhadap bagaimana Butoh dan tubuhnya sendiri kerap dieksotisasi dalam sirkuit seni pertunjukan global. Semakin kuat lokalitas dirayakan, semakin besar risikonya untuk menjadi ilusi yang dikonstruksi. Ketegangan ini menjadi medan produktif bagi risetnya, memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menjumpai budaya lain tanpa mereproduksi citra-citra yang dibentuk oleh wacana Barat atau stereotip Jepang yang telah terinternalisasi.

Dalam konteks ini, Studio Plesungan menyediakan ruang yang krusial. Berakar pada praktik tubuh, pertukaran, dan keterlibatan dalam kegiatan masyarakat di sekitarnya, residensi ini memungkinkan Masukawa mengeksplorasi cara-cara alternatif dalam perjumpaan lintas budaya melalui pengalaman fisik yang dibagikan, bukan melalui kerangka representasi. Ketertarikannya pada budaya padi, yang menjadi pusat risetnya untuk karya mendatang di Kyoto, menemukan resonansi yang kuat di Jawa. Dengan berinteraksi dengan masyarakat yang sama-sama berbasis beras, Masukawa memperluas pencariannya secara transnasional, sekaligus menelaah bagaimana makanan berfungsi bukan hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga sebagai ruang kuasa, sejarah, dan tata kelola negara terinskripsi, khususnya dalam kaitannya dengan masa kolonial Jepang di Indonesia.

Selama satu bulan residensi, dari 18 Desember 2025 hingga 19 Januari 2026, Masukawa secara aktif membagikan praktik artistiknya melalui keterlibatan publik. Pada 5 Januari, ia memimpin sebuah lokakarya di Studio Plesungan, memperkenalkan metode koreografi berbasis kata—sebuah pendekatan yang memahami bahasa sebagai pengalaman tubuh. Dengan menelusuri kata sebagai pemicu sensasi, para peserta diajak mengamati bagaimana tubuh memproses bahasa dan mentransformasikannya menjadi peristiwa gerak.

Ia juga menampilkan The Kitchen Under Skin, salah satu karya awalnya, dalam program On Stage pada 10 Januari. Program pertunjukan dua bulanan yang diinisiasi oleh Studio Plesungan ini diselenggarakan di Art Centre of Central Java (Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah), Surakarta.

Melalui memasak, gerak, dan dialog, residensi Masukawa berlangsung sebagai ruang pertukaran yang bersifat terwujud. Residensi ini mengusulkan tubuh bukan sebagai penanda identitas, melainkan sebagai arsip yang peka—mampu menyimpan, mengolah, dan membayangkan kembali sejarah melalui pengalaman fisik yang dibagikan bersama.

ditulis oleh  Melati Suryodarmo

 

Workshop Series 

Artist In Residence

KENTA MASUKAWA

18 Dec 2025 – 19 Jan 2026

A Journey of Masukawa’s Cooking and Choreography

Kenta Masukawa’s residency at Studio Plesungan began with a fundamental question. Could the idea of a local body still be sustained in an era shaped by global capitalism and homogenized circulation? For Masukawa, the local body was not a stable identity but a fragile emergence formed at the intersection of specific histories, geographies, habits, and lived conditions. It was precisely this fragility and the sense of loss surrounding bodies that were no longer accessible that drove his choreographic inquiry.

Masukawa approached the body archaeologically. Rather than attempting to reconstruct an authentic past, his practice excavated phantom bodies through the present body, traces of embodied knowledge that persisted in gestures, sensations, and daily practices, often beyond conscious awareness. This excavation was not nostalgic but generative. It was an act that produced pleasure, movement, and new forms of articulation.

During his residency, Masukawa situated his research within the everyday practice of cooking in Java. By visiting local families, and food stalls, tempe and tofu factories, and local markets, he observed meals not as cultural symbols but as embodied processes shaped by habit, intergenerational memory, social structure, and historical conditions. What was cooked, why it was cooked, and how it was prepared became entry points into a layered choreography of daily life. Menus revealed inherited preferences and unspoken customs. Kitchens disclosed material histories through tools, stains, smells, and spatial arrangements. Gestures of cooking such as grasping, cutting, and stirring carried tactile intensities of weight, humidity, speed, and resistance.

Rather than documenting these gestures visually, Masukawa translated them into bodily sensation. Through heightened attention to texture, pressure, and rhythm, he transformed lived contexts into dance notation, a vocabulary of sensations that expanded the body’s expressive range. At Studio Plesungan, these notations were developed into movement and shared as a work in progress, emphasizing process over product.

Masukawa’s practice was deeply informed by Butoh, particularly its commitment to sensing the body from within and its resistance to fixed forms. At the same time, he remained critically aware of how Butoh and his own body could be exoticized within global performing arts circuits. The more locality was celebrated, the more it risked becoming a constructed illusion. This tension became a productive site for his research, prompting questions of how to encounter other cultures without reproducing images shaped by Western discourse or internalized stereotypes of Japan.

In this context, Studio Plesungan offered a crucial space. Rooted in embodied practice, communal exchange, and local engagement, the residency enabled Masukawa to explore alternative modes of cultural encounter through shared physical experiences rather than representational frameworks. His interest in rice culture, which was central to his research for a future performance in Kyoto, found a resonant parallel in Java. By engaging with another rice based society, Masukawa expanded his inquiry transnationally and attended to how food operated not only as nourishment but also as a site where power, history, and governance were inscribed, particularly in relation to Japan’s colonial past in Indonesia.

During his one month residency from 18 December 2025 to 19 January 2026, Masukawa actively shared his artistic practice through public engagement. On 5 January, he led a workshop at Studio Plesungan, offering word-based choreographic method—an approach that embodies language as a bodily experience. By tracing words as triggers of sensation, participants are invited to observe how the body processes language and transforms it into a movement event.

He also presented The Kitchen Under Skin, of of his early work as part of On Stage on 10 January, the bi monthly performance program initiated by Studio Plesungan, held at the Art Centre of Central Java (Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah) in Surakarta.

Through cooking, movement, and dialogue, Masukawa’s residency unfolded as a space of embodied exchange. It proposed the body not as a marker of identity but as a sensitive archive capable of holding, transforming, and reimagining histories through shared physical experience.

written by Melati Suryodarmo

______

 

On Stage