ON STAGE
THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU
Pembukaan Pameran dan Konser
Hari, Tanggal: Senin, 27 Januari 2020
Waktu: Pukul 19.30 WIB
Diskusi Seniman (Artist Talk)
Hari, Tanggal: Selasa, 28 Januari 2020
Waktu: Pukul 19.30 WIB
Lokasi: Galeri Kecil, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Kentingan, Surakarta 57126
On Stage edisi kelima diselenggarakan di Galeri Kecil, Taman Budaya Jawa Tengah pada 27–29 Januari 2020. Melalui dukungan Goethe-Institut, Institut Français Indonesia, dan Ethnictro, Studio Plesungan mempersembahkan konser musik dan pameran instalasi dari duo seniman KREUSER / CAILLEAU, yaitu Timo Kreuser dan Guillaume Cailleau, dengan tajuk THE INTERESTS ARE AT STAKE.
THE INTERESTS ARE AT STAKE merupakan pertunjukan audio-visual eksperimental dalam format analog DJ/VJ, yang memanfaatkan turntable modifikasi, proyektor Super8, dan feedback mixer. Dengan pendekatan imajinatif, KREUSER / CAILLEAU menyuguhkan representasi ganda atas uang sebagai simbol: racun dan pertukaran. Mereka mengambil tema, objek, dan konteks non-artistik sebagai titik berangkat, lalu mentransformasikannya menjadi nilai artistik yang baru. Pertunjukan ini mengeksplorasi citra dan suara dari uang secara mendalam dan imajinatif.
Pada tahun 2020, karya THE INTERESTS ARE AT STAKE akan dipentaskan dalam tur ke berbagai negara Asia Tenggara: Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.
ON STAGE
THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU
Exhibition Opening & Concert
Date: Monday, 27 January 2020
Time: 7:30 PM (WIB)
Artist Talk
Date: Tuesday, 28 January 2020
Time: 7:30 PM (WIB)
Venue: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta
The fifth edition of On Stage will take place from 27–29 January 2020 at Galeri Kecil, Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Supported by the Goethe-Institut, Institut Français Indonesia, and Ethnictro, Studio Plesungan proudly presents a music concert and installation exhibition by Timo Kreuser and Guillaume Cailleau, titled THE INTERESTS ARE AT STAKE.
THE INTERESTS ARE AT STAKE is an experimental audiovisual performance / analog DJ / VJ show conceived by KREUSER / CAILLEAU. Utilizing custom-modified turntables, Super8 projectors, and feedback mixers, the duo investigates dual perceptions of money—as poison and as exchange. Departing from non-artistic themes, objects, and contexts, they reconfigure these elements into artistic value, exploring the sonic and visual dimensions of currency.
In 2020, THE INTERESTS ARE AT STAKE will tour across Southeast Asia, with performances in Indonesia, Thailand, Cambodia, Laos, Myanmar, Vietnam, and Malaysia.
KREUSER / CAILLEAU adalah proyek kolaborasi antara komposer asal Jerman Timo Kreuser dan pembuat film asal Prancis Guillaume Cailleau. Melalui pendekatan artistik yang memanfaatkan benda-benda sebagai simbol dan penanda sosial budaya, mereka mengesampingkan fungsi utama objek dan justru mengeksplorasi potensinya sebagai pemicu sonik dan visual. Dengan mengaburkan pemahaman umum atas objek tersebut, mereka menciptakan makna baru dalam konteks yang berbeda.
Ketertarikan mereka terhadap format instalasi dan pertunjukan langsung merupakan lanjutan dari dialog dan konfrontasi artistik masing-masing dengan tubuh dan objek. Selama lebih dari empat tahun, mereka telah mengembangkan bentuk pertunjukan audio-visual yang terus berkembang dari satu konser ke konser berikutnya. Karya mereka telah ditampilkan secara rutin di berbagai ruang seni seperti Heimathafen dan Ausland (Biegungen) di Berlin, serta secara internasional di antaranya Figura Festspiele (Kopenhagen) dan Scratch Expanded (Paris). Selain proyek duo ini, Kreuser dan Cailleau juga berkolaborasi dalam proyek-proyek bersama ansambel vokal eksperimental PHØNIX16. Salah satu karya terbaru mereka adalah konser “Zeitgeist” untuk Festival MaerzMusik di Berlin.
Timo Kreuser adalah komposer, konduktor, dan seniman bunyi asal Jerman. Ia menempuh pendidikan di sekolah musik di München, Dresden, dan Berlin. Karyanya mencerminkan pengaruh musik industri, punk, dan avant-garde elektronik, serta sering memuat komentar sosial dan politik. Ia aktif dalam skena improvisasi eksperimental di Berlin, dan tampil sebagai pianis, inside-piano player, dan turntablist dalam berbagai format, baik solo maupun bersama kelompok seperti NoiserKroiser, feat. Christoph Guiraud, dan Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants. Karyanya telah dipentaskan oleh ansambel seperti POING!, FIGURA, PHØNIX16, dan KALEIDOSKOP dalam festival-festival seperti ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, dan AFEKT. Timo adalah Direktur Artistik kolektif PHØNIX16 dan turut mengkurasi seri konser POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN di Heimathafen Neukölln sejak 2016, serta serial D.O.A. di Berlin.
Guillaume Cailleau adalah seniman dan pembuat film asal Prancis yang belajar di Berlin University of the Arts. Ia juga pernah bekerja sebagai operator proyeksi film di Paris dan Berlin. Film pendek pertamanya, Blitzkrieg (2007), tayang perdana di Festival Film Pendek Internasional Oberhausen. Karya-karyanya berikutnya, seperti Through; Windowed Water (2007), H(I)J (2009), dan Austerity Measures (2012, bersama Ben Russell) menunjukkan eksplorasi terhadap film eksperimental dan praktik sinema yang diperluas (Expanded Cinema). Pada 2014, ia dianugerahi Silver Bear di Berlin International Film Festival untuk film pendeknya Laborat. Ia mengembangkan pertunjukan audio-visual bersama seniman bunyi seperti Werner Dafeldecker dan Timo Kreuser, dan menampilkan karyanya di berbagai acara internasional termasuk Edinburgh International Film Festival, Scratch Expanded Paris, dan COLOR SOUND FRAMES di Museu Serralves, Portugal. Estetika sinematik Cailleau menekankan proses kreatif dan berakar pada tradisi avant-garde dan performatif Amerika. Ia banyak bereksperimen dengan durasi, eksposur ganda, pemisahan warna, manipulasi manual bingkai tunggal, serta metode pengeditan eksperimental lainnya, yang secara langsung terhubung dengan subjek yang diangkat.
