On Stage

Tarekat AK-47
By Safrizal
Jumat, 08.05.2026
19:30 WIB
Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Tarekat AK-47 merupakan bagian ketiga dari riset artistik panjang Dekjall tentang praktik tarekat yang telah ia jalani selama enam tahun terakhir. Dalam praktiknya, tarekat bertransformasi dari laku spiritual menjadi kerangka kerja artistik yang secara aktif digunakan Dekjall untuk menelusuri, mengartikulasikan, dan mentransformasikan pengalaman hidupnya ke dalam praktik koreografi.
Setelah Tarekat Kopi #1: Ruang Pembebasan (2023) dan Tarekat Kopi #2: Happiness Plus-Plus (2024), karya ini bergerak dengan memanggil kembali ingatan masa kecil hingga remajanya atas sejarah konflik-perang (GAM/RI) yang dialaminya di Aceh pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Tarekat AK-47 tidak berupaya merekonstruksi peristiwa, melainkan menempatkan tubuh sebagai arsip yang menyimpan jejak konflik melalui refleks, tegangan, dan respons tubuh yang terbentuk di bawah ancaman. Praktik tarekat menjadi cara untuk membongkar sekaligus menguji kembali ingatan tersebut dalam kerja koreografi.
AK-47 yang hadir dalam pengalaman Dekjall adalah senjata perang yang sempat ia genggam dan main-mainkan di masa kecil. Kini, jejak genggaman AK-47 itu dimaknai ulang sebagai simpul antara tubuh, ingatan, keos, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum usai. Di antara latihan spiritual dan pengalaman konflik, tubuh berada dalam kondisi yang serupa: waspada, terlatih, dan terus bernegosiasi dengan apa yang datang dari dalam maupun dari luar.
Karya ini berangkat dari pertanyaan yang terus kembali, tidak pernah benar-benar selesai: bagaimana tubuh mengingat, bertahan, dan hidup bersama jejak konflik yang tetap bersemayam di dalamnya?
Tarekat AK-47 is the third part of Dekjall’s long-term artistic research on tarekat practice, which has been engaged in for the past six years. In his practice, tarekat transforms from a spiritual path into an artistic framework—one that Dekjall actively uses to explore, articulate, and transform his lived experiences into choreographic practice.
Following Tarekat Kopi #1: Ruang Pembebasan (2023) and Tarekat Kopi #2: Happiness Plus-Plus (2024), this work moves through memories from his childhood to adolescence, shaped by the history of the conflict between the Free Aceh Movement (GAM) and the Indonesian government (RI) he experienced in Aceh in the late 1990s to early 2000s.
Tarekat AK-47 does not attempt to reconstruct events; instead, it situates the body as an archive that holds traces of conflict through reflexes, tensions, and bodily responses formed under threat. Tarekat becomes a way to dismantle and re-examine these memories within choreographic work.
The AK-47, present in Dekjall’s experience, is a weapon he once held and played with as a child. Today, the imprint of the AK-47 is reinterpreted as a node between the body, memory, chaos, and unresolved questions. Between spiritual practice and lived conflict, the body occupies a similar condition: alert, trained, and continuously negotiating what emerges from within and from without.
This work holds a question that keeps returning, never fully resolved: how does the body remember, endure, and live the trace of conflict that continues to reside within?
Safrizal, yang akrab disapa DekJall, adalah seorang koreografer asal Aceh yang berbasis di Solo. Karya-karyanya mengeksplorasi pertemuan antara disiplin spiritual, pengalaman tubuh, dan kehidupan sehari-hari di Aceh. Berakar pada tradisi tarekat yang telah lama dipraktikkan, ia menerjemahkan nilai-nilai kontemplatif dan asketik ke dalam proses koreografi yang merangkai tubuh, ruang, waktu, kesadaran, dan semesta. Saat ini, ia tengah mengembangkan metode gerak yang disebut membumi—sebuah pendekatan untuk penyembuhan tubuh sekaligus menegaskan kembali keterhubungan tubuh dengan bumi. Eksplorasi artistiknya berfokus pada persilangan antara tradisi, spiritualitas, dan modernitas, di mana koreografi berfungsi sebagai arsip hidup dari pengalaman yang ditubuhkan. Dekjall telah lebih dari tiga tahun bekerja bersama Kolektif Katalis yang dibingkai dalam program LaborArt Project
Safrizal, affectionately known as DekJall, is a choreographer from Aceh, Indonesia, currently based in Solo. His works explore the intersections between spiritual discipline, bodily experience, and everyday life in Aceh. Rooted in the long-practised tradition of tarekat (Sufi orders), he translates contemplative and ascetic values into choreographic processes that interweave body, space, time, consciousness, and the universe. He is currently developing a movement method called membumi (earth-rooting)—an approach to bodily healing that also reaffirms the body’s connection to the earth. His artistic exploration focuses on the intersections of tradition, spirituality, and modernity, in which choreography serves as a living archive of embodied experience. For more than three years, Dekjall has been working with Katalis Collective as part of the LaborArt Project.
