News

On Stage Edisi Juli: Pertunjukan karya bertajuk “ROOT” oleh Hari Ghulur

On Stage edisi bulan Juli menghadirkan karya bertajuk ROOT oleh Hari Ghulur

Hari dan Tanggal : Rabu, 8 Juli 2026

Pukul : 19:30 – 22:00 WIB

Tempat : Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah

Jl. Ir. Sutami No.57, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57731

ROOT merupakan karya terkini Hari Ghulur yang mengolah mendak atau tanjak serta hubungan antara tubuh dan objek, menciptakan koreografi sebagai peristiwa daya tahan menghadapi ketidakstabilan dan ketidaknyamanan.

Mendak atau tanjak merupakan teknik kuda-kuda dasar yang dimiliki oleh berbagai bentuk tari di pulau Jawa, Bali, dan wilayah Nusantara lainnya. Sebagai pondasi, posisi ini menempatkan tubuh dekat dengan tanah, mewujudkan hubungan dengan bumi sebagai sumber tumpuan dan kekuatan. Kaki mencengkram permukaan dan menahan tubuh agar tidak jatuh, sementara bagian tubuh atas bergerak ke segala arah, tidak patuh pada gravitasi. Ketegangan antara dorongan untuk tetap berakar dan hasrat untuk bebas menjadi pusat pengalaman tubuh dalam karya ini.

Terpal dan jagung hadir sebagai medan gerak pertarungan antara akar dan kebebasan. Pada permukaan terpal yang licin dan butiran jagung yang berserakan, penari dikondisikan untuk terus menyesuaikan diri, mencari keseimbangan baru, dan bernegosiasi dengan rasa sakit maupun ketidakpastian. Keadaan ini dihadirkan sebagai penanda ingatan kolektif masyarakat Madura dengan jagung sebagai sumber pangan utama sekaligus ingatan masa lalu atas kemampuan bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Melalui ROOT, jagung ingin dihadirkan dalam makna yang berbeda: bukan lagi sebagai simbol keterpaksaan, melainkan sebagai kesadaran dan keberlanjutan hidup. Melalui pijakan di atas jagung, karya ini mengajak kita untuk memikirkan kembali hubungan tubuh dengan tanah, ingatan, dan keberadaan.

Moh. Hariyanto yang juga dikenal sebagai Hari Ghulur, adalah seorang koreografer dan penari yang berbasis di Surabaya. Karya-karyanya, antara lain Ghulur, Ghabal, White Stone, Sila, SILO, dan Jap_Vanese, telah dipresentasikan di T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Arts Festival, University of Malaya, International Odoru Akita Dance Festival, American Dance Festival, dan Indonesia Dance Festival.

Lanskap penciptaan Hari berakar pada Madura, pulau tempat ia dilahirkan. Karya-karyanya berangkat dari pengalaman-pengalaman personal yang dipicu oleh perjalanan tubuhnya dalam menjalani praktik-praktik fisik.

Hari meraih gelar Magister Penciptaan Seni (Tari) dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Saat ini ia mengajar di Program Studi Tari dan Teater STKW Surabaya serta menjadi salah satu pendiri Sawung Dance Studio dan Sawung Dance Festival.

Studio Plesungan, yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar, merupakan ruang seni yang menyediakan fasilitas riset, proses kreatif, dan presentasi karya dalam seni performans, seni rupa, dan seni pertunjukan lainnya. Studio ini juga menjadi ruang workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi, serta residensi seniman, dengan fokus pada penguatan kedaulatan pengetahuan dan ekosistem kerja seni.

Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;
Kategori C (early booking umum) Rp30.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:
https://bit.ly/4atwNru


Atau melalui pranala di bio instagram kami.

Informasi lebih lanjut:

whatsapp +62 821 3322 9593

On Stage Edisi Juli: Pertunjukan karya bertajuk “ROOT” oleh Hari Ghulur

On Stage edisi bulan Juli menghadirkan karya bertajuk ROOT oleh Hari Ghulur

Hari dan Tanggal : Rabu, 8 Juli 2026

Pukul : 19:30 – 22:00 WIB

Tempat : Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah

Jl. Ir. Sutami No.57, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57731

ROOT merupakan karya terkini Hari Ghulur yang mengolah mendak atau tanjak serta hubungan antara tubuh dan objek, menciptakan koreografi sebagai peristiwa daya tahan menghadapi ketidakstabilan dan ketidaknyamanan.

