ON STAGE

On Stage

Studio Plesungan
On Stage
“DADALAR” oleh Yezyuruni Forinti
dan

“SAMAR” oleh Sekar Tri Kusuma
Hari dan Tanggal : Rabu, 10 Maret 2021
Waktu: Pukul 19:30 – 21:00 WIB
dilanjutkan dengan Bincang Seniman bersama Wilis Rengganiasih
Tempat:
TEATER ARENA
Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta
ON STAGE hadir kembali menampilkan “Dadalar” , karya dari Yezyuruni Forinti dan “Samar”, karya dari Sekar Tri Kusuma. “Dadalar” merupakan karya tari yang berangkat dari pengalaman Yezyuruni terkait afeksi atau rasa kasih sayang. Sedangkan “Samar” mengangkat tema komunikasi yang berangkat dari pengalaman inderawi Sekar terkait rabun jauh dan diaplikasikan dalam pola permainan sebagai metode penciptaan koreografi sehingga memunculkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di atas panggung.
_____
ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di Teater Arena – TBJT Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman.
Untuk mencegah penyebaran COVID-19, semua penonton wajib mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.
Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp25.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp20.000;
Kategori C (early booking umum) Rp20.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 15.000
Kontak dan pemesanan tiket: Luna
HP / WA: 082133229593
Email: luna@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Yezyuruni Forinti

DADALAR

Dadalar merupakan karya yang berangkat dari pengamatan Yezyuruni Forinti terhadap fenomena afeksi yang terjadi di sekitar lingkungan sosialnya. Afeksi yang merupakan bentuk rasa kasih sayang atau perasaan yang lunak yang dimiliki oleh setiap manusia. Perasaan emosi yang lunak dalam bentuk kasih sayang, perhatian, kepedulian dan cinta bisa muncul, dirasakan dan dibagikan oleh manusia yang telah mengalaminya masing-masing secara pribadi. Selain terinspirasi oleh pertemuannya dengan banyak orang yang mengalami keterasingan emosional dan sosial, Yezyuruni juga merujuk pada ajaran yang mengatakan “Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri” (kutipan dalam Alkitab Matius 22:39)

Durasi : 30 menit

Koreografi : Yezyuruni Forinti
Penari: Trisya Novita Lolorie, Yezyuruni Forinti

Penata Musik : Panji Pramayana
Tata Cahaya : Yunianto Dwi Nugroho

Yezyuruni Forinti, (Uny) lahir tahun 1999 di Jailolo, Halmahera Barat, hidup dan bekerja di Surakarta. Pertemuan dengan Eko Supriyanto di tahun 2015, menjadi awal perjalanan Uny mendalami seni tari melalui keterlibatannya sebagai penari dalam produksi karyanya yang berjudul “Balabala”. Bersama produksi ini, Uny berkesempatan untuk pentas di berbagai festival internasional di Australia, Asia dan Eropa. Pada tahun 2017, Uny mulai menempuh studi di ISI Surakarta di jurusan tari.
Baginya koreografi berperan sebagai wahana dalam menyampaikan perasaan dan emosi, melalui bahasa tubuh dan gerak, Yezyuruni Forinti ingin menumbuhkan kesadaran mengenai berbagai aspek dalam kehidupan dan kepedulian mengenai manusia yang beragam.
Uny telah bekerja dan terlibat dalam produksi di bawah beberapa arahan seniman seperti Eko Supriyanto, Melati Suryodarmo, Kurniadi Ilham, Retno Sulistyorini, Ari Rudenko dan Ferry Cahyo Nugroho.

Photo: Jauhari and Studio Plesungan

Sekar Tri Kusuma

SAMAR

Samar, karya koreografi yang bermula dari pengalaman inderawi rabun jauh yang mana ketidakjelasan melihat menjadi persoalan utamanya. Bagi Sekar, wacana ketidakjelasan ini, juga muncul dalam konteks yang lebih luas. Dalam karya ini, komunikasi antar manusia diangkat sebagai hal yang selalu dihadapkan pada persoalan ketidakjelasan dalam penyampaiannya maupun penangkapannya. Sementara dalam kehidupan keseharian manusia yang ingin mencapai tujuan dan kemapanannya, komunikasi merupakan faktor penting dalam mengupayakannya. Samar mengadaptasi pola permainan dan aturan mainnya sebagai metode untuk memunculkan berbagai kemungkinan komunikasi yang terjadi di atas panggung antar dua penari.