Anne Shakka lahir dan tumbuh besar di Temanggung. Setelah itu, ia melanjutkan studinya di Yogyakarta, mengambil kuliah Psikologi. Dia kemudian melanjutkan kuliah ke Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, Ilmu Religi dan Budaya. Kegelisahannya sebagai orang keturunan Cina tidak juga habis terutama dalam kondisi negara yang seperti saat ini membuat Anne banyak menuliskan kegelisahan tersebut dalam beberapa tulisan.
On Stage

OVERGANG
by SOLADI
Hari dan Tanggal :Selasa, 31 Maret 2026
Pukul : 19:30 – 22:00 WIB
Tempat : Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57731
ON STAGE edisi ke-27 kali ini menyajikan sejumlah karya komposer Soladi yang menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi. Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai
pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi. Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.
The 27th edition of ON STAGE presents compositional pieces by music composer Soladi that offers musical exploration inspired by the characteristic elements of keroncong, placing transition at the center of the exploration. In the context of keroncong, overgang refers to the transition from one section to another within the structure of a song. In this work, transitions are not merely connectors between sections but are presented as a complete musical experience. Changes in tempo, modulation, as well as rhythmic and melodic variations are processed to emphasize transition as a process of becoming. Through this piece, Soladi seeks to offer an alternative perspective on listening to keroncong, while presenting overgang as a concept that reconsiders our perception of transitions in the present day.
Soladi, lahir dan tumbuh di Surakarta. mulai berkesenian sejak usia sekitar 15 tahun. Soladi mulai menjalani pendidikan formal yang berfokus pada musik di SMKN 8 Surakarta pada jurusan Seni Musik Non-Klasik, kemudian melanjutkan studi S1 Etnmusikologi dan S2 Kajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Perjalanan musikalnya bermula dari musik keroncong, sebuah genre yang pada saat itu relatif jarang diminati oleh generasi muda. Dalam praktik kreatif, Soladi menempuh dua arah yang berjalan beriringan dan konsisten. Soladi secara aktif menggarap keroncong melalui pendekatan konservatif dengan tetap mencipta karya-karya yang berpijak pada bentuk dan kaidah baku. Di
sisi lain, ia juga mengeksplorasi keroncong dengan mendobrak konvensi-konvensi yang mapan. Eksplorasi ini berkembang lebih jauh pada tahun 2023 ketika ia mulai memasuki ranah musik kontemporer. Pada tahun 2024, Soladi memulai kelompok musik kontemporer “Soladi en de Overgang” di Surakarta, sebagai wadah eksplorasi musikal yang lebih berani. Melalui kelompok ini, Soladi mencoba mengeksplorasi instrumen dan konsep dalam musik keroncong agar menjadi sesuatu yang baru dan segar. Saat ini “Soladi en de Overgang” mempunyai 4 komposisi dan 1 komposisi hasil interpretasi karya Sono Seni Ensemble.
Soladi was born and raised in Surakarta and began his artistic journey around the age of 15. He pursued formal music education at SMKN 8 Surakarta in the Non-Classical Music program, followed by a bachelor’s degree in Ethnomusicology and a master’s degreein Arts Studies at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta. His musical journey began with keroncong, a genre that at the time was relatively rarely embraced by younger generations. In his creative practice, Soladi follows two parallel and consistent paths. He actively works on keroncong through a conservative approach, creating pieces grounded in established forms and rules. At the same time, he explores keroncong by challenging conventional norms. This experimental approach further developed in 2023 when he began venturing into contemporary music. In 2024, Soladi founded the contemporary music ensemble Soladi en de Overgang in Surakarta, as a platform for bolder musical exploration. Through this ensemble, he experiments with instruments and concepts in keroncong to create something fresh and new. Currently, Soladi en de Overgang has four original compositions and one interpretation of a piece by Sono Seni Ensemble.


On Stage

Hari dan Tanggal : Rabu, 8 Juli 2026
Pukul : 19:30 – 22:00 WIB
Tempat : Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57731
ROOT
Hari Ghulur
ROOT merupakan karya terbaru Hari Ghulur yang berangkat dari eksplorasi atas mendak atau tanjak—teknik kuda-kuda dasar yang menjadi fondasi berbagai tradisi tari di Jawa, Bali, dan wilayah Nusantara lainnya. Sebagai pijakan tubuh, mendak menempatkan manusia sedekat mungkin dengan tanah. Kaki mencengkram permukaan, menyangga berat tubuh agar tidak runtuh, sementara tubuh bagian atas bergerak ke segala arah, seolah menolak tunduk pada gravitasi. Di antara dua tarikan itu antara keinginan untuk tetap berakar dan dorongan untuk menjadi bebas maka terbentuklah ruang pengalaman yang menjadi inti karya ini.
Hari menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam sebuah koreografi yang menguji hubungan tubuh dengan objek, ruang, dan ingatan. Tubuh tidak hanya bergerak, tetapi terus-menerus bernegosiasi dengan kondisi yang berubah. Koreografi menjadi sebuah peristiwa tentang daya tahan: bagaimana tubuh bertahan menghadapi ketidakstabilan, ketidaknyamanan, dan ketidakpastian.
