
Workshop Series & Public Presentation
EKSPLORASI : Last chapter of the Artventure “Look What The World Did To Us” oleh Alxis Jestin
12 – 17 Januari 2026
Workshop
Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026
Pukul : 13:00 – 18:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026
Pukul : 19:30 WIB – selesai
Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Program Workshop Series untuk awal tahun 2026 mendatang, Studio Plesungan akan menyelenggarakan workshop tari oleh Alexis Jestin (UNDERDOG Project). Workshop ini adalah bagian dari proyek Look What The World Did To Us, sebuah proyek pedagogis dan kreatif jangka panjang berskala internasional, dipandu dan diinisiasi oleh koreografer sekaligus direktur artistik dari UNDERDOG Project, Alexis Jestin.
Proyek ini mempertemukan para penari dari berbagai latar belakang dan bidang, dan telah diselenggarakan di sejumlah kota di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Melalui rangkaian proses telisik, penciptaan, dan laboratorium, proyek ini menjadikan gerak tubuh sebagai sarana untuk memahami wilayah-wilayah pengalaman yang dibentuk oleh pengasingan dan pengucilan sosial.
Workshop ini dirancang untuk mendorong proses pengamatan dan eksperimen yang dilakukan secara langsung, menempatkan tubuh sebagai pengamat sekaligus yang diamati. Dengan penuh kesadaran, seluruh peserta diajak untuk menempatkan diri dalam situasi uji coba, kegagalan, dan keberhasilan. Situasi tersebut dihadirkan untuk membuka ruang pencerapan baru, serta mendorong penelusuran, pengamatan, dan perenungan yang lebih mendalam. Melalui proses ini, peserta diajak menafsirkan makna dan fungsi baru dari berbagai peristiwa yang mereka alami selama workshop, sehingga dapat membuka kemungkinan lahirnya sudut pandang yang lebih otentik dalam praktik artistik masing-masing peserta.
Workshop ini juga menjadi babak penutup dari proyek Look What The World Did To Us. Sekaligus, kegiatan ini menjadi momen bagi Alexis untuk membagikan kumpulan pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan artistiknya, memberikan sudut pandang di balik panggung dan studio, serta pengalaman lintas batas yang ia alami di berbagai negara dan kebudayaan.
Pada presentasi publik yang diselenggarakan di akhir program, Alexis juga akan membahas bagaimana dan mengapa proyek tersebut berlangsung, komitmen politik yang terlibat, serta cara proyek ini dirancang, diproduksi, didanai, dan dihadirkan kembali dalam berbagai konteks budaya dan sosial. Sebagai penutup, workshop dan presentasi publik ini akan meninjau kembali pengalaman yang telah dijalani, perubahan yang muncul selama proses berlangsung, serta kemungkinan arah yang dapat ditempuh ke depan.
Workshop dan Public Presentation yang dibawakan oleh Alexis Jestin merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan, yang dimulai pada 11 Januari 2026 sampai 25 Januari 2026.
Alexis Jestin adalah seorang koreografer yang memulai karirnya pada tahun 2000 ketika ia diundang oleh koreografer Thierry Thieu Niang untuk menciptakan duet di Festival des Élançées. Ia menjalani pelatihan di konservatori Montpellier, Paris, dan program COLINE, memasuki dunia internasional sejak muda. Pada usia 20 tahun, ia bekerja untuk koreografer asal Israel, Emanuel Gat, yang kemudian membuka jalan bagi banyak kerjasama dengan seniman seperti Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, dan Yuval Pick.
Pada 2011, ia mengembangkan triptich video-tari bersama Mathieu Zurcher dan K. Labyrinth, yang menjadi dasar lahirnya Underdog Project Dance Company. Ia kemudian bekerja sebagai direktur latihan dan pengajar di Warsaw Dance Department serta mengajar di berbagai institusi di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2018, Alexis meluncurkan LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, riset koreografis tentang isolasi sosial yang telah mengikutsertakan lebih dari 500 penari, dan meraih Villa Saigon Prize pada 2020. Sejak 2021, ia terus menciptakan karya baru, termasuk DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, serta dua karya solonya Redemption (2025) dan Invicta (2026)
Studio Plesungan adalah ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performans, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.