Mendak atau tanjak merupakan teknik kuda-kuda dasar yang dimiliki oleh berbagai bentuk tari di pulau Jawa, Bali, dan wilayah Nusantara lainnya. Sebagai pondasi, posisi ini menempatkan tubuh dekat dengan tanah, mewujudkan hubungan dengan bumi sebagai sumber tumpuan dan kekuatan. Kaki mencengkram permukaan dan menahan tubuh agar tidak jatuh, sementara bagian tubuh atas bergerak ke segala arah, tidak patuh pada gravitasi. Ketegangan antara dorongan untuk tetap berakar dan hasrat untuk bebas menjadi pusat pengalaman tubuh dalam karya ini.

Terpal dan jagung hadir sebagai medan gerak pertarungan antara akar dan kebebasan. Pada permukaan terpal yang licin dan butiran jagung yang berserakan, penari dikondisikan untuk terus menyesuaikan diri, mencari keseimbangan baru, dan bernegosiasi dengan rasa sakit maupun ketidakpastian. Keadaan ini dihadirkan sebagai penanda ingatan kolektif masyarakat Madura dengan jagung sebagai sumber pangan utama sekaligus ingatan masa lalu atas kemampuan bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Melalui ROOT, jagung ingin dihadirkan dalam makna yang berbeda: bukan lagi sebagai simbol keterpaksaan, melainkan sebagai kesadaran dan keberlanjutan hidup. Melalui pijakan di atas jagung, karya ini mengajak kita untuk memikirkan kembali hubungan tubuh dengan tanah, ingatan, dan keberadaan.

Moh. Hariyanto yang juga dikenal sebagai Hari Ghulur, adalah seorang koreografer dan penari yang berbasis di Surabaya. Karya-karyanya, antara lain Ghulur, Ghabal, White Stone, Sila, SILO, dan Jap_Vanese, telah dipresentasikan di T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Arts Festival, University of Malaya, International Odoru Akita Dance Festival, American Dance Festival, dan Indonesia Dance Festival.

Lanskap penciptaan Hari berakar pada Madura, pulau tempat ia dilahirkan. Karya-karyanya berangkat dari pengalaman-pengalaman personal yang dipicu oleh perjalanan tubuhnya dalam menjalani praktik-praktik fisik.

Hari meraih gelar Magister Penciptaan Seni (Tari) dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Saat ini ia mengajar di Program Studi Tari dan Teater STKW Surabaya serta menjadi salah satu pendiri Sawung Dance Studio dan Sawung Dance Festival.

Studio Plesungan, yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar, merupakan ruang seni yang menyediakan fasilitas riset, proses kreatif, dan presentasi karya dalam seni performans, seni rupa, dan seni pertunjukan lainnya. Studio ini juga menjadi ruang workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi, serta residensi seniman, dengan fokus pada penguatan kedaulatan pengetahuan dan ekosistem kerja seni.

Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;
Kategori C (early booking umum) Rp30.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:
https://bit.ly/4atwNru


Atau melalui pranala di bio instagram kami.

Informasi lebih lanjut:

whatsapp +62 821 3322 9593

Presentasi Publik NAFA Singapore Residency 2026 di Studio Plesungan

Studio Plesungan
Artist-in-Residency

PUBLIC PRESENTATION

   

 

LIVE PERFORMANCE
Jumat–Sabtu, 22–23 Mei 2026
16.00–16.30 WIB (+1)

ARTIST TALK
Sabtu, 23 Mei 2026
16.45–17.45 WIB

📍 Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02,
Gondangrejo, Karanganyar 57181

Bagaimana sebuah tempat baru dapat mengubah cara seseorang melihat, merasakan, dan menciptakan karya?

Setiap tahunnya, Studio Plesungan menerima mahasiswa Seni Rupa dari Nanyang Academy of Fine Arts – University of the Arts London untuk menjalani program residensi seni di Solo. Selama satu bulan, para peserta tinggal, melakukan riset, dan mengembangkan praktik artistiknya melalui pengalaman keseharian, lingkungan, dan pertemuan dengan konteks budaya yang berbeda dari kehidupan mereka di Singapura.

Tahun ini, empat seniman muda:
— Alex Sim Le Xuan
— Shannon Tan
— Danish Hamzah
— Zhu Zhicheng

akan mempresentasikan proses riset artistiknya dalam bentuk performans publik yang berkembang dari pengalaman residensi mereka di Studio Plesungan.

Program ini dibimbing oleh Dr. Wong Zi Hao dan Melati Suryodarmo.

Presentasi terbuka untuk umum dan gratis.

Mari datang, menyaksikan proses yang sedang tumbuh, dan berdialog langsung bersama para seniman.


Narahubung:
WA: 0821-3322-9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org

Safrizal (Dekjall) akan hadir di On Stage dengan karya barunya Tarekat AK-47

Safrizal (Dekjall) akan hadir di Onstage dengan karya barunya Tarekat AK-47

Melalui kerjasama dengan Katalis Kolektif akan menghadirkan karya terbaru Safrizal pada On Stage, yang akan diselengarakan pada:

Jumat, 08.05.2026

19:30 WIB

Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah

Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah

On Stage edisi kali ini menghadirkan karya bertajuk Tarekat AK-47 oleh Dekjall (M. Safrizal) yang akan berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah.

