ON STAGE

Densiel Lebang

NO LIMIT 2.0 (event postponed)

Selasa, 31 Maret 2020
19:30 WIB

Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

Artist Talk
Densiel Lebang

Moderator : Melati Suryodarmo

On Stage untuk keenam kalinya akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 31 Maret 2020. Pada kesempatan ini On Stage menghadirkan pertunjukan tari berjudul No Limit 2.0 yang merupakan karya dari koreografer independen Densiel Lebang.

No Limit 2.0 mencoba untuk menguak pengalaman tubuh di dalam budaya risiko yang bersifat fisik yang muncul akibat tegangan antara ikatan dan pemisahan; tarikan dan penolakan; kementakan untuk menguasai dan dikuasai; rintangan dan kemudahan  yang terjadi di dalam mobilitas tubuh penampil, tali yang kuat dan struktur perancah – yang dapat saling melengkapi dan menemukan definisi melalui satu sama lain. Melalui hubungan antara tubuh dan material ini, Densiel mencoba membaca realitas indrawi apa yang terjadi yang mampu menguak potensi tubuh: baik kekuatan, kesanggupan, kemampuan dan daya – serta melalui sifat dari material yang digunakan menjadi katalis, dan dipercaya dapat menembus tubuh khalayak, melalui ingatan, rutinitas, sentuhan, penglihatan, asosiasi, dan nostalgia.

Densiel Prismayanti Lebang merupakan seniman lulusan  Institut Kesenian Jakarta yang aktif bekerja sebagai penari dan koreografer independen sejak 2013. Sebagai seorang penari, iapernah bekerja untuk koreografer kontemporer Indonesia maupun internasional seperti Sardhono W Kusumo, Andara F. Moeis, Hartati, Judith Sanchez Ruiz dari USA, Ismaera dan Quick (MuDa) dari Jepang. Sejak 2015 ia terlibat dalam banyak lokakarya
tari/koreografi yang difasilitasi oleh para praktisi lokal dan internasional seperti Arno
(Belanda), Wardi (Malaysia), Anouk Peeters (Belgia), Ingun Bjornsgaard (Norwegia),
Antony Hamilton (Australia), Su-Wen Chi (Taiwan), Arco Renz (Belgia), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Benny Krisnawardi (Jakarta). Tahun 2018, ia juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Shifting Workshop di Play Practice Residency di India dengan Robert M. Heyden dari Ultima Vez Dance Company. Sebagai Koreografer, karya koreografisnya antara lain, No Limit (2016), EMOLOGUE (2016), Dejavu: Choreojam IKJ with Trio Kwek-Kwek (2016), MyWay (2016), 1 (2015), Myspace (2015), Meonglikan Ahihihi (2014), AMEN (2014). Pada 2017, ia mendapat hibah dari Yayasan Kelola untuk menciptakan #NEEDMOREINTERACTION dan terpilih sebagai koreografer untuk karya “Ins and Outs” Sasikira Dance Lab dan Choreo Lab Bandung. Pada tahun 2018, dia menciptakan karya “Let’s Talk” dalam program “Lintas Media” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “Inhibition” di Salihara International Performing Arts Festival dan di PostFest yang diadakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, pada akhir tahun 2018 ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “No Limit 2.0″ di Indonesian Dance Festival. Pada tahun 2019 menampilkan karya “Inhibition 2.0” di Ansan Street Art Festival South Korea dan di CabaretChairil Teater Garasi. Serta membuat karya baru yang berjudul “MISS” di Asiatri Jogjakarta.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

KREUSER and CAILLEAU

THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU

Pembukaan Pameran dan Konser
Hari dan Tanggal : Senin, 27 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk
Hari dan Tanggal : Selasa, 28 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

On Stage edisi kelima, akan diselenggarakan di Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 27 – 29 Januari 2020. Melalui dukungan dari Goethe Institut dan Institut Français Indonesia, dan Ethnictro, Stufio Plesungan menghadirkan konser musik dan pameran instalasi oleh Timo Kreuser dan Guillaume Cailleau yang bertajuk THE INTERESTS ARE AT STAKE.

THE INTERESTS ARE AT STAKE adalah pertunjukan audio-visual / analog DJ / VJ eksperimental yang ditata oleh KREUSER / CAILLEAU. Dengan menggunakan pemutar piringan hitam yang disesuaikan secara khusus, proyektor Super8 dan feedback mixer, mereka menyajikan persepsi ganda dari uang : BERACUN dan PERTUKARAN. Titik tolak mereka adalah tema, objek, dan konteks non-artistik, yang mereka ubah menjadi nilai tambah artistik. Pertunjukan ini mengeksplorasi citra dan suara uang.

THE INTERESTS ARE AT STAKE pada tahun 2020 ini dipentaskan keliling di: Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Malaysia.

KREUSER/CAILLEAU adalah proyek duo dari komposer Jerman yaitu Timo Kreuser dan pembuat film asal Prancis yaitu Guillaume Cailleau. Dalam pendekatannya, mereka menggunakan benda-benda sebagai wadah fungsi tanda, makna umum dan konteks sosial budaya. Dengan mengabaikan tampilan utama dari benda-benda tersebut, mereka berfokus pada potensi obyek itu sendiri sebagai stimulator sonik dan visual. Dan dengan menyimpangkan pemahaman asli tentang obyek tersebut, mereka mencetak makna dalam konteks baru.