Website: www.guillaumecailleau.com
KREUSER / CAILLEAU is a collaboration between German composer Timo Kreuser and French filmmaker Guillaume Cailleau. Their practice centers on objects as vessels of symbolic meaning and sociocultural context. By disrupting the conventional function of objects, they reinterpret them as sonic and visual stimulants, transforming their original perception and embedding new meanings.
Their shared interest in installations and live events stems from individual engagements with the corporeality of their subjects. Over the past four years, they have developed a range of works that refine their audiovisual language from one performance to the next. Their works have been presented at notable venues such as Heimathafen and Ausland (Biegungen) in Berlin, as well as international platforms including Figura Festspiele (Copenhagen) and Scratch Expanded (Paris). Beyond this duo, they regularly collaborate on projects with the vocal ensemble for contemporary and experimental music, PHØNIX16, including the recent concert Zeitgeist for the MaerzMusik festival.
Timo Kreuser is a composer, conductor, and sound artist trained at the music universities of Munich, Dresden, and Berlin. His compositions draw from industrial music, punk provocation, and avant-garde electronics, often engaging critically with modern society and political phenomena—such as regimes, collective momentum, and individuality—as well as the music industry and cultural systems. As a key figure in Berlin’s improvisational music scene, Kreuser regularly performs as an experimental pianist and with modified turntables in various formats: solo, duos, or bands such as NoiserKroiser, KREUSER / CAILLEAU, feat. Christoph Guiraud, S.A.F.T., Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants. His compositions have been performed by ensembles like POING!, S.A.F.T., FIGURA, PHØNIX16, and KALEIDOSKOP, and featured at festivals including ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, and AFEKT. Kreuser is the artistic director of PHØNIX16 and co-curator of the concert series POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN at Heimathafen Neukölln, as well as the ongoing D.O.A. series in Berlin’s Grüne Stille.
Guillaume Cailleau is a French filmmaker and visual artist who studied at the Berlin University of the Arts. He previously worked as a film projectionist in Paris and Berlin. His first short film, Blitzkrieg (2007), premiered at the Oberhausen International Short Film Festival, followed by works such as Through; Windowed Water (2007), inspired by Michael Snow’s installation, H(I)J (2009), processed manually, and Austerity Measures (2012), a collaboration with Ben Russell filmed in Athens. In 2014, he was awarded the Silver Bear at the Berlin International Film Festival for his short film Laborat.
Cailleau frequently develops live audiovisual performances, often in collaboration with experimental sound artists like Werner Dafeldecker and composer Timo Kreuser. These works have been presented at the Edinburgh International Film Festival (2014), Scratch Expanded in Paris (2013), and COLOR SOUND FRAMES (2015) at the Serralves Museum in Portugal. His practice foregrounds the creative process and poetic composition, drawing influence from American avant-garde and Expanded Cinema traditions. His work often experiments with duration, multiple exposures, color separation, single-frame manipulations, and other manual editing techniques to create a direct relationship between form and subject.
More info: www.guillaumecailleau.com
ON STAGE
LI TU TU
oleh AYU PERMATA SARI
Hari/Tanggal: Selasa, 26 November 2019
Waktu: Pukul 19.30 WIB
Artist Talk: Pukul 20.45 WIB
Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan, 57126 Surakarta
Li Tu Tu berangkat dari eksplorasi motif gerak tangan melempar dan menahan piring kecil dengan ibu jari dalam tari Kuadai—tari tradisional yang berasal dari suku Semendo, Lampung Utara. Dalam proses kreatifnya, Ayu melakukan riset mendalam terhadap adat dan tradisi masyarakat Semendo, hingga menemukan konsep Tunggu Tubang—sebutan untuk anak perempuan pertama dalam keluarga yang memegang peran penting sebagai penjaga dan pengendali harta keluarga serta menjadi pusat tempat kembali dan berkumpulnya keluarga.
Gerakan menahan piring dalam tari Kuadai kemudian dibaca oleh Ayu sebagai simbol tarik-ulur antara hak istimewa (privilege), tanggung jawab, kekuatan, sekaligus pembatasan yang dialami oleh seorang Tunggu Tubang.
Dalam karya ini, Tunggu Tubang menjadi spirit utama yang diolah Ayu melalui medium gerak tari Kuadai. Dalam proses eksplorasi, baik sang koreografer maupun dua penari—laki-laki dan perempuan—mengalami perjumpaan personal dengan makna gerak tersebut. Sepuluh variasi dari motif gerak tangan melempar piring dihadirkan, membangkitkan ingatan tentang kesetaraan, komunikasi, dan keseimbangan.
Karya ini sekaligus melemparkan sebuah pertanyaan kepada penonton: Bagaimana jika kemungkinan makna dalam karya ini juga dibuka kepada penonton? Apakah pengalaman dan ingatan personal mereka akan turut muncul dalam interpretasi mereka atas Li Tu Tu?* Dengan semangat itu, karya ini menawarkan ruang tafsir yang terbuka, tanpa menghilangkan pijakan konseptual pada Kuadai dan Tunggu Tubang sebagai fondasi dan jiwa karya.
ON STAGE
LI TU TU
by AYU PERMATA SARI
Date: Tuesday, 26 November 2019
Time: 7:30 PM (WIB)
Artist Talk: 8:45 PM (WIB)
Venue: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan, 57126 Surakarta
Li Tu Tu emerges from the choreographic motif of throwing and holding a small plate using the thumb—a gesture found in Kuadai, a traditional dance from the Semendo people of North Lampung. In her creative process, Ayu conducted an in-depth exploration of Semendo customs and cultural practices, leading her to the concept of Tunggu Tubang—a title given to the first-born daughter in a Semendo family who bears the role of protector and manager of the family’s wealth, and serves as a central figure to whom the family returns and gathers around.
The act of holding the plate in Kuadai became a symbolic expression for Ayu—one that visualizes the tension between privilege, responsibility, strength, and the constraints placed upon the Tunggu Tubang.
In this work, Tunggu Tubang forms the core spirit, while the dance motif from Kuadai serves as its vehicle. During the creative exploration, both the choreographer and the two performers—a male and a female dancer—found deeply personal resonance within the gestures. The ten variations of the plate-throwing hand movement evoked memories of equality, communication, and balance.