Tarekat AK-47 merupakan bagian ketiga dari riset artistik panjang Dekjall tentang praktik tarekat yang telah ia jalani selama enam tahun terakhir. Dalam praktiknya, tarekat tidak hanya dipahami sebagai laku spiritual, tetapi juga sebagai kerangka kerja artistik untuk menelusuri, mengartikulasikan, dan mentransformasikan pengalaman hidup ke dalam koreografi.

Setelah Tarekat Kopi #1: Ruang Pembebasan (2023) dan Tarekat Kopi #2: Happiness Plus-Plus (2024), karya ini bergerak ke ingatan masa kecil hingga remaja Dekjall terkait sejarah konflik GAM/RI di Aceh pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Alih-alih merekonstruksi peristiwa, Tarekat AK-47 menempatkan tubuh sebagai arsip yang menyimpan jejak konflik melalui refleks, ketegangan, dan respons tubuh yang terbentuk dalam kondisi ancaman. Praktik tarekat digunakan sebagai metode untuk membongkar sekaligus menguji kembali ingatan tersebut melalui kerja koreografi.

AK-47 dalam pengalaman Dekjall adalah senjata perang yang pernah ia genggam dan mainkan pada masa kecil. Jejak pengalaman itu kemudian dimaknai ulang sebagai simpul antara tubuh, ingatan, kekacauan, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terselesaikan. Di antara latihan spiritual dan pengalaman konflik, tubuh berada dalam kondisi yang sama: waspada, terlatih, dan terus bernegosiasi dengan apa yang datang dari dalam maupun luar.

Karya ini berangkat dari pertanyaan yang terus berulang tanpa jawaban final: bagaimana tubuh mengingat, bertahan, dan hidup bersama jejak konflik yang tetap bersemayam di dalamnya?

Dekjall (M. Safrizal) adalah koreografer asal Aceh yang berbasis di Solo. Karya-karyanya mengeksplorasi pertemuan antara disiplin spiritual, pengalaman tubuh, dan kehidupan sehari-hari. Berakar pada tradisi tarekat yang telah lama dipraktikkan, ia menerjemahkan nilai-nilai kontemplatif dan asketik ke dalam proses koreografi yang merangkai tubuh, ruang, waktu, kesadaran, dan semesta. Saat ini ia mengembangkan metode gerak membumi, sebuah pendekatan untuk penyembuhan tubuh sekaligus penegasan kembali keterhubungan tubuh dengan bumi. Ia juga bekerja bersama Kolektif Katalis dalam program LaborArt Project.

Studio Plesungan, yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar, merupakan ruang seni yang menyediakan fasilitas riset, proses kreatif, dan presentasi karya dalam seni performans, seni rupa, dan seni pertunjukan lainnya. Studio ini juga menjadi ruang workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi, serta residensi seniman, dengan fokus pada penguatan kedaulatan pengetahuan dan ekosistem kerja seni.

Pesan tiket di QR atau WA 082133229593

Early Booking

Umum : 30 K

Pelajar : 20 K

On the Spot

Umum : 40 K

Pelajar : 25 K

Pemesanan tiket:
bit.ly/426uqpM
Atau melalui pranala di bio instagram kami.

Informasi lebih lanjut:

whatsapp +62 821 3322 9593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Eksperimen Keroncong “Overgang” oleh Soladi

Eksperimen Keroncong “Overgang” oleh Soladi

Musik keroncong sejak awal lahir dari perjumpaan dan peralihan antara budaya, zaman, dan bentuk musikal. Karena itu, setiap pembaruan dalam musik keroncong dapat dilihat sebagai upaya menelusuri kembali ruang-ruang peralihan yang membentuknya. Kota Solo, sebagai salah satu tempat penting dalam perkembangan keroncong, hingga kini masih menjadi ruang di mana musik ini terus hidup. Bagi masyarakat, keroncong membawa ingatan panjang atas berbagai peristiwa di masa lalu. Pertanyaannya kemudian: apakah keroncong masih dapat berevolusi sebagai lantunan yang membunyikan peralihan di masa kini?

On Stage edisi kali ini menghadirkan Overgang, sebuah komposisi musik karya Soladi bersama kelompok yang ia bangun pada 2024, Soladi en de Overgang. Dalam pertunjukan ini, Soladi akan menyajikan tiga karya musik, salah satunya berjudul Overgang. Rangkaian komposisi ini menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi.

Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi.

Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.

English

Experimenting with Keroncong: “Overgang” by Soladi

ON STAGE edisi ke-27 kali ini menyajikan sejumlah karya komposer Soladi yang menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi.
Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi. Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.

