ON STAGE

Eksperimen Keroncong “Overgang” oleh Soladi

Eksperimen Keroncong “Overgang” oleh Soladi

Musik keroncong sejak awal lahir dari perjumpaan dan peralihan antara budaya, zaman, dan bentuk musikal. Karena itu, setiap pembaruan dalam musik keroncong dapat dilihat sebagai upaya menelusuri kembali ruang-ruang peralihan yang membentuknya. Kota Solo, sebagai salah satu tempat penting dalam perkembangan keroncong, hingga kini masih menjadi ruang di mana musik ini terus hidup. Bagi masyarakat, keroncong membawa ingatan panjang atas berbagai peristiwa di masa lalu. Pertanyaannya kemudian: apakah keroncong masih dapat berevolusi sebagai lantunan yang membunyikan peralihan di masa kini?

On Stage edisi kali ini menghadirkan Overgang, sebuah komposisi musik karya Soladi bersama kelompok yang ia bangun pada 2024, Soladi en de Overgang. Dalam pertunjukan ini, Soladi akan menyajikan tiga karya musik, salah satunya berjudul Overgang. Rangkaian komposisi ini menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi.

Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi.

Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.

English

Experimenting with Keroncong: “Overgang” by Soladi

ON STAGE edisi ke-27 kali ini menyajikan sejumlah karya komposer Soladi yang menawarkan eksplorasi musikal yang terinspirasi dari elemen-elemen khas keroncong, dengan menempatkan peralihan sebagai pusat eksplorasi.
Dalam konteks musik keroncong, overgang merujuk pada peralihan dari satu bagian ke bagian lain dalam struktur sebuah lagu. Melalui karya ini, peralihan tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antar bagian, melainkan hadir sebagai pengalaman musikal yang otonom. Perubahan tempo, modulasi, serta variasi ritmis dan melodis diolah untuk menegaskan transisi sebagai medan ekspresi, refleksi, dan proses menjadi. Melalui karya ini, Soladi ingin menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca musik keroncong, sekaligus menghadirkan overgang sebagai gagasan yang merefleksikan pemahaman kita tentang peralihan di masa kini.

Soladi, lahir dan tumbuh di Surakarta. mulai berkesenian sejak usia sekitar 15 tahun. Soladi mulai menjalani pendidikan formal yang berfokus pada musik di SMKN 8 Surakarta pada jurusan Seni Musik Non-Klasik, kemudian melanjutkan studi S1 Etnmusikologi dan S2 Kajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Perjalanan musikalnya bermula dari musik keroncong, sebuah genre yang pada saat itu relatif jarang diminati oleh generasi muda.

Dalam praktik kreatif, Soladi menempuh dua arah yang berjalan beriringan dan konsisten. Soladi secara aktif menggarap keroncong melalui pendekatan konservatif dengan tetap mencipta karya-karya yang berpijak pada bentuk dan kaidah baku. Di sisi lain, ia juga mengeksplorasi keroncong dengan mendobrak konvensi-konvensi yang mapan. Eksplorasi ini berkembang lebih jauh pada tahun 2023 ketika ia mulai memasuki ranah musik kontemporer.

Pada tahun 2024, Soladi memulai kelompok musik kontemporer “Soladi en de Overgang” di Surakarta, sebagai wadah eksplorasi musikal yang lebih berani. Melalui kelompok ini, Soladi mencoba mengeksplorasi instrumen dan konsep dalam musik keroncong agar menjadi sesuatu yang baru dan segar. Saat ini “Soladi en de Overgang” mempunyai 4 komposisi dan 1 komposisi hasil interpretasi karya Sono Seni Ensemble.

English

Soladi was born and raised in Surakarta and began his artistic journey around the age of 15. He pursued formal music education at SMKN 8 Surakarta in the Non-Classical Music program, followed by a bachelor’s degree in Ethnomusicology and a master’s degree in Arts Studies at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta. His musical journey began with keroncong, a genre that at the time was relatively rarely embraced by younger generations.

In his creative practice, Soladi follows two parallel and consistent paths. He actively works on keroncong through a conservative approach, creating pieces grounded in established forms and rules. At the same time, he explores keroncong by challenging conventional norms. This experimental approach further developed in 2023 when he began venturing into contemporary music.

In 2024, Soladi founded the contemporary music ensemble Soladi en de Overgang in Surakarta, as a platform for bolder musical exploration. Through this ensemble, he experiments with instruments and concepts in keroncong to create something fresh and new. Currently, Soladi en de Overgang has four original compositions and one interpretation of a piece by Sono Seni Ensemble.

The 27th edition of ON STAGE presents compositional pieces by music composer Soladi that offers musical exploration inspired by the characteristic elements of keroncong, placing transition at the center of the exploration.
In the context of keroncong, overgang refers to the transition from one section to another within the structure of a song. In this work, transitions are not merely connectors between sections but are presented as a complete musical experience. Changes in tempo,
modulation, as well as rhythmic and melodic variations are processed to emphasize transition as a process of becoming. Through this piece, Soladi seeks to offer an alternative perspective on listening to keroncong, while presenting overgang as a concept that
reconsiders our perception of transitions in the present day.

Performance
Day and Date : Tuesday, 31 March 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731

Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org

Ticket :

Pesan tiket di QR atau WA: 082133229593
Early Booking
Umum : 30 K
Pelajar : 20 K

Li, Wen Hao

ON STAGE

SOLO

by LI, WEN HAO

Jumat, 25 Juli 2025, 19:30 WIB
Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
l. Ir Sutami 57, Kentingan, 57126 Surakarta

Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.

Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.

ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.

Studio Plesungan is proud to present the 24th edition of its bi-monthly performing arts program ON STAGE, featuring SOLO, a work by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

SOLO is rooted in the legendary Indonesian folk song “Bengawan Solo,” composed by Gesang in 1940. Having flowed across languages—Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian—the song becomes a point of departure for Li’s exploration of post-war cultural currents, the formation of ethnic identity, and the poetics of migration in Asia. In this solo performance, SOLO unfolds as a metaphorical river, carrying dreams, histories of movement, and collective memories spanning more than half a century.

Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice encompasses contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an educational background in law and a master’s degree in performing arts theory, his works foreground questions of power relations, memory, and cross-disciplinary politics.

ON STAGE is a regular program initiated by Studio Plesungan to present diverse voices in contemporary performing arts practice. Held bi-monthly, the program invites selected artists to perform and engage directly in dialogue with the public, fostering deeper appreciation and understanding of performance art in Indonesia.

Harga Tiket:

Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;

Kategori B (on the spot pelajar) Rp30.000;

Kategori C (early booking umum) Rp25.000;

Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:

https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9

___
Kontak Info:

HP/Whatsapp +6282133229593

info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

The residency project was happening with a kind support from :

KENTA MASUKAWA

ON STAGE

Kenta Masukawa

Seberapa dekat kita hari ini dengan kegiatan memasak? Menghadapi arus bandang budaya warung dan makanan siap santap, adakah ruang dan waktu untuk benar-benar menyadari apa yang kita makan, serta hubungan tubuh kita dengan makanan tersebut? Melalui kerja koreografi, Kenta membuka kemungkinan untuk kembali mengalami makna memasak melalui apa yang ia sebut sebagai “koreografi resep”.

Apa yang dimaksud dengan koreografi resep, dan bagaimana proses memasak dapat dihadirkan sebagai sebuah pertunjukan?

On Stage edisi kali ini menghadirkan The Kitchen Under Skin, karya tunggal seniman asal Jepang, Kenta Masukawa. Karya ini berangkat dari praktik memasak sebagai inspirasi koreografi, dengan menyoroti gestur tubuh sehari-hari yang kerap dilakukan tanpa disadari. Aktivitas kecil di dapur, seperti menyentuh bahan mentah, memotong, menekan, dan menimbang dipahami sebagai pengalaman inderawi yang kaya. Pertunjukan ini mengalihwahanakan susunan resep ke dalam rangkaian kata sebagai panduan gerak. Kata-kata ini menuntun tubuh untuk bergerak dari dalam, membangkitkan sensasi, ingatan, dan pengalaman yang tidak selalu terlihat. Bagi Kenta, memasak menjadi momen peralihan yang menghadirkan hubungan antara tubuh, makanan, dan pengalaman sebelum makanan tersaji. Karya ini juga menyinggung keterikatan kita pada jaringan industri pangan, sekaligus mengajak penonton mengingat kembali budaya pangan yang perlahan terhapus dan menunggu untuk dirasakan kembali.

Pertunjukan yang dibawakan oleh Kenta Masukawa merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan dengan kolaborasi dan dukungan dari Kyoto Art Center, berjalan selama satu bulan sejak 18 Desember 2025 sampai 18 Januari 2026.

Kenta Masukawa lahir di Tokyo dan saat ini berbasis di Kyoto, di mana ia bekerja sebagai koreografer dan penari.Praktiknya dipengaruhi oleh praktik seni gerak butoh, yang ia temui selama masa kuliahnya, karyanya mengeksplorasi tari sebagai ruang untuk memahami kembali tubuh dan perubahannya bersama dengan modernitas. Praktiknya melibatkan pengembangan bahasa koreografi yang secara aktif mengolah cara cerapan, baik bagi penari maupun penonton. Dalam penelitian terbarunya, ia berfokus pada masakan dan budaya makanan Jepang dari periode sebelum perang hingga pasca perang di Jepang. Penelitian ini membentuk pengembangan skor gerak / tarinya saat ini, yang ia susun sebagai “resep” untuk memasak menggunakan kata-kata.

Performance
Day and Date : Saturday, 10 January 2026
Time : 19:30–22:00 WIB
Venue : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Jebres District, Surakarta City, Central Java 57731

Contact :
WhatsApp: +62 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Website: www.studioplesungan.org

ON STAGE

Kenta Masukawa

How close are we today to the act of cooking? In the face of the overwhelming flow of food stalls and ready to eat meals, is there still space and time to truly become aware of what we eat and of our bodily relationship with food? Through choreographic practice, Kenta opens up the possibility of re-experiencing the meaning of cooking through what he calls a “recipe choreography.”

What is meant by recipe choreography, and how can the process of cooking be presented as a performance?

This edition of On Stage presents The Kitchen Under Skin, a solo work by Japanese artist Kenta Masukawa. The piece draws on the practice of cooking as a source of choreographic inspiration, highlighting everyday bodily gestures that are often performed unconsciously. Small kitchen activities—such as touching raw ingredients, cutting, pressing, and weighing—are understood as rich sensory experiences. The performance translates the structure of a recipe into a sequence of words that function as a movement guide. These words lead the body to move from within, evoking sensations, memories, and experiences that are not always visible. For Kenta, cooking becomes a moment of transition that creates a relationship between the body, food, and experience before the food is served. The work also touches on our entanglement with the food industry network, while inviting audiences to recall food cultures that are gradually disappearing and waiting to be felt again.