Durasi : 25 menit

Koreografi : Sekar Tri Kusuma
Penari: Razan Wirjosandjojo, Sekar Tri Kusuma

Penata Musik : Leon Gilberto Medellin Lopez
Pemusik : Leon Gilberto Medellin Lopez, Soladi
Tata Cahaya : Yunianto Dwi Nugroho

Sekar Tri Kusuma, lahir di Surakarta pada tahun 1999. Sekar mengenal dunia tari sejak mengikuti Sanggar Seni Wayang Suket Kalanjana yang didirikan oleh Slamet Gundono pada tahun 2008, dan berlatih di Sanggar Tari Soerya Soemirat pada tahun 2010. Sekar mulai mempelajari tari klasik Jawa Gaya Surakarta sejak masuk di SMKN 8 (SMKI) Surakarta. Pada tahun 2017, Sekar melanjutkan studi nya di Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan Tari.
Sekar tertarik untuk mengungkap kecairan dalam dinamika sosial masyarakat melalui kerja dalam proses penciptaannya. Sekar meyakini kejujuran sebagai hal yang penting dalam tari, dimana tubuh digerakkan seutuhnya oleh pemikiran dan wacana.
Sekar telah terlibat di dalam produksi di bawah seniman diantaranya Matheus Wasi Bantolo, Melati Suryodarmo, Astri Kusuma Wardani, R. Danang Cahyo, Wirastuti Susilaningtyas, dan Eko Supriyanto dalam berbagai festival di Indonesia.

Photo: Jauhari and Studio Plesungan

Densiel Lebang

NO LIMIT 2.0 (event postponed)

Selasa, 31 Maret 2020
19:30 WIB

Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

Artist Talk
Densiel Lebang

Moderator : Melati Suryodarmo

On Stage untuk keenam kalinya akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 31 Maret 2020. Pada kesempatan ini On Stage menghadirkan pertunjukan tari berjudul No Limit 2.0 yang merupakan karya dari koreografer independen Densiel Lebang.

No Limit 2.0 mencoba untuk menguak pengalaman tubuh di dalam budaya risiko yang bersifat fisik yang muncul akibat tegangan antara ikatan dan pemisahan; tarikan dan penolakan; kementakan untuk menguasai dan dikuasai; rintangan dan kemudahan  yang terjadi di dalam mobilitas tubuh penampil, tali yang kuat dan struktur perancah – yang dapat saling melengkapi dan menemukan definisi melalui satu sama lain. Melalui hubungan antara tubuh dan material ini, Densiel mencoba membaca realitas indrawi apa yang terjadi yang mampu menguak potensi tubuh: baik kekuatan, kesanggupan, kemampuan dan daya – serta melalui sifat dari material yang digunakan menjadi katalis, dan dipercaya dapat menembus tubuh khalayak, melalui ingatan, rutinitas, sentuhan, penglihatan, asosiasi, dan nostalgia.

Densiel Prismayanti Lebang merupakan seniman lulusan  Institut Kesenian Jakarta yang aktif bekerja sebagai penari dan koreografer independen sejak 2013. Sebagai seorang penari, iapernah bekerja untuk koreografer kontemporer Indonesia maupun internasional seperti Sardhono W Kusumo, Andara F. Moeis, Hartati, Judith Sanchez Ruiz dari USA, Ismaera dan Quick (MuDa) dari Jepang. Sejak 2015 ia terlibat dalam banyak lokakarya
tari/koreografi yang difasilitasi oleh para praktisi lokal dan internasional seperti Arno
(Belanda), Wardi (Malaysia), Anouk Peeters (Belgia), Ingun Bjornsgaard (Norwegia),
Antony Hamilton (Australia), Su-Wen Chi (Taiwan), Arco Renz (Belgia), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Benny Krisnawardi (Jakarta). Tahun 2018, ia juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Shifting Workshop di Play Practice Residency di India dengan Robert M. Heyden dari Ultima Vez Dance Company. Sebagai Koreografer, karya koreografisnya antara lain, No Limit (2016), EMOLOGUE (2016), Dejavu: Choreojam IKJ with Trio Kwek-Kwek (2016), MyWay (2016), 1 (2015), Myspace (2015), Meonglikan Ahihihi (2014), AMEN (2014). Pada 2017, ia mendapat hibah dari Yayasan Kelola untuk menciptakan #NEEDMOREINTERACTION dan terpilih sebagai koreografer untuk karya “Ins and Outs” Sasikira Dance Lab dan Choreo Lab Bandung. Pada tahun 2018, dia menciptakan karya “Let’s Talk” dalam program “Lintas Media” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “Inhibition” di Salihara International Performing Arts Festival dan di PostFest yang diadakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, pada akhir tahun 2018 ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “No Limit 2.0″ di Indonesian Dance Festival. Pada tahun 2019 menampilkan karya “Inhibition 2.0” di Ansan Street Art Festival South Korea dan di CabaretChairil Teater Garasi. Serta membuat karya baru yang berjudul “MISS” di Asiatri Jogjakarta.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

KREUSER and CAILLEAU

THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU

Pembukaan Pameran dan Konser
Hari dan Tanggal : Senin, 27 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk
Hari dan Tanggal : Selasa, 28 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

On Stage edisi kelima, akan diselenggarakan di Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 27 – 29 Januari 2020. Melalui dukungan dari Goethe Institut dan Institut Français Indonesia, dan Ethnictro, Stufio Plesungan menghadirkan konser musik dan pameran instalasi oleh Timo Kreuser dan Guillaume Cailleau yang bertajuk THE INTERESTS ARE AT STAKE.