Terpal dan jagung dihadirkan sebagai lanskap tempat tubuh mengalami negosiasi tersebut. Permukaan terpal yang licin dan butiran jagung yang berserakan menghilangkan kepastian pijakan. Setiap langkah menuntut penyesuaian baru; setiap perpindahan berat badan mengandung risiko tergelincir, rasa sakit, atau kehilangan keseimbangan. Ketidaknyamanan bukanlah hambatan, melainkan kondisi yang sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana tubuh membangun strategi bertahan, menemukan kembali pusat gravitasinya, dan terus bergerak di tengah situasi yang rapuh.
Pemilihan jagung berakar pada ingatan kolektif masyarakat Madura. Selama bertahun-tahun, jagung menjadi sumber pangan utama sekaligus simbol kemampuan bertahan hidup di tengah keterbatasan. Dalam perjalanan sejarahnya, jagung pernah dilekatkan pada citra kemiskinan dan perlahan tergantikan oleh beras serta budaya pangan yang baru. Namun hari ini, jagung kembali memperoleh makna yang berbeda: bukan lagi sebagai penanda keterpaksaan, melainkan sebagai pilihan yang lahir dari kesadaran akan kesehatan, keberlanjutan, dan hubungan yang lebih dekat dengan tanah tempat kehidupan bertumbuh.
Melalui ROOT, Hari Ghulur mengajak kita memandang kembali jagung bukan semata sebagai bahan pangan, melainkan sebagai medium untuk memikirkan ulang relasi antara tubuh, tanah, dan ingatan. Setiap pijakan di atas butiran jagung menjadi sebuah tindakan untuk merasakan kembali akar-akar yang menopang keberadaan manusia—akar yang tidak menghalangi kebebasan, tetapi justru memungkinkan tubuh untuk terus bergerak, beradaptasi, dan bertahan.
Moh. Hariyanto, yang dikenal dengan nama Hari Ghulur, adalah koreografer dan penari yang berbasis di Surabaya. Lanskap penciptaannya berakar pada Madura, pulau tempat ia dilahirkan. Karya-karyanya bertolak dari pengalaman personal yang tumbuh melalui praktik tubuh, sekaligus merefleksikan hubungan antara tradisi, ruang hidup, dan transformasi sosial.
Karya-karyanya, antara lain Ghulur, Ghabal, White Stone, Sila, SILO, dan Jap_Vanese, telah dipresentasikan di berbagai forum internasional, termasuk T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Arts Festival, University of Malaya, International Odoru Akita Dance Festival, American Dance Festival, dan Indonesia Dance Festival.
Hari meraih gelar Magister Penciptaan Seni (Tari) dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Saat ini ia mengajar di Program Studi Tari dan Teater STKW Surabaya serta menjadi salah satu pendiri Sawung Dance Studio dan Sawung Dance Festival.
Presentasi karya ini merupakan bagian dari program Studio Plesungan, ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan menjadi ruang bagi riset, proses kreatif, presentasi karya, residensi seniman, lokakarya, kuliah terbuka, dan berbagai bentuk pertukaran pengetahuan dalam bidang seni performans, seni rupa, dan seni pertunjukan, dengan komitmen untuk memperkuat kedaulatan pengetahuan dan ekosistem kerja seni.
_________________
ROOT
Hari Ghulur
ROOT is Hari Ghulur’s latest work, emerging from an exploration of mendak or tanjak—the foundational stance shared by many dance traditions across Java, Bali, and other parts of the Indonesian archipelago. As a corporeal foundation, mendak brings the body into close proximity with the earth. The feet grip the ground, bearing the body’s weight to prevent collapse, while the upper body is liberated to move in every direction, as if refusing the pull of gravity. Between these two opposing forces—the urge to remain rooted and the desire to become free—lies the embodied terrain that forms the core of this work.
Hari translates this principle into a choreography that examines the relationship between body, object, and memory. The body does not simply move; it continuously negotiates shifting conditions. Choreography becomes an event of endurance—a practice of inhabiting instability, discomfort, and uncertainty.
A tarpaulin and scattered corn kernels compose the landscape in which this negotiation unfolds. The slippery surface of the tarpaulin and the unstable footing created by the corn deny any certainty of balance. Every step demands constant adjustment; every shift of weight carries the possibility of slipping, pain, or collapse. Discomfort is not presented as an obstacle, but as a condition deliberately constructed to reveal how the body develops strategies for survival, rediscovers its center of gravity, and continues to move through fragile circumstances.
The choice of corn is rooted in the collective memory of the Madurese people. For generations, corn served as their staple food and became a symbol of resilience amid scarcity. Over time, however, it was increasingly associated with poverty and gradually displaced by rice and changing food cultures. Today, corn returns with a different significance—not as a sign of deprivation, but as a conscious choice connected to health, sustainability, and a renewed relationship with the land from which life emerges.
Through ROOT, Hari Ghulur invites us to reconsider corn not merely as food, but as a medium through which to reflect on the relationship between body, land, and memory. Every step upon the scattered kernels becomes an act of reconnecting with the roots that sustain human existence—roots that do not restrain freedom, but instead make movement, adaptation, and endurance possible.
Moh. Hariyanto, known professionally as Hari Ghulur, is a choreographer and dancer based in Surabaya, Indonesia. His artistic practice is deeply rooted in Madura, the island where he was born. Drawing from embodied personal experiences, his works investigate the intersections of tradition, lived experience, and social transformation.