________________________
As part of its Workshop Series program in early 2026, Studio Plesungan will host a dance workshop led by Alexis Jestin (UNDERDOG Project). This workshop is part of Look What The World Did To Us, a long-term international pedagogical and creative project initiated and guided by choreographer and artistic director of the UNDERDOG Project, Alexis Jestin.
The project brings together dancers from diverse backgrounds and disciplines and has been held in various cities across Europe, Asia, and Latin America. Through a series of investigative research processes, creation practices, and laboratory work, the project uses movement as a means to understand territories of experience shaped by exile and social exclusion.
The workshop is designed to encourage direct observation and experimentation, positioning the body as both observer and observed. Participants are consciously invited to place themselves in situations of trial, failure, and success. These conditions are created to open new modes of perception and to foster deeper exploration, observation, and reflection. Through this process, participants are encouraged to reinterpret the meanings and functions of the events they experience during the workshop, opening possibilities for more authentic perspectives within their individual artistic practices.
This workshop also serves as the concluding chapter of the Look What The World Did To Us project. At the same time, it becomes a moment for Alexis to share the accumulated experiences of his artistic journey, offering insights from behind the stage and studio, as well as cross-border experiences encountered across different countries and cultures.
In the public presentation held at the end of the program, Alexis will further discuss how and why the project unfolded, the political commitments involved, and how the project was conceived, produced, funded, and re-presented across diverse cultural and social contexts. As a closing moment, the workshop and public presentation will reflect on the experiences that have taken place, the changes that emerged throughout the process, and possible directions for the future.
The workshop and public presentation led by Alexis Jestin are part of the Artist-in-Residence program organized by Studio Plesungan, taking place from January 11 to January 25, 2026.
Alexis Jestin is a choreographer who began his career in 2000 when he was invited by choreographer Thierry Thieu Niang to create a duet at the Festival des Élançées. He trained at conservatories in Montpellier and Paris, as well as in the COLINE program, entering the international dance scene at a young age. At the age of 20, he worked with Israeli choreographer Emanuel Gat, an experience that opened the door to numerous collaborations with artists such as Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, and Yuval Pick.
In 2011, he developed a video-dance triptych with Mathieu Zurcher and K. Labyrinth, which became the foundation for the creation of the Underdog Project Dance Company. He later worked as rehearsal director and teacher at the Warsaw Dance Department and taught at various institutions across Europe, Asia, and Latin America. In 2018, Alexis launched LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a choreographic research project on social isolation that has involved more than 500 dancers and received the Villa Saigon Prize in 2020. Since 2021, he has continued to create new works, including DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, as well as two solo works, Redemption (2025) and Invicta (2026).
Studio Plesungan is an art space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar. It is an organized space that provides opportunities for research, creative processes, and presentations, particularly in performance art, visual art, and other performing arts. Studio Plesungan hosts workshops, public lectures, study programs, public discussions, and artist-in-residence programs. The studio is committed to principles of artistic knowledge sovereignty and economic autonomy for art practitioners, as well as to the development of human resources, especially in the fields of artistic creation and knowledge production.
Workshop
Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026
Pukul : 13:00 – 18:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026
Pukul : 19:30 WIB – selesai
Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Registrasi:
LINK: bit.ly/4iKvkzM

Contact Person: Verina (HP / Whatsapp 0821 3322 9593 )
Email: info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Artist In Residence
Choy Ka Fai
11-29 Mei 2025
Studio Plesungan dengan senang hati menyambut Choy Ka Fai sebagai seniman residensi pada bulan Mei ini. Selama masa residensinya, Ka Fai mengadakan pertemuan dan sesi latihan perdana bersama para penari dari Indonesia di ruang dalam Studio Plesungan. Kegiatan ini menandai dimulainya proses produksi Kanan Kiri Kanan, sebuah karya pertunjukan yang direncanakan untuk dipentaskan di Utrecht pada tahun 2026.
Studio Plesungan is pleased to welcome Choy Ka Fai as an artist-in-residence this May. During his residency, Ka Fai held an initial meeting and rehearsal session with Indonesian dancers in the indoor space of Studio Plesungan. This gathering marks the beginning of the production process for Kanan Kiri Kanan, a performance work scheduled to premiere in Utrecht in 2026.