THE INTERESTS ARE AT STAKE adalah pertunjukan audio-visual / analog DJ / VJ eksperimental yang ditata oleh KREUSER / CAILLEAU. Dengan menggunakan pemutar piringan hitam yang disesuaikan secara khusus, proyektor Super8 dan feedback mixer, mereka menyajikan persepsi ganda dari uang : BERACUN dan PERTUKARAN. Titik tolak mereka adalah tema, objek, dan konteks non-artistik, yang mereka ubah menjadi nilai tambah artistik. Pertunjukan ini mengeksplorasi citra dan suara uang.

THE INTERESTS ARE AT STAKE pada tahun 2020 ini dipentaskan keliling di: Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Malaysia.

KREUSER/CAILLEAU adalah proyek duo dari komposer Jerman yaitu Timo Kreuser dan pembuat film asal Prancis yaitu Guillaume Cailleau. Dalam pendekatannya, mereka menggunakan benda-benda sebagai wadah fungsi tanda, makna umum dan konteks sosial budaya. Dengan mengabaikan tampilan utama dari benda-benda tersebut, mereka berfokus pada potensi obyek itu sendiri sebagai stimulator sonik dan visual. Dan dengan menyimpangkan pemahaman asli tentang obyek tersebut, mereka mencetak makna dalam konteks baru.

Ketertarikan mereka dalam menciptakan instalasi dan live events merupakan kelanjutan dari dialog dan konfrontasi individu mereka dengan korporealitas subyek mereka. Sejak 4 tahun keduanya telah menciptakan banyak karya yang menyempurnakan pertunjukan audio-visualnya dari konser satu, ke konser selanjutnya. Mereka telah tampil secara teratur di berbagai tempat di seperti di Heimathafen, Ausland (Biegungen), Berlin dan secara internasional diantaranya di Figura Festspiele, di Kopenhagen dan di scratch Expanded, di Paris. Di samping konstelasi duo mereka, Cailleau dan Kreuser berkolaborasi secara teratur dalam proyek-proyek oleh ansambel musik vokal kontemporer dan eksperimental Phoenix 16. Karya terbaru kolaborasi mereka adalah konser “Zeitgeist” untuk festival Maerzmusik tahun ini.

Timo Kreuser adalah komposer, konduktor dan seniman bunyi, belajar di universitas musik Munich, Dresden dan Berlin. Karya-karyanya mengutip unsur-unsur musik industri, provokasi punk dan elektronik avantgarde dan sering membuat komposisi yang berasal  dari komentar-komentarnya pada masyarakat modern dan fenomena politik (rezim, momentum kolektif, individu), serta pada industri musik dan budaya. Timo adalah anggota aktif dari skena improvisasi Berlin dan tampil secara teratur sebagai pianis eksperimental, inside piano, atau dengan pengaturan turntable eksperimental dalam berbagai formas; baik duo maupun band termasuk NoiserKroiser, KREUSER / CAILLEAU, feat Christoph Guiraud. Timo Kreuser, S.A.F.T., Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants, dan sebagai solois. Sebagian besar karyanya termasuk pertunjukan instrumentalnya dengan ansambel seperti POING!, S.A.F.T., FIGURA, PHØNIX16, KALEIDOSKOP, dll., Di festival-festival seperti ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, AFEKT. Timo Kreuser adalah Direktur Artistik kolektifi PHØNIX16 dan merupakan co-kurator dari enam belas bagian seri konser POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN di Heimathafen Neukölln sejak 2016, dan serial tak terbatas D.O.A. di keheningan hijau, Berlin.

Guillaume Cailleau adalah seniman dan pembuat film asal Prancis, ia belajar di Berlin University of Arts. Dia juga bekerja sebagai juru proyeksi film di Paris dan Berlin. Pada 2007, Cailleau merekam film pendek pertamanya Blitzkrieg, yang ditayangkan perdana di Festival Film Pendek Internasional Oberhausen. Diikuti film-film lainnya seperti, Through; Windowed Water (2007) yang menjadikan karya instalasi Michael Snow sebagai referensi, H (I) J (2009) yang diproses secara manual, dan Austerity Measures (2012), sebuah kolaborasi dengan pengambilan gambar oleh Ben Russell di Athena. Pada bulan Februari 2014 Cailleau dianugerahi Silver Bear untuk film pendeknya Laborat di Berlin Film Festival. Cailleau mengembangkan banyak pertunjukan audiovisual, misalnya dengan seniman bunyi eksperimental Werner Dafeldecker dan komposer Timo Kreuser, yang ditampilkan di tempat-tempat internasional seperti Edinburgh International Film Festival (2014), Scratch Expanded Paris (2013), dan COLOR SOUND FRAMES (2015) di Serralves Museum di Portugal. Cailleau sering mengedepankan proses kreatif dalam komposisi puitisnya. Karyanya dipengaruhi oleh avant-garde dan praktik performatif Amerika di Expanded Cinema. Bereksperimen dengan durasi, multiple exposures, pemisahan warna dan gambar tunggal yang diperlakukan secara manual, ditambah metode pengeditan gambar lainnya, bentuk karyanya berhubungan secara langsung dengan subjeknya. www.guillaumecailleau.com

Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org

Ayu Permata Sari

LI TU TU

by AYU PERMATA SARI

Hari dan Tanggal : Selasa, 26 November 2019

Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk: Pukul 20:45 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

ON STAGE hadir untuk keempat kalinya dengan menampilkan Li Tu Tu , sebuah karya dari Ayu Permata

Li Tu Tu berpijak dari motif gerak tangan lempar piring dan menahan piring kecil dengan ibu jari tangan dalam tari Kuadai, tari tradisi asal suku Semendo, Lampung Utara. Ayu melakukan riset terkait tradisi dan adat suku Semendo, yang kemudian membawanya pada Tunggu Tubang, sebutan untuk  anak wanita pertama dalam keluarga suku Semendo yang memiliki peran sebagai penjaga dan pengendali harta keluarga, serta tempat pulang/ berkumpul. Gerak menahan piring dalam tari Kuadai pada akhirnya dibaca sebagai visual yang menjadi penggambaran tarik menarik antara privilege, tanggung jawab, kekuatan, tetapi juga pembatasan pada Tunggu Tubang.

Tunggu Tubang dipilih Ayu Permata sebagai esensi dan spirit karya, sementara motif tari Kuadai sebagai media penyampai. Dalam perjalanan mengeksplorasi esensi dan media ini justru pengkarya dan para penari mengalami pengalaman yang dekat dengan dirinya. Gerak tangan lempar piring yang dieksplorasi dalam 10 variasi oleh 2 penari, laki-laki dan perempuan, membawa ingatan mereka pada kesetaraan, komunikasi, dan keseimbangan.

Ayu Permata dan penari dalam karya ini membawa pertanyaan, “Bagaimana kalau kemungkinan-kemungkinan atas karya ini dibuka pula kepada penonton, apakah pengalaman dan ingatan yang dekat dengan diri mereka juga akan muncul dalam asumsi mereka atas karya Li Tu Tu?” Dari situlah muncul format Li Tu Tu dengan interpretasi terbuka, meskipun bagi pengkarya pijakan awal Kuadai sebagai media dan Tunggu Tubang sebagai esensi atau spirit tetap akan dipertahankan, namun pengalaman penonton penting untuk ditempatkan setara dengan karya ini.

Tentang Ayu Permata Sari

Lahir pada 1992 di Kotabumi, Lampung Utara, Ayu Permata Sari tergabung ke dalam kelompok suku Pepadun, satu dari dua kelompok asli di Lampung, dan beragama Islam. la belajar menari sejak berusia sembilan tahun, tatkala bergabung dengan studio tari komunitas Cangget Budaya pada 2000 dimana dampai sekarang ia masih menjadi anggotanya. Ayu belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI)  Yogyakarta, mengambil jurusan koreografi dari 2010-2014; kemudian melanjutkan pasca sarjananya di sekolah yang sama dari 2014-2016. Mendirikan Ayu Permata Dance Company di Yogyakarta pada 2016 sebagai jalan untuk mendorong dan mendukung praktik dirinya dan kolaboratornya. Pada 2017, Ayu terpilih untuk ikut residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) sebagai bagian dari Monsson Europalia Festival. Salah satu karyanya berjudul Kami Buta memenangkan penghargaan “Jasa Bakti” dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia, pada 2018. Karya yang berjudul “TubuhDang TubuhDut” menjadi salah satu nomor karya yang tampil di showcase Indonesia Dance Festival pada tahun 2018; di tahun yang sama Ayu menjalani residensi di Dance Nucleus, Singapura, sebagai bagian dari prosesnya, termasuk mengujicobakan karya tersebut di dua edisi Jejak-Tabi Exchange di Yogyakarta dan Kuala Lumpur. Tahun 2019 Ayu Permata Sari meraih hibah Helatari oleh Komunitas Salihara, ia juga mengikuti Dance Lab Rimbun Dahan Malaysia, Festival Setouchi Triennale Shodoshima Jepang, serta Asia Tri Akita, Jepang. Bulan November tahun 2019 menjadi salah satu penampil pada Spielart Teater Festival di Munich, German dengan membawakan karya TubuhDang TubuhDut.

Ayu Permata Dance Company

Ayu Permata Dance Company (APDC) merupakan sebuah kelompok seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan tari. Secara resmi didirikan oleh Ayu Permata Sari pada tahun 2016 di Yogyakarta. APDC bertujuan untuk memacu, menemani dan mendukung segala proses kreatif Ayu Permata Sari. APDC memiliki semangat berbagi pengetahuan seni tari lewat karya, kelas ketubuhan, diskusi dan workshop tari. APDC aktif terlibat dalam berbagai festival dan event kesenian baik dalam tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada praktek berkaryanya APDC beberapa kali berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, seperti Shadow Puppet, Teater, Lukis, Musik, Instalasi dan Sastra. Karya- karya yang diproduksi oleh APDC antara lain HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li tu Tu, TubuhDang TubuhDut dan X.