The performance by Kenta Masukawa is part of the Artist-In-Residence program organized by Studio Plesungan, in collaboration with and supported by Kyoto Art Center. The residency runs for one month, from 18 December 2025 to 18 January 2026.

Kenta Masukawa was born in Tokyo and is currently based in Kyoto, where he works as a choreographer and dancer. His practice is influenced by butoh movement art, which he encountered during his university years. His work explores dance as a space for rethinking the body and its transformations alongside modernity. His practice involves the development of a choreographic language that actively shapes modes of perception for both dancers and audiences. In his most recent research, he focuses on Japanese cooking and food culture from the prewar to the postwar period in Japan. This research informs the development of his current movement and dance scores, which he composes as word-based “recipes” for cooking.

Studio Plesungan is an art space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar. It is an organized space that provides opportunities for research, creative processes, and presentations, particularly in performance art, visual art, and other performing arts. Studio Plesungan offers its spaces for workshops, public lectures, study sessions, public discussions, and artist-in-residence programs. The studio is committed to principles of knowledge sovereignty and economic agency for arts practitioners, as well as to the development of human resources, especially in the fields of creation and knowledge production.

Ticket

Pesan tiket di QR atau WA: 082133229593
Early Booking
Umum : 30 K
Pelajar : 20 K

On the Spot
Umum : 40 K
Pelajar : 25 K

Lai, Yu-Feng

ON STAGE

Rabu, 3 September 2025

19:30 WIB – selesai

di Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah

The Alluvium of Kanaluvan 

Lai, Yu-Feng

2025

45 menit

The Alluvium of Kanaluvan mengeksplorasi tanah sebagai situs yang menampung sekaligus menyimpan ingatan serta perubahan budaya. Melalui kerja tari, karya ini mengupas “cangkang kosong” sejarah penjajahan atas Taiwan untuk menyingkap lapisan-lapisan ingatan yang terpendam di dalam bumi. Gerakannya berpaut dengan ombak, pasir, dan kehidupan yang terombang-ambing oleh angin serta laut, bagaikan butiran pasir yang tak pernah menetap.

Kehadiran “tembakan” menjadi jangkar temporal yang kuat, menandai awal pertempuran antara budaya asing dan sejarah adat. Sistem mata uang, bahasa, dan agama menyelinap masuk seperti hembusan angin laut, perlahan mengubah dasar-dasar kehidupan di lembah pegunungan. Karya ini berupaya menggali dan menyingkap jejak perubahan yang tak dapat diubah kembali, dengan keyakinan bahwa tembakan tersebut tidak hanya menggema di antara pegunungan, tetapi juga meninggalkan bekas pada ingatan setiap generasi. Bekas itu menjadi lintasan sejarah yang dibagi bersama oleh tubuh dan tanah.

Lai, Yu-Feng adalah seorang seniman tari dan kreator khususnya dalam koreografi dan kolaborasi interdisipliner. Karyanya mengeksplorasi esensi tari, mengintegrasikan budaya lokal dan seni virtual untuk menemukan bahasa kreatif baru di persimpangan antara tari, kemanusiaan, budaya, dan teknologi. Ia berdedikasi untuk mendorong dialog dan integrasi antara tari kontemporer dan humaniora untuk mengeksplorasi masa depan bentuk seni ini.

ON STAGE

Wednesday, 3 September 2025

19:30 WIB – selesai

di Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah

The Alluvium of Kanaluvan 

Lai, Yu-Feng

2025

45 minutes

Centering on the theme of land, The Alluvium of Kanaluvan explores its profound significance as a vessel for memory and a site for cultural transformation. Through dance, we peel away the “hollow shell” left by colonial history to reveal the authentic memories stored in the earth below, the accumulation of waves and sand, and the lives of people tossed about by the wind and sea like grains of sand. 

The “gunshot” serves as a powerful temporal anchor, symbolizing the start of the collision between foreign cultures and tribal history. The infiltration of currency, language, and religion, like a sea breeze, fundamentally altered life in the valley. The work captures and amplifies these profound and irreversible traces of change, aiming to convey that the echo of the gunshot not only reverberates through the mountains but also leaves an imprint on the memory of each generation, becoming a linear history shared by the body and the land. 

Lai, Yu-Feng is a dance artist and creator specializing in choreography and interdisciplinary collaboration. His work explores the essence of dance, integrating local culture and virtual art to find new creative languages at the intersection of dance, humanity, culture, and technology.He is dedicated to fostering dialogue and integration between contemporary dance and the humanities to explore the future of the art form. 

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24 

Pertunjukan Lintas Budaya yang Mengeksplorasi Ingatan, Migrasi, dan Identitas Lewat Sebuah Lagu Rakyat

ON STAGE #24  SOLO oleh Li, Wen-Hao

Jumat, 25 Juli 2025

19:30 WIB – selesai

di  Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir Sutami 16, Surakarta

____________________________________________________

Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.

Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.

ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.