Ketertarikan mereka dalam menciptakan instalasi dan live events merupakan kelanjutan dari dialog dan konfrontasi individu mereka dengan korporealitas subyek mereka. Sejak 4 tahun keduanya telah menciptakan banyak karya yang menyempurnakan pertunjukan audio-visualnya dari konser satu, ke konser selanjutnya. Mereka telah tampil secara teratur di berbagai tempat di seperti di Heimathafen, Ausland (Biegungen), Berlin dan secara internasional diantaranya di Figura Festspiele, di Kopenhagen dan di scratch Expanded, di Paris. Di samping konstelasi duo mereka, Cailleau dan Kreuser berkolaborasi secara teratur dalam proyek-proyek oleh ansambel musik vokal kontemporer dan eksperimental Phoenix 16. Karya terbaru kolaborasi mereka adalah konser “Zeitgeist” untuk festival Maerzmusik tahun ini.

Timo Kreuser adalah komposer, konduktor dan seniman bunyi, belajar di universitas musik Munich, Dresden dan Berlin. Karya-karyanya mengutip unsur-unsur musik industri, provokasi punk dan elektronik avantgarde dan sering membuat komposisi yang berasal  dari komentar-komentarnya pada masyarakat modern dan fenomena politik (rezim, momentum kolektif, individu), serta pada industri musik dan budaya. Timo adalah anggota aktif dari skena improvisasi Berlin dan tampil secara teratur sebagai pianis eksperimental, inside piano, atau dengan pengaturan turntable eksperimental dalam berbagai formas; baik duo maupun band termasuk NoiserKroiser, KREUSER / CAILLEAU, feat Christoph Guiraud. Timo Kreuser, S.A.F.T., Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants, dan sebagai solois. Sebagian besar karyanya termasuk pertunjukan instrumentalnya dengan ansambel seperti POING!, S.A.F.T., FIGURA, PHØNIX16, KALEIDOSKOP, dll., Di festival-festival seperti ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, AFEKT. Timo Kreuser adalah Direktur Artistik kolektifi PHØNIX16 dan merupakan co-kurator dari enam belas bagian seri konser POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN di Heimathafen Neukölln sejak 2016, dan serial tak terbatas D.O.A. di keheningan hijau, Berlin.

Guillaume Cailleau adalah seniman dan pembuat film asal Prancis, ia belajar di Berlin University of Arts. Dia juga bekerja sebagai juru proyeksi film di Paris dan Berlin. Pada 2007, Cailleau merekam film pendek pertamanya Blitzkrieg, yang ditayangkan perdana di Festival Film Pendek Internasional Oberhausen. Diikuti film-film lainnya seperti, Through; Windowed Water (2007) yang menjadikan karya instalasi Michael Snow sebagai referensi, H (I) J (2009) yang diproses secara manual, dan Austerity Measures (2012), sebuah kolaborasi dengan pengambilan gambar oleh Ben Russell di Athena. Pada bulan Februari 2014 Cailleau dianugerahi Silver Bear untuk film pendeknya Laborat di Berlin Film Festival. Cailleau mengembangkan banyak pertunjukan audiovisual, misalnya dengan seniman bunyi eksperimental Werner Dafeldecker dan komposer Timo Kreuser, yang ditampilkan di tempat-tempat internasional seperti Edinburgh International Film Festival (2014), Scratch Expanded Paris (2013), dan COLOR SOUND FRAMES (2015) di Serralves Museum di Portugal. Cailleau sering mengedepankan proses kreatif dalam komposisi puitisnya. Karyanya dipengaruhi oleh avant-garde dan praktik performatif Amerika di Expanded Cinema. Bereksperimen dengan durasi, multiple exposures, pemisahan warna dan gambar tunggal yang diperlakukan secara manual, ditambah metode pengeditan gambar lainnya, bentuk karyanya berhubungan secara langsung dengan subjeknya. www.guillaumecailleau.com

Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org

Ayu Permata Sari

LI TU TU

by AYU PERMATA SARI

Hari dan Tanggal : Selasa, 26 November 2019

Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk: Pukul 20:45 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

ON STAGE hadir untuk keempat kalinya dengan menampilkan Li Tu Tu , sebuah karya dari Ayu Permata

Li Tu Tu berpijak dari motif gerak tangan lempar piring dan menahan piring kecil dengan ibu jari tangan dalam tari Kuadai, tari tradisi asal suku Semendo, Lampung Utara. Ayu melakukan riset terkait tradisi dan adat suku Semendo, yang kemudian membawanya pada Tunggu Tubang, sebutan untuk  anak wanita pertama dalam keluarga suku Semendo yang memiliki peran sebagai penjaga dan pengendali harta keluarga, serta tempat pulang/ berkumpul. Gerak menahan piring dalam tari Kuadai pada akhirnya dibaca sebagai visual yang menjadi penggambaran tarik menarik antara privilege, tanggung jawab, kekuatan, tetapi juga pembatasan pada Tunggu Tubang.

Tunggu Tubang dipilih Ayu Permata sebagai esensi dan spirit karya, sementara motif tari Kuadai sebagai media penyampai. Dalam perjalanan mengeksplorasi esensi dan media ini justru pengkarya dan para penari mengalami pengalaman yang dekat dengan dirinya. Gerak tangan lempar piring yang dieksplorasi dalam 10 variasi oleh 2 penari, laki-laki dan perempuan, membawa ingatan mereka pada kesetaraan, komunikasi, dan keseimbangan.

