Solo Butoh #2 Artists

Aki Bando menempuh studi seni rupa dengan fokus pada seni patung dan seni yang menggunakan tubuh sebagai medium utama di universitas. Selain pendidikan formalnya, ia juga mengikuti berbagai lokakarya yang dipimpin oleh Atsushi Takenouchi serta sejumlah seniman Butoh ternama di Jepang. Selain bekerja di balik layar di berbagai festival musik di dalam dan luar negeri, Aki juga tampil bersama sebuah band di Fuji Rock Festival tahun 2016 dan 2017, salah satu festival musik terbesar di Jepang.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang tak pernah padam dan jiwa petualang, Aki kemudian melakukan perjalanan pencarian diri melintasi Asia, Amerika, dan Australia, hingga akhirnya menetap di pulau subtropis Okinawa. Dari sana, ia terus berkarya dan mempersembahkan seni serta musik yang berpusat pada tema “miselium” dan “jamur.” Baru-baru ini, Aki menyelesaikan kursus intensif Butoh di Himalaya Subbody Resonance School dan mengikuti lokakarya yang dipimpin oleh maestro Butoh legendaris, Mushimaru Fujieda.

Melalui praktik “resonansi kehidupan,”Aki mengeksplorasi dialog antara tubuh dan lanskap bunyi di sekitarnya, menjadikannya medan eksperimen untuk penjelajahan batin dan luar diri. Proses ini kemudian melahirkan kolektif seniman Uchutai (Tubuh-Antariksa).

Aki Bando studied sculpture and physical performance while majoring in fine arts at university. Alongside her academic training, she also attended workshops led by Atsushi Takenouchi and other prominent Butoh artists in Japan. In addition to working behind the scenes at various music festivals both in Japan and abroad, Aki performed as part of a band at the Fuji Rock Festival in 2016 and 2017, one of Japan’s largest music events.

Driven by an insatiable curiosity and a spirit of adventure, Aki later embarked on a soul-searching journey across Asia, America, and Australia, eventually settling on the subtropical island of Okinawa. From there, she continues to create and present artworks and music centered around the themes of “mycelium” and “fungi.” Recently, Aki completed an intensive Butoh course at the Himalaya Subbody Resonance School and participated in a workshop led by the legendary Butoh master Mushimaru Fujieda.

Through her practice of “life resonance,” she explores the dialogue between the body and its surrounding soundscapes, using them as an experimental ground for inner and outer exploration. This ongoing inquiry recently led to the founding of the artist collective Uchutai (Space-Body).

Aki Bando, "Untitled", Solo Butoh#2,2019 Photo by Shania
Aki Bando, "Untitled", Solo Butoh#2,2019 Photo by Shania

Hanky of Sulandono

Sulandono, seorang pangeran, harus menjalani laku tapa, meninggalkan kisah cintanya dengan seorang gadis desa bernama Sulasih. Cinta dua insan dari dunia berbeda ini terhalang restu sang ayah, Raden Bahurekso, yang menolak hubungan mereka karena perbedaan status.

Tak lama berselang, sang ayah wafat, disusul kepergian ibunda Sulandono, Roro Rantamsari. Namun ujian cinta Sulandono dan Sulasih belum usai. Sulasih, gadis desa yang elok, diperebutkan oleh banyak pemuda, membuat perjalanan cinta mereka kian berliku. Ketika para pemuda desa menyembunyikan Sulasih, perkelahian pun tak terhindarkan. Dalam pertarungan itu, Sulandono nyaris kehilangan nyawa, namun diselamatkan oleh roh ibundanya. Ia kemudian dibawa pergi untuk bertapa, hanya berbekal sebuah sapu tangan — medium gaib yang menghubungkannya dengan Sulasih, yang kini telah menjadi seorang penari di alam lain.

Sebuah kisah cinta yang abadi di dunia tak kasatmata, bersemi lewat sehelai sapu tangan.

Hanky Sulandono

Sulandono, a prince bound by destiny, was called to a life of retreat — forced to abandon the love he shared with a village girl named Sulasih. Their bond, pure and untroubled by the walls of status, met its first sorrow in the stern disapproval of Sulandono’s father, Raden Bahurekso, who could not bear to see his only son entwined with one from a humble lineage.

Grief soon swept the land. The father passed, and not long after, the mother, Roro Rantamsari, followed into the silence of death. Yet even as the world shifted, new obstacles rose. Sulasih, whose beauty and spirit had captured many hearts, became a prize fiercely contested by the young men of the village. They conspired to hide her away, igniting a bitter clash. Sulandono, fighting for his beloved, was struck down, his life teetering at the edge of darkness.

In that desperate hour, it was the spirit of his mother who came — lifting him from the brink, carrying him into exile. Before she faded, she placed in his hand a single handkerchief: a sacred bridge between two worlds.

Through this slender cloth, Sulandono could find Sulasih once more — not in the realm of the living, but in the hidden dances of the spirit world, where love defied even death itself.