This performance poses a question to the audience: What happens if the potential meanings of this work are also opened to them? Would their own personal memories and experiences surface through their interpretation of Li Tu Tu? In this spirit, the work invites open interpretation, while still anchoring itself to Kuadai as the medium and Tunggu Tubang as its soul. The audience’s experience is placed on equal footing with the work itself.
Ayu Permata Sari lahir pada tahun 1992 di Kotabumi, Lampung Utara. Ia berasal dari kelompok suku Pepadun, salah satu dari dua kelompok etnis utama di Lampung, dan beragama Islam. Ayu mulai belajar menari sejak usia sembilan tahun bersama Studio Tari Komunitas Cangget Budaya pada tahun 2000, yang hingga kini masih menjadi bagian dari perjalanannya.
Ia menempuh pendidikan tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengambil jurusan Koreografi pada 2010–2014 dan melanjutkan studi pascasarjana di kampus yang sama pada 2014–2016. Pada tahun 2016, ia mendirikan Ayu Permata Dance Company di Yogyakarta sebagai ruang untuk mengembangkan praktik artistiknya dan menjalin kolaborasi.
Karya-karyanya telah ditampilkan di berbagai forum internasional, antara lain residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) dalam rangka Europalia Arts Festival (2017), serta penghargaan “Jasa Bakti” untuk karya Kami Buta dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia (2018). Karya TubuhDang TubuhDut ditampilkan dalam Indonesia Dance Festival (2018), serta menjadi bagian dari residensi di Dance Nucleus, Singapura, yang turut dipresentasikan di Jejak-Tabi Exchange di Yogyakarta dan Kuala Lumpur.
Tahun 2019 menjadi tahun penting baginya, dengan partisipasi dalam program Helatari oleh Komunitas Salihara, Dance Lab di Rimbun Dahan (Malaysia), Festival Setouchi Triennale di Shodoshima (Jepang), Asia Tri di Akita (Jepang), serta keikutsertaannya dalam Spielart Theater Festival di Munich, Jerman.
Ayu Permata Dance Company (APDC) adalah kelompok seni pertunjukan yang secara khusus fokus pada seni tari kontemporer. Didirikan oleh Ayu Permata Sari pada tahun 2016 di Yogyakarta, APDC hadir sebagai wadah untuk mendorong, mendampingi, dan mendukung proses kreatif Ayu maupun para kolaboratornya.
APDC memiliki semangat untuk membagikan pengetahuan seputar seni tari melalui karya, kelas ketubuhan, diskusi, serta lokakarya. Kelompok ini aktif dalam berbagai festival dan kegiatan seni di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Dalam proses kreatifnya, APDC kerap berkolaborasi lintas disiplin, mencakup seni bayangan (shadow puppet), teater, seni rupa, musik, instalasi, hingga sastra.
Beberapa karya yang telah diproduksi oleh APDC antara lain: HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li Tu Tu, TubuhDang TubuhDut, dan X.
Born in 1992 in Kotabumi, North Lampung, Ayu Permata Sari belongs to the Pepadun community, one of the two major ethnic groups in Lampung, and is of the Islamic faith. She began dancing at the age of nine with the Cangget Budaya community dance studio in 2000, where she remains active to this day.
She studied choreography at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Yogyakarta, completing her undergraduate studies between 2010–2014, followed by a master’s degree at the same institution from 2014–2016. In 2016, she founded Ayu Permata Dance Company (APDC) in Yogyakarta as a platform to support and cultivate her artistic practice and collaborative projects.
Her works have been presented internationally, including a residency in Leuven and Brussels (Belgium) as part of the Europalia Arts Festival in 2017. Her piece Kami Buta received the “Jasa Bakti” award at the Asian Technology Festival in Johor, Malaysia (2018). TubuhDang TubuhDut was showcased at the Indonesia Dance Festival (2018), and further developed during her residency at Dance Nucleus, Singapore. The work was also presented at Jejak-Tabi Exchange in both Yogyakarta and Kuala Lumpur.
In 2019, Ayu received the Helatari grant from Komunitas Salihara, participated in the Dance Lab at Rimbun Dahan (Malaysia), the Setouchi Triennale in Shodoshima (Japan), and Asia Tri in Akita (Japan). That same year, she performed TubuhDang TubuhDut at the Spielart Theater Festival in Munich, Germany.
Ayu Permata Dance Company (APDC) is a contemporary performance collective with a focus on dance. Officially founded in 2016 by Ayu Permata Sari in Yogyakarta, APDC serves as a platform to nurture and support her artistic processes and those of her collaborators.
APDC is committed to sharing knowledge about the art of dance through creative works, embodiment classes, discussions, and workshops. The company actively participates in local, national, and international festivals and arts events. In its practice, APDC often collaborates across disciplines, including shadow puppetry, theater, painting, music, installation, and literature.
Notable works by APDC include: HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li Tu Tu, TubuhDang TubuhDut, and X.
NO LIMIT 2.0 (postponed)
Selasa, 31 Maret 2020
19:30 WIB
Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta
Artist Talk
Densiel Lebang
Moderator : Melati Suryodarmo
On Stage untuk keenam kalinya akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 31 Maret 2020. Pada kesempatan ini On Stage menghadirkan pertunjukan tari berjudul No Limit 2.0 yang merupakan karya dari koreografer independen Densiel Lebang.
No Limit 2.0 mencoba untuk menguak pengalaman tubuh di dalam budaya risiko yang bersifat fisik yang muncul akibat tegangan antara ikatan dan pemisahan; tarikan dan penolakan; kementakan untuk menguasai dan dikuasai; rintangan dan kemudahan yang terjadi di dalam mobilitas tubuh penampil, tali yang kuat dan struktur perancah – yang dapat saling melengkapi dan menemukan definisi melalui satu sama lain. Melalui hubungan antara tubuh dan material ini, Densiel mencoba membaca realitas indrawi apa yang terjadi yang mampu menguak potensi tubuh: baik kekuatan, kesanggupan, kemampuan dan daya – serta melalui sifat dari material yang digunakan menjadi katalis, dan dipercaya dapat menembus tubuh khalayak, melalui ingatan, rutinitas, sentuhan, penglihatan, asosiasi, dan nostalgia.