 

 

ON STAGE

NO LIMIT 2.0 (postponed)

Selasa, 31 Maret 2020
19:30 WIB

Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

Artist Talk
Densiel Lebang

Moderator : Melati Suryodarmo

On Stage untuk keenam kalinya akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 31 Maret 2020. Pada kesempatan ini On Stage menghadirkan pertunjukan tari berjudul No Limit 2.0 yang merupakan karya dari koreografer independen Densiel Lebang.

No Limit 2.0 mencoba untuk menguak pengalaman tubuh di dalam budaya risiko yang bersifat fisik yang muncul akibat tegangan antara ikatan dan pemisahan; tarikan dan penolakan; kementakan untuk menguasai dan dikuasai; rintangan dan kemudahan  yang terjadi di dalam mobilitas tubuh penampil, tali yang kuat dan struktur perancah – yang dapat saling melengkapi dan menemukan definisi melalui satu sama lain. Melalui hubungan antara tubuh dan material ini, Densiel mencoba membaca realitas indrawi apa yang terjadi yang mampu menguak potensi tubuh: baik kekuatan, kesanggupan, kemampuan dan daya – serta melalui sifat dari material yang digunakan menjadi katalis, dan dipercaya dapat menembus tubuh khalayak, melalui ingatan, rutinitas, sentuhan, penglihatan, asosiasi, dan nostalgia.

Densiel Prismayanti Lebang merupakan seniman lulusan  Institut Kesenian Jakarta yang aktif bekerja sebagai penari dan koreografer independen sejak 2013. Sebagai seorang penari, iapernah bekerja untuk koreografer kontemporer Indonesia maupun internasional seperti Sardhono W Kusumo, Andara F. Moeis, Hartati, Judith Sanchez Ruiz dari USA, Ismaera dan Quick (MuDa) dari Jepang. Sejak 2015 ia terlibat dalam banyak lokakarya
tari/koreografi yang difasilitasi oleh para praktisi lokal dan internasional seperti Arno
(Belanda), Wardi (Malaysia), Anouk Peeters (Belgia), Ingun Bjornsgaard (Norwegia),
Antony Hamilton (Australia), Su-Wen Chi (Taiwan), Arco Renz (Belgia), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Benny Krisnawardi (Jakarta). Tahun 2018, ia juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Shifting Workshop di Play Practice Residency di India dengan Robert M. Heyden dari Ultima Vez Dance Company. Sebagai Koreografer, karya koreografisnya antara lain, No Limit (2016), EMOLOGUE (2016), Dejavu: Choreojam IKJ with Trio Kwek-Kwek (2016), MyWay (2016), 1 (2015), Myspace (2015), Meonglikan Ahihihi (2014), AMEN (2014). Pada 2017, ia mendapat hibah dari Yayasan Kelola untuk menciptakan #NEEDMOREINTERACTION dan terpilih sebagai koreografer untuk karya “Ins and Outs” Sasikira Dance Lab dan Choreo Lab Bandung. Pada tahun 2018, dia menciptakan karya “Let’s Talk” dalam program “Lintas Media” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “Inhibition” di Salihara International Performing Arts Festival dan di PostFest yang diadakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, pada akhir tahun 2018 ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “No Limit 2.0″ di Indonesian Dance Festival. Pada tahun 2019 menampilkan karya “Inhibition 2.0” di Ansan Street Art Festival South Korea dan di CabaretChairil Teater Garasi. Serta membuat karya baru yang berjudul “MISS” di Asiatri Jogjakarta.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org

ON STAGE

THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU

Pembukaan Pameran dan Konser
Hari dan Tanggal : Senin, 27 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk
Hari dan Tanggal : Selasa, 28 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

On Stage edisi kelima, akan diselenggarakan di Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 27 – 29 Januari 2020. Melalui dukungan dari Goethe Institut dan Institut Français Indonesia, dan Ethnictro, Stufio Plesungan menghadirkan konser musik dan pameran instalasi oleh Timo Kreuser dan Guillaume Cailleau yang bertajuk THE INTERESTS ARE AT STAKE.

THE INTERESTS ARE AT STAKE adalah pertunjukan audio-visual / analog DJ / VJ eksperimental yang ditata oleh KREUSER / CAILLEAU. Dengan menggunakan pemutar piringan hitam yang disesuaikan secara khusus, proyektor Super8 dan feedback mixer, mereka menyajikan persepsi ganda dari uang : BERACUN dan PERTUKARAN. Titik tolak mereka adalah tema, objek, dan konteks non-artistik, yang mereka ubah menjadi nilai tambah artistik. Pertunjukan ini mengeksplorasi citra dan suara uang.

THE INTERESTS ARE AT STAKE pada tahun 2020 ini dipentaskan keliling di: Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Malaysia.