Ayu Permata dan penari dalam karya ini membawa pertanyaan, “Bagaimana kalau kemungkinan-kemungkinan atas karya ini dibuka pula kepada penonton, apakah pengalaman dan ingatan yang dekat dengan diri mereka juga akan muncul dalam asumsi mereka atas karya Li Tu Tu?” Dari situlah muncul format Li Tu Tu dengan interpretasi terbuka, meskipun bagi pengkarya pijakan awal Kuadai sebagai media dan Tunggu Tubang sebagai esensi atau spirit tetap akan dipertahankan, namun pengalaman penonton penting untuk ditempatkan setara dengan karya ini.

Tentang Ayu Permata Sari

Lahir pada 1992 di Kotabumi, Lampung Utara, Ayu Permata Sari tergabung ke dalam kelompok suku Pepadun, satu dari dua kelompok asli di Lampung, dan beragama Islam. la belajar menari sejak berusia sembilan tahun, tatkala bergabung dengan studio tari komunitas Cangget Budaya pada 2000 dimana dampai sekarang ia masih menjadi anggotanya. Ayu belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI)  Yogyakarta, mengambil jurusan koreografi dari 2010-2014; kemudian melanjutkan pasca sarjananya di sekolah yang sama dari 2014-2016. Mendirikan Ayu Permata Dance Company di Yogyakarta pada 2016 sebagai jalan untuk mendorong dan mendukung praktik dirinya dan kolaboratornya. Pada 2017, Ayu terpilih untuk ikut residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) sebagai bagian dari Monsson Europalia Festival. Salah satu karyanya berjudul Kami Buta memenangkan penghargaan “Jasa Bakti” dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia, pada 2018. Karya yang berjudul “TubuhDang TubuhDut” menjadi salah satu nomor karya yang tampil di showcase Indonesia Dance Festival pada tahun 2018; di tahun yang sama Ayu menjalani residensi di Dance Nucleus, Singapura, sebagai bagian dari prosesnya, termasuk mengujicobakan karya tersebut di dua edisi Jejak-Tabi Exchange di Yogyakarta dan Kuala Lumpur. Tahun 2019 Ayu Permata Sari meraih hibah Helatari oleh Komunitas Salihara, ia juga mengikuti Dance Lab Rimbun Dahan Malaysia, Festival Setouchi Triennale Shodoshima Jepang, serta Asia Tri Akita, Jepang. Bulan November tahun 2019 menjadi salah satu penampil pada Spielart Teater Festival di Munich, German dengan membawakan karya TubuhDang TubuhDut.

Ayu Permata Dance Company

Ayu Permata Dance Company (APDC) merupakan sebuah kelompok seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan tari. Secara resmi didirikan oleh Ayu Permata Sari pada tahun 2016 di Yogyakarta. APDC bertujuan untuk memacu, menemani dan mendukung segala proses kreatif Ayu Permata Sari. APDC memiliki semangat berbagi pengetahuan seni tari lewat karya, kelas ketubuhan, diskusi dan workshop tari. APDC aktif terlibat dalam berbagai festival dan event kesenian baik dalam tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada praktek berkaryanya APDC beberapa kali berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, seperti Shadow Puppet, Teater, Lukis, Musik, Instalasi dan Sastra. Karya- karya yang diproduksi oleh APDC antara lain HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li tu Tu, TubuhDang TubuhDut dan X.

 

 

ON STAGE

NO LIMIT 2.0 (postponed)

Selasa, 31 Maret 2020
19:30 WIB

Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

Artist Talk
Densiel Lebang

Moderator : Melati Suryodarmo

On Stage untuk keenam kalinya akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 31 Maret 2020. Pada kesempatan ini On Stage menghadirkan pertunjukan tari berjudul No Limit 2.0 yang merupakan karya dari koreografer independen Densiel Lebang.

No Limit 2.0 mencoba untuk menguak pengalaman tubuh di dalam budaya risiko yang bersifat fisik yang muncul akibat tegangan antara ikatan dan pemisahan; tarikan dan penolakan; kementakan untuk menguasai dan dikuasai; rintangan dan kemudahan  yang terjadi di dalam mobilitas tubuh penampil, tali yang kuat dan struktur perancah – yang dapat saling melengkapi dan menemukan definisi melalui satu sama lain. Melalui hubungan antara tubuh dan material ini, Densiel mencoba membaca realitas indrawi apa yang terjadi yang mampu menguak potensi tubuh: baik kekuatan, kesanggupan, kemampuan dan daya – serta melalui sifat dari material yang digunakan menjadi katalis, dan dipercaya dapat menembus tubuh khalayak, melalui ingatan, rutinitas, sentuhan, penglihatan, asosiasi, dan nostalgia.

Densiel Prismayanti Lebang merupakan seniman lulusan  Institut Kesenian Jakarta yang aktif bekerja sebagai penari dan koreografer independen sejak 2013. Sebagai seorang penari, iapernah bekerja untuk koreografer kontemporer Indonesia maupun internasional seperti Sardhono W Kusumo, Andara F. Moeis, Hartati, Judith Sanchez Ruiz dari USA, Ismaera dan Quick (MuDa) dari Jepang. Sejak 2015 ia terlibat dalam banyak lokakarya
tari/koreografi yang difasilitasi oleh para praktisi lokal dan internasional seperti Arno
(Belanda), Wardi (Malaysia), Anouk Peeters (Belgia), Ingun Bjornsgaard (Norwegia),
Antony Hamilton (Australia), Su-Wen Chi (Taiwan), Arco Renz (Belgia), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Benny Krisnawardi (Jakarta). Tahun 2018, ia juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Shifting Workshop di Play Practice Residency di India dengan Robert M. Heyden dari Ultima Vez Dance Company. Sebagai Koreografer, karya koreografisnya antara lain, No Limit (2016), EMOLOGUE (2016), Dejavu: Choreojam IKJ with Trio Kwek-Kwek (2016), MyWay (2016), 1 (2015), Myspace (2015), Meonglikan Ahihihi (2014), AMEN (2014). Pada 2017, ia mendapat hibah dari Yayasan Kelola untuk menciptakan #NEEDMOREINTERACTION dan terpilih sebagai koreografer untuk karya “Ins and Outs” Sasikira Dance Lab dan Choreo Lab Bandung. Pada tahun 2018, dia menciptakan karya “Let’s Talk” dalam program “Lintas Media” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “Inhibition” di Salihara International Performing Arts Festival dan di PostFest yang diadakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, pada akhir tahun 2018 ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “No Limit 2.0″ di Indonesian Dance Festival. Pada tahun 2019 menampilkan karya “Inhibition 2.0” di Ansan Street Art Festival South Korea dan di CabaretChairil Teater Garasi. Serta membuat karya baru yang berjudul “MISS” di Asiatri Jogjakarta.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org