Choy Ka Fai adalah seniman asal Singapura yang berbasis di Berlin. Praktik seni multidisiplinernya berada di persimpangan antara tari, seni media, dan pertunjukan. Melalui ekspedisi riset, eksperimen pseudosaintifik, dan pertunjukan dokumenter, Ka Fai mengapropriasi teknologi dan narasi untuk membayangkan masa depan baru bagi tubuh manusia.
Proyek-proyek Ka Fai telah dipresentasikan di berbagai institusi besar di seluruh dunia, termasuk Sadler’s Wells (London), ImPulsTanz Festival (Wina), dan Kyoto Experiment (Jepang). Ia pernah menjadi seniman residensi di tanzhaus nrw di Düsseldorf (2017–2019) dan Künstlerhaus Bethanien di Berlin (2014–15). Ka Fai lulus dengan gelar M.A. dalam Design Interaction dari Royal College of Art, London, Inggris.
Choy Ka Fai is a Berlin-based Singaporean artist. His multidisciplinary art practice situates itself at the intersection of dance, media art and performance. Through research expeditions, pseudo-scientific experiments and documentary performances, Ka Fai appropriates technologies and narratives to imagine new futures of the human body.
Ka Fai’s projects have been presented in major institutions worldwide, including Sadler’s Wells (London), ImPulsTanz Festival (Vienna) and Kyoto Experiment (Japan). He was the resident artist at tanzhaus nrw in Düsseldorf (2017–2019) and Künstlerhaus Bethanien in Berlin (2014-15). Ka Fai graduated with a M.A. in Design Interaction from the Royal College of Art, London, United Kingdom.
Workshop Series:
“Telepresence In The Age Of Extreme Self”
oleh Choy Ka Fai

Sabtu, 24 Mei 2025, 14:00 – 17:00 WIB
di Studio Plesungan, Desa Plesungan rt03 rw02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181
Bagaimana yang digital, virtual, immaterial, atau ekspresi non-manusia mendorong kita untuk memikirkan ulang dan memperluas pengertian tentang tubuh kita?
Telepresence In the Age of Extreme Self adalah sebuah kuliah dan lokakarya yang dibawakan oleh Choy Ka Fai, berangkat dari gagasan tentang budaya pasca-manusia yang diambil dari ranah fiksi ilmiah, seni kontemporer, dan filsafat. Gagasan ini dipaparkan melalui serangkaian proses penciptaannya yang menghadirkan pembayangan atas masa depan tentang kesatuan metafisik dalam praktik seni—yang berpeluang menciptakan dorongan untuk melampaui batas fisik diri kita. Workshop ini akan berbagi proses penciptaan berbagai proyek digital disertai demonstrasi langsung untuk para peserta. Kegiatan ini akan mengulas eksperimen sang seniman dalam teknologi motion capture, desain gim, dan spekulasi koreografi.
How does the digital, the virtual, the immaterial or non-human expressions push us to rethink and expand the notion of our body?
Telepresence in the age of extreme self is a lecture and workshop based on the idea of post-human culture from from the field of science fiction, contemporary art and philosophy. The plausible future of a meta-physical unity in artistic practices is here and maybe we are all have an itch to transcend beyond our physical self.
This workshop will shares on the creation of various digital project with demonstration for the participant. It will detail the artist experiment in motion capture, game design and choreographic speculations.
–

Workshop Series
Tangan: A Handmade Paper + Painting
oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba
Senin, 28 July 2025
Jam : 14:00 – 18:00
di Studio Plesungan
Workshop ini berfokus pada penggunaan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan untuk membuat kertas menjadi lebih mudah diakses dan berkelanjutan. Workshop ini merespons kebutuhan yang semakin besar untuk mendaur ulang banyaknya kertas yang dibuang, sebuah sumber daya yang melimpah namun sering diabaikan. Dengan menjaga proses untuk tetap sederhana, workshop ini memudahkan peserta untuk belajar dan terlibat, sekaligus menunjukkan bagaimana tindakan kreatif kecil dapat berkontribusi pada cara hidup yang lebih ramah lingkungan.