KREUSER/CAILLEAU adalah proyek duo dari komposer Jerman yaitu Timo Kreuser dan pembuat film asal Prancis yaitu Guillaume Cailleau. Dalam pendekatannya, mereka menggunakan benda-benda sebagai wadah fungsi tanda, makna umum dan konteks sosial budaya. Dengan mengabaikan tampilan utama dari benda-benda tersebut, mereka berfokus pada potensi obyek itu sendiri sebagai stimulator sonik dan visual. Dan dengan menyimpangkan pemahaman asli tentang obyek tersebut, mereka mencetak makna dalam konteks baru.

Ketertarikan mereka dalam menciptakan instalasi dan live events merupakan kelanjutan dari dialog dan konfrontasi individu mereka dengan korporealitas subyek mereka. Sejak 4 tahun keduanya telah menciptakan banyak karya yang menyempurnakan pertunjukan audio-visualnya dari konser satu, ke konser selanjutnya. Mereka telah tampil secara teratur di berbagai tempat di seperti di Heimathafen, Ausland (Biegungen), Berlin dan secara internasional diantaranya di Figura Festspiele, di Kopenhagen dan di scratch Expanded, di Paris. Di samping konstelasi duo mereka, Cailleau dan Kreuser berkolaborasi secara teratur dalam proyek-proyek oleh ansambel musik vokal kontemporer dan eksperimental Phoenix 16. Karya terbaru kolaborasi mereka adalah konser “Zeitgeist” untuk festival Maerzmusik tahun ini.

Timo Kreuser adalah komposer, konduktor dan seniman bunyi, belajar di universitas musik Munich, Dresden dan Berlin. Karya-karyanya mengutip unsur-unsur musik industri, provokasi punk dan elektronik avantgarde dan sering membuat komposisi yang berasal  dari komentar-komentarnya pada masyarakat modern dan fenomena politik (rezim, momentum kolektif, individu), serta pada industri musik dan budaya. Timo adalah anggota aktif dari skena improvisasi Berlin dan tampil secara teratur sebagai pianis eksperimental, inside piano, atau dengan pengaturan turntable eksperimental dalam berbagai formas; baik duo maupun band termasuk NoiserKroiser, KREUSER / CAILLEAU, feat Christoph Guiraud. Timo Kreuser, S.A.F.T., Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants, dan sebagai solois. Sebagian besar karyanya termasuk pertunjukan instrumentalnya dengan ansambel seperti POING!, S.A.F.T., FIGURA, PHØNIX16, KALEIDOSKOP, dll., Di festival-festival seperti ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, AFEKT. Timo Kreuser adalah Direktur Artistik kolektifi PHØNIX16 dan merupakan co-kurator dari enam belas bagian seri konser POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN di Heimathafen Neukölln sejak 2016, dan serial tak terbatas D.O.A. di keheningan hijau, Berlin.

Guillaume Cailleau adalah seniman dan pembuat film asal Prancis, ia belajar di Berlin University of Arts. Dia juga bekerja sebagai juru proyeksi film di Paris dan Berlin. Pada 2007, Cailleau merekam film pendek pertamanya Blitzkrieg, yang ditayangkan perdana di Festival Film Pendek Internasional Oberhausen. Diikuti film-film lainnya seperti, Through; Windowed Water (2007) yang menjadikan karya instalasi Michael Snow sebagai referensi, H (I) J (2009) yang diproses secara manual, dan Austerity Measures (2012), sebuah kolaborasi dengan pengambilan gambar oleh Ben Russell di Athena. Pada bulan Februari 2014 Cailleau dianugerahi Silver Bear untuk film pendeknya Laborat di Berlin Film Festival. Cailleau mengembangkan banyak pertunjukan audiovisual, misalnya dengan seniman bunyi eksperimental Werner Dafeldecker dan komposer Timo Kreuser, yang ditampilkan di tempat-tempat internasional seperti Edinburgh International Film Festival (2014), Scratch Expanded Paris (2013), dan COLOR SOUND FRAMES (2015) di Serralves Museum di Portugal. Cailleau sering mengedepankan proses kreatif dalam komposisi puitisnya. Karyanya dipengaruhi oleh avant-garde dan praktik performatif Amerika di Expanded Cinema. Bereksperimen dengan durasi, multiple exposures, pemisahan warna dan gambar tunggal yang diperlakukan secara manual, ditambah metode pengeditan gambar lainnya, bentuk karyanya berhubungan secara langsung dengan subjeknya. www.guillaumecailleau.com

Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org

ON STAGE

LITUTU

by AYU PERMATA SARI

Hari dan Tanggal : Selasa, 26 November 2019

Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk: Pukul 20:45 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

ON STAGE hadir untuk keempat kalinya dengan menampilkan Li Tu Tu , sebuah karya dari Ayu Permata

Li Tu Tu berpijak dari motif gerak tangan lempar piring dan menahan piring kecil dengan ibu jari tangan dalam tari Kuadai, tari tradisi asal suku Semendo, Lampung Utara. Ayu melakukan riset terkait tradisi dan adat suku Semendo, yang kemudian membawanya pada Tunggu Tubang, sebutan untuk  anak wanita pertama dalam keluarga suku Semendo yang memiliki peran sebagai penjaga dan pengendali harta keluarga, serta tempat pulang/ berkumpul. Gerak menahan piring dalam tari Kuadai pada akhirnya dibaca sebagai visual yang menjadi penggambaran tarik menarik antara privilege, tanggung jawab, kekuatan, tetapi juga pembatasan pada Tunggu Tubang.