______________________________________________________

Tracing a River of Memory: Studio Plesungan Presents ON STAGE #24 

“SOLO” by Li, Wen-Hao

A Cross-Cultural Performance Exploring Memory, Migration, and Identity Through a Folk Song

Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan proudly announces the 24th edition of its signature performance program, ON STAGE, featuring the work SOLO by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

At the heart of SOLO is the legendary Indonesian folk song Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940. Reverberating through Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian adaptations, this iconic melody becomes the starting point of Li’s exploration of post-war cultural flows, ethnic formation, and the poetics of migration across Asia. Through his singular performance, SOLO becomes a metaphorical river—carrying with it half a century of personal and collective dreams, displacements, and histories.

Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an academic background in law and a master’s degree in performance theory, Li’s work investigates the intersections of power, memory, and politics across disciplines.

ON STAGE is a regular program curated by Studio Plesungan to highlight diverse voices in contemporary performance. Presented once every two months, the program invites selected artists to perform and engage in dialogue with the public, fostering a deeper appreciation for performance art in Indonesia and beyond.

Acara tambahan: Diskusi publik bersama seniman

TICKET

Harga Tiket:

Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;

Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;

Kategori C (early booking umum) Rp30.000;

Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:

https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9

___
Kontak Info:

HP/Whatsapp +6282133229593

info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Ichihara Akihito

Performers
Akihito Ichihara, Agata Sokół, Ari Dharminalan Rudenko, Chrisnar Bagas Pamungkas, Dr Autar Abdillah, S.Sn., M.Si, Irninta Dwitika, Monica Hapsari, Nurhayati, Puspita Putri Mahanani, Samuel David, Yuliana Meneses Orduño, Xue, Sekar Tri Kusuma, I Komang Tri Ray Dewantara, Razan Wirjosandjojo

On Stage

VERNAL EQUINOX

oleh Akihito Ichihara

bersama peserta workshop

Sabtu, 15 Maret 2025
20.00 WIB – selesai
di Studio Plesungan (Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar Regency, Central Java 57181) https://maps.app.goo.gl/EkGFJaJgpwTBfdW88

 

“VERNAL EQUINOX” merupakan presentasi akhir dari lokakarya yang dipimpin oleh Akihito Ichihara di Studio Plesungan pada 12–14 Maret 2025. Dipentaskan bersama para peserta lokakarya di tengah pepohonan jati, pertunjukan ini mengeksplorasi elemen-elemen alam seperti udara, angin, air, tanah, dan tumbuhan sebagai sumber inspirasi gerak. Ichihara menelusuri kemungkinan tubuh yang bergerak sebagai sarana untuk merasakan kembali hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

______________________________

Pertunjukan ini dapat dihadiri secara gratis.

Informasi: +62 821-3322-9593 (Razan)

On Stage

“VERNAL EQUINOX”

by Akihito Ichihara

with all workshop participants

Sabtu, 15 Maret 2025
20.00 WIB – selesai
di Studio Plesungan (Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar Regency, Central Java 57181) https://maps.app.goo.gl/EkGFJaJgpwTBfdW88

 

“VERNAL EQUINOX” is the culmination of a workshop led by Akihito Ichihara at Studio Plesungan, held from March 12 to 14, 2025. Staged among the teak trees of the studio grounds, this performance is a collaboration between Ichihara and the workshop participants. It explores natural elements—air, wind, water, earth, and plants—as sources of movement and inspiration. Ichihara is drawn to the moving body as a means of sensing and reconnecting with the natural world and its surrounding environment.

______________________________

No admission/FREE Entry

Information : +62 821-3322-9593 (Razan)

Sejak tahun 1994, Ichihara Akihito menekuni praktik tari dan Butoh, dan pada tahun 1997 bergabung dengan kelompok ternama Sankai Juku. Melalui proyek solonya yang bertajuk ELF, ia mengembangkan konsep Dance Project without Borders—tari lintas batas budaya, agama, dan ras. Dalam setiap proyeknya, Ichihara berkomitmen untuk menciptakan pertunjukan yang melibatkan penari dan seniman lokal sebagai pelaku utama, membangun ruang kolaborasi yang inklusif dan lintas komunitas.

Since 1994, Ichihara Akihito has dedicated himself to the practice of dance and Butoh, and in 1997 he joined the renowned company Sankai Juku. Through his solo project ELF, he developed the concept of the Dance Project without Borders—a movement that transcends cultural, religious, and racial boundaries. His work focuses on creating performances that place local dancers and artists at the center, fostering inclusive and collaborative artistic processes across diverse communities.

AFRIZAL MALNA

On Stage
Sabtu, 25 Januari 2025
Pukul 20.00 WIB – selesai
Studio Plesungan, Desa Plesungan RT03/RW02, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181

Narahubung: Verina (HP/WhatsApp: 0821 3322 9593)

“aku otw, sayangku”
oleh Afrizal Malna

Studio Plesungan membuka program On Stage edisi ke-21 sebagai penanda awal tahun 2025. Edisi ini akan digelar pada Sabtu, 25 Januari 2025, bertempat di Studio Plesungan, Karanganyar. Dalam kesempatan ini, On Stage menampilkan karya puisi “aku otw, sayangku” oleh Afrizal Malna.

“aku otw, sayangku” adalah judul buku puisi terbaru Afrizal Malna yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk cetak, karena sejak awal diciptakan sebagai karya digital. Puisi-puisi dalam buku ini lahir dari eksperimen Afrizal selama masa pandemi, yang berangkat dari pertemuan antara dua kondisi: teknologi digital dan pembatasan ruang gerak sosial. Kumpulan puisi ini juga memantulkan romantika kontemporer seputar fenomena “bucin” (budak cinta), sekaligus menyinggung persoalan regenerasi menuju hadirnya generasi baru.

