KYSHA ASHREEN

Artist-In-Residence

Kysha Ashreen

18 – 31 Januari 2025

Kysha Ashreen mengembangkan serangkaian karya performans yang berfokus pada keseimbangan lengan dan pose-pose terbalik. Melalui eksplorasi postur tubuh ini dalam aksi berdurasi panjang, ia berupaya membangun ekspresi yang lebih mendalam, reflektif, dan berdampak secara fisik maupun konseptual.

Dalam proses pengembangan karyanya, Kysha juga memperdalam pemahamannya tentang lanskap seni di Indonesia sebagai bagian penting dari warisan kulturalnya. Dengan menelusuri bentuk-bentuk seni tradisional serta dinamika perkembangan seni pertunjukan dari waktu ke waktu, ia menemukan berbagai inspirasi yang memperkaya dan membentuk praktik artistiknya.

Kysha Ashreen (lahir tahun 2001) adalah seorang seniman multidisiplin yang praktik utamanya berada di seni performans. Sambil menempuh pendidikan Bachelor of Arts in Fine Art di Nanyang Academy of Fine Arts-University of Arts London, ia tidak hanya menampilkan karyanya, tetapi juga mengkurasi dan mengelola pameran untuk angkatan pionir mahasiswa program UAL yang baru.

Ia telah memamerkan karya-karya yang menggunakan berbagai medium di ruang seni ternama di Singapura, seperti Substation, dblspace, dan P71:SMA. Kysha juga merupakan penerima beasiswa  Ngee Ann Kongsi Scholarship dan Choo Lim Study Award. Dengan pengalaman di dunia seni di London, Indonesia, dan Singapura, Kysha mengeksplorasi pertanyaan tentang moralitas melalui budaya Asia Tenggara serta kaitannya dengan ekspresi gender dan psikologi seksualitas.

_________

 

Kysha Ashreen is developing a series of performance works that focus on arm balances and inverted poses. By exploring these bodily postures through long-durational actions, she seeks to cultivate expressions that are physically demanding, conceptually resonant, and emotionally impactful.

As part of her artistic development, Kysha has also deepened her understanding of Indonesia’s artistic landscape, which forms an important part of her cultural heritage. Through an exploration of traditional art forms and the evolving histories of performance practices, she has drawn inspiration that continues to inform and expand her artistic practice.

Kysha Ashreen (b. 2001) is a multi-disciplinary artist whose main practice lies in performance art. While pursuing a Bachelors of Arts in Fine Art at Nanyang Academy of Fine Arts-University of Arts London, she not only displayed her work but curated and managed exhibitions for the pioneer batch of Degree students under the new UAL programme. She has exhibited works that employ various mediums across renowned art spaces in Singapore such as Substation, dblspace, and P71:SMA. She is also the recipient of the Ngee Ann Kongsi Scholarship and Choo Lim Study Award. Having experience in the art scene in London, Indonesia and Singapore, Kysha uncovers questions of morality through Southeast Asian cultures and its links to gender expression and the psychology of sexuality.

 

Public Presentation

“BOLEH BISA”

Oleh Kysha Ashreen

Rabu, 29 Januari 2025, 13:00 – 15:00 WIB

di Studio Plesungan, Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181

 

Terinspirasi dari praktik mindfulness dalam yoga, performans ini membahas hubungan intuitif antara tubuh dan ruang, diperbandingkan dengan tubuh dan pikiran. Dengan membandingkan budaya kebugaran dan skena performans  yang serba cepat di Singapura dengan seni yang berakar pada budaya dan cerita di Solo, karya ini memanfaatkan keterbatasan tubuh untuk menonjolkan bagaimana aturan gerak dapat menjadi bahasa yang lebih ekspresif daripada gerak bebas.

Karya ini juga terinspirasi dari generasi tua warga Singapura yang tinggal di kampung-kampung, yang tidak mendefinisikan kebugaran fisik melalui olahraga sehari-hari, tetapi melalui kualitas hidup mereka sebelum tinggal dalam batasan yang ada di kota.

Inspired from the practice of mindfulness from yoga, this performance discusses the intuitive relationship of the body and the space as compared to the body and mind. Comparing the fast-paced culture of Singapore’s fitness and performance scene, to the art scene rooted in culture and storytelling Solo, this piece uses the limitations of the body to exaggerate how rules of movement can be a more expressive language than free-will movement.

This piece is also informed by the older generation of Singaporeans living in the kampongs, who do not define physical wellness by their daily exercise but rather by their quality of life before living in the constraints of the city.

Program ini terbuka untuk umum dan gratis.

Diskusi berlangsung dalam bahasa Inggris dengan penerjemah bahasa Indonesia.