Tunggu Tubang dipilih Ayu Permata sebagai esensi dan spirit karya, sementara motif tari Kuadai sebagai media penyampai. Dalam perjalanan mengeksplorasi esensi dan media ini justru pengkarya dan para penari mengalami pengalaman yang dekat dengan dirinya. Gerak tangan lempar piring yang dieksplorasi dalam 10 variasi oleh 2 penari, laki-laki dan perempuan, membawa ingatan mereka pada kesetaraan, komunikasi, dan keseimbangan.

Ayu Permata dan penari dalam karya ini membawa pertanyaan, “Bagaimana kalau kemungkinan-kemungkinan atas karya ini dibuka pula kepada penonton, apakah pengalaman dan ingatan yang dekat dengan diri mereka juga akan muncul dalam asumsi mereka atas karya Li Tu Tu?” Dari situlah muncul format Li Tu Tu dengan interpretasi terbuka, meskipun bagi pengkarya pijakan awal Kuadai sebagai media dan Tunggu Tubang sebagai esensi atau spirit tetap akan dipertahankan, namun pengalaman penonton penting untuk ditempatkan setara dengan karya ini.

Tentang Ayu Permata Sari

Lahir pada 1992 di Kotabumi, Lampung Utara, Ayu Permata Sari tergabung ke dalam kelompok suku Pepadun, satu dari dua kelompok asli di Lampung, dan beragama Islam. la belajar menari sejak berusia sembilan tahun, tatkala bergabung dengan studio tari komunitas Cangget Budaya pada 2000 dimana dampai sekarang ia masih menjadi anggotanya. Ayu belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI)  Yogyakarta, mengambil jurusan koreografi dari 2010-2014; kemudian melanjutkan pasca sarjananya di sekolah yang sama dari 2014-2016. Mendirikan Ayu Permata Dance Company di Yogyakarta pada 2016 sebagai jalan untuk mendorong dan mendukung praktik dirinya dan kolaboratornya. Pada 2017, Ayu terpilih untuk ikut residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) sebagai bagian dari Monsson Europalia Festival. Salah satu karyanya berjudul Kami Buta memenangkan penghargaan “Jasa Bakti” dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia, pada 2018. Karya yang berjudul “TubuhDang TubuhDut” menjadi salah satu nomor karya yang tampil di showcase Indonesia Dance Festival pada tahun 2018; di tahun yang sama Ayu menjalani residensi di Dance Nucleus, Singapura, sebagai bagian dari prosesnya, termasuk mengujicobakan karya tersebut di dua edisi Jejak-Tabi Exchange di Yogyakarta dan Kuala Lumpur. Tahun 2019 Ayu Permata Sari meraih hibah Helatari oleh Komunitas Salihara, ia juga mengikuti Dance Lab Rimbun Dahan Malaysia, Festival Setouchi Triennale Shodoshima Jepang, serta Asia Tri Akita, Jepang. Bulan November tahun 2019 menjadi salah satu penampil pada Spielart Teater Festival di Munich, German dengan membawakan karya TubuhDang TubuhDut.

Ayu Permata Dance Company

Ayu Permata Dance Company (APDC) merupakan sebuah kelompok seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan tari. Secara resmi didirikan oleh Ayu Permata Sari pada tahun 2016 di Yogyakarta. APDC bertujuan untuk memacu, menemani dan mendukung segala proses kreatif Ayu Permata Sari. APDC memiliki semangat berbagi pengetahuan seni tari lewat karya, kelas ketubuhan, diskusi dan workshop tari. APDC aktif terlibat dalam berbagai festival dan event kesenian baik dalam tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada praktek berkaryanya APDC beberapa kali berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, seperti Shadow Puppet, Teater, Lukis, Musik, Instalasi dan Sastra. Karya- karya yang diproduksi oleh APDC antara lain HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li tu Tu, TubuhDang TubuhDut dan X.

Contact Person: Luna  (HP / Whatsapp 082223289788 )

Email: luna@studioplesungan.org

ON STAGE

WAKTU LINGKAR

by

RETNO SULISTYORINI

20 – 21 SEPTEMBER 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org

On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR

Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR

ON STAGE
menghadirkan karya tari
RETNO SULISTYORINI

ON STAGE hadir untuk ketiga kalinya dengan menampilkan Waktu Lingkar dan Noise , dua karya Retno Sulistyorini, seniman peraih Hibah Seni Kelola 2019.