Kumpulan puisi ini juga memiliki keterkaitan langsung dengan forum Festival Puisi Jelek yang digelar pada tahun 2021 melalui laman Instagram @artdown_forum. Forum ini digagas bersama Syska La Veggie dan menampilkan puisi-puisi yang diciptakan khusus untuk konten media sosial. Melalui buku puisi ini, Afrizal mengajukan pertanyaan kritis mengenai bagaimana pandemi Covid-19 dan komunikasi berbasis internet turut mendefinisikan ulang puisi dalam konteks ancaman terhadap masa depan—meliputi isu lingkungan, kesehatan, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang ditawarkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).

On Stage #21

Saturday, 25 January 2025
8:00 PM WIB – onwards
Studio Plesungan, Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Central Java 57181
Contact Person: Verina (Phone / WhatsApp: +62 821 3322 9593)

“aku otw, sayangku”
A poetry performance by Afrizal Malna

Studio Plesungan opens its 2025 program calendar with the 21st edition of On Stage, held on Saturday, 25 January 2025 at Studio Plesungan in Karanganyar. This edition presents aku otw, sayangku, a poetry work by Afrizal Malna. The title, aku otw, sayangku (translated as “I’m on my way, my love”), comes from a yet-unpublished digital poetry book by Afrizal. These poems were born from Afrizal’s experiments during the pandemic, emerging from the interplay between two forces: digital technology and social mobility restrictions. The collection also reflects on the contemporary romantic behavior often referred to in Indonesian pop culture as bucin (short for budak cinta, or “love slave”), touching on generational shifts and the arrival of new forms of expression.

The poems in aku otw, sayangku are closely connected to the 2021 Festival Puisi Jelek (Bad Poetry Festival), hosted via the Instagram platform @artdown_forum, a digital forum co-initiated with Syska La Veggie. The platform featured poetry created specifically for social media content. Through this body of work, Afrizal questions how Covid-19 and internet communication have redefined poetry amidst looming threats to the future—particularly concerning the environment, public health, and emerging AI-based technologies.

Sebagai penulis dan penyair, Afrizal Malna juga aktif mengeksplorasi performans puisi melalui media digital. Sebagian karya tersebut dibagikan melalui kanal YouTube pribadinya, antara lain dalam seri teater masker yang dibuat pada masa pandemi. Selain itu, puisi-puisinya juga banyak diunggah melalui akun Instagram @malna.a.

Pada tahun 2021, ia menggagas Festival Puisi Jelek bersama Syska La Veggie melalui akun @artdown_forum. Sepanjang tahun 2023, Afrizal turut berpartisipasi dalam berbagai forum seni dan sastra, seperti Temu Seni Performance Indonesia Bertutur di Tubaba (Lampung), Djakarta Theater Platform International, Panggung Pantura di Semarang, Festival Kebudayaan Yogyakarta, Aruh Sastra Kalimantan Selatan di Banjarmasin, Flores Writing Festival di Maumere, serta Borobudur Writers & Cultural Festival di Malang.

Beberapa buku terbarunya antara lain: Performance Art dan Medan Pasca-Seni (Diva Press, Yogyakarta 2023), Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (JBS, Yogyakarta 2023), Revisi Telur Dadar Mentah (Diva Press, Yogyakarta 2024), dan Document Shredding Museum, diterjemahkan oleh Daniel Owen (World Poetry Books, New York 2024).

Afrizal Malna dinobatkan sebagai Tokoh Seni Pilihan Majalah Tempo tahun 2020 atas bukunya Prometheus Pinball, dan saat ini menjabat sebagai anggota Akademi Jakarta untuk periode 2020–2025.

As a poet and writer, Afrizal Malna has created numerous poetry performances using digital media, many of which are shared via his YouTube channel. Among them is a mask theater series developed during the pandemic. Other poems are published on his Instagram account (@malna.a). In 2021, Afrizal and Syska La Veggie initiated the Festival Puisi Jelek through the @artdown_forum account.

Throughout 2023, Afrizal actively participated in various performance and literary forums including:
“Temu Seni Performance Indonesia Bertutur” in Tubaba (Lampung),
Djakarta Theater Platform International,
Panggung Pantura in Semarang,
Yogyakarta Cultural Festival,
Aruh Sastra Kalimantan Selatan in Banjarmasin,
Flores Writing Festival in Maumere,
and the Borobudur Writers & Cultural Festival in Malang.

His recent publications include:

  • Performance Art. Dan Medan Pasca-Seni (Diva Press, Yogyakarta, 2023)

  • Tiket Masuk Bioskop Autobiografi (JBS, Yogyakarta, 2023)

  • Revisi Telur Dadar Mentah (Diva Press, Yogyakarta, 2024)

  • Document Shredding Museum, translated by Daniel Owen (New York: World Poetry Books, 2024)

Afrizal was named one of Tempo magazine’s Artists of the Year in 2020 for his book Prometheus Pinball. He is also a member of the Jakarta Academy (2020–2025).

EISA JOCSON & VENURI PERERA

ON STAGE

Hari, Tanggal : Sabtu, 6 Juli 2024
Waktu : Pukul 20.00 WIB – selesai
Tempat : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Jebres, Surakarta

______________________________________

In Progress: Magic Maids
oleh Eisa Jocson dan Venuri Perera

On Stage menampilkan karya In Progress: Magic Maids oleh Eisa Jocson dan Venuri Perera. Karya ini merupakan proses kerja yang masih berkembang, yang menelusuri sejarah panjang penganiayaan terhadap penyihir di Eropa—sejarah yang kemudian diwariskan sebagai alat penindasan terhadap para pekerja migran dari negara-negara Global Selatan.