Program ini diselenggarakan sebagai bagian dari keterlibatan Ben Albino dan Rachel Anne Lacaba dalam Artist-In-Residence oleh Studio Plesungan dari 17 – 29 Juli 2025.
Workshop ini terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang
Donasi workshop: Rp. 20.000 (akan digunakan untuk penyediaan alat dan bahan-bahan workshop)
Pendaftaran melalui pranala berikut:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
_________________________________________
This workshop focuses on using recycled materials and simple, easily accessible tools to make papermaking more approachable and sustainable. It responds to the growing need to recycle the large amount of paper waste—an abundant yet often overlooked resource. By keeping the process simple, the workshop enables participants to learn and engage easily, while also demonstrating how small creative actions can contribute to a more environmentally conscious way of living.
This program is presented as part of Ben Albino and Rachel Anne Lacaba’s participation in the Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, running from 17 to 29 July 2025.
The workshop is open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.
Workshop Donation: Rp. 20,000
(This contribution will support the provision of tools and materials)
Register via the following link:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8
For more information, contact us via WhatsApp:
+62 821-3322-9593
Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02
Plesungan, Gondangrejo
Karanganyar 57181
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Workshop Series
Artist In Transit
Studio Plesungan
“It needs two to solo”
oleh Chun Han
Sabtu, 19 July 2025
14:30 – 18:00 WIB
Di Studio Plesungan
Dalam sesi workshop ini, Chun-Han akan menilik kembali latar belakang dan beberapa proses penciptaan karya tari yang pernah ia kerjakan sebelumnya. Ia juga akan membagikan beberapa praktik fisik dan teknik, mempertemukan berbagai praktik gerak dan tari, juga dengan praktik bela diri wushu. “Tarian tunggal itu tidak ada; penari menari bersama dengan lantai” ujar Steve Paxton, prakarsa praktik gerak contact improvisation, di dalam artikelnya “Drafting Interior Techniques”. Melihat dari sudut pandang ini, Chun-Han mengajak untuk bersama-sama menyusuri konsep kehadiran di panggung, hubungan antar penampil, cara memperhatikan, dan bergerak dengan pasangan yang tak terlihat.
Chen Chun-Han tumbuh di tengah komunitas teater dan tari. Ia tertarik untuk memperhatikan percakapan dan kemauan orang-orang untuk bercakap. Praktiknya saat ini sebagian besar membahas isu-isu identitas budaya dan rasa memiliki. Chen Chun-Han sangat terkesan dengan dinamika wacana, pengalaman, dan emosi: George Orwell memilih “He loves Big Brother”, sebuah kalimat cinta, untuk mengakhiri novel distopia “1984”.
Workshop ini gratis dan terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang
_________________________
Workshop with Chen Chun-Han
In this workshop session, Chun-Han will revisit the background and creative processes behind several of his past choreographic works. He will also share physical practices and techniques that intersect various movement and dance forms, including elements from the martial art of Wushu.
“There is no such thing as a solo dance; the dancer dances with the floor,” wrote Steve Paxton, the originator of Contact Improvisation, in his article Drafting Interior Techniques. From this perspective, Chun-Han invites participants to explore the concept of presence on stage, the relationship between performers, the art of attention, and moving with an invisible partner.
Chen Chun-Han was raised in a community of theatre and dance. He is drawn to observing how people engage in conversation and their willingness to communicate. His current practice largely explores themes of cultural identity and belonging. Chun-Han is deeply moved by the interplay of discourse, lived experience, and emotion—much like how George Orwell chose the phrase “He loves Big Brother”, a declaration of love, to close his dystopian novel 1984.
This workshop is free and open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.