Soladi, lahir dan tumbuh di Surakarta. mulai berkesenian sejak usia sekitar 15 tahun. Soladi mulai menjalani pendidikan formal yang berfokus pada musik di SMKN 8 Surakarta pada jurusan Seni Musik Non-Klasik, kemudian melanjutkan studi S1 Etnmusikologi dan S2 Kajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Perjalanan musikalnya bermula dari musik keroncong, sebuah genre yang pada saat itu relatif jarang diminati oleh generasi muda.

Dalam praktik kreatif, Soladi menempuh dua arah yang berjalan beriringan dan konsisten. Soladi secara aktif menggarap keroncong melalui pendekatan konservatif dengan tetap mencipta karya-karya yang berpijak pada bentuk dan kaidah baku. Di sisi lain, ia juga mengeksplorasi keroncong dengan mendobrak konvensi-konvensi yang mapan. Eksplorasi ini berkembang lebih jauh pada tahun 2023 ketika ia mulai memasuki ranah musik kontemporer.

Pada tahun 2024, Soladi memulai kelompok musik kontemporer “Soladi en de Overgang” di Surakarta, sebagai wadah eksplorasi musikal yang lebih berani. Melalui kelompok ini, Soladi mencoba mengeksplorasi instrumen dan konsep dalam musik keroncong agar menjadi sesuatu yang baru dan segar. Saat ini “Soladi en de Overgang” mempunyai 4 komposisi dan 1 komposisi hasil interpretasi karya Sono Seni Ensemble.

English

Soladi was born and raised in Surakarta and began his artistic journey around the age of 15. He pursued formal music education at SMKN 8 Surakarta in the Non-Classical Music program, followed by a bachelor’s degree in Ethnomusicology and a master’s degree in Arts Studies at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta. His musical journey began with keroncong, a genre that at the time was relatively rarely embraced by younger generations.

In his creative practice, Soladi follows two parallel and consistent paths. He actively works on keroncong through a conservative approach, creating pieces grounded in established forms and rules. At the same time, he explores keroncong by challenging conventional norms. This experimental approach further developed in 2023 when he began venturing into contemporary music.

In 2024, Soladi founded the contemporary music ensemble Soladi en de Overgang in Surakarta, as a platform for bolder musical exploration. Through this ensemble, he experiments with instruments and concepts in keroncong to create something fresh and new. Currently, Soladi en de Overgang has four original compositions and one interpretation of a piece by Sono Seni Ensemble.

The 27th edition of ON STAGE presents compositional pieces by music composer Soladi that offers musical exploration inspired by the characteristic elements of keroncong, placing transition at the center of the exploration.
In the context of keroncong, overgang refers to the transition from one section to another within the structure of a song. In this work, transitions are not merely connectors between sections but are presented as a complete musical experience. Changes in tempo,
modulation, as well as rhythmic and melodic variations are processed to emphasize transition as a process of becoming. Through this piece, Soladi seeks to offer an alternative perspective on listening to keroncong, while presenting overgang as a concept that
reconsiders our perception of transitions in the present day.

Performance
Day and Date : Tuesday, 31 March 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731

Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org

Ticket :

Pesan tiket di QR atau WA: 082133229593
Early Booking
Umum : 30 K
Pelajar : 20 K

Alexis Jestin Tutup Workshop Tari “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” dengan Presentasi Publik di Solo

Alexis Jestin Tutup Workshop Tari “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” dengan Presentasi Publik di Solo

Sabtu, 17 Januari 2026

19:30 WIB

Wisma Seni

Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta

Studio Plesungan menggelar presentasi publik LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, sebuah workshop tari yang dikembangkan oleh penari dan koreografer Alexis Jestin sebagai proyek pedagogis. Presentasi ini menjadi penutup dari rangkaian workshop intensif selama lima hari yang diikuti oleh 13 peserta dan berlangsung di Kota Solo.

Workshop ini mengusung pendekatan belajar sambil bermain (learning through play), di mana Alexis Jestin membagikan berbagai latihan, permainan gerak, dan sesi diskusi untuk mendorong peserta memahami tubuh, pengalaman personal, serta relasinya dengan lingkungan sekitar. Gerak tari digunakan sebagai medium utama untuk refleksi diri dan eksplorasi hubungan antara individu dan kondisi sosial di sekitarnya.

Materi yang dipresentasikan merupakan hasil pengembangan metode yang telah Alexis Jestin praktikkan di berbagai negara, termasuk Vietnam, Kolombia, dan Kuba, serta diperkaya oleh pengalamannya sebagai penari dalam berbagai karya dan proses kreatif sebelumnya. Selain menampilkan hasil latihan, presentasi ini juga membuka ruang dialog melalui diskusi singkat bersama Alexis Jestin dan para peserta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Artist-in-Residence Studio Plesungan yang berlangsung pada 11–25 Januari 2026.