Densiel Prismayanti Lebang merupakan seniman lulusan Institut Kesenian Jakarta yang aktif bekerja sebagai penari dan koreografer independen sejak 2013. Sebagai seorang penari, iapernah bekerja untuk koreografer kontemporer Indonesia maupun internasional seperti Sardhono W Kusumo, Andara F. Moeis, Hartati, Judith Sanchez Ruiz dari USA, Ismaera dan Quick (MuDa) dari Jepang. Sejak 2015 ia terlibat dalam banyak lokakarya
tari/koreografi yang difasilitasi oleh para praktisi lokal dan internasional seperti Arno
(Belanda), Wardi (Malaysia), Anouk Peeters (Belgia), Ingun Bjornsgaard (Norwegia),
Antony Hamilton (Australia), Su-Wen Chi (Taiwan), Arco Renz (Belgia), Suprapto Suryodarmo (Solo), dan Benny Krisnawardi (Jakarta). Tahun 2018, ia juga mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Shifting Workshop di Play Practice Residency di India dengan Robert M. Heyden dari Ultima Vez Dance Company. Sebagai Koreografer, karya koreografisnya antara lain, No Limit (2016), EMOLOGUE (2016), Dejavu: Choreojam IKJ with Trio Kwek-Kwek (2016), MyWay (2016), 1 (2015), Myspace (2015), Meonglikan Ahihihi (2014), AMEN (2014). Pada 2017, ia mendapat hibah dari Yayasan Kelola untuk menciptakan #NEEDMOREINTERACTION dan terpilih sebagai koreografer untuk karya “Ins and Outs” Sasikira Dance Lab dan Choreo Lab Bandung. Pada tahun 2018, dia menciptakan karya “Let’s Talk” dalam program “Lintas Media” yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pada tahun yang sama ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “Inhibition” di Salihara International Performing Arts Festival dan di PostFest yang diadakan oleh Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta, pada akhir tahun 2018 ia mempresentasikan karyanya yang berjudul “No Limit 2.0″ di Indonesian Dance Festival. Pada tahun 2019 menampilkan karya “Inhibition 2.0” di Ansan Street Art Festival South Korea dan di CabaretChairil Teater Garasi. Serta membuat karya baru yang berjudul “MISS” di Asiatri Jogjakarta.
ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.
Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.
Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org
THE INTERESTS ARE AT STAKE
KREUSER / CAILLEAU
Pembukaan Pameran dan Konser
Hari dan Tanggal : Senin, 27 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB
Artist Talk
Hari dan Tanggal : Selasa, 28 Januari 2020
Waktu : Pukul 19:30 WIB
Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta
On Stage edisi kelima, akan diselenggarakan di Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah, pada tanggal 27 – 29 Januari 2020. Melalui dukungan dari Goethe Institut dan Institut Français Indonesia, dan Ethnictro, Stufio Plesungan menghadirkan konser musik dan pameran instalasi oleh Timo Kreuser dan Guillaume Cailleau yang bertajuk THE INTERESTS ARE AT STAKE.
THE INTERESTS ARE AT STAKE adalah pertunjukan audio-visual / analog DJ / VJ eksperimental yang ditata oleh KREUSER / CAILLEAU. Dengan menggunakan pemutar piringan hitam yang disesuaikan secara khusus, proyektor Super8 dan feedback mixer, mereka menyajikan persepsi ganda dari uang : BERACUN dan PERTUKARAN. Titik tolak mereka adalah tema, objek, dan konteks non-artistik, yang mereka ubah menjadi nilai tambah artistik. Pertunjukan ini mengeksplorasi citra dan suara uang.
THE INTERESTS ARE AT STAKE pada tahun 2020 ini dipentaskan keliling di: Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam, Malaysia.
KREUSER/CAILLEAU adalah proyek duo dari komposer Jerman yaitu Timo Kreuser dan pembuat film asal Prancis yaitu Guillaume Cailleau. Dalam pendekatannya, mereka menggunakan benda-benda sebagai wadah fungsi tanda, makna umum dan konteks sosial budaya. Dengan mengabaikan tampilan utama dari benda-benda tersebut, mereka berfokus pada potensi obyek itu sendiri sebagai stimulator sonik dan visual. Dan dengan menyimpangkan pemahaman asli tentang obyek tersebut, mereka mencetak makna dalam konteks baru.
Ketertarikan mereka dalam menciptakan instalasi dan live events merupakan kelanjutan dari dialog dan konfrontasi individu mereka dengan korporealitas subyek mereka. Sejak 4 tahun keduanya telah menciptakan banyak karya yang menyempurnakan pertunjukan audio-visualnya dari konser satu, ke konser selanjutnya. Mereka telah tampil secara teratur di berbagai tempat di seperti di Heimathafen, Ausland (Biegungen), Berlin dan secara internasional diantaranya di Figura Festspiele, di Kopenhagen dan di scratch Expanded, di Paris. Di samping konstelasi duo mereka, Cailleau dan Kreuser berkolaborasi secara teratur dalam proyek-proyek oleh ansambel musik vokal kontemporer dan eksperimental Phoenix 16. Karya terbaru kolaborasi mereka adalah konser “Zeitgeist” untuk festival Maerzmusik tahun ini.
Timo Kreuser adalah komposer, konduktor dan seniman bunyi, belajar di universitas musik Munich, Dresden dan Berlin. Karya-karyanya mengutip unsur-unsur musik industri, provokasi punk dan elektronik avantgarde dan sering membuat komposisi yang berasal dari komentar-komentarnya pada masyarakat modern dan fenomena politik (rezim, momentum kolektif, individu), serta pada industri musik dan budaya. Timo adalah anggota aktif dari skena improvisasi Berlin dan tampil secara teratur sebagai pianis eksperimental, inside piano, atau dengan pengaturan turntable eksperimental dalam berbagai formas; baik duo maupun band termasuk NoiserKroiser, KREUSER / CAILLEAU, feat Christoph Guiraud. Timo Kreuser, S.A.F.T., Houligé Hobster & The Amazing Fire Ants, dan sebagai solois. Sebagian besar karyanya termasuk pertunjukan instrumentalnya dengan ansambel seperti POING!, S.A.F.T., FIGURA, PHØNIX16, KALEIDOSKOP, dll., Di festival-festival seperti ULTIMA, WUNDERGRUND CPH, KLANG Festival, AFEKT. Timo Kreuser adalah Direktur Artistik kolektifi PHØNIX16 dan merupakan co-kurator dari enam belas bagian seri konser POPPEN / ARBEITEN / ERSCHRECKEN / SHOPPEN di Heimathafen Neukölln sejak 2016, dan serial tak terbatas D.O.A. di keheningan hijau, Berlin.