Pendaftaran melalui pranala berikut:
https://forms.gle/y8Yeeg73eneCQZ7t8
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org
Solo Butoh #3
WORKSHOP
Workshop oleh Katsura Kan dengan tema “Listen with the Body”
dan Sineenadh Keitprapai dengan tema “Body Image and Transformation”
Kamis, 14 Desember 2023
09:00 – 16:00 WIB
di Studio Plesungan
Katsura Kan (Japan)
“Listen with the Body”
Dalam kehidupan sehari-hari, “perilaku misterius” itu tersembunyi. Kita meningkatkan keterampilan “observasi” untuk menuai hasil di atas panggung. Katsura Kan adalah penari butoh yang bekerja di dalam dan di luar Jepang. Kan akan berbagi idenya tentang cara menemukan dan mengembangkan koreografi dari pengalamannya selama lebih dari 34 tahun di kesenian butoh. Workshop Butoh oleh Katsura Kan kali ini tentang mengeksplorasi gagasan “tubuh yang ingin tahu” melalui Observasi Kelompok terhadap kehidupan sehari-hari yang merupakan kunci untuk memahami aliran utama Butoh sebagai sebuah gagasan gerakan. Ia akan memandu peserta dengan pendekatan kognitif baru atau “Observasi” terhadap tubuh melalui metode praktis notasi Butoh. Peserta akan diinstruksikan bagaimana “membangkitkan kebisingan”, “fokus pada sisi lain dari realitas seseorang” melalui pengalamannya terhadap elemen-elemen penting Butoh. Workshop ini cocok untuk semua orang, atau tanpa pengalaman Butoh sebelumnya.
Katsura Kan, berasal dari Kyoto, merupakan Master Butoh dari kalangan generasi senior Butoh Jepang. Ia tampil bersama kelompok Butoh, “白虎社/Byakkosha” pada tahun 1979-1981, kemudian melakukan penelitian di Indonesia dan Thailand selama 20 tahun. Pada tahun 2001, dia terkenal sebagai seniman tunggal dan kolaboratif, serta koreografer. Kan telah bekerja dengan apa yang disebutnya sebagai “penari golongan kecil” di seluruh dunia, di lokasi terpencil di seluruh Afrika, Eropa, Rusia, Tiongkok, Asia Tenggara, benua Amerika Latin, dan Amerika Utara selama 40 tahun terakhir. Pada April 2018, Kan memulai Festival Butoh Internasional Kyoto untuk pertama kalinya, mempelopori cakrawala baru dalam dunia tari, yang kemudian dilanjutkan Festival Butoh Internasional Kyoto ke-2 (2019) dan Festival Butoh Internasional Kyoto ke-3 (2020). Pada tahun 2020, Kan mendapat penghargaan Kyoto City Arts and culture Promotion Award.
In everyday life, “mysterious behavior” is hidden. We improve our “observation” skills to reap rewards on stage. Katsura Kan is a butoh dancer who works in and outside Japan. Kan will share his ideas on how to discover and develop choreography from his more than 34 years of experience in butoh artistry. This Butoh Workshop by Katsura Kan is about exploring the idea of the “curious body” through Group Observation of everyday life which is the key to understanding the mainstream of Butoh as a movement idea. He will guide participants with a new cognitive approach or “Observation” of the body through the practical method of Butoh notation. Participants will be instructed how to “raise the noise”, “focus on the other side of one’s reality” through their experience of the essential elements of Butoh. This workshop is suitable for everyone, or without previous Butoh experience.
Katsura Kan, originally from Kyoto, is a Butoh Master from among the senior generation of Japanese Butoh. He performed with the Butoh group, “白虎社/Byakkosha” in 1979-1981, then conducted research in Indonesia and Thailand for 20 years. As of 2001, he is well known as a solo and collaborative artist, as well as a choreographer. Kan has worked with what he calls “small group dancers” around the world, in remote locations throughout Africa, Europe, Russia, China, Southeast Asia, the Latin American continent, and North America for the past 40 years. In April 2018, Kan initiated the first-ever Kyoto International Butoh Festival, pioneering new horizons in the world of dance, which was later followed by the 2nd Kyoto International Butoh Festival (2019) and the 3rd Kyoto International Butoh Festival (2020). In 2020, Kan received the Kyoto City Arts and culture Promotion Award.
