RACHEL ANNE LACABA AND BEN ALBINO

Seniman Residensi

RACHEL ANNE LACABA DAN BEN JOHN ALBINO
17–29 Juli 2025

Studio Plesungan dengan senang hati menyambut Rachel Anne Lacaba dan Ben John Albino sebagai seniman residensi. Residensi ini memiliki makna khusus, karena kedua seniman menyatakan ketertarikan yang kuat untuk bekerja secara dekat dengan Kelas Melukis Anak, sebuah program yang telah berjalan secara berkelanjutan sejak tahun 2015 bagi anak-anak yang tinggal di desa dan wilayah sekitarnya.

Lokakarya yang mereka fasilitasi menjadi sebuah momen perjumpaan yang bermakna—terbentuk melalui rasa ingin tahu, permainan, dan proses berkarya bersama. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh anak-anak dan menghadirkan ruang di mana pembelajaran, imajinasi, dan kesadaran lingkungan tumbuh secara alami.

Lokakarya tersebut berfokus pada praktik pembuatan kertas handmade, menggunakan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah dijangkau. Menanggapi meningkatnya jumlah limbah kertas, yang merupakan sebuah sumber daya yang melimpah namun kerap terabaikan, para seniman memperkenalkan proses dasar  teknologi yang bersifat langsung, menekankan nilai keberlanjutan dan kepedulian. Dengan metode yang mudah dilakukan ini, anak-anak diajak untuk terlibat langsung dalam transformasi material, sekaligus memahami bagaimana tindakan kreatif kolektif yang sederhana dapat berkontribusi pada cara hidup yang lebih sadar lingkungan.

Tentang Seniman

Rachel Anne Lacaba (lahir November 1990) dan Ben John Albino (lahir September 1991) adalah seniman otodidak asal Pangasinan, Filipina. Keduanya pertama kali bertemu di Liongoren Gallery, Dagupan City, pada tahap awal perjalanan mereka sebagai seniman penuh waktu, dalam sebuah pameran kelompok berjudul Liing (“Terjaga”). Sebagai anggota pendiri sebuah kolektif seniman lokal, mereka berperan penting dalam penyelenggaraan pameran bulanan di Dagupan City antara tahun 2013–2015—sebuah inisiatif yang berkontribusi besar dalam menghidupkan ekosistem seni lokal dan memperkuat keterlibatan masyarakat dengan seni kontemporer.

Seiring waktu, aktivitas kolektif mereka meluas ke berbagai kota dan provinsi di Filipina. Melalui partisipasi dalam pameran dan pertukaran seni di Asia Tenggara, keduanya mengembangkan kesadaran yang semakin kuat akan keterkaitan antara sejarah, budaya, dan realitas sosial.

Berangkat dari latar bimbingan dan pengaruh yang sama, praktik individual Lacaba dan Albino berakar pada realisme sosial, dengan perhatian pada isu kesehatan mental, lingkungan hidup, dan kondisi sosial sehari-hari. Pada tahun 2015, mereka menggelar pameran duo pertama di Liongoren Gallery, yang menjadi tonggak penting baik secara profesional maupun personal. Pada tahun yang sama, mereka menciptakan mural kolaboratif pertama di Dagupan City, yang kemudian berkembang menjadi rangkaian karya yang mengeksplorasi psikis manusia dan kesejahteraan mental. Antara tahun 2015–2016, mereka menyelesaikan sebelas mural publik di Pangasinan, yang tersebar di sekolah, ruang publik, dan bangunan terbengkalai.

Pada tahun 2017, kedua seniman melakukan perjalanan ke wilayah Visayas untuk proyek seni publik yang berfokus pada kesadaran lingkungan. Dengan terlibat langsung dalam komunitas lokal, mereka menerjemahkan cerita-cerita warga ke dalam mural yang menyoroti persoalan ekologis dan dampak perilaku manusia. Antara tahun 2017–2018, mereka berkolaborasi dengan seniman lain dari Pangasinan untuk menciptakan mural terbesar mereka hingga saat ini (100 x 35 kaki). Pada tahun 2019, mereka mendapat komisi dari ArtBGC untuk membuat First Discoveries, sebuah mural berukuran 50 x 30 kaki di Gedung BTC, Taguig, sebagai bagian dari program televisi anak yang mengangkat tema eksplorasi dan konservasi lingkungan.

Keduanya merupakan penerima berbagai program pendampingan penting, antara lain TUKLAS Mentorship Program bersama Alfredo Esquillo Jr. (2018–2020), Agos Studio Mentorship Program di bawah Renato Habulan (2021), serta Linangan Art Residency Mentorship Program bersama Emmanuel Garibay (2022). Pameran tunggal pertama mereka digelar secara berurutan pada tahun 2021 di Eskinita Art Farm, Batangas. Setelah menjalani residensi selama dua bulan pada tahun 2022, mereka kembali mempresentasikan pameran duo kedua di tempat yang sama.