Guillaume Cailleau adalah seniman dan pembuat film asal Prancis, ia belajar di Berlin University of Arts. Dia juga bekerja sebagai juru proyeksi film di Paris dan Berlin. Pada 2007, Cailleau merekam film pendek pertamanya Blitzkrieg, yang ditayangkan perdana di Festival Film Pendek Internasional Oberhausen. Diikuti film-film lainnya seperti, Through; Windowed Water (2007) yang menjadikan karya instalasi Michael Snow sebagai referensi, H (I) J (2009) yang diproses secara manual, dan Austerity Measures (2012), sebuah kolaborasi dengan pengambilan gambar oleh Ben Russell di Athena. Pada bulan Februari 2014 Cailleau dianugerahi Silver Bear untuk film pendeknya Laborat di Berlin Film Festival. Cailleau mengembangkan banyak pertunjukan audiovisual, misalnya dengan seniman bunyi eksperimental Werner Dafeldecker dan komposer Timo Kreuser, yang ditampilkan di tempat-tempat internasional seperti Edinburgh International Film Festival (2014), Scratch Expanded Paris (2013), dan COLOR SOUND FRAMES (2015) di Serralves Museum di Portugal. Cailleau sering mengedepankan proses kreatif dalam komposisi puitisnya. Karyanya dipengaruhi oleh avant-garde dan praktik performatif Amerika di Expanded Cinema. Bereksperimen dengan durasi, multiple exposures, pemisahan warna dan gambar tunggal yang diperlakukan secara manual, ditambah metode pengeditan gambar lainnya, bentuk karyanya berhubungan secara langsung dengan subjeknya. www.guillaumecailleau.com
Contact Person:
HP / Whatsapp 082223289788
Email: luna@studioplesungan.org
LITUTU
by AYU PERMATA SARI
Hari dan Tanggal : Selasa, 26 November 2019
Waktu : Pukul 19:30 WIB
Artist Talk: Pukul 20:45 WIB
Tempat: Galeri Kecil – Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta
ON STAGE hadir untuk keempat kalinya dengan menampilkan Li Tu Tu , sebuah karya dari Ayu Permata
Li Tu Tu berpijak dari motif gerak tangan lempar piring dan menahan piring kecil dengan ibu jari tangan dalam tari Kuadai, tari tradisi asal suku Semendo, Lampung Utara. Ayu melakukan riset terkait tradisi dan adat suku Semendo, yang kemudian membawanya pada Tunggu Tubang, sebutan untuk anak wanita pertama dalam keluarga suku Semendo yang memiliki peran sebagai penjaga dan pengendali harta keluarga, serta tempat pulang/ berkumpul. Gerak menahan piring dalam tari Kuadai pada akhirnya dibaca sebagai visual yang menjadi penggambaran tarik menarik antara privilege, tanggung jawab, kekuatan, tetapi juga pembatasan pada Tunggu Tubang.
Tunggu Tubang dipilih Ayu Permata sebagai esensi dan spirit karya, sementara motif tari Kuadai sebagai media penyampai. Dalam perjalanan mengeksplorasi esensi dan media ini justru pengkarya dan para penari mengalami pengalaman yang dekat dengan dirinya. Gerak tangan lempar piring yang dieksplorasi dalam 10 variasi oleh 2 penari, laki-laki dan perempuan, membawa ingatan mereka pada kesetaraan, komunikasi, dan keseimbangan.
Ayu Permata dan penari dalam karya ini membawa pertanyaan, “Bagaimana kalau kemungkinan-kemungkinan atas karya ini dibuka pula kepada penonton, apakah pengalaman dan ingatan yang dekat dengan diri mereka juga akan muncul dalam asumsi mereka atas karya Li Tu Tu?” Dari situlah muncul format Li Tu Tu dengan interpretasi terbuka, meskipun bagi pengkarya pijakan awal Kuadai sebagai media dan Tunggu Tubang sebagai esensi atau spirit tetap akan dipertahankan, namun pengalaman penonton penting untuk ditempatkan setara dengan karya ini.
Tentang Ayu Permata Sari
Lahir pada 1992 di Kotabumi, Lampung Utara, Ayu Permata Sari tergabung ke dalam kelompok suku Pepadun, satu dari dua kelompok asli di Lampung, dan beragama Islam. la belajar menari sejak berusia sembilan tahun, tatkala bergabung dengan studio tari komunitas Cangget Budaya pada 2000 dimana dampai sekarang ia masih menjadi anggotanya. Ayu belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengambil jurusan koreografi dari 2010-2014; kemudian melanjutkan pasca sarjananya di sekolah yang sama dari 2014-2016. Mendirikan Ayu Permata Dance Company di Yogyakarta pada 2016 sebagai jalan untuk mendorong dan mendukung praktik dirinya dan kolaboratornya. Pada 2017, Ayu terpilih untuk ikut residensi di Leuven dan Brussels (Belgia) sebagai bagian dari Monsson Europalia Festival. Salah satu karyanya berjudul Kami Buta memenangkan penghargaan “Jasa Bakti” dari Asian Technology Festival di Johor, Malaysia, pada 2018. Karya yang berjudul “TubuhDang TubuhDut” menjadi salah satu nomor karya yang tampil di showcase Indonesia Dance Festival pada tahun 2018; di tahun yang sama Ayu menjalani residensi di Dance Nucleus, Singapura, sebagai bagian dari prosesnya, termasuk mengujicobakan karya tersebut di dua edisi Jejak-Tabi Exchange di Yogyakarta dan Kuala Lumpur. Tahun 2019 Ayu Permata Sari meraih hibah Helatari oleh Komunitas Salihara, ia juga mengikuti Dance Lab Rimbun Dahan Malaysia, Festival Setouchi Triennale Shodoshima Jepang, serta Asia Tri Akita, Jepang. Bulan November tahun 2019 menjadi salah satu penampil pada Spielart Teater Festival di Munich, German dengan membawakan karya TubuhDang TubuhDut.
Ayu Permata Dance Company
Ayu Permata Dance Company (APDC) merupakan sebuah kelompok seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan tari. Secara resmi didirikan oleh Ayu Permata Sari pada tahun 2016 di Yogyakarta. APDC bertujuan untuk memacu, menemani dan mendukung segala proses kreatif Ayu Permata Sari. APDC memiliki semangat berbagi pengetahuan seni tari lewat karya, kelas ketubuhan, diskusi dan workshop tari. APDC aktif terlibat dalam berbagai festival dan event kesenian baik dalam tingkat lokal, nasional dan internasional. Pada praktek berkaryanya APDC beberapa kali berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain, seperti Shadow Puppet, Teater, Lukis, Musik, Instalasi dan Sastra. Karya- karya yang diproduksi oleh APDC antara lain HAH, Kaganga, Marka, Kami Bu-Ta, Li tu Tu, TubuhDang TubuhDut dan X.