Alexis Jestin Concludes “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” Dance Workshop with Public Presentation in Solo

Studio Plesungan presents a public showing of LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a dance workshop developed by dancer and choreographer Alexis Jestin as a pedagogical project. The presentation marks the conclusion of an intensive five-day workshop held in the city of Solo and involving 13 participants.

The workshop adopts a learning-through-play approach, through which Alexis Jestin shared a series of movement exercises, games, and discussions. Dance movement serves as the primary medium to encourage participants to explore their bodies, personal experiences, and their relationship to the surrounding social and environmental context.

The material presented is the result of an evolving methodology developed by Alexis Jestin across various international contexts, including Vietnam, Colombia, and Cuba, and is further informed by his experience as a dancer in numerous artistic works and creative processes. In addition to showcasing the workshop outcomes, the presentation will conclude with a short discussion involving Alexis Jestin and the participants.

This activity is part of Alexis Jestin’s participation in the Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, taking place from 11–25 January 2026.

Cita Rasa dari Solo dan Kyoto: Koreografi dari Budaya Memasak

PUBLIC PRESENTATION
Cita Rasa dari Solo dan Kyoto: Koreografi dari Budaya Memasak

Kenta Masukawa, seorang seniman pertunjukan yang kini berdomisili di Kyoto, melakukan residensi seni selama satu bulan di Studio Plesungan, untuk mengembangkan praktik artistiknya yang erat dengan budaya kuliner. Dalam penciptaan karya pertunjukannya telah dikembangkan di Kyoto, Kenta menciptakan skor koreografi dari proses pengolahan resep masakan yang kemudian  dijadikannya acuan gerak dan memasak. Selama masa residensinya, Kenta menelusuri beragam budaya memasak melalui kunjungan lapangan dan lokakarya di berbagai wilayah Kota Solo.

Pada hari Minggu (11/1) Kenta akan memaparkan proses penciptaannya yang bertumbuh dari perjumpaan antara budaya lokal dan pengalaman tubuh dalam aktivitas memasak. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian diolah dan diperdalam sebagai bagian dari riset artistik yang membentuk kerangka karya dan pendekatan koreografinya.

Pada kesempatan yang sama, Kyoto Art Center turut hadir untuk memperkenalkan lembaga mereka serta memaparkan gambaran umum praktik seni kontemporer di kawasan Kyoto. Presentasi ini akan menyoroti dinamika gagasan yang berkembang di wilayah tersebut, sekaligus mengulas bagaimana lanskap budaya Kyoto menghadirkan kondisi dan karakter yang berbeda dibandingkan dengan Tokyo atau kota lainnya di Jepang.

Presentasi ini merupakan tahap akhir dari program Artist-In-Residence ini yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dengan kolaborasi dan dukungan dari Kyoto Art Center, berjalan selama satu bulan sejak 18 Desember 2025 sampai 18 Januari 2026.

Kenta Masukawa lahir di Tokyo dan saat ini berbasis di Kyoto, di mana ia bekerja sebagai koreografer dan penari.Praktiknya dipengaruhi oleh praktik seni gerak butoh, yang ia temui selama masa kuliahnya, karyanya mengeksplorasi tari sebagai ruang untuk memahami kembali tubuh dan perubahannya bersama dengan modernitas. Praktiknya melibatkan pengembangan bahasa koreografi yang secara aktif mengolah cara cerapan, baik bagi penari maupun penonton. Dalam penelitian terbarunya, ia berfokus pada masakan dan budaya makanan Jepang dari periode sebelum perang hingga pasca perang di Jepang. Penelitian ini membentuk pengembangan skor gerak / tarinya saat ini, yang ia susun sebagai “resep” untuk memasak menggunakan kata-kata.

Kyoto Art Center adalah sebuah institusi seni kontemporer yang berlokasi di pusat Kota Kyoto, Jepang. Didirikan pada tahun 2000, lembaga ini menempati gedung bekas Sekolah Dasar Meirin, sebuah bangunan bersejarah yang merefleksikan warisan budaya Kyoto. Dikelola oleh Kyoto Arts and Culture Foundation, Kyoto Art Center berfungsi sebagai wadah bagi penciptaan, riset, dan pertukaran artistik. Lembaga ini mendukung beragam praktik seni, termasuk seni rupa, tari, teater, dan seni pertunjukan tradisional, melalui pameran, pertunjukan, program residensi, lokakarya, serta program dukungan bagi seniman. Dengan menjembatani tradisi dan praktik kontemporer, Kyoto Art Center berperan penting dalam mendorong dialog antara seniman, komunitas lokal, dan jejaring internasional.