Kolaborasi antara Eisa dan Venuri dimulai pada tahun 2022, ketika mereka menyadari kurangnya representasi perempuan dalam Museum Sejarah Farmasi di Basel, Swiss. Latar belakang mereka sebagai seniman dari Sri Lanka dan Filipina—dua negara yang secara signifikan menyumbangkan tenaga kerja domestik ke luar negeri—mendorong mereka menciptakan karya ini sebagai respons terhadap pergulatan tubuh perempuan dalam pusaran sejarah penganiayaan dan eksploitasi dalam struktur kolonial.

Karya ini menggabungkan praktik ritual, arak-arakan, pertunjukan, dan kerasukan. Mereka menggunakan mantra dan ikrar, dengan tubuh sebagai medium yang melintasi berbagai ranah: fisik, ideologis, transnasional, emosional, dan gender. In Progress: Magic Maids menampilkan dua figur yang bertemu dalam laku menyapu—sapu yang tak hanya sebagai alat domestik, tetapi juga mengandung simbolisme sebagai kendaraan penyihir. Dalam karya ini, sapu menjadi lambang penindasan sekaligus perlawanan, perpanjangan tubuh, serta portal menuju proses metamorfosis. Pertunjukan ini menghadirkan tubuh-tubuh pekerja seni dengan sapu mereka, dalam upaya menuju kondisi “menjadi”.

In Progress: Magic Maids mengundang publik untuk menyaksikan dan merefleksikan penampakan tubuh pekerja, solidaritas perempuan, serta dampak ketidakadilan sejarah terhadap praktik perburuhan masa kini.

Pertunjukan Eisa Jocson dan Venuri Perera dalam On Stage edisi ke-19 ini merupakan bagian dari program Artist-in-Residence, di mana mereka mengembangkan karya Magic Maids selama sepuluh hari (1–10 Juli 2024) di Studio Plesungan dengan dukungan dari Dance Nucleus (Singapura) dan Studio Plesungan. Pada akhir On Stage kali ini, Bincang Seniman dipandu oleh Melati Suryodarmo.

ON STAGE

Hari, Tanggal : Sabtu, 6 Juli 2024
Waktu : Pukul 20.00 WIB – selesai
Tempat : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Jebres, Surakarta

______________________________________

In Progress: Magic Maids
by Eisa Jocson and Venuri Perera

Studio Plesungan returns with the 19th edition of On Stage on Saturday, 6 July 2024 at Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. This time, On Stage will present In Progress: Magic Maids, a work-in-process by Eisa Jocson and Venuri Perera.
In Progress: Magic Maids is a developing piece that traces the long history of the persecution of witches in Europe, which later became a tool of oppression against migrant domestic workers from the Global South. The collaboration between Eisa and Venuri began in 2022, sparked by their shared observation of the underrepresentation of women in the Museum of the History of Pharmacy in Basel, Switzerland. As artists from Sri Lanka and the Philippines—two countries that are among the largest senders of domestic labor globally—they were compelled to create this work as a response to the entanglement of the body with the historical trauma of “witch” persecution and its continuing impact on the exploitation of women workers in postcolonial contexts.

This work interweaves ritual practices, processions, performances, and possession. They employ incantations and oaths, with their bodies traversing multiple territories: physical, ideological, transnational, emotional, and gendered.
In Progress: Magic Maids introduces two figures who encounter one another in a ritual of sweeping. The broom, beyond being a domestic cleaning tool, is also associated with the mythical image of the witch’s vehicle—used here as a symbol of both oppression and resistance. The broom becomes an extension of the body and a portal to transformation. The performance features these artistic workers with their brooms in a process of “becoming.”
Magic Maids invites the audience to witness and reflect on the visibility of the laboring body, the strength of female solidarity, and the historical injustices that continue to shape modern labor practices.

This performance by Eisa Jocson and Venuri Perera as part of On Stage #19 is the result of a 10-day Artist-in-Residence program (1–10 July 2024) at Studio Plesungan, supported by Dance Nucleus Singapore and Studio Plesungan. At the end of the On Stage, artist talk was accompanied by Melati Suryodarmo.

Eisa Jocson adalah koreografer dan penari kontemporer asal Filipina. Terlatih sebagai seniman visual dengan latar belakang balet, Eisa mengeksplorasi politik tubuh dalam industri hiburan dari perspektif sosio-ekonomi khas Filipina. Ia menelusuri bagaimana tubuh bergerak dan kondisi yang mendorongnya untuk bergerak—baik secara sosial maupun secara geografis melalui migrasi tenaga kerja. Dalam karyanya—dari pole dance, macho dance, pekerjaan domestik, keputerian, hingga kebun binatang—kapital menjadi kekuatan pendorong yang menekan tubuh ke dalam sistem terkontrak dan peta kewilayahan. Ia merupakan penerima 13 Artists Award dari Pusat Kebudayaan Filipina (2018), Hugo Boss Asia Art Award (2019), SeMa-HANA Award (Seoul Mediacity Biennale 2021), dan baru-baru ini Tabori International Award (2023) di Jerman.

