Lecture Series
The Multi-Universe of Pop Music in Post-War Asia: A Public Lecture by Li Wen-Hao
Selasa, 22 Juli 2025
19:00 – 21:00 WIB
di Studio Plesungan
Apakah Anda pernah menyanyikan ulang lagu favorit dan mengunggahnya ke media sosial?
Lagu cover adalah fenomena yang umum, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Taiwan, Hong Kong, dan Jepang pada era 50-an hingga 80-an. Melodi yang sama dinyanyikan dalam lirik bahasa dan oleh penyanyi yang berbeda. Hal ini kerap membingungkan namun juga lumrah terjadi di tengah dunia musik pop. Terkadang, hal ini membuat versi aslinya justru terlupakan, sementara versi cover justru menjadi ikonik dan terus dinyanyikan hingga kini.
Saat ini, musik sering dinilai dari segi orisinalitas dan keasliannya, sehingga tampaknya lagu cover sering dianggap canggung dan kurang mendapat perhatian. Namun bagi Wen Hao, pengemasan ulang lagu (cover music) menjadi cara untuk menelusuri kembali jejak perpindahan dan pengaruh antar kebudayaan di Asia pasca-perang.
Dalam sesi kuliah yang terselenggara pada Rabu, 22 Juli 2025 ini, seniman Li, Wen Hao akan memaparkan penelitiannya mengenai migrasi musik pop pasca perang, termasuk di dalamnya adalah karya pertunjukan terbarunya, “SOLO”, yang akan dipentaskan dalam program Studio Plesungan “On Stage” pada Jumat, 25 Juli 2025 mendatang.
Li Wen-Hao adalah seorang seniman pertunjukan kontemporer lintas disiplin asal Taiwan, seorang penghuni pulau, dan peneliti. Praktik artistiknya mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, serta kajian sejarah. Dengan latar belakang pendidikan di bidang hukum (Sarjana Hukum) dan gelar magister teori seni pertunjukan, Li memberikan perhatian khusus pada persinggungan antara kekuasaan, politik, dan batas-batas disiplin ilmu.
Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis!
__________________________________________
Have you ever covered your favorite song and shared it on social media?
Cover songs are a widespread phenomenon—not only in Indonesia, but also in Taiwan, Hong Kong, and Japan during the 1950s to 1980s. The same melody was often sung with different lyrics, in different languages, and by different singers. This practice, while sometimes confusing, became a familiar part of the pop music landscape. In some cases, the original version was overshadowed, while the cover became iconic and continues to be sung today.
In today’s music scene, value is often placed on originality and authenticity, making cover songs seem outdated or overlooked. But for Wen-Hao Li, reinterpreting a song through cover versions becomes a way to retrace the routes of cultural exchange and transnational influence across post-war Asia.
In a public lecture on Wednesday, July 22, 2025, artist Li Wen-Hao will present his research on the migration of post-war pop music. He will also discuss his latest performance work, SOLO, which will be staged as part of Studio Plesungan’s On Stage program on Friday, July 25, 2025.
Li Wen-Hao is a multidisciplinary contemporary performance artist from Taiwan, an island dweller, and a researcher. His artistic practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical inquiry. With an academic background in law (LL.B.) and a master’s degree in performance studies, Li is particularly interested in the intersections of power, politics, and disciplinary boundaries.
This lecture is free and open to the public!
Pendaftaran melalui link :
https://forms.gle/P6n6zjCdCSkrofUN7
Kontak Info:
HP/Whatsapp +6282133229593
Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02
Plesungan, Gondangrejo
Karanganyar 57181
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Lecture Series
“Meretas Ingatan, Mewujudkan Dalam Tulisan”
oleh Prof. Sumarsam
(Profesor Winslow-Kaplan di Universitas Wesleyan, Connecticut, Amerika Serikat)
Sabtu, 12 Juli 2025
10:00 – 12:00 WIB
di Studio Plesungan – Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181 (https://g.co/kgs/h7Kt6tx)
Gagasan yang baik akan lebih baik lagi jika bisa disampaikan melalui tulisan, sehingga apa yang diinginkan bisa sampai kepada publik. Namun menuliskan gagasan dan berbagai percikan pemikiran tak semudah yang dibayangkan.
