Alexis Jestin Tutup Workshop Tari “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” dengan Presentasi Publik di Solo
Sabtu, 17 Januari 2026
19:30 WIB
Wisma Seni
Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
Studio Plesungan menggelar presentasi publik LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, sebuah workshop tari yang dikembangkan oleh penari dan koreografer Alexis Jestin sebagai proyek pedagogis. Presentasi ini menjadi penutup dari rangkaian workshop intensif selama lima hari yang diikuti oleh 13 peserta dan berlangsung di Kota Solo.
Workshop ini mengusung pendekatan belajar sambil bermain (learning through play), di mana Alexis Jestin membagikan berbagai latihan, permainan gerak, dan sesi diskusi untuk mendorong peserta memahami tubuh, pengalaman personal, serta relasinya dengan lingkungan sekitar. Gerak tari digunakan sebagai medium utama untuk refleksi diri dan eksplorasi hubungan antara individu dan kondisi sosial di sekitarnya.
Materi yang dipresentasikan merupakan hasil pengembangan metode yang telah Alexis Jestin praktikkan di berbagai negara, termasuk Vietnam, Kolombia, dan Kuba, serta diperkaya oleh pengalamannya sebagai penari dalam berbagai karya dan proses kreatif sebelumnya. Selain menampilkan hasil latihan, presentasi ini juga membuka ruang dialog melalui diskusi singkat bersama Alexis Jestin dan para peserta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Artist-in-Residence Studio Plesungan yang berlangsung pada 11–25 Januari 2026.
Alexis Jestin Concludes “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” Dance Workshop with Public Presentation in Solo
Studio Plesungan presents a public showing of LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a dance workshop developed by dancer and choreographer Alexis Jestin as a pedagogical project. The presentation marks the conclusion of an intensive five-day workshop held in the city of Solo and involving 13 participants.
The workshop adopts a learning-through-play approach, through which Alexis Jestin shared a series of movement exercises, games, and discussions. Dance movement serves as the primary medium to encourage participants to explore their bodies, personal experiences, and their relationship to the surrounding social and environmental context.
The material presented is the result of an evolving methodology developed by Alexis Jestin across various international contexts, including Vietnam, Colombia, and Cuba, and is further informed by his experience as a dancer in numerous artistic works and creative processes. In addition to showcasing the workshop outcomes, the presentation will conclude with a short discussion involving Alexis Jestin and the participants.
This activity is part of Alexis Jestin’s participation in the Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, taking place from 11–25 January 2026.
PUBLIC PRESENTATION
Cita Rasa dari Solo dan Kyoto: Koreografi dari Budaya Memasak
Kenta Masukawa, seorang seniman pertunjukan yang kini berdomisili di Kyoto, melakukan residensi seni selama satu bulan di Studio Plesungan, untuk mengembangkan praktik artistiknya yang erat dengan budaya kuliner. Dalam penciptaan karya pertunjukannya telah dikembangkan di Kyoto, Kenta menciptakan skor koreografi dari proses pengolahan resep masakan yang kemudian dijadikannya acuan gerak dan memasak. Selama masa residensinya, Kenta menelusuri beragam budaya memasak melalui kunjungan lapangan dan lokakarya di berbagai wilayah Kota Solo.
Pada hari Minggu (11/1) Kenta akan memaparkan proses penciptaannya yang bertumbuh dari perjumpaan antara budaya lokal dan pengalaman tubuh dalam aktivitas memasak. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian diolah dan diperdalam sebagai bagian dari riset artistik yang membentuk kerangka karya dan pendekatan koreografinya.
Pada kesempatan yang sama, Kyoto Art Center turut hadir untuk memperkenalkan lembaga mereka serta memaparkan gambaran umum praktik seni kontemporer di kawasan Kyoto. Presentasi ini akan menyoroti dinamika gagasan yang berkembang di wilayah tersebut, sekaligus mengulas bagaimana lanskap budaya Kyoto menghadirkan kondisi dan karakter yang berbeda dibandingkan dengan Tokyo atau kota lainnya di Jepang.
