Artist In Residence
15 – 31 July 2025
Li, Wen Hao

Li, Wen Hao: Bengawan Solo dan Arwah Sebuah Lagu
Proyek residensi Li, Wen Hao di Studio Plesungan berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana namun beresonansi panjang: bagaimana sebuah lagu berpindah tempat, dan apa yang terjadi padanya ketika melintasi batas bahasa, wilayah, dan sejarah? Sejak 2021, Wen Hao meneliti fenomena musik cover di Asia Timur dan Asia Tenggara, menelusuri bagaimana satu melodi dapat memiliki banyak kehidupan, masing-masing dibentuk oleh konteks politik, kultural, dan emosional yang berbeda. Bagi Wen Hao, musik cover bukanlah praktik turunan, melainkan ruang tempat ingatan, sirkulasi, dan transformasi saling berkelindan.
Perhatiannya kemudian tertuju pada Bengawan Solo, lagu ciptaan Gesang tahun 1940 yang menjadi salah satu karya musik paling abadi dalam sejarah Indonesia. Meski dikenal luas hingga hari ini, perjalanan lintas wilayah lagu ini menyimpan lapisan sejarah yang dibentuk oleh perang, migrasi, dan perkembangan teknologi rekaman. Pada periode pasca perang, kemajuan teknologi rekaman suara memungkinkan produksi musik dalam durasi yang lebih panjang dengan biaya yang lebih efisien. Dalam konteks ini, mengadaptasi lagu populer dari negara lain menjadi jauh lebih murah dibandingkan menciptakan karya orisinal. Akibatnya, melodi-melodi populer beredar luas di Asia, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan gaya. Bengawan Solo pun diaransemen ulang dan dinyanyikan di Jepang, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan wilayah lainnya, sering kali menjadi lebih dikenal melalui versi-versi terjemahannya dibandingkan versi aslinya.
Riset Wen Hao mengungkap bahwa penyebaran Bengawan Solo berkaitan erat dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia pada Perang Dunia II. Lagu ini digemari oleh masyarakat Jepang dan dibawa kembali ke Jepang setelah 1945, sebelum kemudian menyebar ke Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan kawasan Asia Timur serta Asia Tenggara lainnya. Seiring waktu, konteks asalnya perlahan memudar, dan di beberapa tempat, versi cover justru dianggap sebagai sumber asli. Proses ini, yang tampak janggal namun lazim, memperlihatkan bagaimana ingatan kultural dibentuk bukan hanya oleh asal-usul, melainkan oleh pengulangan, adaptasi, dan kelupaan.
Pada tahun 2024, Wen Hao menampilkan SOLO, sebuah pertunjukan tunggal berdurasi satu jam yang menelusuri evolusi Bengawan Solo di Asia Timur dan Asia Tenggara dari tahun 1940 hingga 2000. Namun karya tersebut juga membuka sebuah kesadaran penting. Meskipun mengikuti perjalanan lagu ini ke berbagai negara, Wen Hao belum pernah mengunjungi Indonesia, apalagi Sungai Bengawan Solo yang menjadi sumber penamaan lagu tersebut. Untuk mendorong proyek ini lebih jauh, ia menyadari perlunya kembali ke titik awal kemunculan lagu, ke Kota Solo tempat Gesang hidup dan di mana musik keroncong masih berdenyut dalam keseharian masyarakat.
Residensinya di Studio Plesungan, dan berada di Solo menandai momen kembali tersebut. Alih-alih mencari versi asli atau autentik dari lagu ini, Wen Hao memandang Solo sebagai arsip hidup, tempat bunyi, ruang, dan sejarah terus dinegosiasikan. Dengan menyelami sungai, kota, dan tradisi musik yang mengitari Bengawan Solo, proyek ini melampaui kajian musik semata dan berkembang menjadi riset yang bersifat spasial dan berbasis pengalaman tubuh. Ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana lagu menyimpan jejak sejarah kolonial, pergeseran teknologi, dan hasrat manusia, serta bagaimana jejak-jejak tersebut terus bergema ketika sebuah melodi melintasi samudra dan generasi.
Melalui residensi ini, proyek Wen Hao memposisikan Bengawan Solo sebagai konstelasi bergerak dari suara, ingatan, dan terjemahan. Proyek ini mengusulkan praktik mendengarkan sebagai sikap kritis: sebuah cara untuk menyimak bagaimana bunyi berpindah, bagaimana sejarah dibawa tanpa disadari, dan bagaimana satu lagu dapat memuat kisah-kisah yang saling terjalin dari sebuah kawasan.
ditulis oleh Melati Suryodarmo
Li, Wen Hao adalah seniman performance kontemporer interdisipliner asal Taiwan. Praktiknya meliputi tari kontemporer, performance art, musik, fotografi, dan riset sejarah. Ia menempuh pendidikan sarjana di bidang hukum dan meraih gelar magister dalam teori seni pertunjukan, yang membentuk perhatiannya pada relasi kuasa dan negosiasi politik di antara berbagai disiplin.
Dalam praktik artistiknya, Wen Hao menelaah sejarah samudra melalui perspektif “pulau”—sebuah kondisi yang sekaligus terisolasi namun saling terhubung oleh laut. Dikelilingi perairan, Taiwan sejak era Penjelajahan (Age of Discovery) menjadi titik pertemuan dan perebutan berbagai rezim dan kekuatan kolonial, yang digerakkan oleh arus dan angin. Lapisan sejarah, budaya, dan politik yang saling bertaut ini terus membentuk posisi geopolitik Taiwan yang kompleks hingga abad ke-21.