Studio Plesungan adalah ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performans, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

Presentasi Publik

Hari dan Tanggal Waktu : Minggu, 11 Januari 2026

Pukul : 15:00 – 17:00 WIB

Tempat : Studio Plesungan

Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181

Contact Person: Verina (HP / Whatsapp 0821 3322 9593 )

Email: info@studioplesungan.org

www.studioplesungan.org

Menyusun Gerak dari Memasak, Kenta Masukawa hadir pada On Stage di bulan Januari ini

On Stage edisi kali ini akan menghadirkan The Kitchen Under Skin, karya tunggal seniman asal Jepang, Kenta Masukawa. Karya ini berangkat dari praktik memasak sebagai inspirasi koreografi, dengan menyoroti gestur tubuh sehari-hari yang kerap dilakukan tanpa disadari. Aktivitas kecil di dapur, seperti menyentuh bahan mentah, memotong, menekan, dan menimbang dipahami sebagai pengalaman inderawi yang kaya. Pertunjukan ini mengalihwahanakan susunan resep ke dalam rangkaian kata sebagai panduan gerak. Kata-kata ini menuntun tubuh untuk bergerak dari dalam, membangkitkan sensasi, ingatan, dan pengalaman yang tidak selalu terlihat. Bagi Kenta, memasak menjadi momen peralihan yang menghadirkan hubungan antara tubuh, makanan, dan pengalaman sebelum makanan tersaji. Karya ini juga menyinggung keterikatan kita pada jaringan industri pangan, sekaligus mengajak penonton mengingat kembali budaya pangan yang perlahan terhapus dan menunggu untuk dirasakan kembali.

Pertunjukan yang dibawakan oleh Kenta Masukawa merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dengan kolaborasi dan dukungan dari Kyoto Art Center, berjalan selama satu bulan sejak 18 Desember 2025 sampai 18 Januari 2026.

On Stage diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Januari 2026 pukul 19:30 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakata

Selengkapnya buka di sini

__________________________________________

This edition of On Stage presents The Kitchen Under Skin, a solo work by Japanese artist Kenta Masukawa. The piece draws on the practice of cooking as a source of choreographic inspiration, highlighting everyday bodily gestures that are often performed unconsciously. Small kitchen activities—such as touching raw ingredients, cutting, pressing, and weighing—are understood as rich sensory experiences. The performance translates the structure of a recipe into a sequence of words that function as a movement guide. These words lead the body to move from within, evoking sensations, memories, and experiences that are not always visible. For Kenta, cooking becomes a moment of transition that creates a relationship between the body, food, and experience before the food is served. The work also touches on our entanglement with the food industry network, while inviting audiences to recall food cultures that are gradually disappearing and waiting to be felt again.

The performance by Kenta Masukawa is part of the Artist-In-Residence program organized by Studio Plesungan, in collaboration with and supported by Kyoto Art Center. The residency runs for one month, from 18 December 2025 to 18 January 2026.

On Stage will happen on Saturday, January 10th, 2026 at 7:30 PM and takes place at the Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta


More information click here

____________________-

Performance
Day and Date : Saturday, 10 January 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731

Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org

TICKET

Harga Tiket:

Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;

Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;

Kategori C (early booking umum) Rp30.000;

Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:

Kata-kata sebagai sumber koreografi dalam workshop “The Whispered Spell Method” bersama Kenta Masukawa

Workshop Series

Kata-kata sebagai sumber koreografi dalam workshop “The Whispered Spell Method” bersama Kenta Masukawa

“The Whispered Spell Method”

Word-based choreography to embody movement

oleh Kenta Masukawa

🗓 Senin, 5 Januari 2026

🕒 15.00 – 18.00 WIB

Pernahkah kamu merasa tubuhmu tergugah hanya dengan membaca sebuah kalimat?

Atau merasakan getaran tertentu ketika mendengar puisi, mantra, atau syair yang melagu?

Bagaimana jika kata-kata tidak hanya dibaca atau didengar, tetapi menjadi titik awal terciptanya gerak?

Dalam workshop ini, Kenta Masukawa akan membagikan metode koreografi berbasis kata, sebuah pendekatan untuk menubuhkan bahasa menjadi pengalaman tubuh. Menelusuri kata sebagai pemicu sensasi, peserta diajak mengamati bagaimana tubuh mengolah bahasa menjadi peristiwa gerak.

Metode ini berangkat dari ungkapan ketsuniku-ka, pengetahuan yang diserap hingga menyatu dengan tubuh. Bagi Kenta, kata dapat menjadi pemantik yang dapat diserap, diolah, dan diwujudkan sebagai gerak. Dalam proses ini, koreografi menjadi cara tubuh belajar, mengingat, dan menubuhkan pengetahuan.