His choreographic works—including Ghulur, Ghabal, White Stone, Sila, SILO, and Jap_Vanese—have been presented at numerous international platforms, including T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Arts Festival, the University of Malaya, the International Odoru Akita Dance Festival, the American Dance Festival, and the Indonesia Dance Festival.
Hari received his Master’s degree in Dance Creation from the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta. He currently teaches in the Dance and Theatre Department at STKW Surabaya and is a co-founder of Sawung Dance Studio and the Sawung Dance Festival.
This presentation is part of the program of Studio Plesungan, an independent arts space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar, Central Java. Studio Plesungan provides a platform for artistic research, creative development, public presentation, artist residencies, workshops, open lectures, and critical discourse across performance art, visual art, and the performing arts, with a commitment to strengthening knowledge sovereignty and sustainable artistic ecosystems.
Eksperimen Keroncong “Overgang” oleh Soladi
Musik keroncong sejak awal lahir dari perjumpaan dan peralihan antara budaya, zaman, dan bentuk musikal. Karena itu, setiap pembaruan dalam musik keroncong dapat dilihat sebagai upaya menelusuri kembali ruang-ruang peralihan yang membentuknya. Kota Solo, sebagai salah satu tempat penting dalam perkembangan keroncong, hingga kini masih menjadi ruang di mana musik ini terus hidup. Bagi masyarakat, keroncong membawa ingatan panjang atas berbagai peristiwa di masa lalu. Pertanyaannya kemudian: apakah keroncong masih dapat berevolusi sebagai lantunan yang membunyikan peralihan di masa kini?
On Stage edisi kali ini menghadirkan Overgang, sebuah komposisi musik karya Soladi bersama kelompok yang ia bangun pada 2024, Soladi en de Overgang. Dalam pertunjukan ini, Soladi akan menyajikan tiga karya musik, salah satunya berjudul Overgang. Rangkaian komposisi ini menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi.
Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi.
Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.
English
Experimenting with Keroncong: “Overgang” by Soladi
ON STAGE edisi ke-27 kali ini menyajikan sejumlah karya komposer Soladi yang menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi.
Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi. Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.
Soladi, lahir dan tumbuh di Surakarta. mulai berkesenian sejak usia sekitar 15 tahun. Soladi mulai menjalani pendidikan formal yang berfokus pada musik di SMKN 8 Surakarta pada jurusan Seni Musik Non-Klasik, kemudian melanjutkan studi S1 Etnmusikologi dan S2 Kajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Perjalanan musikalnya bermula dari musik keroncong, sebuah genre yang pada saat itu relatif jarang diminati oleh generasi muda.
Dalam praktik kreatif, Soladi menempuh dua arah yang berjalan beriringan dan konsisten. Soladi secara aktif menggarap keroncong melalui pendekatan konservatif dengan tetap mencipta karya-karya yang berpijak pada bentuk dan kaidah baku. Di sisi lain, ia juga mengeksplorasi keroncong dengan mendobrak konvensi-konvensi yang mapan. Eksplorasi ini berkembang lebih jauh pada tahun 2023 ketika ia mulai memasuki ranah musik kontemporer.
Pada tahun 2024, Soladi memulai kelompok musik kontemporer “Soladi en de Overgang” di Surakarta, sebagai wadah eksplorasi musikal yang lebih berani. Melalui kelompok ini, Soladi mencoba mengeksplorasi instrumen dan konsep dalam musik keroncong agar menjadi sesuatu yang baru dan segar. Saat ini “Soladi en de Overgang” mempunyai 4 komposisi dan 1 komposisi hasil interpretasi karya Sono Seni Ensemble.
English
Soladi was born and raised in Surakarta and began his artistic journey around the age of 15. He pursued formal music education at SMKN 8 Surakarta in the Non-Classical Music program, followed by a bachelor’s degree in Ethnomusicology and a master’s degree in Arts Studies at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta. His musical journey began with keroncong, a genre that at the time was relatively rarely embraced by younger generations.
In his creative practice, Soladi follows two parallel and consistent paths. He actively works on keroncong through a conservative approach, creating pieces grounded in established forms and rules. At the same time, he explores keroncong by challenging conventional norms. This experimental approach further developed in 2023 when he began venturing into contemporary music.
In 2024, Soladi founded the contemporary music ensemble Soladi en de Overgang in Surakarta, as a platform for bolder musical exploration. Through this ensemble, he experiments with instruments and concepts in keroncong to create something fresh and new. Currently, Soladi en de Overgang has four original compositions and one interpretation of a piece by Sono Seni Ensemble.
The 27th edition of ON STAGE presents compositional pieces by music composer Soladi that offers musical exploration inspired by the characteristic elements of keroncong, placing transition at the center of the exploration.
In the context of keroncong, overgang refers to the transition from one section to another within the structure of a song. In this work, transitions are not merely connectors between sections but are presented as a complete musical experience. Changes in tempo,
modulation, as well as rhythmic and melodic variations are processed to emphasize transition as a process of becoming. Through this piece, Soladi seeks to offer an alternative perspective on listening to keroncong, while presenting overgang as a concept that
reconsiders our perception of transitions in the present day.