Presentasi ini merupakan tahap akhir dari program Artist-In-Residence ini yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dengan kolaborasi dan dukungan dari Kyoto Art Center, berjalan selama satu bulan sejak 18 Desember 2025 sampai 18 Januari 2026.
Kenta Masukawa lahir di Tokyo dan saat ini berbasis di Kyoto, di mana ia bekerja sebagai koreografer dan penari.Praktiknya dipengaruhi oleh praktik seni gerak butoh, yang ia temui selama masa kuliahnya, karyanya mengeksplorasi tari sebagai ruang untuk memahami kembali tubuh dan perubahannya bersama dengan modernitas. Praktiknya melibatkan pengembangan bahasa koreografi yang secara aktif mengolah cara cerapan, baik bagi penari maupun penonton. Dalam penelitian terbarunya, ia berfokus pada masakan dan budaya makanan Jepang dari periode sebelum perang hingga pasca perang di Jepang. Penelitian ini membentuk pengembangan skor gerak / tarinya saat ini, yang ia susun sebagai “resep” untuk memasak menggunakan kata-kata.
Kyoto Art Center adalah sebuah institusi seni kontemporer yang berlokasi di pusat Kota Kyoto, Jepang. Didirikan pada tahun 2000, lembaga ini menempati gedung bekas Sekolah Dasar Meirin, sebuah bangunan bersejarah yang merefleksikan warisan budaya Kyoto. Dikelola oleh Kyoto Arts and Culture Foundation, Kyoto Art Center berfungsi sebagai wadah bagi penciptaan, riset, dan pertukaran artistik. Lembaga ini mendukung beragam praktik seni, termasuk seni rupa, tari, teater, dan seni pertunjukan tradisional, melalui pameran, pertunjukan, program residensi, lokakarya, serta program dukungan bagi seniman. Dengan menjembatani tradisi dan praktik kontemporer, Kyoto Art Center berperan penting dalam mendorong dialog antara seniman, komunitas lokal, dan jejaring internasional.
Studio Plesungan adalah ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performans, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Minggu, 11 Januari 2026
Pukul : 15:00 – 17:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Contact Person: Verina (HP / Whatsapp 0821 3322 9593 )
Email: info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
On Stage edisi kali ini akan menghadirkan The Kitchen Under Skin, karya tunggal seniman asal Jepang, Kenta Masukawa. Karya ini berangkat dari praktik memasak sebagai inspirasi koreografi, dengan menyoroti gestur tubuh sehari-hari yang kerap dilakukan tanpa disadari. Aktivitas kecil di dapur, seperti menyentuh bahan mentah, memotong, menekan, dan menimbang dipahami sebagai pengalaman inderawi yang kaya. Pertunjukan ini mengalihwahanakan susunan resep ke dalam rangkaian kata sebagai panduan gerak. Kata-kata ini menuntun tubuh untuk bergerak dari dalam, membangkitkan sensasi, ingatan, dan pengalaman yang tidak selalu terlihat. Bagi Kenta, memasak menjadi momen peralihan yang menghadirkan hubungan antara tubuh, makanan, dan pengalaman sebelum makanan tersaji. Karya ini juga menyinggung keterikatan kita pada jaringan industri pangan, sekaligus mengajak penonton mengingat kembali budaya pangan yang perlahan terhapus dan menunggu untuk dirasakan kembali.
Pertunjukan yang dibawakan oleh Kenta Masukawa merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dengan kolaborasi dan dukungan dari Kyoto Art Center, berjalan selama satu bulan sejak 18 Desember 2025 sampai 18 Januari 2026.