Workshop ini merupakan bagian dari program Artist in Residence Kenta Masukawa di Studio Plesungan, yang diselenggarakan melalui kerja sama dan dukungan dari Kyoto Art Center.

  • Workshop gratis dan terbuka bagi praktisi dengan latar belakang tari/koreografi
  • Dibawakan dalam Bahasa Inggris dengan terjemahan Bahasa Indonesia
  • Kuota terbatas untuk 10 peserta

_____

Have you ever felt your body intrigued simply by reading a sentence?

Or sensed a certain vibration when hearing poetry, a mantra, or a melodic verse?
What if words were not only read or heard, but became the starting point for the creation of movement?

In this workshop, Kenta Masukawa shares a word-based choreographic method—an approach that embodies language as a bodily experience. By tracing words as triggers of sensation, participants are invited to observe how the body processes language and transforms it into a movement event.

This method departs from the concept of ketsuniku-ka, a form of knowledge absorbed until it becomes one with the body. For Kenta, words can function as stimuli that are internalized, processed, and manifested as movement. Through this process, choreography becomes a way for the body to learn, remember, and embody knowledge.

This workshop is part of Kenta Masukawa’s Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, organized in collaboration with and supported by Kyoto Art Cente

 

📌 Pendaftaran/Registration :

https://bit.ly/workshopkenta

atau melalui pranala di bio kami

📞 Informasi lebih lanjut:

WhatsApp: (+62) 821 3322 9593

Email: info@studioplesungan.org

Sampai bertemu!

Workshop Series “EKSPLORASI” – Latest chapters of the Artventure LOOK WHAT THE WORLD DID TO US – Workshop bersama Alexis Jestin dari UNDERDOG Project

Workshop Series & Public Presentation

EKSPLORASI : Last chapter of the Artventure “Look What The World Did To Us” oleh Alxis Jestin

12 – 17 Januari 2026

 

Workshop

Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026

Pukul : 13:00 – 18:00 WIB

Tempat : Studio Plesungan

Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181

 

Presentasi Publik

Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026

Pukul : 19:30  WIB – selesai

Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah

Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah

 

Program Workshop Series untuk awal tahun 2026 mendatang, Studio Plesungan akan menyelenggarakan workshop tari oleh Alexis Jestin (UNDERDOG Project). Workshop ini adalah bagian dari proyek Look What The World Did To Us, sebuah proyek pedagogis dan kreatif jangka panjang berskala internasional, dipandu dan diinisiasi oleh koreografer sekaligus direktur artistik dari UNDERDOG Project, Alexis Jestin.

Proyek ini mempertemukan para penari dari berbagai latar belakang dan bidang, dan telah diselenggarakan di sejumlah kota di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Melalui rangkaian proses telisik, penciptaan, dan laboratorium, proyek ini menjadikan gerak tubuh sebagai sarana untuk memahami wilayah-wilayah pengalaman yang dibentuk oleh pengasingan dan pengucilan sosial.

Workshop ini dirancang untuk mendorong proses pengamatan dan eksperimen yang dilakukan secara langsung, menempatkan tubuh sebagai pengamat sekaligus yang diamati. Dengan penuh kesadaran,  seluruh peserta diajak untuk menempatkan diri  dalam situasi uji coba, kegagalan, dan keberhasilan. Situasi tersebut dihadirkan untuk membuka ruang pencerapan baru, serta mendorong penelusuran, pengamatan, dan perenungan yang lebih mendalam. Melalui proses ini, peserta diajak menafsirkan makna dan fungsi baru dari berbagai peristiwa yang mereka alami selama workshop, sehingga dapat membuka kemungkinan lahirnya sudut pandang yang lebih otentik dalam praktik artistik masing-masing peserta.

Workshop ini juga menjadi babak penutup dari proyek Look What The World Did To Us. Sekaligus, kegiatan ini menjadi momen bagi Alexis untuk membagikan kumpulan pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan artistiknya, memberikan sudut pandang di balik panggung dan studio, serta pengalaman lintas batas yang ia alami di berbagai negara dan kebudayaan.

Pada presentasi publik yang diselenggarakan di akhir program, Alexis juga akan membahas bagaimana dan mengapa proyek tersebut berlangsung, komitmen politik yang terlibat, serta cara proyek ini dirancang, diproduksi, didanai, dan dihadirkan kembali dalam berbagai konteks budaya dan sosial. Sebagai penutup, workshop dan presentasi publik ini akan meninjau kembali pengalaman yang telah dijalani, perubahan yang muncul selama proses berlangsung, serta kemungkinan arah yang dapat ditempuh ke depan.

Workshop dan Public Presentation yang dibawakan oleh Alexis Jestin merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan, yang dimulai pada 11 Januari 2026 sampai 25 Januari 2026.