Pada tahun 2023, menandai satu dekade perjalanan mereka sebagai seniman penuh waktu, Lacaba dan Albino melakukan perjalanan ke Thailand untuk mewujudkan serangkaian proyek seni publik bekerja sama dengan para aktivis lingkungan di Provinsi Chumphon, serta menghasilkan dua mural bertema lingkungan di Bangkok. Karya-karya mereka dikenal melalui keseimbangan antara realisme sosial dan ekspresi figuratif, memadukan refleksi kritis dengan sentuhan humor dan kemurahan visual.

Kertas Handmade sebagai Praktik

Lacaba dan Albino mulai bereksperimen dengan pembuatan kertas handmade sejak masa kuliah, dan secara bertahap mengintegrasikannya ke dalam praktik artistik mereka. Seiring waktu, eksplorasi material ini berkembang menjadi aktivitas pedagogis dan komunal. Mereka kemudian memfasilitasi berbagai lokakarya pembuatan kertas di sekolah negeri dan ruang komunitas, khususnya bersama anak-anak.

Pendekatan mereka menyatukan kreativitas, keterampilan tangan, dan kepedulian terhadap lingkungan—mengubah kertas bekas menjadi medium baru untuk berekspresi. Dalam konteks Studio Plesungan, praktik ini beresonansi kuat dengan semangat belajar melalui proses berkarya, di mana kepekaan material, keberlanjutan, dan pengalaman kolektif menjadi dasar dari pertukaran artistik.

Artist-in-Residence

RACHEL ANNE LACABA AND BEN JOHN ALBINO
17–29 July 2025

Studio Plesungan is pleased to welcome Rachel Anne Lacaba and Ben John Albino as artists-in-residence. This residency held particular significance, as both artists expressed a strong desire to work closely with the Children’s Painting Class—a program that has been running continuously since 2015 for children living in the village and surrounding areas.

Their workshop became a meaningful moment of encounter, unfolding through curiosity, play, and shared making. It was warmly received by the children and created a space where learning, imagination, and environmental awareness came together organically.

The workshop focused on handmade paper-making, using recycled materials and simple, easily accessible tools. Responding to the growing volume of discarded paper—an abundant yet often overlooked resource—the artists introduced a low-tech, hands-on process grounded in sustainability and care. By keeping the method approachable, the workshop invited children to engage directly with material transformation, demonstrating how small, collective creative actions can contribute to more environmentally conscious ways of living.

About the Artists

Rachel Anne Lacaba (b. November 1990) and Ben John Albino (b. September 1991) are self-taught artists from Pangasinan, Philippines. They first met at Liongoren Gallery in Dagupan City during the early stages of their careers, participating in a group exhibition titled Liing (“Awaken”). As founding members of a local artist collective, they played a key role in organizing monthly exhibitions in Dagupan City between 2013 and 2015—an initiative that significantly nurtured the local art scene and strengthened community engagement with contemporary art.

Over time, their collective activities expanded to other cities and provinces across the Philippines. Through exhibitions and exchanges throughout Southeast Asia, both artists developed a growing awareness of the deep interconnections between history, culture, and social realities.

Rooted in shared mentorships and influences, Lacaba and Albino’s individual practices draw from social realism, addressing themes such as mental health, environmental issues, and lived social conditions. In 2015, they held their first two-person exhibition at Liongoren Gallery, marking an important professional and personal milestone. That same year, they created their first collaborative mural in Dagupan City, initiating an ongoing series exploring the human psyche and mental well-being. Between 2015 and 2016, they completed eleven public murals across Pangasinan, installed in schools, public spaces, and abandoned buildings.

In 2017, the artists traveled across the Visayas for a public art project centered on environmental awareness. Immersing themselves in local communities, they translated residents’ stories into murals addressing ecological concerns and the impact of human behavior. From 2017 to 2018, they collaborated with fellow artists from Pangasinan on their largest mural to date (100 x 35 feet). In 2019, they were commissioned by ArtBGC to create First Discoveries, a 50 x 30-foot mural for the BTC Building in Taguig, produced as part of a children’s television program promoting exploration and environmental conservation.

Both artists have participated in major mentorship programs, including the TUKLAS Mentorship Program with Alfredo Esquillo Jr. (2018–2020), the Agos Studio Mentorship Program under Renato Habulan (2021), and the Linangan Art Residency Mentorship Program with Emmanuel Garibay (2022). Their first solo exhibitions were held consecutively in 2021 at Eskinita Art Farm, Batangas. Following a two-month residency in 2022, they presented their second two-person exhibition at the same venue.

In 2023, marking a decade of practice as full-time artists, Lacaba and Albino traveled to Thailand to realize a series of public art projects in collaboration with environmentalists from Chumphon Province, and produced two murals addressing environmental issues in Bangkok. Their work is recognized for its balance between social realism and figurative expression, combining critical reflection with moments of humor and visual generosity.

Handmade Paper as Practice

Lacaba and Albino began experimenting with handmade paper during their college years, gradually integrating it into their artistic practice. Over time, this material exploration evolved into a pedagogical and communal activity. They have since facilitated paper-making workshops in public schools and community spaces, particularly with children.

Their approach brings together creativity, craft, and environmental care—transforming discarded paper into new surfaces for expression. Within the context of Studio Plesungan, this practice resonates deeply with the ethos of learning through making, where material sensitivity, sustainability, and collective experience form the foundation of artistic exchange.

More information click here