ON STAGE

THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU

Pembukaan Pameran dan Konser
Hari dan Tanggal : Senin, 27 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk
Hari dan Tanggal : Selasa, 28 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

On Stage edisi kelima, akan diselenggarakan di Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 27 – 29 Januari 2020. Melalui dukungan dari Goethe Institut dan Institut Français Indonesia, dan Ethnictro, Stufio Plesungan menghadirkan konser musik dan pameran instalasi oleh Timo Kreuser dan Guillaume Cailleau yang bertajuk THE INTERESTS ARE AT STAKE.

THE INTERESTS ARE AT STAKE adalah pertunjukan audio-visual / analog DJ / VJ eksperimental yang ditata oleh KREUSER / CAILLEAU. Dengan menggunakan pemutar piringan hitam yang disesuaikan secara khusus, proyektor Super8 dan feedback mixer, mereka menyajikan persepsi ganda dari uang : BERACUN dan PERTUKARAN. Titik tolak mereka adalah tema, objek, dan konteks non-artistik, yang mereka ubah menjadi nilai tambah artistik. Pertunjukan ini mengeksplorasi citra dan suara uang.

THE INTERESTS ARE AT STAKE pada tahun 2020 ini dipentaskan keliling di: Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Malaysia.

KREUSER/CAILLEAU adalah proyek duo dari komposer Jerman yaitu Timo Kreuser dan pembuat film asal Prancis yaitu Guillaume Cailleau. Dalam pendekatannya, mereka menggunakan benda-benda sebagai wadah fungsi tanda, makna umum dan konteks sosial budaya. Dengan mengabaikan tampilan utama dari benda-benda tersebut, mereka berfokus pada potensi obyek itu sendiri sebagai stimulator sonik dan visual. Dan dengan menyimpangkan pemahaman asli tentang obyek tersebut, mereka mencetak makna dalam konteks baru.

Ketertarikan mereka dalam menciptakan instalasi dan live events merupakan kelanjutan dari dialog dan konfrontasi individu mereka dengan korporealitas subyek mereka. Sejak 4 tahun keduanya telah menciptakan banyak karya yang menyempurnakan pertunjukan audio-visualnya dari konser satu, ke konser selanjutnya. Mereka telah tampil secara teratur di berbagai tempat di seperti di Heimathafen, Ausland (Biegungen), Berlin dan secara internasional diantaranya di Figura Festspiele, di Kopenhagen dan di scratch Expanded, di Paris. Di samping konstelasi duo mereka, Cailleau dan Kreuser berkolaborasi secara teratur dalam proyek-proyek oleh ansambel musik vokal kontemporer dan eksperimental Phoenix 16. Karya terbaru kolaborasi mereka adalah konser “Zeitgeist” untuk festival Maerzmusik tahun ini.

Timo Kreuser adalah komposer, konduktor dan seniman bunyi, belajar di universitas musik Munich, Dresden dan Berlin. Karya-karyanya mengutip unsur-unsur musik industri, provokasi punk dan elektronik avantgarde dan sering membuat komposisi yang berasal  dari komentar-komentarnya pada masyarakat modern dan fenomena politik (rezim, momentum kolektif, individu), serta pada industri musik dan budaya. Timo adalah anggota aktif dari skena improvisasi Berlin dan tampil secara teratur sebagai pianis eksperimental, inside piano, atau dengan pengaturan turntable eksperimental dalam berbagai formas; baik duo maupun band termasuk NoiserKroiser, KREUSER / CAILLEAU, feat Christoph Guiraud. Timo Kreuser, S.A.F.T., Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants, dan sebagai solois. Sebagian besar karyanya termasuk pertunjukan instrumentalnya dengan ansambel seperti POING!, S.A.F.T., FIGURA, PHØNIX16, KALEIDOSKOP, dll., Di festival-festival seperti ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, AFEKT. Timo Kreuser adalah Direktur Artistik kolektifi PHØNIX16 dan merupakan co-kurator dari enam belas bagian seri konser POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN di Heimathafen Neukölln sejak 2016, dan serial tak terbatas D.O.A. di keheningan hijau, Berlin.