Menulis dan mengutarakan gagasan membutuhkan proses panjang seperti mengembangkan kapasitas membaca, mengkaji bacaan yang berisi berbagai kajian dan teori. pada sisi yang lain, persepsi serta serapan pengalaman melalui menonton, menyaksikan dan menggali bahan gagasan melalui literatur dibutuhkan agar tulisan bisa memiliki dasar pemikiran yang kuat.
Dalam kaitan dengan hal itu, program Lecture Series yang terhubung dengan kegiatan Ruang Antara di Studio Plesungan mengundang prof. Sumarsam, yang kita kenal sebagai pakar musikologi dan pakar kajian khasanah tradisi. Beliau akan hadir untuk membagikan dan memaparkan pengalamannya.
Ruang Antara merupakan kegiatan informal yang bertujuan bagaimana memperbincangkan dan menuliskan ingatan, memori personal dan sosial dalam konteks minat studi masing masing.
—
Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis
_____________________________________________________________
“Tracing Memory, Realizing It in Writing”
by Prof. Sumarsam
(Winslow-Kaplan Professor of Music, Wesleyan University, Connecticut, USA)
Saturday, 12 July 2025
10:00 AM – 12:00 PM (WIB)
at Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Central Java 57181
https://g.co/kgs/h7Kt6tx
A well-formed idea becomes even more impactful when articulated in writing—making it possible to reach a broader audience. Yet, turning thoughts and reflections into written words is often more challenging than it seems.
Writing requires a deep and sustained process: developing reading skills, engaging with theoretical texts, and refining one’s understanding through observation and lived experience. Watching, witnessing, and exploring sources, both through literature and life, are all essential in shaping a meaningful and grounded piece of writing.
In response to these reflections, the Lecture Series, presented in connection with the Ruang Antara program at Studio Plesungan, invites Prof. Sumarsam, a renowned musicologist and expert in traditional cultural studies, to share his insights and personal journey through writing, research, and memory.
Ruang Antara is an informal initiative focused on exploring how memory—both personal and collective—can be discussed and written about within each participant’s area of interest.
—
This lecture is free and open to the public.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Studio Plesungan
BINCANG SENIMAN
oleh Maoyi Qiu
Minggu, 19.02.2023
13.00 WIB
Studio Plesungan
(Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181)
—
Bincang Seniman kali ini akan menyajikan kuliah umum berisikan materi visual, babak sonik, plot, dan anekdot dari praktik artistik dan aktivisme Maoyi Qiu. Ia akan membahas penelitian lintas geopolitik dan ruang waktu dan penelitiannya saat ini seputar soma-teknologi dan pantauan-data sonik.
Maoyi Qiu adalah seniman visual, suara, dan performans. Praktiknya melibatkan media suara, video, instalasi, dan pertunjukan. Ia fokus pada pembahasan yang berkaitan dengan praktik kritis spasial dan soma-teknologi. Penelitian mereka mencakup praktik somatik feminis, pantauan data sonik, dan hubungan antara sistem pengawasan dan tubuh.
Maoyi Qiu memperoleh gelar Master untuk Art Praxis dari Dutch Art Institute pada tahun 2022, dan anggota pendiri dari kolektif feminis queer “Q-Space” (2016-…..) di Beijing, Cina. Pada tahun 2022, ia menjadi anggota kolektif Soupspoon yang berbasis di Rotterdam, ia bersama anggota kolektif memulai kelompok kerja jangka panjang dalam penelitian yang mengolah ruang bersama berkontekstual Asia. Saat ini, Maoyi adalah residen di ruang seni independen Rotterdam selatan Available & the Rat.
—
Bincang Seniman ini dapat dihadiri secara gratis (tidak menarik biaya)
Kontak:
+62 821-3322-9593 (Achri)