Jamaluddin Latif

Jamaluddin Latif lahir di Pekalongan. Ia menempuh pendidikan seni di ASDRAFI dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sejak kecil, ia telah menekuni seni pantomim, dan kemudian memperdalam ilmunya di bawah bimbingan Jemek Supardi dan Deddy Ratmoyo. Bersama kelompok Malmime-Ja, ia menciptakan berbagai karya pantomim, antara lain TROTOAR dan HALLO SITI. Saat ini, Jamaluddin menjabat sebagai Ketua Rumah Pantomim Yogyakarta. Ia aktif mengajar pantomim dan seni akting di sekolah dasar serta melalui kelas privat. Selain itu, ia pernah bergabung dengan Teater Garasi sebagai aktor pada periode 1997–2010.

Dalam perjalanan kariernya, Jamaluddin terlibat dalam berbagai proyek kolaborasi internasional, antara lain: POSTCARD dan SAND STORM (1994–1996) bersama Deborah Pollard (Australia); SAMPAH DAN HORMAT dan GOA GONG (1996–1997) bersama Berry Bernhard Tukijo (Swiss); kolaborasi aktor ASEAN dalam proyek PRISM (2003); Physical Theater Festival di Tokyo (2005); serta produksi teater-tari HISTORIO DU SOLDAT (2011) bersama Gerard Mosterd dan Dutch Chamber Music Company.

Ia juga berkolaborasi dengan Snuff Puppet Theatre Company dalam pertunjukan WEDHUS GEMBEL, yang melakukan tur di Indonesia, Australia, dan Peru pada 2011–2014. Pada 2014, ia tampil dalam pertunjukan teater tubuh PRAHARA RUMAH TANGGA, produksi Kodok Ijo Project dalam Festival Asia Tri Yogyakarta. Tahun 2016, ia tampil dalam karya performance art ROSALIND, bagian dari proyek As You Like It untuk peringatan 100 tahun William Shakespeare yang diselenggarakan oleh British Council.

Pada periode 2016–2019, Jamaluddin terlibat dalam proyek DIONYSUS, kolaborasi internasional antara SCOT (Suzuki Company of Toga, Jepang) dan Bumi Purnati (Indonesia). Ia juga berpartisipasi dalam THE DEATH OF THE TIGER AND EMPTY SEATS, kolaborasi dengan seniman instalasi Timoteus Anggawan yang dipresentasikan dalam Biennale XIV Yogyakarta (2017) dan MMCA Seoul (2018).

Selain itu, Jamaluddin aktif bekerja dalam Jaring Project, sebuah wadah kerja seni interdisipliner, dengan keterlibatan dalam proyek-proyek seperti MENJARING MALAIKAT (2016), SEKAR MURKA (2017), DRAMATIC READING (2018), dan BABAD BHOMA (2019).

Dalam bidang tari, ia juga memperkaya praktik seninya dengan belajar butoh dari para maestro seperti Yukio Waguri, Yoshito Ohno, dan Katsura Kan

Jamaluddin Latif was born in Pekalongan, Indonesia. He pursued his arts education at ASDRAFI and the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Yogyakarta. Having practiced pantomime since childhood, he later honed his skills under the mentorship of Jemek Supardi and Deddy Ratmoyo. Together with the Malmime-Ja collective, he created several pantomime works, including TROTOAR and HALLO SITI. Currently, Jamaluddin serves as the Chairperson of Rumah Pantomim Yogyakarta. He actively teaches pantomime and acting at elementary schools as well as through private classes. From 1997 to 2010, he was also a member of Teater Garasi, performing as an actor.

Throughout his career, Jamaluddin has been involved in numerous international collaborative projects, including POSTCARD and SAND STORM (1994–1996) with Deborah Pollard (Australia); SAMPAH DAN HORMAT and GOA GONG (1996–1997) with Berry Bernhard Tukijo (Switzerland); the ASEAN actors’ collaboration PRISM (2003); the Physical Theater Festival in Tokyo (2005); and HISTORIO DU SOLDAT (2011), a dance-theatre production with Gerard Mosterd and the Dutch Chamber Music Company.

He collaborated with Snuff Puppet Theatre Company in the production of WEDHUS GEMBEL, which toured across Indonesia, Australia, and Peru between 2011 and 2014. In 2014, he performed in PRAHARA RUMAH TANGGA, a physical theatre piece produced by Kodok Ijo Project for the Asia Tri Festival in Yogyakarta. In 2016, he participated in the performance art work ROSALIND, part of the As You Like It project commemorating 100 years of William Shakespeare, organized by the British Council.

Between 2016 and 2019, Jamaluddin took part in DIONYSUS, an international collaboration between the Suzuki Company of Toga (SCOT, Japan) and Bumi Purnati (Indonesia). He also participated in THE DEATH OF THE TIGER AND EMPTY SEATS, a collaborative performance with installation artist Timoteus Anggawan, presented at the 14th Yogyakarta Biennale (2017) and the MMCA Seoul (2018).