Guillaume Cailleau adalah seniman dan pembuat film asal Prancis, ia belajar di Berlin University of Arts. Dia juga bekerja sebagai juru proyeksi film di Paris dan Berlin. Pada 2007, Cailleau merekam film pendek pertamanya Blitzkrieg, yang ditayangkan perdana di Festival Film Pendek Internasional Oberhausen. Diikuti film-film lainnya seperti, Through; Windowed Water (2007) yang menjadikan karya instalasi Michael Snow sebagai referensi, H (I) J (2009) yang diproses secara manual, dan Austerity Measures (2012), sebuah kolaborasi dengan pengambilan gambar oleh Ben Russell di Athena. Pada bulan Februari 2014 Cailleau dianugerahi Silver Bear untuk film pendeknya Laborat di Berlin Film Festival. Cailleau mengembangkan banyak pertunjukan audiovisual, misalnya dengan seniman bunyi eksperimental Werner Dafeldecker dan komposer Timo Kreuser, yang ditampilkan di tempat-tempat internasional seperti Edinburgh International Film Festival (2014), Scratch Expanded Paris (2013), dan COLOR SOUND FRAMES (2015) di Serralves Museum di Portugal. Cailleau sering mengedepankan proses kreatif dalam komposisi puitisnya. Karyanya dipengaruhi oleh avant-garde dan praktik performatif Amerika di Expanded Cinema. Bereksperimen dengan durasi, multiple exposures, pemisahan warna dan gambar tunggal yang diperlakukan secara manual, ditambah metode pengeditan gambar lainnya, bentuk karyanya berhubungan secara langsung dengan subjeknya. www.guillaumecailleau.com

Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org

ON STAGE

LITUTU

by AYU PERMATA SARI

Hari dan Tanggal : Selasa, 26 November 2019

Waktu : Pukul 19:30 WIB

Artist Talk: Pukul 20:45 WIB

Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

ON STAGE hadir untuk keempat kalinya dengan menampilkan Li Tu Tu , sebuah karya dari Ayu Permata

Li Tu Tu berpijak dari motif gerak tangan lempar piring dan menahan piring kecil dengan ibu jari tangan dalam tari Kuadai, tari tradisi asal suku Semendo, Lampung Utara. Ayu melakukan riset terkait tradisi dan adat suku Semendo, yang kemudian membawanya pada Tunggu Tubang, sebutan untuk  anak wanita pertama dalam keluarga suku Semendo yang memiliki peran sebagai penjaga dan pengendali harta keluarga, serta tempat pulang/ berkumpul. Gerak menahan piring dalam tari Kuadai pada akhirnya dibaca sebagai visual yang menjadi penggambaran tarik menarik antara privilege, tanggung jawab, kekuatan, tetapi juga pembatasan pada Tunggu Tubang.

Tunggu Tubang dipilih Ayu Permata sebagai esensi dan spirit karya, sementara motif tari Kuadai sebagai media penyampai. Dalam perjalanan mengeksplorasi esensi dan media ini justru pengkarya dan para penari mengalami pengalaman yang dekat dengan dirinya. Gerak tangan lempar piring yang dieksplorasi dalam 10 variasi oleh 2 penari, laki-laki dan perempuan, membawa ingatan mereka pada kesetaraan, komunikasi, dan keseimbangan.

Ayu Permata dan penari dalam karya ini membawa pertanyaan, “Bagaimana kalau kemungkinan-kemungkinan atas karya ini dibuka pula kepada penonton, apakah pengalaman dan ingatan yang dekat dengan diri mereka juga akan muncul dalam asumsi mereka atas karya Li Tu Tu?” Dari situlah muncul format Li Tu Tu dengan interpretasi terbuka, meskipun bagi pengkarya pijakan awal Kuadai sebagai media dan Tunggu Tubang sebagai esensi atau spirit tetap akan dipertahankan, namun pengalaman penonton penting untuk ditempatkan setara dengan karya ini.

Tentang Ayu Permata Sari

Lahir pada 1992 di Kotabumi, Lampung Utara, Ayu Permata Sari tergabung ke dalam kelompok suku Pepadun, satu dari dua kelompok asli di Lampung, dan beragama Islam. la belajar menari sejak berusia sembilan tahun, tatkala bergabung dengan studio tari komunitas Cangget Budaya pada 2000 dimana dampai sekarang ia masih menjadi anggotanya. Ayu belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI)  Yogyakarta, mengambil jurusan koreografi dari 2010-2014; kemudian melanjutkan pasca sarjananya di sekolah yang sama dari 2014-2016. Mendirikan Ayu Permata Dance Company di Yogyakarta pada 2016 sebagai jalan untuk mendorong dan mendukung praktik dirinya dan kolaboratornya. Pada 2017, Ayu terpilih untuk ikut residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) sebagai bagian dari Monsson Europalia Festival. Salah satu karyanya berjudul Kami Buta memenangkan penghargaan “Jasa Bakti” dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia, pada 2018. Karya yang berjudul “TubuhDang TubuhDut” menjadi salah satu nomor karya yang tampil di showcase Indonesia Dance Festival pada tahun 2018; di tahun yang sama Ayu menjalani residensi di Dance Nucleus, Singapura, sebagai bagian dari prosesnya, termasuk mengujicobakan karya tersebut di dua edisi Jejak-Tabi Exchange di Yogyakarta dan Kuala Lumpur. Tahun 2019 Ayu Permata Sari meraih hibah Helatari oleh Komunitas Salihara, ia juga mengikuti Dance Lab Rimbun Dahan Malaysia, Festival Setouchi Triennale Shodoshima Jepang, serta Asia Tri Akita, Jepang. Bulan November tahun 2019 menjadi salah satu penampil pada Spielart Teater Festival di Munich, German dengan membawakan karya TubuhDang TubuhDut.