Performance
Day and Date : Tuesday, 31 March 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731
Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org
Ticket :
Pesan tiket di QR atau WA: 082133229593
Early Booking
Umum : 30 K
Pelajar : 20 K
ON STAGE

SOLO
by LI, WEN HAO
Jumat, 25 Juli 2025, 19:30 WIB
Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
l. Ir Sutami 57, Kentingan, 57126 Surakarta
Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.
Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.
ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.
Studio Plesungan is proud to present the 24th edition of its bi-monthly performing arts program ON STAGE, featuring SOLO, a work by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
SOLO is rooted in the legendary Indonesian folk song “Bengawan Solo,” composed by Gesang in 1940. Having flowed across languages—Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian—the song becomes a point of departure for Li’s exploration of post-war cultural currents, the formation of ethnic identity, and the poetics of migration in Asia. In this solo performance, SOLO unfolds as a metaphorical river, carrying dreams, histories of movement, and collective memories spanning more than half a century.
Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice encompasses contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an educational background in law and a master’s degree in performing arts theory, his works foreground questions of power relations, memory, and cross-disciplinary politics.
ON STAGE is a regular program initiated by Studio Plesungan to present diverse voices in contemporary performing arts practice. Held bi-monthly, the program invites selected artists to perform and engage directly in dialogue with the public, fostering deeper appreciation and understanding of performance art in Indonesia.
Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp30.000;
Kategori C (early booking umum) Rp25.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000
Pemesanan tiket:
https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9
___
Kontak Info:
HP/Whatsapp +6282133229593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
The residency project was happening with a kind support from :

ON STAGE
Kenta Masukawa

Seberapa dekat kita hari ini dengan kegiatan memasak? Menghadapi arus bandang budaya warung dan makanan siap santap, adakah ruang dan waktu untuk benar-benar menyadari apa yang kita makan, serta hubungan tubuh kita dengan makanan tersebut? Melalui kerja koreografi, Kenta membuka kemungkinan untuk kembali mengalami makna memasak melalui apa yang ia sebut sebagai “koreografi resep”.
Apa yang dimaksud dengan koreografi resep, dan bagaimana proses memasak dapat dihadirkan sebagai sebuah pertunjukan?
On Stage edisi kali ini menghadirkan The Kitchen Under Skin, karya tunggal seniman asal Jepang, Kenta Masukawa. Karya ini berangkat dari praktik memasak sebagai inspirasi koreografi, dengan menyoroti gestur tubuh sehari-hari yang kerap dilakukan tanpa disadari. Aktivitas kecil di dapur, seperti menyentuh bahan mentah, memotong, menekan, dan menimbang dipahami sebagai pengalaman inderawi yang kaya. Pertunjukan ini mengalihwahanakan susunan resep ke dalam rangkaian kata sebagai panduan gerak. Kata-kata ini menuntun tubuh untuk bergerak dari dalam, membangkitkan sensasi, ingatan, dan pengalaman yang tidak selalu terlihat. Bagi Kenta, memasak menjadi momen peralihan yang menghadirkan hubungan antara tubuh, makanan, dan pengalaman sebelum makanan tersaji. Karya ini juga menyinggung keterikatan kita pada jaringan industri pangan, sekaligus mengajak penonton mengingat kembali budaya pangan yang perlahan terhapus dan menunggu untuk dirasakan kembali.
Pertunjukan yang dibawakan oleh Kenta Masukawa merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dengan kolaborasi dan dukungan dari Kyoto Art Center, berjalan selama satu bulan sejak 18 Desember 2025 sampai 18 Januari 2026.
Kenta Masukawa lahir di Tokyo dan saat ini berbasis di Kyoto, di mana ia bekerja sebagai koreografer dan penari.Praktiknya dipengaruhi oleh praktik seni gerak butoh, yang ia temui selama masa kuliahnya, karyanya mengeksplorasi tari sebagai ruang untuk memahami kembali tubuh dan perubahannya bersama dengan modernitas. Praktiknya melibatkan pengembangan bahasa koreografi yang secara aktif mengolah cara cerapan, baik bagi penari maupun penonton. Dalam penelitian terbarunya, ia berfokus pada masakan dan budaya makanan Jepang dari periode sebelum perang hingga pasca perang di Jepang. Penelitian ini membentuk pengembangan skor gerak / tarinya saat ini, yang ia susun sebagai “resep” untuk memasak menggunakan kata-kata.
Performance
Day and Date : Saturday, 10 January 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731
Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org
ON STAGE
Kenta Masukawa
How close are we today to the act of cooking? In the face of the overwhelming flow of food stalls and ready to eat meals, is there still space and time to truly become aware of what we eat and of our bodily relationship with food? Through choreographic practice, Kenta opens up the possibility of re-experiencing the meaning of cooking through what he calls a “recipe choreography.”
What is meant by recipe choreography, and how can the process of cooking be presented as a performance?
This edition of On Stage presents The Kitchen Under Skin, a solo work by Japanese artist Kenta Masukawa. The piece draws on the practice of cooking as a source of choreographic inspiration, highlighting everyday bodily gestures that are often performed unconsciously. Small kitchen activities—such as touching raw ingredients, cutting, pressing, and weighing—are understood as rich sensory experiences. The performance translates the structure of a recipe into a sequence of words that function as a movement guide. These words lead the body to move from within, evoking sensations, memories, and experiences that are not always visible. For Kenta, cooking becomes a moment of transition that creates a relationship between the body, food, and experience before the food is served. The work also touches on our entanglement with the food industry network, while inviting audiences to recall food cultures that are gradually disappearing and waiting to be felt again.