On Stage diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Januari 2026 pukul 19:30 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakata
Selengkapnya buka di sini
__________________________________________
This edition of On Stage presents The Kitchen Under Skin, a solo work by Japanese artist Kenta Masukawa. The piece draws on the practice of cooking as a source of choreographic inspiration, highlighting everyday bodily gestures that are often performed unconsciously. Small kitchen activities—such as touching raw ingredients, cutting, pressing, and weighing—are understood as rich sensory experiences. The performance translates the structure of a recipe into a sequence of words that function as a movement guide. These words lead the body to move from within, evoking sensations, memories, and experiences that are not always visible. For Kenta, cooking becomes a moment of transition that creates a relationship between the body, food, and experience before the food is served. The work also touches on our entanglement with the food industry network, while inviting audiences to recall food cultures that are gradually disappearing and waiting to be felt again.
The performance by Kenta Masukawa is part of the Artist-In-Residence program organized by Studio Plesungan, in collaboration with and supported by Kyoto Art Center. The residency runs for one month, from 18 December 2025 to 18 January 2026.
On Stage will happen on Saturday, January 10th, 2026 at 7:30 PM and takes place at the Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
More information click here
____________________-
Performance
Day and Date : Saturday, 10 January 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731
Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org
TICKET
Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;
Kategori C (early booking umum) Rp30.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000
Pemesanan tiket:

Workshop Series
Kata-kata sebagai sumber koreografi dalam workshop “The Whispered Spell Method” bersama Kenta Masukawa
“The Whispered Spell Method”
Word-based choreography to embody movement
oleh Kenta Masukawa
🗓 Senin, 5 Januari 2026
🕒 15.00 – 18.00 WIB
Pernahkah kamu merasa tubuhmu tergugah hanya dengan membaca sebuah kalimat?
Atau merasakan getaran tertentu ketika mendengar puisi, mantra, atau syair yang melagu?
Bagaimana jika kata-kata tidak hanya dibaca atau didengar, tetapi menjadi titik awal terciptanya gerak?
Dalam workshop ini, Kenta Masukawa akan membagikan metode koreografi berbasis kata, sebuah pendekatan untuk menubuhkan bahasa menjadi pengalaman tubuh. Menelusuri kata sebagai pemicu sensasi, peserta diajak mengamati bagaimana tubuh mengolah bahasa menjadi peristiwa gerak.
Metode ini berangkat dari ungkapan ketsuniku-ka, pengetahuan yang diserap hingga menyatu dengan tubuh. Bagi Kenta, kata dapat menjadi pemantik yang dapat diserap, diolah, dan diwujudkan sebagai gerak. Dalam proses ini, koreografi menjadi cara tubuh belajar, mengingat, dan menubuhkan pengetahuan.
Workshop ini merupakan bagian dari program Artist in Residence Kenta Masukawa di Studio Plesungan, yang diselenggarakan melalui kerja sama dan dukungan dari Kyoto Art Center.
- Workshop gratis dan terbuka bagi praktisi dengan latar belakang tari/koreografi
- Dibawakan dalam Bahasa Inggris dengan terjemahan Bahasa Indonesia
- Kuota terbatas untuk 10 peserta
_____
Have you ever felt your body intrigued simply by reading a sentence?
Or sensed a certain vibration when hearing poetry, a mantra, or a melodic verse?
What if words were not only read or heard, but became the starting point for the creation of movement?
In this workshop, Kenta Masukawa shares a word-based choreographic method—an approach that embodies language as a bodily experience. By tracing words as triggers of sensation, participants are invited to observe how the body processes language and transforms it into a movement event.
This method departs from the concept of ketsuniku-ka, a form of knowledge absorbed until it becomes one with the body. For Kenta, words can function as stimuli that are internalized, processed, and manifested as movement. Through this process, choreography becomes a way for the body to learn, remember, and embody knowledge.
This workshop is part of Kenta Masukawa’s Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, organized in collaboration with and supported by Kyoto Art Cente
📌 Pendaftaran/Registration :
https://bit.ly/workshopkenta
atau melalui pranala di bio kami

📞 Informasi lebih lanjut:
WhatsApp: (+62) 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Sampai bertemu!