Ayu Permata Dance Company

Ayu Permata Dance Company (APDC) merupakan sebuah kelompok seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan tari. Secara resmi didirikan oleh Ayu Permata Sari pada tahun 2016 di Yogyakarta. APDC bertujuan untuk memacu, menemani dan mendukung segala proses kreatif Ayu Permata Sari. APDC memiliki semangat berbagi pengetahuan seni tari lewat karya, kelas ketubuhan, diskusi dan workshop tari. APDC aktif terlibat dalam berbagai festival dan event kesenian baik dalam tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada praktek berkaryanya APDC beberapa kali berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, seperti Shadow Puppet, Teater, Lukis, Musik, Instalasi dan Sastra. Karya- karya yang diproduksi oleh APDC antara lain HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li tu Tu, TubuhDang TubuhDut dan X.

Contact Person: Luna  (HP / Whatsapp 082223289788 )

Email: luna@studioplesungan.org

ON STAGE

WAKTU LINGKAR

by

RETNO SULISTYORINI

20 – 21 SEPTEMBER 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org

On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR

Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR

ON STAGE
menghadirkan karya tari
RETNO SULISTYORINI

ON STAGE hadir untuk ketiga kalinya dengan menampilkan Waktu Lingkar dan Noise , dua karya Retno Sulistyorini, seniman peraih Hibah Seni Kelola 2019.

“Waktu Lingkar” terinspirasi dari aktifitas yang dilakukan berulang kali hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Semua terlihat sama, apa yang dilihat, suasana yang dirasakan, waktu yang dipakai, dan masih banyak lagi. Namun rutinitas selalu memunculkan pergolakan batin yang berubah-ubah. Suasana hati sangat mempengaruhi ekspresi kejiwaan untuk mempresentasikan apa yang dirasakan. Karya ini adalah sebuah ekpresi tubuh tentang pergolakan batin dalam menghadapi sebuah rutinitas. Selain menggunakan media gerak dan tubuh, “Waktu Lingkar” juga melibatkan vokal. Karya ini pertama kali dipentaskan dalam program Dance in Asia di Teater Arena oleh Retno Sulistyorini dan Cahwati. Pada pementasan kedua ini Retno Sulistyorini akan tampil bersama Hana Yulianti.

Sementara karya berjudul “Noise” bertitik tolak dari pengamatan pada keriuhan suasana yang terjadi disekitar. Suasana tersebut sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan manusia. Keriuhan bagi beberapa orang bisa sangat mengganggu dan mempengaruhi emosi, tapi tidak terlalu mengganggu untuk beberapa orang lainnya. Pada pementasan perdananya, “Noise” akan ditampilkan oleh David Bima Sakti Perdana, Prasetya Dwi Adi Nugroho, Kristiyanto, Hana Yulianti dan Yezyuruni Forinti.

Tentang Retno Sulistyorini

Retno Sulistyorini atau biasa disapa Enno, lahir di Jakarta tahun 1981. Enno belajar tari secara formil di SMKI Surakarta dan melanjutkannya ke jurusan tari jalur kepenarian di ISI Surakarta. Saat kuliah Enno juga mulai mengenal dan belajar pada seniman seni pertunjukan dan koreografer-koreografer senior di Surakarta seperti Suprapto Suryodarmo, Mugiyono Kasido, dan Eko Supriyanto sehingga ia kemudian memutuskan untuk mengubah jalur studinya dari kepenarian menjadi koreografi. Baginya menjadi koreografer sangat menantang karena dituntut untuk terus berkarya. Enno punya ketertarikan besar pada isu-isu perempuan. Setelah karya „Pisau“ (2000), Enno menciptakan “Nafas” (2003) yang bercerita tentang tradisi pingit untuk perempuan Jawa. Enno memperlakukan karya-karyanya sebagai sesuatu yang terus berkembang dan berubah setiap kali dipentaskan. Contohnya seperti karya “Pisau” yang selalu dipentaskan dengan format visual yang variatif di tiap pementasannya. Karya “Pisau” pula melatarbelakangi penciptaan “Ruang dalam Tubuh” yang didukung program Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola tahun 2010 silam. Saat berkarya, Enno juga senang mengeksplorasi keruangan dan bentuk visual. Dalam karya “Samparan Moving Space”, Enno memadukan tari dengan beragam sudut pandang seperti instalasi, seni rupa dan teater. Karya yang meraih dukungan Hibah Seni Kelola 2007 ini menjadi karya yang paling berkesan bagi Enno, karena tampil pada pertunjukan tunggal perdananya. Bahkan, ia mendapatkan undangan pentas dan diskusi di berbagai tempat berkat karya ini, di antaranya beberapa kota Italia, Belanda dan Belgia. Enno yang karyanya banyak berpijak pada keseharian kembali mendapatkan Hibah Seni Kelola 2019, untuk karya yang berjudul “Waktu Lingkar”. Karya-karya Enno diantaranya: WAKTU LINGKAR (2019), SELAPAN (2018), KANAN DAN KIRI (2018), API (2018), ROMAN (2016), GARBA (2016), LABIRIN (2015), PAGI YANG DIPUNGUT (2013), KLISE (2011), RUANG DALAM TUBUH (2010), TUBUH BISU (2009), SAMPARAN MOVING SPACE (2007), KUMARI (2006), NAFAS (2004), PISAU (2000).