Sineenadh Keitprapai (Thailand)
“Body Image and Transformation”
Pada workshop ini, Sineenadh akan mengajak partisipan untuk mengeksplorasi body-mind/ tubuh dan pikiran dengan gerakan lambat, pikiran lambat, dan momen. Latihan ini menggunakan kesadaran tubuh, citra dan transformasi untuk mengeksplorasi kesadaran dan alam bawah sadar dengan setiap fleksibilitas tubuh dan lanskap batin. Kita akan bereksperimen dan mengeksplorasi tentang bergerak dan digerakkan oleh dinamika yang tidak terlihat.
Sineenadh adalah seorang aktor, sutradara, seniman performans, praktisi Butoh, dan pengajar seni pertunjukan. Karyanya menggunakan berbagai teknik dan gaya, antara lain teater, pertunjukan berbasis gerakan, teater fisik, perancangan performans, dan Butoh. Sebagian besar karyanya mengeksplorasi dan mencerminkan isu-isu perempuan, tubuh perempuan, dan persoalan sosial. Pada tahun 2008, ia menerima Silpathorn Award dalam seni pertunjukan. Sineenadh saat ini menjadi direktur artistik Crescent Moon Theatre. Ia menjadi dosen tamu bidang akting dan seni pertunjukan di beberapa universitas. Saat ini, ia tertarik pada pembelajaran, pendidikan dan laku praktik mandiri tentang gerak dengan alam dan praktis spiritual.
In this workshop, Sineenadh will invite participants to explore body-mind/body and mind with slow movements, slow thoughts, and moments. This practice uses body awareness, imagery and transformation to explore consciousness and the subconscious with every flexibility of the body and inner landscape. We will experiment and explore moving and being moved by invisible dynamics.Sineenadh is an actor, director, performance artist, Butoh practitioner, and performing arts teacher. Her work uses a variety of techniques and styles, including theater, movement-based performance, physical theater, performance design, and Butoh. Most of her works explore and reflect women’s issues, women’s bodies, and social problems. In 2008, he received the Silpathorn Award in performing arts. Sineenadh is currently the artistic director of Crescent Moon Theatre. He has been a guest lecturer in acting and performing arts at several universities. Currently, he is interested in learning, education and independent practice of movement with nature and spiritual practice.
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop.
Workshop terbuka untuk umum.
Biaya workshop Rp. 100.000
*Sudah termasuk konsumsi*
Pendaftaran melalui link https://bit.ly/3uCXxU8
/ klik bio Instagram Studio Plesungan atau WA 0821-3322-9593 (Kuota peserta terbatas.
)
Contact info: 0821-3322-9593 (Verina)
STUDIO PLESUNGAN
WORKSHOP SERIES
LISETTE ROS
“The Construction of Identity, and the Fluidity Thereof”
Minggu, 20 Agustus 2023
13:00 – 17:00 WIB
di Studio Plesungan
Desa Plesungan rt03 rw02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181
Workshop ini akan menelusuri (de)konstruksi identitas, beserta fluiditasnya. Lisette akan mengajak peserta untuk mengamati keadaan tubuh dan perilaku, mengeksplorasi berbagai cara berpikir dan berekspresi, mengaktivasi rasa, memberdayakan kerentanan diri, dan pembebasan atas kendali.
Workshop ini berbasis dari perjalanan Lisette dalam membuka dan membongkar kerentanan dalam diri, ia juga akan berbagi beberapa inspirasi dan acuan yang berkaitan secara tematik. Lisette mengharapkan workshop ini dapat menjadi proses yang membebaskan pikiran, kreativitas, serta perjalanan untuk mengenal diri sendiri.
—
Lisette Ros adalah seniman konseptual dan performans dari Hilversum, Belanda. Tema utama yang dibahas Lisette adalah: identitas dan fluiditasnya, keragaman penampilan, performativitas gender; mempertanyakan cara berpikir pendek, prasangka, tindakan dangkal, dan sistem sehari-hari. Baginya, yang terpenting adalah untuk belajar melihat ke dalam, mengenal kerentanan, perasaan, dan mengkondisikan diri sendiri. Lisette tertarik dengan proses membuka diri dan bagaimana menerapkannya sebagai kekuatan. Semua dalam konteks penerapan kreatif dan melihat dirinya sebagai perangkat dan wadah penampung. Sebelumnya, Lisette Ros memperoleh pengalaman selama beberapa tahun dalam membentuk dan mengajar kelas tentang (in)toleransi, diskriminasi, identitas, keragaman, dan komunitas LGBTQI+. Lisette bekerja sebagai pengajar seni performans, yang juga mengembangkan program-program kreatif untuk remaja dan dewasa.