Workshop Series & Public Presentation
EKSPLORASI : Last chapter of the Artventure “Look What The World Did To Us” oleh Alxis Jestin
12 – 17 Januari 2026
Workshop
Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026
Pukul : 13:00 – 18:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026
Pukul : 19:30 WIB – selesai
Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Program Workshop Series untuk awal tahun 2026 mendatang, Studio Plesungan akan menyelenggarakan workshop tari oleh Alexis Jestin (UNDERDOG Project). Workshop ini adalah bagian dari proyek Look What The World Did To Us, sebuah proyek pedagogis dan kreatif jangka panjang berskala internasional, dipandu dan diinisiasi oleh koreografer sekaligus direktur artistik dari UNDERDOG Project, Alexis Jestin.
Proyek ini mempertemukan para penari dari berbagai latar belakang dan bidang, dan telah diselenggarakan di sejumlah kota di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Melalui rangkaian proses telisik, penciptaan, dan laboratorium, proyek ini menjadikan gerak tubuh sebagai sarana untuk memahami wilayah-wilayah pengalaman yang dibentuk oleh pengasingan dan pengucilan sosial.
Workshop ini dirancang untuk mendorong proses pengamatan dan eksperimen yang dilakukan secara langsung, menempatkan tubuh sebagai pengamat sekaligus yang diamati. Dengan penuh kesadaran, seluruh peserta diajak untuk menempatkan diri dalam situasi uji coba, kegagalan, dan keberhasilan. Situasi tersebut dihadirkan untuk membuka ruang pencerapan baru, serta mendorong penelusuran, pengamatan, dan perenungan yang lebih mendalam. Melalui proses ini, peserta diajak menafsirkan makna dan fungsi baru dari berbagai peristiwa yang mereka alami selama workshop, sehingga dapat membuka kemungkinan lahirnya sudut pandang yang lebih otentik dalam praktik artistik masing-masing peserta.
Workshop ini juga menjadi babak penutup dari proyek Look What The World Did To Us. Sekaligus, kegiatan ini menjadi momen bagi Alexis untuk membagikan kumpulan pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan artistiknya, memberikan sudut pandang di balik panggung dan studio, serta pengalaman lintas batas yang ia alami di berbagai negara dan kebudayaan.
Pada presentasi publik yang diselenggarakan di akhir program, Alexis juga akan membahas bagaimana dan mengapa proyek tersebut berlangsung, komitmen politik yang terlibat, serta cara proyek ini dirancang, diproduksi, didanai, dan dihadirkan kembali dalam berbagai konteks budaya dan sosial. Sebagai penutup, workshop dan presentasi publik ini akan meninjau kembali pengalaman yang telah dijalani, perubahan yang muncul selama proses berlangsung, serta kemungkinan arah yang dapat ditempuh ke depan.
Workshop dan Public Presentation yang dibawakan oleh Alexis Jestin merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan, yang dimulai pada 11 Januari 2026 sampai 25 Januari 2026.
Alexis Jestin adalah seorang koreografer yang memulai karirnya pada tahun 2000 ketika ia diundang oleh koreografer Thierry Thieu Niang untuk menciptakan duet di Festival des Élançées. Ia menjalani pelatihan di konservatori Montpellier, Paris, dan program COLINE, memasuki dunia internasional sejak muda. Pada usia 20 tahun, ia bekerja untuk koreografer asal Israel, Emanuel Gat, yang kemudian membuka jalan bagi banyak kerjasama dengan seniman seperti Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, dan Yuval Pick.
Pada 2011, ia mengembangkan triptich video-tari bersama Mathieu Zurcher dan K. Labyrinth, yang menjadi dasar lahirnya Underdog Project Dance Company. Ia kemudian bekerja sebagai direktur latihan dan pengajar di Warsaw Dance Department serta mengajar di berbagai institusi di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2018, Alexis meluncurkan LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, riset koreografis tentang isolasi sosial yang telah mengikutsertakan lebih dari 500 penari, dan meraih Villa Saigon Prize pada 2020. Sejak 2021, ia terus menciptakan karya baru, termasuk DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, serta dua karya solonya Redemption (2025) dan Invicta (2026)
Studio Plesungan adalah ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performans, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.
