On Stage
Hari dan Tanggal : Rabu, 8 Juli 2026
Pukul : 19:30 – 22:00 WIB
Tempat : Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No.57, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57731
ROOT
Hari Ghulur
ROOT merupakan karya terbaru Hari Ghulur yang berangkat dari eksplorasi atas mendak atau tanjak—teknik kuda-kuda dasar yang menjadi fondasi berbagai tradisi tari di Jawa, Bali, dan wilayah Nusantara lainnya. Sebagai pijakan tubuh, mendak menempatkan manusia sedekat mungkin dengan tanah. Kaki mencengkram permukaan, menyangga berat tubuh agar tidak runtuh, sementara tubuh bagian atas bergerak ke segala arah, seolah menolak tunduk pada gravitasi. Di antara dua tarikan itu antara keinginan untuk tetap berakar dan dorongan untuk menjadi bebas maka terbentuklah ruang pengalaman yang menjadi inti karya ini.
Hari menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam sebuah koreografi yang menguji hubungan tubuh dengan objek, ruang, dan ingatan. Tubuh tidak hanya bergerak, tetapi terus-menerus bernegosiasi dengan kondisi yang berubah. Koreografi menjadi sebuah peristiwa tentang daya tahan: bagaimana tubuh bertahan menghadapi ketidakstabilan, ketidaknyamanan, dan ketidakpastian.
Terpal dan jagung dihadirkan sebagai lanskap tempat tubuh mengalami negosiasi tersebut. Permukaan terpal yang licin dan butiran jagung yang berserakan menghilangkan kepastian pijakan. Setiap langkah menuntut penyesuaian baru; setiap perpindahan berat badan mengandung risiko tergelincir, rasa sakit, atau kehilangan keseimbangan. Ketidaknyamanan bukanlah hambatan, melainkan kondisi yang sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bagaimana tubuh membangun strategi bertahan, menemukan kembali pusat gravitasinya, dan terus bergerak di tengah situasi yang rapuh.
Pemilihan jagung berakar pada ingatan kolektif masyarakat Madura. Selama bertahun-tahun, jagung menjadi sumber pangan utama sekaligus simbol kemampuan bertahan hidup di tengah keterbatasan. Dalam perjalanan sejarahnya, jagung pernah dilekatkan pada citra kemiskinan dan perlahan tergantikan oleh beras serta budaya pangan yang baru. Namun hari ini, jagung kembali memperoleh makna yang berbeda: bukan lagi sebagai penanda keterpaksaan, melainkan sebagai pilihan yang lahir dari kesadaran akan kesehatan, keberlanjutan, dan hubungan yang lebih dekat dengan tanah tempat kehidupan bertumbuh.
Melalui ROOT, Hari Ghulur mengajak kita memandang kembali jagung bukan semata sebagai bahan pangan, melainkan sebagai medium untuk memikirkan ulang relasi antara tubuh, tanah, dan ingatan. Setiap pijakan di atas butiran jagung menjadi sebuah tindakan untuk merasakan kembali akar-akar yang menopang keberadaan manusia—akar yang tidak menghalangi kebebasan, tetapi justru memungkinkan tubuh untuk terus bergerak, beradaptasi, dan bertahan.
Moh. Hariyanto, yang dikenal dengan nama Hari Ghulur, adalah koreografer dan penari yang berbasis di Surabaya. Lanskap penciptaannya berakar pada Madura, pulau tempat ia dilahirkan. Karya-karyanya bertolak dari pengalaman personal yang tumbuh melalui praktik tubuh, sekaligus merefleksikan hubungan antara tradisi, ruang hidup, dan transformasi sosial.
Karya-karyanya, antara lain Ghulur, Ghabal, White Stone, Sila, SILO, dan Jap_Vanese, telah dipresentasikan di berbagai forum internasional, termasuk T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Arts Festival, University of Malaya, International Odoru Akita Dance Festival, American Dance Festival, dan Indonesia Dance Festival.
Hari meraih gelar Magister Penciptaan Seni (Tari) dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Saat ini ia mengajar di Program Studi Tari dan Teater STKW Surabaya serta menjadi salah satu pendiri Sawung Dance Studio dan Sawung Dance Festival.
Presentasi karya ini merupakan bagian dari program Studio Plesungan, ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan menjadi ruang bagi riset, proses kreatif, presentasi karya, residensi seniman, lokakarya, kuliah terbuka, dan berbagai bentuk pertukaran pengetahuan dalam bidang seni performans, seni rupa, dan seni pertunjukan, dengan komitmen untuk memperkuat kedaulatan pengetahuan dan ekosistem kerja seni.
_________________
ROOT
Hari Ghulur
ROOT is Hari Ghulur’s latest work, emerging from an exploration of mendak or tanjak—the foundational stance shared by many dance traditions across Java, Bali, and other parts of the Indonesian archipelago. As a corporeal foundation, mendak brings the body into close proximity with the earth. The feet grip the ground, bearing the body’s weight to prevent collapse, while the upper body is liberated to move in every direction, as if refusing the pull of gravity. Between these two opposing forces—the urge to remain rooted and the desire to become free—lies the embodied terrain that forms the core of this work.
Hari translates this principle into a choreography that examines the relationship between body, object, and memory. The body does not simply move; it continuously negotiates shifting conditions. Choreography becomes an event of endurance—a practice of inhabiting instability, discomfort, and uncertainty.
A tarpaulin and scattered corn kernels compose the landscape in which this negotiation unfolds. The slippery surface of the tarpaulin and the unstable footing created by the corn deny any certainty of balance. Every step demands constant adjustment; every shift of weight carries the possibility of slipping, pain, or collapse. Discomfort is not presented as an obstacle, but as a condition deliberately constructed to reveal how the body develops strategies for survival, rediscovers its center of gravity, and continues to move through fragile circumstances.
The choice of corn is rooted in the collective memory of the Madurese people. For generations, corn served as their staple food and became a symbol of resilience amid scarcity. Over time, however, it was increasingly associated with poverty and gradually displaced by rice and changing food cultures. Today, corn returns with a different significance—not as a sign of deprivation, but as a conscious choice connected to health, sustainability, and a renewed relationship with the land from which life emerges.
Through ROOT, Hari Ghulur invites us to reconsider corn not merely as food, but as a medium through which to reflect on the relationship between body, land, and memory. Every step upon the scattered kernels becomes an act of reconnecting with the roots that sustain human existence—roots that do not restrain freedom, but instead make movement, adaptation, and endurance possible.
Moh. Hariyanto, known professionally as Hari Ghulur, is a choreographer and dancer based in Surabaya, Indonesia. His artistic practice is deeply rooted in Madura, the island where he was born. Drawing from embodied personal experiences, his works investigate the intersections of tradition, lived experience, and social transformation.
His choreographic works—including Ghulur, Ghabal, White Stone, Sila, SILO, and Jap_Vanese—have been presented at numerous international platforms, including T.H.E Contact Contemporary Dance, Europalia Arts Festival, the University of Malaya, the International Odoru Akita Dance Festival, the American Dance Festival, and the Indonesia Dance Festival.
Hari received his Master’s degree in Dance Creation from the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta. He currently teaches in the Dance and Theatre Department at STKW Surabaya and is a co-founder of Sawung Dance Studio and the Sawung Dance Festival.
This presentation is part of the program of Studio Plesungan, an independent arts space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar, Central Java. Studio Plesungan provides a platform for artistic research, creative development, public presentation, artist residencies, workshops, open lectures, and critical discourse across performance art, visual art, and the performing arts, with a commitment to strengthening knowledge sovereignty and sustainable artistic ecosystems.