Tentang Kelola

Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai dan dikagumi di seluruh dunia. Kreativitas anak bangsa yang menciptakan inovasi yang membanggakan perlu terus dipupuk dan didukung oleh kita semua. Sebagai organisasi nirlaba berjangkauan nasional, Kelola memberi perhatian khusus agar generasi ke generasi seni dan budaya Indonesia terus hidup dan berdaya saing di dunia internasional. Didirikan pada 1999, Kelola menyediakan peluang belajar, pendanaan dan informasi. Kelola juga mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin kerjasama antar pelaku seni untuk berdialog, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja dengan masyarakat seni dan budaya nasional maupun internasional. Program-program Kelola disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia. Bila kebutuhan masyarakat-masyarakat seni dan budaya bergeser dan berubah, program Kelola pun akan ikut berubah. Program-program Kelola dimungkinkan berkat kemitraan dengan HIVOS, The Ford Foundation, The Asian Cultural Council, The Asialink Centre, Biyan Wanaatmadja, First State Investments Indonesia, donatur perorangan, dan berbagai organisasi seni budaya Sejak 1999, Kelola telah mendukung lebih dari 3500 seniman dan pekerja seni Indonesia untuk berkarya, mengembangkan kapasitas, dan memperluas jaringan mereka di bidang tari, musik, teater, dan seni visual.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

__________________________________________________

Hari Ghulur

ON STAGE

28 April 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

HARI GHULUR

WHITE STONE

White Stone merupakan pertunjukan berbasis laboratorium tari yang diciptakan melalui pengaruh dari metode impresif dan emosional dari teknik Gaga dikombinasikan dengan gerak Pencak Silat Pamor Madura.

Karya ini terinspirasi oleh isu umum tentang masyakarkat Madura yang dikenal sebagai masyarakat yang karakternya keras dan tegas sikapnya. HAri Ghulur tertarik untuk menelusiri hubungan antara kondisi alam dan letak geografis tanah Madura. Karena kondisi geografis yang sangat gersang dengan bukit bebatuan terjal dan kering,  tanah hanya dapat ditanami singkong, ubi, dan jagung yang mana merupakan hasil bumi utama dan menjadi konsumsi setiap hari.Budaya merantau masyarakat Madura mempengaruhi cara bersosialisasi mereka yang unik. Sejak kecil (utamanya laki-laki), mereka belajar pencak silat sebagai dasar pengendalian dan perlindungan diri. Hali ini sering memberi kesan dan sering disalah artikan dengan kekerasan fisik (carok).Namun seiring dengan perkembangan zaman, kesan ini bergeser menjadi hal yang positif dan membangun citra masyarakat Madura. Kerja keras dan meningkatnya taraf pendidikan, masyarakat Madura berkembang menjadi masyarakat yang lebih fleksibel, berwacana luas dan inovatif.

White Stone hadir dalam koreografi yang mewakili wacana ketubuhan masyarakat dan struktur alam Madura. Kekuatan fisik yang digabungkan dengan momen-momen emosional mendekatkan kita pada sisi kemanusian yang realistis.

WHITE STONE

White Stone is a dance laboratory-based performance created through the influence of the impressive and emotional methods of the Gaga technique combined with the motion of Pencak Silat Pamor Madura.

This work was inspired by a general issue about the Madurese community, known as a society whose character was strong and firm. Hari Ghulur was interested in exploring the relationship between the society and the natural conditions and the geographical location of the land of Madura. The very arid geographical conditions with steep and dry rocky hills, land can only be planted with cassava, sweet potatoes, and corn which are the main crops and are consumed every day.

Nomadic culture of the Madurese people influencing their unique way of socializing, for example, since childhood (mainly boys), they learned martial arts called pencak silat as a basis for control and self-protection. This often gives the impression and is often mistaken as physical violence (carok).
But along with the times, this impression shifted into a positive thing and built the image of the Madurese community. Through their hard work and increasing levels of education, Madurese society developed into a more flexible society, broad and innovative discourse.

White Stone is present in the choreography which represents the discourse of the body of society and the natural structure of Madura. Physical strength combined with emotional moments bring us closer to a realistic humanity.

Hari Ghulur

Hari Ghulur , lahir di Madura hidup dan bekerja di Surabaya. Ghulur menekuni dunia tari sejak studi di jurusan Sendratasik UNESA dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana dengan fokus Penciptaan Seni di Institute Seni Indonesia ( ISI ) Surakarta.

Hari Ghulur telah menciptakan beberapa karya tari diantaranya “Ghulur” dipentaskan di Bozar Studio, Brussels Belgia dalam Festival Europalia tahun 2017, Festival Salihara Jakarta 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore 2016, Choreo Lab di Dewan Kesenian Jakarta 2015, Indonesian Dance Festival 2014.

Pada tahun 2018, Hari mengikuti International Choreography Residency (ICR) American Dance Festival di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Karya Hari yang lain juga pernah dipentaskan di China, Malaysia. Hari telah mengikuti residency diantaranya Residency Europalia Festival di belgia selama 1 bulan, Residency di Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur Malaysia selama 20 hari, Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta dan Residency Indonesian Dance Festival. Saat ini Hari menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan prodi tari Univ Negeri Malang.

Bersama istrinya, Sekar Alit, Hari mendirikan Sawung Dance Studio. Bersama timnya, Hari Ghulur terus melakukan eksperimen dan disiplin proses kreatif untuk melahirkan karya karya inovatif.