________________________
As part of its Workshop Series program in early 2026, Studio Plesungan will host a dance workshop led by Alexis Jestin (UNDERDOG Project). This workshop is part of Look What The World Did To Us, a long-term international pedagogical and creative project initiated and guided by choreographer and artistic director of the UNDERDOG Project, Alexis Jestin.
The project brings together dancers from diverse backgrounds and disciplines and has been held in various cities across Europe, Asia, and Latin America. Through a series of investigative research processes, creation practices, and laboratory work, the project uses movement as a means to understand territories of experience shaped by exile and social exclusion.
The workshop is designed to encourage direct observation and experimentation, positioning the body as both observer and observed. Participants are consciously invited to place themselves in situations of trial, failure, and success. These conditions are created to open new modes of perception and to foster deeper exploration, observation, and reflection. Through this process, participants are encouraged to reinterpret the meanings and functions of the events they experience during the workshop, opening possibilities for more authentic perspectives within their individual artistic practices.
This workshop also serves as the concluding chapter of the Look What The World Did To Us project. At the same time, it becomes a moment for Alexis to share the accumulated experiences of his artistic journey, offering insights from behind the stage and studio, as well as cross-border experiences encountered across different countries and cultures.
In the public presentation held at the end of the program, Alexis will further discuss how and why the project unfolded, the political commitments involved, and how the project was conceived, produced, funded, and re-presented across diverse cultural and social contexts. As a closing moment, the workshop and public presentation will reflect on the experiences that have taken place, the changes that emerged throughout the process, and possible directions for the future.
The workshop and public presentation led by Alexis Jestin are part of the Artist-in-Residence program organized by Studio Plesungan, taking place from January 11 to January 25, 2026.
Alexis Jestin is a choreographer who began his career in 2000 when he was invited by choreographer Thierry Thieu Niang to create a duet at the Festival des Élançées. He trained at conservatories in Montpellier and Paris, as well as in the COLINE program, entering the international dance scene at a young age. At the age of 20, he worked with Israeli choreographer Emanuel Gat, an experience that opened the door to numerous collaborations with artists such as Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, and Yuval Pick.
In 2011, he developed a video-dance triptych with Mathieu Zurcher and K. Labyrinth, which became the foundation for the creation of the Underdog Project Dance Company. He later worked as rehearsal director and teacher at the Warsaw Dance Department and taught at various institutions across Europe, Asia, and Latin America. In 2018, Alexis launched LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a choreographic research project on social isolation that has involved more than 500 dancers and received the Villa Saigon Prize in 2020. Since 2021, he has continued to create new works, including DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, as well as two solo works, Redemption (2025) and Invicta (2026).
Studio Plesungan is an art space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar. It is an organized space that provides opportunities for research, creative processes, and presentations, particularly in performance art, visual art, and other performing arts. Studio Plesungan hosts workshops, public lectures, study programs, public discussions, and artist-in-residence programs. The studio is committed to principles of artistic knowledge sovereignty and economic autonomy for art practitioners, as well as to the development of human resources, especially in the fields of artistic creation and knowledge production.
Workshop
Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026
Pukul : 13:00 – 18:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026
Pukul : 19:30 WIB – selesai
Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Registrasi:
LINK: bit.ly/4iKvkzM

Contact Person: Verina (HP / Whatsapp 0821 3322 9593 )
Email: info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24
Pertunjukan Lintas Budaya yang Mengeksplorasi Ingatan, Migrasi, dan Identitas Lewat Sebuah Lagu Rakyat
ON STAGE #24 SOLO oleh Li, Wen-Hao
Jumat, 25 Juli 2025
19:30 WIB – selesai
di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir Sutami 16, Surakarta
____________________________________________________
Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.
Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.
ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.