Venuri Perera adalah koreografer, seniman pertunjukan, kurator, dan pendidik asal Kolombo. Karyanya mengeksplorasi dinamika kekuasaan atas visibilitas dan representasi, serta berupaya menggoyahkan cara pandang publik terhadap “yang lain”. Karya-karyanya, baik tunggal maupun kolaboratif, beririsan dengan isu nasionalisme, patriarki, migrasi, warisan kolonial, dan kelas. Sejak 2008, ia telah tampil dan diundang ke berbagai festival, biennale, dan simposium di Eropa, Asia Selatan dan Timur, Timur Tengah, serta Afrika. Ia telah berkolaborasi dengan koreografer Geumhyung Jeong (Korea Selatan) dalam Theatre Spektakel dan Monsoon Australia, serta dengan Natsuko Tezuka (Jepang) dalam Kyoto Experiment dan SIFA Singapore. Venuri juga menyusun dan mengkurasi proyek Colombo Dance Platform (2015–2020) bersama Goethe-Institut, dan berkomitmen untuk membangun jaringan yang mendukung praktik tari independen di Sri Lanka. Ia adalah lulusan DAS Theatre dan kini tinggal di Amsterdam.

Eisa Jocson is a choreographer and contemporary dancer from the Philippines with a background in visual arts and ballet. Her work unpacks the politics of the body in the entertainment industry through the specific socio-economic lens of the Philippines. She investigates how bodies move and what compels them to move—whether through social mobility or migration. Her works, spanning pole dance, macho dance, domestic labor, pageantry, and the zoo, are driven by capital, pressing contract-bound bodies into geographic and ideological territories.
She is the recipient of the 2018 CCP 13 Artists Award (Cultural Center of the Philippines), the 2019 Hugo Boss Asia Art Award, the 2021 SeMa-HANA Award (Seoul Mediacity Biennale), and most recently the 2023 Tabori International Award in Germany.

Venuri Perera is a choreographer, performance artist, curator, and educator from Colombo. Her practice explores power dynamics in visibility and legibility, seeking to challenge public perceptions of ‘otherness.’ Her solo and collaborative works address themes such as nationalist violence, patriarchy, migration, colonial legacies, and class. Since 2008, she has presented her work at festivals, biennales, and symposiums across Europe, South and East Asia, the Middle East, and Africa. She has collaborated with choreographers such as Geumhyung Jeong (KR) (Theater Spektakel / Monsoon Australia) and Natsuko Tezuka (JP) (Kyoto Experiment / SIFA Singapore).
Venuri curated the Colombo Dance Platform (2015–2020, Goethe-Institut) and is committed to building sustainable networks for the independent dance scene in Sri Lanka. A graduate of DAS Theatre, she currently resides in Amsterdam.

Rani Jambak

ON STAGE

Sabtu, 16 November 2024
20:00 WIB
di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir Sutami 57, Kentingan, Surakarta 57126
_____________________________________

Kincia Aia: Cultural Jamming
oleh Rani Jambak

Studio Plesungan kembali menghadirkan On Stage edisi ke-20 pada Sabtu, 16 November 2024 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Kali ini, On Stage menampilkan karya Kincia Aia: Cultural Jamming oleh Rani Jambak. Kincia Aia merupakan hasil kebudayaan masyarakat Minangkabau yang digunakan secara kolektif sebagai sistem irigasi persawahan sekaligus alat untuk menumbuk bahan makanan menjadi tepung.

Pada tahun 2022, Rani Jambak merancang dan mengalihfungsikan Kincia Aia menjadi sebuah instrumen musik, memadukan sistem kinetik tradisional dengan teknologi sensor. Transformasi fungsi Kincia Aia ini membuka kemungkinan baru dalam penciptaan komposisi musik dengan tempo yang cenderung statis, diperkaya oleh beragam bunyi hasil field recording yang telah dikumpulkan Rani sejak tahun 2019.

Setelah satu tahun berdomisili di Surakarta, Rani terdorong untuk mengeksplorasi potensi dialog lintas budaya melalui interaksi Kincia Aia dengan instrumen musik dari berbagai latar tradisi. Lewat pendekatan jamming dan improvisasi, Kincia Aia: Cultural Jamming menghadirkan ruang pertemuan bagi gagasan dan ekspresi musikal yang beragam, serta membuka cakrawala baru bagi perkembangan wacana Kincia Aia dalam konteks kontemporer.

ON STAGE

Sabtu, 16 November 2024
20:00 WIB
di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir Sutami 57, Kentingan, Surakarta 57126
_____________________________________

Kincia Aia: Cultural Jamming
by Rani Jambak

Kincia Aia: Cultural Jamming — Rani Jambak’s Journey from Food Technology to Musical Instrument

Studio Plesungan returns with the 20th edition of On Stage on Saturday, 16 November 2024, at Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. This edition features Kincia Aia: Cultural Jamming, a performance by Rani Jambak. Kincia Aia is a cultural innovation of the Minangkabau people, traditionally used as a communal irrigation system for rice fields and as a tool for grinding food ingredients into flour.

In 2022, Rani redesigned and repurposed Kincia Aia into a musical instrument, integrating traditional kinetic systems with sensor technology. This transformation opened new possibilities for musical composition with a steady tempo, enriched by a wide range of sounds gathered from field recordings Rani has been collecting since 2019.

After residing in Surakarta for a year, Rani became interested in exploring the interaction between Kincia Aia and musical instruments from other cultural backgrounds. Through jamming and improvisation, Kincia Aia: Cultural Jamming creates a space for intercultural dialogue in music, offering new perspectives for the evolution of Kincia Aia in a contemporary context.