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Pendaftaran dibuka sampai tanggal 18 Agustus 2023
Registrasi dapat dilakukan melalui:
https://forms.gle/ax94TjiFF9A1g5Lc8
Kontak:
+62 821-3322-9593 (Verina)
#studioplesungan #performanceart #teater #tari #performanceart #workshopteater #workshoptari #dance #theatre

Studio Plesungan
WORKSHOP
Wendy HS
Total Body Performance Method untuk Pertunjukan Kontemporer, teater tubuh, tari, dan musik performatif
Sabtu, 4 Maret 2023
09:00 – 14:00 WIB
di Studio Plesungan
Pada workshop ini, Wendy HS akan membagikan pengenalan tentang sistem pelatihan tubuh Total Body Performance Method. Metode ini dikembangkan dari elemen artistik Tapuak Galemboang dalam tradisi Randai di Minangkabau Sumatera Barat. Secara umum, dasar elemen artistik Tapuak Galembong menggabungkan unsur bebunyian (musicing) dan unsur gegerakan (dancing) dengan formasi dasar ketubuhan Silek (Minangkabau Martial Art). Riset pengembangan yang dilakukan Wendy HS, kemudian menambahkan unsur lelakuan (acting) sebagai pilihan sistem ketubuhan untuk pertunjukan kontemporer. Wendy HS akan membagikan Total Body Performance Method sebagai formulasi dari ketiga elemen tersebut.
Wendy HS menekuni teater sejak tahun 90-an di kelompok Teater Plus, INS Kayutanam, Sumatera Barat. wendy merupakan alumni INS Kayutanam, alumni Jurusan Seni Teater ISI Yogyakarta, dan alumni PSPSR Sekolah Pascasarjana, UGM Yogyakarta. Ia tinggal di yogyakarta sejak 1996 sampai 2006, lalu kembali ke kampung halamannya menjadi pengajar di Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang. wendy HS mendirikan Teater Tambologi Padangpanjang. Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Wendy aktif memimpin proses kreatif penciptaan pertunjukan kontemporer berbasis Total Body Performance Method yang dikembangkannya di kelompok Indonesia Performance Syndicate.
—
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Workshop diadakan di Studio Plesungan:
Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar 57181
Pendaftaran dibuka sampai tanggal 2 Februari 2023
Registrasi dapat dilakukan melalui:
https://bit.ly/3SsDTCe
Kontak:
+62 821-3322-9593 (Razan/Verina)
Workshop & Lecture
Claudia Bosse
Minggu, 20 November 2022
13.00 – 18.00 WIB
di Studio Plesungan
—
Claudia Bosse tinggal di Wina dan Berlin. Ia adalah seorang sutradara, koreografer, dan direktur dari jaringan transdisipliner “theatercombinat”. Karyanya-karyanya bernegosiasi dengan bentuk-bentuk kekerasan, sejarah, dan utopia yang konkrit. Ia memahami perluasan koreografinya sebagai “sebuah seni komunitas temporer” – juga dengan makhluk non-manusia – di dalamnya, ia merajut mitos, rituals, teks, dan arsip dari tubuh, bahasa, benda, dan paduan suara dalam penciptaan karya-karyanya. Di dalam dan luar Eropa, museum, arsitektur, teater, lanskap, dan ruang urban, ia menciptakan karya situs-spesifik, performans, dan intervensi.
Claudia aktif mengajar sebagai professor tamu, menyampaikan kuliah dan menulis beberapa publikasi. Ia menginisasi dan berpartisipasi dalam beberapa proyek penelitian, dan terus bekerjasama dengan seniman dan ilmuwan dari berbagai genre.
Saat ini Claudia Bosse bersama Teatercombinat sedang berada di Studio Plesungan sebagai seniman residensi. Akhir dari residensi ini, mereka akan mementaskan “Oracle and Sacrifice”, salah satu karya mereka yang diproduksi pada tahun 2020 dengan adaptasi di lingkungan alam Studio Plesungan.