______________________________________________________
Tracing a River of Memory: Studio Plesungan Presents ON STAGE #24
“SOLO” by Li, Wen-Hao
A Cross-Cultural Performance Exploring Memory, Migration, and Identity Through a Folk Song
Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan proudly announces the 24th edition of its signature performance program, ON STAGE, featuring the work SOLO by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
At the heart of SOLO is the legendary Indonesian folk song Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940. Reverberating through Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian adaptations, this iconic melody becomes the starting point of Li’s exploration of post-war cultural flows, ethnic formation, and the poetics of migration across Asia. Through his singular performance, SOLO becomes a metaphorical river—carrying with it half a century of personal and collective dreams, displacements, and histories.
Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an academic background in law and a master’s degree in performance theory, Li’s work investigates the intersections of power, memory, and politics across disciplines.
ON STAGE is a regular program curated by Studio Plesungan to highlight diverse voices in contemporary performance. Presented once every two months, the program invites selected artists to perform and engage in dialogue with the public, fostering a deeper appreciation for performance art in Indonesia and beyond.
Acara tambahan: Diskusi publik bersama seniman
TICKET
Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;
Kategori C (early booking umum) Rp30.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000
Pemesanan tiket:
https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9
___
Kontak Info:
HP/Whatsapp +6282133229593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Workshop Series
Tangan: A Handmade Paper + Painting
oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba
Senin, 28 July 2025
Jam : 14:00 – 18:00
di Studio Plesungan
Workshop ini berfokus pada penggunaan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan untuk membuat kertas menjadi lebih mudah diakses dan berkelanjutan. Workshop ini merespons kebutuhan yang semakin besar untuk mendaur ulang banyaknya kertas yang dibuang, sebuah sumber daya yang melimpah namun sering diabaikan. Dengan menjaga proses untuk tetap sederhana, workshop ini memudahkan peserta untuk belajar dan terlibat, sekaligus menunjukkan bagaimana tindakan kreatif kecil dapat berkontribusi pada cara hidup yang lebih ramah lingkungan.
Program ini diselenggarakan sebagai bagian dari keterlibatan Ben Albino dan Rachel Anne Lacaba dalam Artist-In-Residence oleh Studio Plesungan dari 17 – 29 Juli 2025.
Workshop ini terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang
Donasi workshop: Rp. 20.000 (akan digunakan untuk penyediaan alat dan bahan-bahan workshop)
Pendaftaran melalui pranala berikut:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
_________________________________________
This workshop focuses on using recycled materials and simple, easily accessible tools to make papermaking more approachable and sustainable. It responds to the growing need to recycle the large amount of paper waste—an abundant yet often overlooked resource. By keeping the process simple, the workshop enables participants to learn and engage easily, while also demonstrating how small creative actions can contribute to a more environmentally conscious way of living.
This program is presented as part of Ben Albino and Rachel Anne Lacaba’s participation in the Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, running from 17 to 29 July 2025.
The workshop is open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.
Workshop Donation: Rp. 20,000
(This contribution will support the provision of tools and materials)
Register via the following link:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8
For more information, contact us via WhatsApp:
+62 821-3322-9593
Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02
Plesungan, Gondangrejo
Karanganyar 57181
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Lecture Series
The Multi-Universe of Pop Music in Post-War Asia: A Public Lecture by Li Wen-Hao
Selasa, 22 Juli 2025
19:00 – 21:00 WIB
di Studio Plesungan
Apakah Anda pernah menyanyikan ulang lagu favorit dan mengunggahnya ke media sosial?
Lagu cover adalah fenomena yang umum, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Taiwan, Hong Kong, dan Jepang pada era 50-an hingga 80-an. Melodi yang sama dinyanyikan dalam lirik bahasa dan oleh penyanyi yang berbeda. Hal ini kerap membingungkan namun juga lumrah terjadi di tengah dunia musik pop. Terkadang, hal ini membuat versi aslinya justru terlupakan, sementara versi cover justru menjadi ikonik dan terus dinyanyikan hingga kini.