Contact Person: Luna (HP / Whatsapp 082223289788 )
Email: luna@studioplesungan.org
WAKTU LINGKAR
by
RETNO SULISTYORINI
20 – 21 SEPTEMBER 2019
Teater Arena
Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org
On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR
Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR
ON STAGE
menghadirkan karya tari
RETNO SULISTYORINI
ON STAGE hadir untuk ketiga kalinya dengan menampilkan Waktu Lingkar dan Noise , dua karya Retno Sulistyorini, seniman peraih Hibah Seni Kelola 2019.
“Waktu Lingkar” terinspirasi dari aktifitas yang dilakukan berulang kali hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Semua terlihat sama, apa yang dilihat, suasana yang dirasakan, waktu yang dipakai, dan masih banyak lagi. Namun rutinitas selalu memunculkan pergolakan batin yang berubah-ubah. Suasana hati sangat mempengaruhi ekspresi kejiwaan untuk mempresentasikan apa yang dirasakan. Karya ini adalah sebuah ekpresi tubuh tentang pergolakan batin dalam menghadapi sebuah rutinitas. Selain menggunakan media gerak dan tubuh, “Waktu Lingkar” juga melibatkan vokal. Karya ini pertama kali dipentaskan dalam program Dance in Asia di Teater Arena oleh Retno Sulistyorini dan Cahwati. Pada pementasan kedua ini Retno Sulistyorini akan tampil bersama Hana Yulianti.
Sementara karya berjudul “Noise” bertitik tolak dari pengamatan pada keriuhan suasana yang terjadi disekitar. Suasana tersebut sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan manusia. Keriuhan bagi beberapa orang bisa sangat mengganggu dan mempengaruhi emosi, tapi tidak terlalu mengganggu untuk beberapa orang lainnya. Pada pementasan perdananya, “Noise” akan ditampilkan oleh David Bima Sakti Perdana, Prasetya Dwi Adi Nugroho, Kristiyanto, Hana Yulianti dan Yezyuruni Forinti.
Tentang Retno Sulistyorini
Retno Sulistyorini atau biasa disapa Enno, lahir di Jakarta tahun 1981. Enno belajar tari secara formil di SMKI Surakarta dan melanjutkannya ke jurusan tari jalur kepenarian di ISI Surakarta. Saat kuliah Enno juga mulai mengenal dan belajar pada seniman seni pertunjukan dan koreografer-koreografer senior di Surakarta seperti Suprapto Suryodarmo, Mugiyono Kasido, dan Eko Supriyanto sehingga ia kemudian memutuskan untuk mengubah jalur studinya dari kepenarian menjadi koreografi. Baginya menjadi koreografer sangat menantang karena dituntut untuk terus berkarya. Enno punya ketertarikan besar pada isu-isu perempuan. Setelah karya „Pisau“ (2000), Enno menciptakan “Nafas” (2003) yang bercerita tentang tradisi pingit untuk perempuan Jawa. Enno memperlakukan karya-karyanya sebagai sesuatu yang terus berkembang dan berubah setiap kali dipentaskan. Contohnya seperti karya “Pisau” yang selalu dipentaskan dengan format visual yang variatif di tiap pementasannya. Karya “Pisau” pula melatarbelakangi penciptaan “Ruang dalam Tubuh” yang didukung program Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola tahun 2010 silam. Saat berkarya, Enno juga senang mengeksplorasi keruangan dan bentuk visual. Dalam karya “Samparan Moving Space”, Enno memadukan tari dengan beragam sudut pandang seperti instalasi, seni rupa dan teater. Karya yang meraih dukungan Hibah Seni Kelola 2007 ini menjadi karya yang paling berkesan bagi Enno, karena tampil pada pertunjukan tunggal perdananya. Bahkan, ia mendapatkan undangan pentas dan diskusi di berbagai tempat berkat karya ini, di antaranya beberapa kota Italia, Belanda dan Belgia. Enno yang karyanya banyak berpijak pada keseharian kembali mendapatkan Hibah Seni Kelola 2019, untuk karya yang berjudul “Waktu Lingkar”. Karya-karya Enno diantaranya: WAKTU LINGKAR (2019), SELAPAN (2018), KANAN DAN KIRI (2018), API (2018), ROMAN (2016), GARBA (2016), LABIRIN (2015), PAGI YANG DIPUNGUT (2013), KLISE (2011), RUANG DALAM TUBUH (2010), TUBUH BISU (2009), SAMPARAN MOVING SPACE (2007), KUMARI (2006), NAFAS (2004), PISAU (2000).
Tentang Kelola
Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai dan dikagumi di seluruh dunia. Kreativitas anak bangsa yang menciptakan inovasi yang membanggakan perlu terus dipupuk dan didukung oleh kita semua. Sebagai organisasi nirlaba berjangkauan nasional, Kelola memberi perhatian khusus agar generasi ke generasi seni dan budaya Indonesia terus hidup dan berdaya saing di dunia internasional. Didirikan pada 1999, Kelola menyediakan peluang belajar, pendanaan dan informasi. Kelola juga mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin kerjasama antar pelaku seni untuk berdialog, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja dengan masyarakat seni dan budaya nasional maupun internasional. Program-program Kelola disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia. Bila kebutuhan masyarakat-masyarakat seni dan budaya bergeser dan berubah, program Kelola pun akan ikut berubah. Program-program Kelola dimungkinkan berkat kemitraan dengan HIVOS, The Ford Foundation, The Asian Cultural Council, The Asialink Centre, Biyan Wanaatmadja, First State Investments Indonesia, donatur perorangan, dan berbagai organisasi seni budaya Sejak 1999, Kelola telah mendukung lebih dari 3500 seniman dan pekerja seni Indonesia untuk berkarya, mengembangkan kapasitas, dan memperluas jaringan mereka di bidang tari, musik, teater, dan seni visual.
ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.
Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.