Pada workshop ini, Claudia Bosse akan memberikan metode kerja artistiknya tentang pemikiran ekologis, tubuh, dan ruang. Workshop akan mengikutsertakan praktik yang berhubungan dengan tubuh dan ruang, serta material dari karya-karyanya yang telah dikerjakan maupun yang sedang dalam proses penciptaan.
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Workshop diadakan di Studio Plesungan:
Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar 57181
Pendaftaran dibuka sampai tanggal 18 November 2022
Registrasi dapat dilakukan dengan menghubungi:
+62 821-3322-9593 (Razan/Verina)
VOICE AND INNER MOVEMENT: A SHARING-WORKSHOP SESSION
Sunday, November 13th, 2022
10:00 – 13:00
at Studio Plesungan
Free Admission !

Using themes gleaned from their personal and training experiences, the facilitator will conduct a two-part sharing and workshopping session for the group to collectively explore vocal sounding as a primary modality of inner movement. ‘Voice’ is introduced as a multi-layered notion that can move between different scales and times of the self: from one’s most intimate and psychological sense of ‘I’ to a shared social-political identity with a community, other species, and life itself. To deepen this reflection, participants are invited to explore the creative and physical act of vocalising—through tones, textures, utterances, etc—after two short preparatory exercises in vocal sound production (diaphragmmatic breathing and glottal awareness). The group improvisation exercise will be loosely supported through sonic cues provided by the facilitator, until it organically comes to a close. The session closes with participants each sharing and listening to one another’s impressions of the improvised chant.
ANJELINE DE DIOS (b.1982, Manila) is a chant artist who explores listening and other sonic infrastructures of healing. Jeline’s formative experiences of singing in her home communities of family and university choir eventually led to her specialising in Western classical and popular styles of vocal performance. Parallel to her singing, she maintained an exploratory meditation practice in hatha yoga, Jesuit contemplative, vipassana, Tibetan, ayahuasca, and nondual Christian contexts. She also pursued academic degrees in philosophy (BA, MA, Ateneo de Manila University), applied ethics (MA, Linkoping University), and cultural geography (PhD, National University of Singapore), where she studied the cultural politics of work, migration, sound, and identity. She is co-editor of the Elgar Handbook on the Geographies of Creativity (Elgar, 2020) and is writing a monograph based on her dissertation on migrant Filipino musicians.
From 2015, Jeline has blended her varied histories of learning into an interdisciplinary performance inquiry that ‘listens to listening’ as a guiding ethic of healing and creative potential. In private listening sessions and public workshop offerings, she uses her practices of improvised loop chanting and ethnographic research to facilitate sonic experiences of inner resonance and collective thinking. Her pedagogical approach is informed by her teaching and research experiences as a transnational Filipina academic, notably as Postdoctoral Fellow at the Asia Research Institute (2016) and as Assistant Professor in the Department of Cultural Studies at Lingnan University, Hong Kong (2017-2021). Anjeline’s performance experience is rooted in collaborations across/from Southeast Asia with artists and collectives such as Ryan Villamor, Tusa Montes, Ea Torrado/Daloy DC, WSK, and White Space Wellness (PH); Spring Workshop Improvised Music Collective, Ascolto Studio, and Wong Kit Yi (HK); Singing Bowl Gallery and HOM Studio (SG); and Mele Yamomo, Carla Boregas, and Ballhaus Naunyanstrasse (DE). She recently completed the Regional Open Source Hardware and Art (ROSA) group residency at Lifepatch and Hackteria (Yogyakarta), where she conducted listening workshops at Kebun Kali Code, Omah Kebun, and Studio Plesungan (Solo). She lives in Quezon City, Philippines. Her website is anjeline.net.
BUTOH WORKSHOP WITH YUKO KASEKI and KATSURA KAN
Hari dan Tanggal : Selasa & Rabu, 17 & 18 Desember 2019
Pukul : 09:00 – 16:00
Tempat: Studio Plesungan, Desa Plesungan rt03 rw02no 16, Plesungan,
Gondangrejo, Karanganyar 57181