Saat ini, musik sering dinilai dari segi orisinalitas dan keasliannya, sehingga tampaknya lagu cover sering dianggap canggung dan kurang mendapat perhatian. Namun bagi Wen Hao, pengemasan ulang lagu (cover music) menjadi cara untuk menelusuri kembali jejak perpindahan dan pengaruh antar kebudayaan di Asia pasca-perang.
Dalam sesi kuliah yang terselenggara pada Rabu, 22 Juli 2025 ini, seniman Li, Wen Hao akan memaparkan penelitiannya mengenai migrasi musik pop pasca perang, termasuk di dalamnya adalah karya pertunjukan terbarunya, “SOLO”, yang akan dipentaskan dalam program Studio Plesungan “On Stage” pada Jumat, 25 Juli 2025 mendatang.
Li Wen-Hao adalah seorang seniman pertunjukan kontemporer lintas disiplin asal Taiwan, seorang penghuni pulau, dan peneliti. Praktik artistiknya mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, serta kajian sejarah. Dengan latar belakang pendidikan di bidang hukum (Sarjana Hukum) dan gelar magister teori seni pertunjukan, Li memberikan perhatian khusus pada persinggungan antara kekuasaan, politik, dan batas-batas disiplin ilmu.
Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis!
__________________________________________
Have you ever covered your favorite song and shared it on social media?
Cover songs are a widespread phenomenon—not only in Indonesia, but also in Taiwan, Hong Kong, and Japan during the 1950s to 1980s. The same melody was often sung with different lyrics, in different languages, and by different singers. This practice, while sometimes confusing, became a familiar part of the pop music landscape. In some cases, the original version was overshadowed, while the cover became iconic and continues to be sung today.
In today’s music scene, value is often placed on originality and authenticity, making cover songs seem outdated or overlooked. But for Wen-Hao Li, reinterpreting a song through cover versions becomes a way to retrace the routes of cultural exchange and transnational influence across post-war Asia.
In a public lecture on Wednesday, July 22, 2025, artist Li Wen-Hao will present his research on the migration of post-war pop music. He will also discuss his latest performance work, SOLO, which will be staged as part of Studio Plesungan’s On Stage program on Friday, July 25, 2025.
Li Wen-Hao is a multidisciplinary contemporary performance artist from Taiwan, an island dweller, and a researcher. His artistic practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical inquiry. With an academic background in law (LL.B.) and a master’s degree in performance studies, Li is particularly interested in the intersections of power, politics, and disciplinary boundaries.
This lecture is free and open to the public!
Pendaftaran melalui link :
https://forms.gle/P6n6zjCdCSkrofUN7
Kontak Info:
HP/Whatsapp +6282133229593
Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02
Plesungan, Gondangrejo
Karanganyar 57181
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Workshop Series
Artist In Transit
Studio Plesungan
“It needs two to solo”
oleh Chun Han
Sabtu, 19 July 2025
14:30 – 18:00 WIB
Di Studio Plesungan
Dalam sesi workshop ini, Chun-Han akan menilik kembali latar belakang dan beberapa proses penciptaan karya tari yang pernah ia kerjakan sebelumnya. Ia juga akan membagikan beberapa praktik fisik dan teknik, mempertemukan berbagai praktik gerak dan tari, juga dengan praktik bela diri wushu. “Tarian tunggal itu tidak ada; penari menari bersama dengan lantai” ujar Steve Paxton, prakarsa praktik gerak contact improvisation, di dalam artikelnya “Drafting Interior Techniques”. Melihat dari sudut pandang ini, Chun-Han mengajak untuk bersama-sama menyusuri konsep kehadiran di panggung, hubungan antar penampil, cara memperhatikan, dan bergerak dengan pasangan yang tak terlihat.
Chen Chun-Han tumbuh di tengah komunitas teater dan tari. Ia tertarik untuk memperhatikan percakapan dan kemauan orang-orang untuk bercakap. Praktiknya saat ini sebagian besar membahas isu-isu identitas budaya dan rasa memiliki. Chen Chun-Han sangat terkesan dengan dinamika wacana, pengalaman, dan emosi: George Orwell memilih “He loves Big Brother”, sebuah kalimat cinta, untuk mengakhiri novel distopia “1984”.
