Safrizal

On Stage

Tarekat AK-47

By Safrizal

Jumat, 08.05.2026

19:30 WIB

Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah

 Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah

Tarekat AK-47 merupakan bagian ketiga dari riset artistik panjang Dekjall tentang praktik tarekat yang telah ia jalani selama enam tahun terakhir. Dalam praktiknya, tarekat bertransformasi dari laku spiritual menjadi kerangka kerja artistik yang secara aktif digunakan Dekjall untuk menelusuri, mengartikulasikan, dan mentransformasikan pengalaman hidupnya ke dalam praktik koreografi.

Setelah Tarekat Kopi #1: Ruang Pembebasan (2023) dan Tarekat Kopi #2: Happiness Plus-Plus (2024), karya ini bergerak dengan memanggil kembali ingatan masa kecil hingga remajanya atas sejarah konflik-perang (GAM/RI) yang dialaminya di Aceh pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Tarekat AK-47 tidak berupaya merekonstruksi peristiwa, melainkan menempatkan tubuh sebagai arsip yang menyimpan jejak konflik melalui refleks, tegangan, dan respons tubuh yang terbentuk di bawah ancaman. Praktik tarekat menjadi cara untuk membongkar sekaligus menguji kembali ingatan tersebut dalam kerja koreografi.

AK-47 yang hadir dalam pengalaman Dekjall adalah senjata perang yang sempat ia genggam dan main-mainkan di masa kecil.  Kini, jejak genggaman AK-47 itu dimaknai ulang sebagai simpul antara tubuh, ingatan, keos, dan pertanyaan-pertanyaan yang belum usai. Di antara latihan spiritual dan pengalaman konflik, tubuh berada dalam kondisi yang serupa: waspada, terlatih, dan terus bernegosiasi dengan apa yang datang dari dalam maupun dari luar.

Karya ini berangkat dari pertanyaan yang terus kembali, tidak pernah benar-benar selesai: bagaimana tubuh mengingat, bertahan, dan hidup bersama jejak konflik yang tetap bersemayam di dalamnya?

Tarekat AK-47 is the third part of Dekjall’s long-term artistic research on tarekat practice, which has been engaged in for the past six years. In his practice, tarekat transforms from a spiritual path into an artistic framework—one that Dekjall actively uses to explore, articulate, and transform his lived experiences into choreographic practice.

Following Tarekat Kopi #1: Ruang Pembebasan (2023) and Tarekat Kopi #2: Happiness Plus-Plus (2024), this work moves through memories from his childhood to adolescence, shaped by the history of the conflict between the Free Aceh Movement (GAM) and the Indonesian government (RI) he experienced in Aceh in the late 1990s to early 2000s.

Tarekat AK-47 does not attempt to reconstruct events; instead, it situates the body as an archive that holds traces of conflict through reflexes, tensions, and bodily responses formed under threat. Tarekat becomes a way to dismantle and re-examine these memories within choreographic work. 

The AK-47, present in Dekjall’s experience, is a weapon he once held and played with as a child. Today, the imprint of the AK-47 is reinterpreted as a node between the body, memory, chaos, and unresolved questions. Between spiritual practice and lived conflict, the body occupies a similar condition: alert, trained, and continuously negotiating what emerges from within and from without. 

This work holds a question that keeps returning, never fully resolved: how does the body remember, endure, and live the trace of conflict that continues to reside within? 

Safrizal, yang akrab disapa DekJall, adalah seorang koreografer asal Aceh yang berbasis di Solo. Karya-karyanya mengeksplorasi pertemuan antara disiplin spiritual, pengalaman tubuh, dan kehidupan sehari-hari di Aceh. Berakar pada tradisi tarekat yang telah lama dipraktikkan, ia menerjemahkan nilai-nilai kontemplatif dan asketik ke dalam proses koreografi yang merangkai tubuh, ruang, waktu, kesadaran, dan semesta. Saat ini, ia tengah mengembangkan metode gerak yang disebut membumi—sebuah pendekatan untuk penyembuhan tubuh sekaligus menegaskan kembali keterhubungan tubuh dengan bumi. Eksplorasi artistiknya berfokus pada persilangan antara tradisi, spiritualitas, dan modernitas, di mana koreografi berfungsi sebagai arsip hidup dari pengalaman yang ditubuhkan. Dekjall telah lebih dari tiga tahun bekerja bersama Kolektif Katalis yang dibingkai dalam program LaborArt Project

Safrizal, affectionately known as DekJall, is a choreographer from Aceh, Indonesia, currently based in Solo. His works explore the intersections between spiritual discipline, bodily experience, and everyday life in Aceh. Rooted in the long-practised tradition of tarekat (Sufi orders), he translates contemplative and ascetic values into choreographic processes that interweave body, space, time, consciousness, and the universe. He is currently developing a movement method called membumi (earth-rooting)—an approach to bodily healing that also reaffirms the body’s connection to the earth. His artistic exploration focuses on the intersections of tradition, spirituality, and modernity, in which choreography serves as a living archive of embodied experience. For more than three years, Dekjall has been working with Katalis Collective as part of the LaborArt Project.

Anne Shakka lahir dan tumbuh besar di Temanggung. Setelah itu, ia melanjutkan studinya di Yogyakarta, mengambil kuliah Psikologi. Dia kemudian melanjutkan kuliah ke Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, Ilmu Religi dan Budaya. Kegelisahannya sebagai orang keturunan Cina tidak juga habis terutama dalam kondisi negara yang seperti saat ini membuat Anne banyak menuliskan kegelisahan tersebut dalam beberapa tulisan.