“Waktu Lingkar” terinspirasi dari aktifitas yang dilakukan berulang kali hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Semua terlihat sama, apa yang dilihat, suasana yang dirasakan, waktu yang dipakai, dan masih banyak lagi. Namun rutinitas selalu memunculkan pergolakan batin yang berubah-ubah. Suasana hati sangat mempengaruhi ekspresi kejiwaan untuk mempresentasikan apa yang dirasakan. Karya ini adalah sebuah ekpresi tubuh tentang pergolakan batin dalam menghadapi sebuah rutinitas. Selain menggunakan media gerak dan tubuh, “Waktu Lingkar” juga melibatkan vokal. Karya ini pertama kali dipentaskan dalam program Dance in Asia di Teater Arena oleh Retno Sulistyorini dan Cahwati. Pada pementasan kedua ini Retno Sulistyorini akan tampil bersama Hana Yulianti.

Sementara karya berjudul “Noise” bertitik tolak dari pengamatan pada keriuhan suasana yang terjadi disekitar. Suasana tersebut sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan manusia. Keriuhan bagi beberapa orang bisa sangat mengganggu dan mempengaruhi emosi, tapi tidak terlalu mengganggu untuk beberapa orang lainnya. Pada pementasan perdananya, “Noise” akan ditampilkan oleh David Bima Sakti Perdana, Prasetya Dwi Adi Nugroho, Kristiyanto, Hana Yulianti dan Yezyuruni Forinti.

Tentang Retno Sulistyorini

Retno Sulistyorini atau biasa disapa Enno, lahir di Jakarta tahun 1981. Enno belajar tari secara formil di SMKI Surakarta dan melanjutkannya ke jurusan tari jalur kepenarian di ISI Surakarta. Saat kuliah Enno juga mulai mengenal dan belajar pada seniman seni pertunjukan dan koreografer-koreografer senior di Surakarta seperti Suprapto Suryodarmo, Mugiyono Kasido, dan Eko Supriyanto sehingga ia kemudian memutuskan untuk mengubah jalur studinya dari kepenarian menjadi koreografi. Baginya menjadi koreografer sangat menantang karena dituntut untuk terus berkarya. Enno punya ketertarikan besar pada isu-isu perempuan. Setelah karya „Pisau“ (2000), Enno menciptakan “Nafas” (2003) yang bercerita tentang tradisi pingit untuk perempuan Jawa. Enno memperlakukan karya-karyanya sebagai sesuatu yang terus berkembang dan berubah setiap kali dipentaskan. Contohnya seperti karya “Pisau” yang selalu dipentaskan dengan format visual yang variatif di tiap pementasannya. Karya “Pisau” pula melatarbelakangi penciptaan “Ruang dalam Tubuh” yang didukung program Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola tahun 2010 silam. Saat berkarya, Enno juga senang mengeksplorasi keruangan dan bentuk visual. Dalam karya “Samparan Moving Space”, Enno memadukan tari dengan beragam sudut pandang seperti instalasi, seni rupa dan teater. Karya yang meraih dukungan Hibah Seni Kelola 2007 ini menjadi karya yang paling berkesan bagi Enno, karena tampil pada pertunjukan tunggal perdananya. Bahkan, ia mendapatkan undangan pentas dan diskusi di berbagai tempat berkat karya ini, di antaranya beberapa kota Italia, Belanda dan Belgia. Enno yang karyanya banyak berpijak pada keseharian kembali mendapatkan Hibah Seni Kelola 2019, untuk karya yang berjudul “Waktu Lingkar”. Karya-karya Enno diantaranya: WAKTU LINGKAR (2019), SELAPAN (2018), KANAN DAN KIRI (2018), API (2018), ROMAN (2016), GARBA (2016), LABIRIN (2015), PAGI YANG DIPUNGUT (2013), KLISE (2011), RUANG DALAM TUBUH (2010), TUBUH BISU (2009), SAMPARAN MOVING SPACE (2007), KUMARI (2006), NAFAS (2004), PISAU (2000).

Tentang Kelola

Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai dan dikagumi di seluruh dunia. Kreativitas anak bangsa yang menciptakan inovasi yang membanggakan perlu terus dipupuk dan didukung oleh kita semua. Sebagai organisasi nirlaba berjangkauan nasional, Kelola memberi perhatian khusus agar generasi ke generasi seni dan budaya Indonesia terus hidup dan berdaya saing di dunia internasional. Didirikan pada 1999, Kelola menyediakan peluang belajar, pendanaan dan informasi. Kelola juga mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin kerjasama antar pelaku seni untuk berdialog, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja dengan masyarakat seni dan budaya nasional maupun internasional. Program-program Kelola disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia. Bila kebutuhan masyarakat-masyarakat seni dan budaya bergeser dan berubah, program Kelola pun akan ikut berubah. Program-program Kelola dimungkinkan berkat kemitraan dengan HIVOS, The Ford Foundation, The Asian Cultural Council, The Asialink Centre, Biyan Wanaatmadja, First State Investments Indonesia, donatur perorangan, dan berbagai organisasi seni budaya Sejak 1999, Kelola telah mendukung lebih dari 3500 seniman dan pekerja seni Indonesia untuk berkarya, mengembangkan kapasitas, dan memperluas jaringan mereka di bidang tari, musik, teater, dan seni visual.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

__________________________________________________