Berangkat dari kajian sejarah laut, Wen Hao menaruh perhatian pada budaya musik populer dan kuliner di Taiwan, serta pengaruh silang dari Jepang, Hong Kong, Indonesia, Amerika Serikat, dan kawasan Indo-Pasifik yang dihubungkan oleh perairan. Melalui karya performance yang menggabungkan citra visual, musik, gerak tubuh, memasak, dan arsip, ia menantang narasi sejarah yang berpusat pada rezim, sekaligus menegaskan samudra sebagai ruang sirkulasi, keterhubungan, dan pengalaman berbagi.
Li, Wen Hao: Bengawan Solo and the Afterlives of a Song
Li, Wen Hao’s residency project at Studio Plesungan departed from a simple yet resonant question: how does a song travel, and what happens to it as it moves across borders, languages, and histories? Since 2021, Li has been researching the phenomenon of cover music across East and Southeast Asia, tracing how a single melody can acquire multiple lives, each shaped by its own political, cultural, and emotional context. For him, cover music is not a derivative practice, but a site where memory, circulation, and transformation converge.
His attention turned to Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940, one of Indonesia’s most enduring songs. While widely known today, the song’s transnational journey reveals a layered history shaped by war, migration, and recording technologies. In the postwar period, advances in sound recording made it easier and more economical to reproduce existing songs than to commission new compositions. As a result, popular melodies circulated rapidly across Asia, adapted into different languages and styles. Bengawan Solo was covered in Japan, Taiwan, Hong Kong, Singapore, and beyond, often becoming more familiar in its translated versions than in its original form.
Li’s research uncovered that the spread of Bengawan Solo was closely tied to the Japanese occupation of Indonesia during the Second World War. The song was embraced by Japanese listeners and carried back after 1945, where it continued to circulate across East Asia in various incarnations. Over time, the original context faded, and in some places, the cover versions came to be mistaken as the source. This process, both common and paradoxical, reveals how cultural memory is shaped not by origin alone, but by repetition, adaptation, and forgetting.
In 2024, Li presented SOLO, a one-hour solo performance tracing the evolution of Bengawan Solo across East and Southeast Asia from 1940 to 2000. Yet the work also revealed a gap. Despite following the song’s journeys abroad, Li had never visited Solo itself, nor encountered the Bengawan Solo River that gave the song its name. To deepen the project, he recognized the need to return to the point of emergence, to the city where Gesang lived and where kroncong music continues to resonate within everyday life.
His residency in Solo marked this return. Rather than seeking an original or authentic version of the song, Li approached Solo as a living archive, where sound, place, and history remain in constant negotiation. By engaging with the river, the city, and the musical traditions surrounding Bengawan Solo, the project extended beyond musicology into an embodied and spatial inquiry. It asked how songs carry the traces of colonial histories, technological shifts, and human longing, and how these traces continue to echo as melodies cross oceans and generations.
Through this residency, Li, Wen Hao’s project reframed Bengawan Solo not as a fixed cultural artifact, but as a moving constellation of voices, memories, and translations. It proposed listening as a critical practice, one that attends to how sound travels, how histories are carried unknowingly, and how a single song can hold within it the intertwined stories of a region.
Written by Melati Suryodarmo
Li, Wen Hao is a Taiwanese interdisciplinary contemporary performance artist whose practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. Trained in law at the undergraduate level and holding a master’s degree in performing arts theory, he is particularly attentive to the dynamics of power and political negotiation across disciplines.
Li’s artistic research engages with oceanic histories through the lens of the “island”—a condition that is at once isolated and deeply connected by water. Surrounded by the sea, Taiwan has long been a site where regimes and colonial powers converged and contested, shaped by currents and winds since the Age of Discovery. This layered entanglement of cultures, histories, and political forces continues to define Taiwan’s complex geopolitical position in the twenty-first century.
Drawing from studies of ocean history, Li focuses on popular music and food cultures in Taiwan, tracing their entangled influences from Japan, Hong Kong, Indonesia, the United States, and the wider Indo-Pacific region. Through performances that integrate image, sound, movement, cooking, and archival materials, he challenges regime-centered historical narratives and foregrounds the ocean as a space of circulation, connection, and shared experience.
Li, Wen hao’s residency project is supported by Studio Plesungan and the National Culture and Art Foundation Taiwan


Li, Wen Hao has presented his performance for the On Stage.

Li, Wen Hao has shared his practice methods and research in our Lecture Series Program