The performance by Kenta Masukawa is part of the Artist-In-Residence program organized by Studio Plesungan, in collaboration with and supported by Kyoto Art Center. The residency runs for one month, from 18 December 2025 to 18 January 2026.
Kenta Masukawa was born in Tokyo and is currently based in Kyoto, where he works as a choreographer and dancer. His practice is influenced by butoh movement art, which he encountered during his university years. His work explores dance as a space for rethinking the body and its transformations alongside modernity. His practice involves the development of a choreographic language that actively shapes modes of perception for both dancers and audiences. In his most recent research, he focuses on Japanese cooking and food culture from the prewar to the postwar period in Japan. This research informs the development of his current movement and dance scores, which he composes as word-based “recipes” for cooking.
Studio Plesungan is an art space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar. It is an organized space that provides opportunities for research, creative processes, and presentations, particularly in performance art, visual art, and other performing arts. Studio Plesungan offers its spaces for workshops, public lectures, study sessions, public discussions, and artist-in-residence programs. The studio is committed to principles of knowledge sovereignty and economic agency for arts practitioners, as well as to the development of human resources, especially in the fields of creation and knowledge production.
Ticket
Pesan tiket di QR atau WA: 082133229593
Early Booking
Umum : 30 K
Pelajar : 20 K
On the Spot
Umum : 40 K
Pelajar : 25 K

ON STAGE
Rabu, 3 September 2025
19:30 WIB – selesai
di Teater Arena
Taman Budaya Jawa Tengah
The Alluvium of Kanaluvan
Lai, Yu-Feng
2025
45 menit
The Alluvium of Kanaluvan mengeksplorasi tanah sebagai situs yang menampung sekaligus menyimpan ingatan serta perubahan budaya. Melalui kerja tari, karya ini mengupas “cangkang kosong” sejarah penjajahan atas Taiwan untuk menyingkap lapisan-lapisan ingatan yang terpendam di dalam bumi. Gerakannya berpaut dengan ombak, pasir, dan kehidupan yang terombang-ambing oleh angin serta laut, bagaikan butiran pasir yang tak pernah menetap.
Kehadiran “tembakan” menjadi jangkar temporal yang kuat, menandai awal pertempuran antara budaya asing dan sejarah adat. Sistem mata uang, bahasa, dan agama menyelinap masuk seperti hembusan angin laut, perlahan mengubah dasar-dasar kehidupan di lembah pegunungan. Karya ini berupaya menggali dan menyingkap jejak perubahan yang tak dapat diubah kembali, dengan keyakinan bahwa tembakan tersebut tidak hanya menggema di antara pegunungan, tetapi juga meninggalkan bekas pada ingatan setiap generasi. Bekas itu menjadi lintasan sejarah yang dibagi bersama oleh tubuh dan tanah.
Lai, Yu-Feng adalah seorang seniman tari dan kreator khususnya dalam koreografi dan kolaborasi interdisipliner. Karyanya mengeksplorasi esensi tari, mengintegrasikan budaya lokal dan seni virtual untuk menemukan bahasa kreatif baru di persimpangan antara tari, kemanusiaan, budaya, dan teknologi. Ia berdedikasi untuk mendorong dialog dan integrasi antara tari kontemporer dan humaniora untuk mengeksplorasi masa depan bentuk seni ini.
ON STAGE
Wednesday, 3 September 2025
19:30 WIB – selesai
di Teater Arena
Taman Budaya Jawa Tengah
The Alluvium of Kanaluvan
Lai, Yu-Feng
2025
45 minutes
Centering on the theme of land, The Alluvium of Kanaluvan explores its profound significance as a vessel for memory and a site for cultural transformation. Through dance, we peel away the “hollow shell” left by colonial history to reveal the authentic memories stored in the earth below, the accumulation of waves and sand, and the lives of people tossed about by the wind and sea like grains of sand.
The “gunshot” serves as a powerful temporal anchor, symbolizing the start of the collision between foreign cultures and tribal history. The infiltration of currency, language, and religion, like a sea breeze, fundamentally altered life in the valley. The work captures and amplifies these profound and irreversible traces of change, aiming to convey that the echo of the gunshot not only reverberates through the mountains but also leaves an imprint on the memory of each generation, becoming a linear history shared by the body and the land.
Lai, Yu-Feng is a dance artist and creator specializing in choreography and interdisciplinary collaboration. His work explores the essence of dance, integrating local culture and virtual art to find new creative languages at the intersection of dance, humanity, culture, and technology.He is dedicated to fostering dialogue and integration between contemporary dance and the humanities to explore the future of the art form.
Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24
Pertunjukan Lintas Budaya yang Mengeksplorasi Ingatan, Migrasi, dan Identitas Lewat Sebuah Lagu Rakyat
ON STAGE #24 SOLO oleh Li, Wen-Hao
Jumat, 25 Juli 2025
19:30 WIB – selesai
di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir Sutami 16, Surakarta
____________________________________________________
Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.
Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.
ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.