__________________________________________________
ON STAGE
28 April 2019
Teater Arena
Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
HARI GHULUR
WHITE STONE
White Stone adalah sebuah pertunjukan berbasis laboratorium tari yang lahir dari eksplorasi antara teknik gerak emosional-improvisasional dari Gaga Movement Language dan unsur gerak tradisional Pencak Silat Pamor khas Madura. Melalui pendekatan tubuh yang intuitif dan reflektif, karya ini menjadi ruang pencarian atas identitas, latar geografis, dan narasi sosial budaya masyarakat Madura.
Karya ini terinspirasi dari stereotip yang melekat pada masyarakat Madura—sering digambarkan sebagai keras, tegas, dan memiliki karakter yang kuat. Hari Ghulur tertarik menelusuri akar dari stereotip ini melalui hubungan antara karakter masyarakat dan kondisi geografis Madura yang kering, berbukit bebatuan, dan minim sumber daya air. Di tanah seperti ini, hanya tanaman seperti singkong, jagung, dan ubi yang dapat tumbuh—yang kemudian menjadi makanan pokok dan simbol ketahanan hidup masyarakatnya.
Budaya merantau yang kuat dan tradisi bela diri seperti pencak silat menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas sosial masyarakat Madura, terutama bagi laki-laki sejak usia dini. Gerak silat bukan hanya sebagai alat pertahanan diri, tapi juga sebagai cara menanamkan disiplin dan pengendalian. Meski kerap disalahartikan sebagai ekspresi kekerasan (carok), praktik ini sebenarnya mencerminkan sistem nilai dan respons terhadap tantangan hidup yang keras.
White Stone menghadirkan koreografi yang mengolah fisikitas tubuh dan emosi, memetakan ketubuhan yang dibentuk oleh alam dan kebudayaan. Di antara kekuatan gerak dan intensitas emosional, karya ini mengajak kita menyentuh sisi-sisi kemanusiaan yang jujur, rapuh, dan tangguh.
HARI GHULUR
WHITE STONE
White Stone is a dance laboratory performance born from the fusion of the emotional-improvisational techniques of Gaga Movement Language and the traditional movements of Pencak Silat Pamor from Madura. Through an intuitive and reflective bodily approach, this work explores identity, geography, and the social-cultural narratives of the Madurese people.
The piece is inspired by the widespread stereotype of the Madurese as a community with strong, assertive, and rigid characteristics. Hari Ghulur investigates the roots of this perception by looking at the relationship between the people and the harsh geographical conditions of Madura—an arid, rocky island where cassava, corn, and sweet potatoes are the primary crops and daily sustenance.
The Madurese tradition of migration and the early introduction of martial arts, particularly pencak silat, play a significant role in shaping social identity—especially among boys. Silat is not only a method of self-defense but also a means to develop discipline and self-control. While often misunderstood as a symbol of violence (carok), it in fact reflects a set of values and strategies for navigating a demanding environment.
White Stone presents a choreography that intertwines physical strength and emotional depth, mapping a bodily discourse shaped by landscape and cultural resilience. Between forceful gestures and intimate moments, this work invites the audience to encounter a raw, humanistic reflection of life’s tenacity and vulnerability.
Hari Ghulur
Hari Ghulur , lahir di Madura hidup dan bekerja di Surabaya. Ghulur menekuni dunia tari sejak studi di jurusan Sendratasik UNESA dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana dengan fokus Penciptaan Seni di Institute Seni Indonesia ( ISI ) Surakarta.
Hari Ghulur telah menciptakan beberapa karya tari diantaranya “Ghulur” dipentaskan di Bozar Studio, Brussels Belgia dalam Festival Europalia tahun 2017, Festival Salihara Jakarta 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore 2016, Choreo Lab di Dewan Kesenian Jakarta 2015, Indonesian Dance Festival 2014.
Pada tahun 2018, Hari mengikuti International Choreography Residency (ICR) American Dance Festival di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Karya Hari yang lain juga pernah dipentaskan di China, Malaysia. Hari telah mengikuti residency diantaranya Residency Europalia Festival di belgia selama 1 bulan, Residency di Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur Malaysia selama 20 hari, Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta dan Residency Indonesian Dance Festival. Saat ini Hari menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan prodi tari Univ Negeri Malang.
Bersama istrinya, Sekar Alit, Hari mendirikan Sawung Dance Studio. Bersama timnya, Hari Ghulur terus melakukan eksperimen dan disiplin proses kreatif untuk melahirkan karya karya inovatif.
Hari Ghulur, born in Madura, lives and works in Surabaya. Ghulur has been pursuing the world of dance since studying at the UNESA Graduate School and continuing his postgraduate education with a focus on Art Creation at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta.
Hari Ghulur has created several dance works including “Ghulur” performed at Bozar Studio, Brussels Belgium in the Europalia Festival 2017, Jakarta Salihara Festival 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore, Choreo Lab at the 2015 Jakarta Arts Council, 2014 Indonesian Dance Festival.
In 2018, he participated in the International Choreography Residency (ICR) of the American Dance Festival in Durham, North Carolina, United States. Other Day works have also been performed in China, Malaysia. Hari Ghulur has taken part in residencies include the Europalia Residency Festival in Belgium for 1 month, Residency at the Foot Art Art Exchange in Kuala Lumpur Malaysia for 20 days, Choreo Lab Jakarta Arts Council and Residency Indonesian Dance Festival. Today Hari is a lecturer at the Wilwatikta Arts College (STKW) and dance study program at Malang State University.
Together with his wife, Sekar Alit, Hari Ghulur founded Sawung Dance Studio. Together with his team, Hari Ghulur continued to conduct experiments and creative process disciplines to give birth to innovative works.
ON STAGE
menghadirkan karya tari
Muslimin Bagus Pranowo
Hari/Tanggal: Jumat, tanggal 5 Juli 2019
Pukul: 19:30 WIB
Tempat: di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Bersama dua karya pilihan yang berjudul “GALLERY” dan “SAYA ATAU AKU ?”. Kedua karya ini merupakan karya Muslimin yang mewakili karakteristik kekaryaannya.
Usai sajian dua pertunjukan tersebut, akan dibuka sesi Artist Talk yang dipandu oleh Joned Suryatmoko.ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.