Hari Ghulur, born in Madura, lives and works in Surabaya. Ghulur has been pursuing the world of dance since studying at the UNESA Graduate School and continuing his postgraduate education with a focus on Art Creation at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta.
Hari Ghulur has created several dance works including “Ghulur” performed at Bozar Studio, Brussels Belgium in the Europalia Festival 2017, Jakarta Salihara Festival 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore, Choreo Lab at the 2015 Jakarta Arts Council, 2014 Indonesian Dance Festival.
In 2018, he participated in the International Choreography Residency (ICR) of the American Dance Festival in Durham, North Carolina, United States. Other Day works have also been performed in China, Malaysia. Hari Ghulur has taken part in residencies include the Europalia Residency Festival in Belgium for 1 month, Residency at the Foot Art Art Exchange in Kuala Lumpur Malaysia for 20 days, Choreo Lab Jakarta Arts Council and Residency Indonesian Dance Festival. Today Hari is a lecturer at the Wilwatikta Arts College (STKW) and dance study program at Malang State University.
Together with his wife, Sekar Alit, Hari Ghulur founded Sawung Dance Studio. Together with his team, Hari Ghulur continued to conduct experiments and creative process disciplines to give birth to innovative works.

On Stage

ON STAGE
menghadirkan karya tari
Muslimin Bagus Pranowo

Hari/Tanggal: Jumat, tanggal 5 Juli 2019
Pukul: 19:30 WIB
Tempat: di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Bersama dua karya pilihan yang berjudul “GALLERY” dan “SAYA ATAU AKU ?”. Kedua karya ini merupakan karya Muslimin yang mewakili karakteristik kekaryaannya.
Usai sajian dua pertunjukan tersebut, akan dibuka sesi Artist Talk yang dipandu oleh Joned Suryatmoko.ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.
Tentang Muslimin Bagus Pranowo
Seniman tari yang lahir di Solo pada tahun 1982, telah mulai belajar menari dari sejak kecil dari ibunya dan mengikuti pelatihan tari Jawa di sanggar sejak usia lima tahun. Ketertarikannya dan bakatnya di dunia tari mendorong Muslimin untuk masuk ke jenjang pendidikan sekolah menengah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Surakarta (SMKI) dan melanjutkan ke jenjang pendidi- kan Tinggi di Institut Seni Indonesia Surakarta. Selain aktif sebagai guru dan pelatih tari; Muslimin melanjutkan proses kreatifnya dengan menciptakan beberapa karyanya dan terlibat aktif dalam proses karya kolaboratif dengan seniman lain. Karya-karya tari Muslimin antara lain “IM MIX”, “FIVE, SIX, SEVEN, EIGHT”, “KAMAR no 9”, “SAYA ATAU AKU?”, “TEMBUNG TEMBANG”, “WANITA, WANITA dan PEREMPUAN”, “GALLERY”, “DI MEJA; serta drama musikal “HINAMAT- SURI” dan “SAYA INDONESIA”.
__________________________________________________

PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org

On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR

Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR

www.studioplesungan.org

ON STAGE

WHITE STONE

by

Harry Ghulur

April 28, 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

 

 

 

 

Hari Ghulur

White Stone

ON STAGE #1 menampilkan karya Hari Ghulur yang berjudul WHITE STONE. Karya ini merupakan pertunjukan laboratorium tari yang dicapai melalui metode impresif dan emosional dengan teknik Gaga yang berbasis gerak Pencak Silat Pamor Madura.

Kerasnya karakter masyarakat Madura menjadi ide gagasan penciptaan. Letak geografis yang sangat gersang dengan bukit bebatuan terjal dan kering. Tanah yang hanya dapat ditanami singkong, ubi, jagung merupakan hasil bumi utama yang menjadi konsumsi setiap hari. Karakteristik masyarakat madura yang keras dipengaruhi dari bagaimana mereka bersosialisasi. Sejak kecil (utamanya laki-laki) belajar pencak silat sebagai basic pengendalian dan perlindungan diri karena notabene masyarakat madura pergi merantau. Ini yang sering disalah artikan dengan kekerasan fisik (carok). Seiring perkembangan zaman, kini mengalami penggeseran makna menjadi hal yang positif membangun citra masyarakat Madura dengan kerja keras tanpa mengenal lelah terus mengejar pendidikan sehingga prestasi itu mengubah pola fikir masyarakat Madura menjadi lebih fleksibel, luas dan inovatif.

ON STAGE akan diselenggarakan untuk pertama kalinya pada hari Minggu tanggal 28 April 2019 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah dengan mengundang Moh. Hariyanto atau biasa dipanggil Hari Ghulur, seniman tari asal Madura yang saat ini berdomisili di Surabaya.

Hari Ghulur menekuni dunia tari sejak studi di jurusan Sendratasik UNESA dan melanjutkan ke Penciptaan Seni ISI Surakarta. Juli 2018 lalu hari mengikuti International Choreography Residency (ICR) American Dance Festival di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Melalui ICR, pengalaman ketubuhan hari mendapat banyak pengetahuan dan experience yang mendorong hari untuk segera menciptakan karya baru. Selama ICR di ADF, Hari menciptakan karya solo berjudul “SILA” dan saat ini sedang mengerjakan laboratorium tari yang diberi judul “WHITE STONE”

Sebelumnya, hari telah menciptakan beberapa karya tari diantaranya “Ghulur” dipentaskan di Bozar Studio, Brussels Belgia dalam Festival Europalia tahun 2017, Festival Salihara Jakarta 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore 2016,Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015, Indonesian Dance Festival 2014. Karya Hari yang lain juga pernah dipentaskan di China, Malaysia. Hari kerap mengikuti residency diantaranya Residancy Europalia Festival di belgia selama 1 bulan, Residency di Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur Malaysia selama 20 hari, Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta dan Residency Indonesian Dance Festival. Saat ini Hari menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan prodi tari Univ Negeri Malang. Hari mendirikan Sawung Dance Studio dan bersama timnya terus melakukan eksperimen dan disiplin proses kreatif untuk melahirkan karya karya inovatif.