Alexis Jestin adalah seorang koreografer yang memulai karirnya pada tahun 2000 ketika ia diundang oleh koreografer Thierry Thieu Niang untuk menciptakan duet di Festival des Élançées. Ia menjalani pelatihan di konservatori Montpellier, Paris, dan program COLINE, memasuki dunia internasional sejak muda. Pada usia 20 tahun, ia bekerja untuk koreografer asal Israel, Emanuel Gat, yang kemudian membuka jalan bagi banyak kerjasama dengan seniman seperti Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, dan Yuval Pick.

Pada 2011, ia mengembangkan triptich video-tari bersama Mathieu Zurcher dan K. Labyrinth, yang menjadi dasar lahirnya Underdog Project Dance Company. Ia kemudian bekerja sebagai direktur latihan dan pengajar di Warsaw Dance Department serta mengajar di berbagai institusi di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2018, Alexis meluncurkan LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, riset koreografis tentang isolasi sosial yang telah mengikutsertakan lebih dari 500 penari, dan meraih Villa Saigon Prize pada 2020. Sejak 2021, ia terus menciptakan karya baru, termasuk DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, serta dua karya solonya Redemption (2025) dan Invicta (2026)

Studio Plesungan adalah ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performans, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

________________________

As part of its Workshop Series program in early 2026, Studio Plesungan will host a dance workshop led by Alexis Jestin (UNDERDOG Project). This workshop is part of Look What The World Did To Us, a long-term international pedagogical and creative project initiated and guided by choreographer and artistic director of the UNDERDOG Project, Alexis Jestin.

The project brings together dancers from diverse backgrounds and disciplines and has been held in various cities across Europe, Asia, and Latin America. Through a series of investigative research processes, creation practices, and laboratory work, the project uses movement as a means to understand territories of experience shaped by exile and social exclusion.

The workshop is designed to encourage direct observation and experimentation, positioning the body as both observer and observed. Participants are consciously invited to place themselves in situations of trial, failure, and success. These conditions are created to open new modes of perception and to foster deeper exploration, observation, and reflection. Through this process, participants are encouraged to reinterpret the meanings and functions of the events they experience during the workshop, opening possibilities for more authentic perspectives within their individual artistic practices.

This workshop also serves as the concluding chapter of the Look What The World Did To Us project. At the same time, it becomes a moment for Alexis to share the accumulated experiences of his artistic journey, offering insights from behind the stage and studio, as well as cross-border experiences encountered across different countries and cultures.

In the public presentation held at the end of the program, Alexis will further discuss how and why the project unfolded, the political commitments involved, and how the project was conceived, produced, funded, and re-presented across diverse cultural and social contexts. As a closing moment, the workshop and public presentation will reflect on the experiences that have taken place, the changes that emerged throughout the process, and possible directions for the future.

The workshop and public presentation led by Alexis Jestin are part of the Artist-in-Residence program organized by Studio Plesungan, taking place from January 11 to January 25, 2026.

Alexis Jestin is a choreographer who began his career in 2000 when he was invited by choreographer Thierry Thieu Niang to create a duet at the Festival des Élançées. He trained at conservatories in Montpellier and Paris, as well as in the COLINE program, entering the international dance scene at a young age. At the age of 20, he worked with Israeli choreographer Emanuel Gat, an experience that opened the door to numerous collaborations with artists such as Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, and Yuval Pick.

In 2011, he developed a video-dance triptych with Mathieu Zurcher and K. Labyrinth, which became the foundation for the creation of the Underdog Project Dance Company. He later worked as rehearsal director and teacher at the Warsaw Dance Department and taught at various institutions across Europe, Asia, and Latin America. In 2018, Alexis launched LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a choreographic research project on social isolation that has involved more than 500 dancers and received the Villa Saigon Prize in 2020. Since 2021, he has continued to create new works, including DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, as well as two solo works, Redemption (2025) and Invicta (2026).

Studio Plesungan is an art space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar. It is an organized space that provides opportunities for research, creative processes, and presentations, particularly in performance art, visual art, and other performing arts. Studio Plesungan hosts workshops, public lectures, study programs, public discussions, and artist-in-residence programs. The studio is committed to principles of artistic knowledge sovereignty and economic autonomy for art practitioners, as well as to the development of human resources, especially in the fields of artistic creation and knowledge production.

 

Workshop

Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026

Pukul : 13:00 – 18:00 WIB

Tempat : Studio Plesungan

Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181

 

Presentasi Publik

Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026

Pukul : 19:30  WIB – selesai

Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah

Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah

Registrasi:

LINK: bit.ly/4iKvkzM

Contact Person: Verina (HP / Whatsapp 0821 3322 9593 )

Email: info@studioplesungan.org

www.studioplesungan.org