______________________________________________________
Tracing a River of Memory: Studio Plesungan Presents ON STAGE #24
“SOLO” by Li, Wen-Hao
A Cross-Cultural Performance Exploring Memory, Migration, and Identity Through a Folk Song
Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan proudly announces the 24th edition of its signature performance program, ON STAGE, featuring the work SOLO by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.
At the heart of SOLO is the legendary Indonesian folk song Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940. Reverberating through Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian adaptations, this iconic melody becomes the starting point of Li’s exploration of post-war cultural flows, ethnic formation, and the poetics of migration across Asia. Through his singular performance, SOLO becomes a metaphorical river—carrying with it half a century of personal and collective dreams, displacements, and histories.
Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an academic background in law and a master’s degree in performance theory, Li’s work investigates the intersections of power, memory, and politics across disciplines.
ON STAGE is a regular program curated by Studio Plesungan to highlight diverse voices in contemporary performance. Presented once every two months, the program invites selected artists to perform and engage in dialogue with the public, fostering a deeper appreciation for performance art in Indonesia and beyond.
Acara tambahan: Diskusi publik bersama seniman
TICKET
Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;
Kategori C (early booking umum) Rp30.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000
Pemesanan tiket:
https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9
___
Kontak Info:
HP/Whatsapp +6282133229593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Performers
Akihito Ichihara, Agata Sokół, Ari Dharminalan Rudenko, Chrisnar Bagas Pamungkas, Dr Autar Abdillah, S.Sn., M.Si, Irninta Dwitika, Monica Hapsari, Nurhayati, Puspita Putri Mahanani, Samuel David, Yuliana Meneses Orduño, Xue, Sekar Tri Kusuma, I Komang Tri Ray Dewantara, Razan Wirjosandjojo
On Stage
“VERNAL EQUINOX”
oleh Akihito Ichihara
bersama peserta workshop
Sabtu, 15 Maret 2025
20.00 WIB – selesai
di Studio Plesungan (Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar Regency, Central Java 57181) https://maps.app.goo.gl/EkGFJaJgpwTBfdW88
“VERNAL EQUINOX” merupakan presentasi akhir dari lokakarya yang dipimpin oleh Akihito Ichihara di Studio Plesungan pada 12–14 Maret 2025. Dipentaskan bersama para peserta lokakarya di tengah pepohonan jati, pertunjukan ini mengeksplorasi elemen-elemen alam seperti udara, angin, air, tanah, dan tumbuhan sebagai sumber inspirasi gerak. Ichihara menelusuri kemungkinan tubuh yang bergerak sebagai sarana untuk merasakan kembali hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.
______________________________
Pertunjukan ini dapat dihadiri secara gratis.
Informasi: +62 821-3322-9593 (Razan)
On Stage
“VERNAL EQUINOX”
by Akihito Ichihara
with all workshop participants
Sabtu, 15 Maret 2025
20.00 WIB – selesai
di Studio Plesungan (Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar Regency, Central Java 57181) https://maps.app.goo.gl/EkGFJaJgpwTBfdW88
“VERNAL EQUINOX” is the culmination of a workshop led by Akihito Ichihara at Studio Plesungan, held from March 12 to 14, 2025. Staged among the teak trees of the studio grounds, this performance is a collaboration between Ichihara and the workshop participants. It explores natural elements—air, wind, water, earth, and plants—as sources of movement and inspiration. Ichihara is drawn to the moving body as a means of sensing and reconnecting with the natural world and its surrounding environment.
______________________________
No admission/FREE Entry
Information : +62 821-3322-9593 (Razan)
Sejak tahun 1994, Ichihara Akihito menekuni praktik tari dan Butoh, dan pada tahun 1997 bergabung dengan kelompok ternama Sankai Juku. Melalui proyek solonya yang bertajuk ELF, ia mengembangkan konsep Dance Project without Borders—tari lintas batas budaya, agama, dan ras. Dalam setiap proyeknya, Ichihara berkomitmen untuk menciptakan pertunjukan yang melibatkan penari dan seniman lokal sebagai pelaku utama, membangun ruang kolaborasi yang inklusif dan lintas komunitas.
Since 1994, Ichihara Akihito has dedicated himself to the practice of dance and Butoh, and in 1997 he joined the renowned company Sankai Juku. Through his solo project ELF, he developed the concept of the Dance Project without Borders—a movement that transcends cultural, religious, and racial boundaries. His work focuses on creating performances that place local dancers and artists at the center, fostering inclusive and collaborative artistic processes across diverse communities.
On Stage
Sabtu, 25 Januari 2025
Pukul 20.00 WIB – selesai
Studio Plesungan, Desa Plesungan RT03/RW02, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Narahubung: Verina (HP/WhatsApp: 0821 3322 9593)
“aku otw, sayangku”
oleh Afrizal Malna
Studio Plesungan membuka program On Stage edisi ke-21 sebagai penanda awal tahun 2025. Edisi ini akan digelar pada Sabtu, 25 Januari 2025, bertempat di Studio Plesungan, Karanganyar. Dalam kesempatan ini, On Stage menampilkan karya puisi “aku otw, sayangku” oleh Afrizal Malna.