Tentang Muslimin Bagus Pranowo
Seniman tari yang lahir di Solo pada tahun 1982, telah mulai belajar menari dari sejak kecil dari ibunya dan mengikuti pelatihan tari Jawa di sanggar sejak usia lima tahun. Ketertarikannya dan bakatnya di dunia tari mendorong Muslimin untuk masuk ke jenjang pendidikan sekolah menengah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Surakarta (SMKI) dan melanjutkan ke jenjang pendidi- kan Tinggi di Institut Seni Indonesia Surakarta. Selain aktif sebagai guru dan pelatih tari; Muslimin melanjutkan proses kreatifnya dengan menciptakan beberapa karyanya dan terlibat aktif dalam proses karya kolaboratif dengan seniman lain. Karya-karya tari Muslimin antara lain “IM MIX”, “FIVE, SIX, SEVEN, EIGHT”, “KAMAR no 9”, “SAYA ATAU AKU?”, “TEMBUNG TEMBANG”, “WANITA, WANITA dan PEREMPUAN”, “GALLERY”, “DI MEJA; serta drama musikal “HINAMAT- SURI” dan “SAYA INDONESIA”.
__________________________________________________
PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org
On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR
Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR
www.studioplesungan.org
WHITE STONE
by
Harry Ghulur
April 28, 2019
Teater Arena
Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Hari Ghulur
White Stone
ON STAGE #1 menampilkan karya Hari Ghulur yang berjudul WHITE STONE. Karya ini merupakan pertunjukan laboratorium tari yang dicapai melalui metode impresif dan emosional dengan teknik Gaga yang berbasis gerak Pencak Silat Pamor Madura.
Kerasnya karakter masyarakat Madura menjadi ide gagasan penciptaan. Letak geografis yang sangat gersang dengan bukit bebatuan terjal dan kering. Tanah yang hanya dapat ditanami singkong, ubi, jagung merupakan hasil bumi utama yang menjadi konsumsi setiap hari. Karakteristik masyarakat madura yang keras dipengaruhi dari bagaimana mereka bersosialisasi. Sejak kecil (utamanya laki-laki) belajar pencak silat sebagai basic pengendalian dan perlindungan diri karena notabene masyarakat madura pergi merantau. Ini yang sering disalah artikan dengan kekerasan fisik (carok). Seiring perkembangan zaman, kini mengalami penggeseran makna menjadi hal yang positif membangun citra masyarakat Madura dengan kerja keras tanpa mengenal lelah terus mengejar pendidikan sehingga prestasi itu mengubah pola fikir masyarakat Madura menjadi lebih fleksibel, luas dan inovatif.
ON STAGE akan diselenggarakan untuk pertama kalinya pada hari Minggu tanggal 28 April 2019 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah dengan mengundang Moh. Hariyanto atau biasa dipanggil Hari Ghulur, seniman tari asal Madura yang saat ini berdomisili di Surabaya.
Hari Ghulur menekuni dunia tari sejak studi di jurusan Sendratasik UNESA dan melanjutkan ke Penciptaan Seni ISI Surakarta. Juli 2018 lalu hari mengikuti International Choreography Residency (ICR) American Dance Festival di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Melalui ICR, pengalaman ketubuhan hari mendapat banyak pengetahuan dan experience yang mendorong hari untuk segera menciptakan karya baru. Selama ICR di ADF, Hari menciptakan karya solo berjudul “SILA” dan saat ini sedang mengerjakan laboratorium tari yang diberi judul “WHITE STONE”
Sebelumnya, hari telah menciptakan beberapa karya tari diantaranya “Ghulur” dipentaskan di Bozar Studio, Brussels Belgia dalam Festival Europalia tahun 2017, Festival Salihara Jakarta 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore 2016,Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015, Indonesian Dance Festival 2014. Karya Hari yang lain juga pernah dipentaskan di China, Malaysia. Hari kerap mengikuti residency diantaranya Residancy Europalia Festival di belgia selama 1 bulan, Residency di Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur Malaysia selama 20 hari, Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta dan Residency Indonesian Dance Festival. Saat ini Hari menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan prodi tari Univ Negeri Malang. Hari mendirikan Sawung Dance Studio dan bersama timnya terus melakukan eksperimen dan disiplin proses kreatif untuk melahirkan karya karya inovatif.
On Stage
On Stage adalah program berkala yang diinisiasi oleh Studio Plesungan dan diselenggarakan setiap dua bulan sekali. Program ini ditujukan untuk menyediakan ruang presentasi yang terbuka dan suportif bagi seniman pertunjukan dari berbagai disiplin—termasuk tari, musik, teater, dan seni performans—melalui fasilitas pementasan sederhana namun kontekstual.
Studio Plesungan memfasilitasi seniman terpilih untuk menampilkan karyanya di dua ruang alternatif: Teater Arena dan Galeri Kecil yang berlokasi di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. Pemilihan karya dilakukan melalui proses seleksi oleh tim kurator Studio Plesungan, yang mempertimbangkan keberagaman pendekatan artistik, relevansi wacana, serta potensi dialog yang bisa dibangun dari karya tersebut.
Karya yang ditampilkan dapat berupa repertoar yang telah diproduksi sebelumnya maupun karya baru yang sedang dikembangkan. On Stage tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menciptakan ruang reflektif melalui sesi artist talk yang digelar setelah pementasan. Dalam sesi ini, seniman akan berdiskusi bersama mitra diskusi yang diundang—baik dari kalangan akademisi, praktisi seni, maupun penonton aktif—untuk membuka ruang kritik, interpretasi, dan pertukaran gagasan.
Melalui On Stage, Studio Plesungan mendorong terbangunnya ekosistem seni pertunjukan yang dinamis, kolaboratif, dan berkelanjutan. Program ini terbuka bagi publik yang ingin memperluas pemahaman mereka tentang seni pertunjukan kontemporer sekaligus menjadi bagian dari proses kreatif yang hidup dan berkembang.
On Stage
On Stage is a bi-monthly program initiated by Studio Plesungan that offers a supportive and open platform for performing artists across disciplines—dance, music, theatre, and performance art. The program facilitates modest yet contextual performances, providing artists with access to two distinctive venues: the Arena Theater and the Small Gallery at the Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta.
Artists are selected through a curatorial process conducted by the Studio Plesungan team, based on the diversity of artistic approaches, relevance of the work’s discourse, and its potential to generate meaningful dialogue. The featured works may include previously staged pieces or new works in development.
More than just a stage, On Stage creates a reflective environment through post-performance artist talks, where performing artists engage in conversation with invited discussants—from scholars and fellow practitioners to active audience members. These sessions serve as a forum for critique, interpretation, and exchange of ideas, deepening the audience’s experience and understanding of the work.
Through On Stage, Studio Plesungan aspires to cultivate a dynamic, collaborative, and sustainable ecosystem for contemporary performing arts. The program is open to the public and invites all to take part in an ongoing process of artistic discovery, shared learning, and creative resonance.