Workshop ini gratis dan terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang
_________________________
Workshop with Chen Chun-Han
In this workshop session, Chun-Han will revisit the background and creative processes behind several of his past choreographic works. He will also share physical practices and techniques that intersect various movement and dance forms, including elements from the martial art of Wushu.
“There is no such thing as a solo dance; the dancer dances with the floor,” wrote Steve Paxton, the originator of Contact Improvisation, in his article Drafting Interior Techniques. From this perspective, Chun-Han invites participants to explore the concept of presence on stage, the relationship between performers, the art of attention, and moving with an invisible partner.
Chen Chun-Han was raised in a community of theatre and dance. He is drawn to observing how people engage in conversation and their willingness to communicate. His current practice largely explores themes of cultural identity and belonging. Chun-Han is deeply moved by the interplay of discourse, lived experience, and emotion—much like how George Orwell chose the phrase “He loves Big Brother”, a declaration of love, to close his dystopian novel 1984.
This workshop is free and open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.
Pendaftaran melalui pranala berikut:
https://forms.gle/y8Yeeg73eneCQZ7t8
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Lecture Series
“Meretas Ingatan, Mewujudkan Dalam Tulisan”
oleh Prof. Sumarsam
(Profesor Winslow-Kaplan di Universitas Wesleyan, Connecticut, Amerika Serikat)
Sabtu, 12 Juli 2025
10:00 – 12:00 WIB
di Studio Plesungan – Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181 (https://g.co/kgs/h7Kt6tx)
Gagasan yang baik akan lebih baik lagi jika bisa disampaikan melalui tulisan, sehingga apa yang diinginkan bisa sampai kepada publik. Namun menuliskan gagasan dan berbagai percikan pemikiran tak semudah yang dibayangkan.
Menulis dan mengutarakan gagasan membutuhkan proses panjang seperti mengembangkan kapasitas membaca, mengkaji bacaan yang berisi berbagai kajian dan teori. pada sisi yang lain, persepsi serta serapan pengalaman melalui menonton, menyaksikan dan menggali bahan gagasan melalui literatur dibutuhkan agar tulisan bisa memiliki dasar pemikiran yang kuat.
Dalam kaitan dengan hal itu, program Lecture Series yang terhubung dengan kegiatan Ruang Antara di Studio Plesungan mengundang prof. Sumarsam, yang kita kenal sebagai pakar musikologi dan pakar kajian khasanah tradisi. Beliau akan hadir untuk membagikan dan memaparkan pengalamannya.
Ruang Antara merupakan kegiatan informal yang bertujuan bagaimana memperbincangkan dan menuliskan ingatan, memori personal dan sosial dalam konteks minat studi masing masing.
—
Kuliah ini terbuka untuk umum dan gratis
_____________________________________________________________
“Tracing Memory, Realizing It in Writing”
by Prof. Sumarsam
(Winslow-Kaplan Professor of Music, Wesleyan University, Connecticut, USA)
Saturday, 12 July 2025
10:00 AM – 12:00 PM (WIB)
at Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Central Java 57181
https://g.co/kgs/h7Kt6tx
A well-formed idea becomes even more impactful when articulated in writing—making it possible to reach a broader audience. Yet, turning thoughts and reflections into written words is often more challenging than it seems.
Writing requires a deep and sustained process: developing reading skills, engaging with theoretical texts, and refining one’s understanding through observation and lived experience. Watching, witnessing, and exploring sources, both through literature and life, are all essential in shaping a meaningful and grounded piece of writing.
In response to these reflections, the Lecture Series, presented in connection with the Ruang Antara program at Studio Plesungan, invites Prof. Sumarsam, a renowned musicologist and expert in traditional cultural studies, to share his insights and personal journey through writing, research, and memory.
Ruang Antara is an informal initiative focused on exploring how memory—both personal and collective—can be discussed and written about within each participant’s area of interest.
—
This lecture is free and open to the public.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org