Rani Jambak adalah seorang komposer, produser, perancang instrumen, dan vokalis berdarah Minangkabau asal Medan. Setelah menyelesaikan studi Master of Creative Industries di Macquarie University, Sydney, Rani memulai karier solonya. Ia mengeksplorasi musik elektronik dan soundscape yang dikumpulkannya dari berbagai wilayah di Indonesia. Pada November 2022, Rani Jambak menerima penghargaan The Oram Awards untuk kategori Internasional atas inovasinya dalam bidang suara, musik, dan teknologi, yang diserahkan dalam perhelatan Huddersfield Contemporary Music Festival 2022.

Rani Jambak is a composer, producer, instrument designer, and vocalist of Minangkabau heritage, born in Medan. After completing her Master of Creative Industries at Macquarie University in Sydney, she began her solo career. Rani explores electronic music and soundscapes gathered from diverse regions across Indonesia. In November 2022, she received The Oram Awards in the International Category for her innovation in sound, music, and technology, presented at the Huddersfield Contemporary Music Festival.

Ela Mutiara

On Stage

Sabtu, 24 Mei 2025
20:00 WIB – selesai
di Studio Plesungan (Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar Regency, Central Java 57181)

PING

oleh ELA MUTIARA

On Stage edisi kali ini akan menghadirkan karya “PING” oleh Ela Mutiara.  Karya ini berawal dari ingatan atas pengalaman masa kecil Ela sebagai penonton Bajidoran, salah satu seni pertunjukan rakyat Sunda, Jawa Barat. Hal ini menjadi pintu masuk Ela untuk menyaksikan kedudukan pinggul pada perempuan yang secara umum dianggap sebagai simbol kesuburan. Pinggul perempuan umum dikaitkan sebagai pusat seksualitas; bersifat ekspresif, personal, dan intim. Namun bagi Ela, pinggul adalah poros gerak yang memuat ragam makna, membentang peristiwa di masa lalu dan masa kini. Melalui “PING” Ela melihat pinggul berada di antara yang transenden dan profan, yang privat dan publik, serta menghubungkan antara tubuh dan panggung. Melalui karya ini, Ela memaknai pinggul sebagai simbol yang digerakkan sekaligus menggerakkan, adaptif pada gerak zaman.

On Stage merupakan program rutin Studio Plesungan yang mempertunjukkan karya seni dari berbagai genre dan latar belakang, Hadir setiap dua bulan sekali, penyelenggaraan On Stage ditujukan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. On Stage dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

On Stage

Saturday, 24 May 2025
8:00 PM (WIB) onwards
Studio Plesungan
(Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar Regency, Central Java 57181)

PING
by ELA MUTIARA

This edition of On Stage presents PING, a work by Ela Mutiara. Rooted in her childhood memories of watching Bajidoran—a traditional Sundanese folk performance from West Java—this piece becomes Ela’s point of departure for contemplating the significance of the hips in women’s bodies, widely perceived as a symbol of fertility. Often associated with sexuality, the hips are seen as expressive, personal, and intimate. Yet for Ela, the hips are a pivotal axis of movement, rich with layered meanings that stretch across time—from past events to present realities.

In PING, the hips are imagined as oscillating between the transcendent and the profane, the private and the public, linking the body with the stage. Through this work, Ela reimagines the hips not merely as a symbol but as both mover and moved—adaptive to the motion of time itself.

On Stage is a regular program by Studio Plesungan that showcases artistic works from diverse genres and backgrounds. Held every two months, the program aims to cultivate public appreciation for contemporary art by presenting works by selected artists, followed by public conversations with the creators. On Stage is also designed to foster meaningful connections between independent artists and a wider arts audience.

Ela Mutiara adalah koreografer dan penari kelahiran Sukabumi, Jawa Barat. Menyelesaikan studi masternya pada program Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sejak 2016, praktik tarinya banyak menelusuri peristiwa sejarah, tradisi, pola hidup dan perempuan, dalam perspektif sosial budaya Sunda. Auto-etnografi menjadi metode kerja yang dikembangkan dalam riset dan proses kreatifnya, menempatkan tubuh sebagai medium utama yang diekspresikan melalui karya tari, video, performance art dan pameran. Sejak 2020- sekarang, Ela mulai mempertanyakan bagaimana pinggul dan gerak pinggul hadir dalam tari kerakyatan Sunda. Pertanyaan ini telah membawanya pada pencarian panjang yang menelusuri sejarah, konteks, makna, serta eksistensi pinggul hari ini. Riset ini menjadi medan artistik dalam kerja studio yang masih dikembangkan hingga saat ini.

Ela Mutiara is a choreographer and dancer born in Sukabumi, West Java. She completed her Master’s degree in Artistic Creation at the Indonesian Institute of the Arts, Yogyakarta. Since 2016, her dance practice has explored historical events, traditions, ways of life, and the role of women—particularly through the lens of Sundanese socio-cultural perspectives. Auto-ethnography has become a central methodology in her research and creative process, with the body positioned as the primary medium—expressed through dance, video, performance art, and exhibition.

Since 2020, Ela has been investigating the presence and function of the hips and hip movements in Sundanese folk dance. This line of inquiry has led her on an extended journey through history, context, meaning, and the current existence of the hips. This ongoing research forms the artistic field of her studio practice, which continues to evolve to this day.