“aku otw, sayangku” adalah judul buku puisi terbaru Afrizal Malna yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk cetak, karena sejak awal diciptakan sebagai karya digital. Puisi-puisi dalam buku ini lahir dari eksperimen Afrizal selama masa pandemi, yang berangkat dari pertemuan antara dua kondisi: teknologi digital dan pembatasan ruang gerak sosial. Kumpulan puisi ini juga memantulkan romantika kontemporer seputar fenomena “bucin” (budak cinta), sekaligus menyinggung persoalan regenerasi menuju hadirnya generasi baru.
Kumpulan puisi ini juga memiliki keterkaitan langsung dengan forum Festival Puisi Jelek yang digelar pada tahun 2021 melalui laman Instagram @artdown_forum. Forum ini digagas bersama Syska La Veggie dan menampilkan puisi-puisi yang diciptakan khusus untuk konten media sosial. Melalui buku puisi ini, Afrizal mengajukan pertanyaan kritis mengenai bagaimana pandemi Covid-19 dan komunikasi berbasis internet turut mendefinisikan ulang puisi dalam konteks ancaman terhadap masa depan—meliputi isu lingkungan, kesehatan, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang ditawarkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
On Stage #21
Saturday, 25 January 2025
8:00 PM WIB – onwards
Studio Plesungan, Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Central Java 57181
Contact Person: Verina (Phone / WhatsApp: +62 821 3322 9593)
“aku otw, sayangku”
A poetry performance by Afrizal Malna
Studio Plesungan opens its 2025 program calendar with the 21st edition of On Stage, held on Saturday, 25 January 2025 at Studio Plesungan in Karanganyar. This edition presents aku otw, sayangku, a poetry work by Afrizal Malna. The title, aku otw, sayangku (translated as “I’m on my way, my love”), comes from a yet-unpublished digital poetry book by Afrizal. These poems were born from Afrizal’s experiments during the pandemic, emerging from the interplay between two forces: digital technology and social mobility restrictions. The collection also reflects on the contemporary romantic behavior often referred to in Indonesian pop culture as bucin (short for budak cinta, or “love slave”), touching on generational shifts and the arrival of new forms of expression.
The poems in aku otw, sayangku are closely connected to the 2021 Festival Puisi Jelek (Bad Poetry Festival), hosted via the Instagram platform @artdown_forum, a digital forum co-initiated with Syska La Veggie. The platform featured poetry created specifically for social media content. Through this body of work, Afrizal questions how Covid-19 and internet communication have redefined poetry amidst looming threats to the future—particularly concerning the environment, public health, and emerging AI-based technologies.
Sebagai penulis dan penyair, Afrizal Malna juga aktif mengeksplorasi performans puisi melalui media digital. Sebagian karya tersebut dibagikan melalui kanal YouTube pribadinya, antara lain dalam seri teater masker yang dibuat pada masa pandemi. Selain itu, puisi-puisinya juga banyak diunggah melalui akun Instagram @malna.a.
Pada tahun 2021, ia menggagas Festival Puisi Jelek bersama Syska La Veggie melalui akun @artdown_forum. Sepanjang tahun 2023, Afrizal turut berpartisipasi dalam berbagai forum seni dan sastra, seperti Temu Seni Performance Indonesia Bertutur di Tubaba (Lampung), Djakarta Theater Platform International, Panggung Pantura di Semarang, Festival Kebudayaan Yogyakarta, Aruh Sastra Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Flores Writing Festival di Maumere, serta Borobudur Writers & Cultural Festival di Malang.
Beberapa buku terbarunya antara lain: Performance Art dan Medan Pasca-Seni (Diva Press, Yogyakarta 2023), Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (JBS, Yogyakarta 2023), Revisi Telur Dadar Mentah (Diva Press, Yogyakarta 2024), dan Document Shredding Museum, diterjemahkan oleh Daniel Owen (World Poetry Books, New York 2024).
Afrizal Malna dinobatkan sebagai Tokoh Seni Pilihan Majalah Tempo tahun 2020 atas bukunya Prometheus Pinball, dan saat ini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta untuk periode 2020–2025.
As a poet and writer, Afrizal Malna has created numerous poetry performances using digital media, many of which are shared via his YouTube channel. Among them is a mask theater series developed during the pandemic. Other poems are published on his Instagram account (@malna.a). In 2021, Afrizal and Syska La Veggie initiated the Festival Puisi Jelek through the @artdown_forum account.
Throughout 2023, Afrizal actively participated in various performance and literary forums including:
“Temu Seni Performance Indonesia Bertutur” in Tubaba (Lampung),
Djakarta Theater Platform International,
Panggung Pantura in Semarang,
Yogyakarta Cultural Festival,
Aruh Sastra Kalimantan Selatan in Banjarmasin,
Flores Writing Festival in Maumere,
and the Borobudur Writers & Cultural Festival in Malang.
His recent publications include:
-
Performance Art. Dan Medan Pasca-Seni (Diva Press, Yogyakarta, 2023)
-
Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (JBS, Yogyakarta, 2023)
-
Revisi Telur Dadar Mentah (Diva Press, Yogyakarta, 2024)
-
Document Shredding Museum, translated by Daniel Owen (New York: World Poetry Books, 2024)
Afrizal was named one of Tempo magazine’s Artists of the Year in 2020 for his book Prometheus Pinball. He is also a member of the Jakarta Academy (2020–2025).