Jamaluddin is also actively engaged with Jaring Project, an interdisciplinary arts platform, contributing to works such as MENJARING MALAIKAT (2016), SEKAR MURKA (2017), DRAMATIC READING (2018), and BABAD BHOMA (2019).

Expanding his artistic practice, he has studied Butoh under renowned masters Yukio Waguri, Yoshito Ohno, and Katsura Kan.

Jamaluddin Latif, "Hangki of Sulandono", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Jamaluddin Latif, "Hangki of Sulandono", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Jamaluddin Latif, "Hangki of Sulandono", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Qnul-Agung

VOYAGE

Kita telah melakukan perjalanan dari masa lampau yang purba menuju masa depan.
Tubuh kita adalah mesin waktu, dan kita semua adalah para pengembara.
Apakah kita tahu ke mana kita sedang menuju? Atau kita hanya terus bergerak tanpa mengetahuinya?
Itu tidaklah penting — yang terpenting adalah kita terus berkembang, terus melangkah,
dan tetap membawa sesuatu yang esensial dalam perjalanan ini.

VOYAGE

We have been journeying from the ancient past toward the future.
Our bodies are time machines, and we are all travelers.
Do we know where we are heading? Or are we simply moving forward without knowing?
It doesn’t matter—what matters is that we continue to evolve, to keep moving,
and to carry with us something essential.

Katsura Kan

Katsura Kan saat ini bekerja dan tinggal di Kyoto. Keterlibatan seriusnya dalam dunia Butoh dimulai pada tahun 1979, ketika ia menjadi anggota Byakosha, sebuah kelompok Butoh asal Kyoto. Masih dalam periode tersebut, pada tahun 1986, ia mendirikan kelompok Katsura Kan & Saltimbanques. Sejak itu, Kan aktif mengembangkan proyek-proyek studi bersama seniman-seniman Asia, termasuk menyelenggarakan Festival Lokakarya Internasional “Harvesting Beauty in the Field” di Kyoto pada tahun 1991–1994.

Pada tahun 1997, Kan pindah ke Bangkok untuk mencari jejak Gajah Putih dalam masyarakat pra-modern, sekaligus memperluas kolaborasi dengan berbagai kelompok teater kontemporer Asia. Pada tahun 2001, ia memulai proyek penelitian tentang “penari minoritas,” yang membawanya berkolaborasi dengan komunitas di Bosnia, Serbia, dan Yunani. Pada tahun 2013, ia mengerjakan Beckett Butoh Notation, sebuah interpretasi Butoh atas teks-teks Samuel Beckett.

Hingga kini, Katsura Kan terus aktif memberikan lokakarya dan mempersembahkan pertunjukan Butoh di berbagai negara di dunia.

Katsura Kan

Katsura Kan works and resides in Kyoto. His serious involvement in Butoh began in 1979 when he became a member of Byakosha, a Butoh group from Kyoto. During this period, in 1986, he founded Katsura Kan & Saltimbanques. Since then, Kan has been engaged in numerous study projects with Asian artists and organized the International Workshop Festival “Harvesting Beauty in the Field” in Kyoto from 1991 to 1994.

In 1997, Kan moved to Bangkok to explore the traces of the White Elephant in pre-modern society and collaborated with various contemporary theater groups across Asia. In 2001, he initiated a research project on “minority dancers,” leading him to collaborate with communities in Bosnia, Serbia, and Greece. In 2013, he worked on Beckett Butoh Notation, an exploration of Samuel Beckett’s texts through the lens of Butoh.

To this day, Katsura Kan continues to offer workshops and perform Butoh in various countries around the world.

Katsura Kan, "Voyage", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Katsura Kan, "Voyage", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania

Menangkap Mimpi

Mimpi mencintai kita.
Mimpi datang dari jauh, seperti akar kehidupan.

Dream Catcher

Dreams love us.
Dreams come from afar, like the roots of life

Kiyoko Yamamoto

Kiyoko adalah Presiden dari Takasago Butoh Co-op, yang didirikan pada tahun 2001. Di bawah kepemimpinannya, kelompok ini berpartisipasi dalam Edinburgh Fringe Festival dan meraih rating lima bintang untuk pertunjukan yang disutradarai oleh Katsura Kan pada tahun 2001. Kiyoko aktif berpartisipasi dalam berbagai acara Butoh, tampil baik di Jepang maupun di luar negeri. Takasago Butoh Co-op terdiri dari enam anggota dan secara rutin menerbitkan buletin ODORI TIMES untuk menjaga keterlibatan komunitas. Perjalanan artistik Kiyoko didorong oleh pencariannya terhadap Butoh dalam diri setiap individu, menari dengan kepekaan mendalam dan keterhubungan dengan dunia tak terlihat yang mengelilingi kita.

Kiyoko Yamamoto

Kiyoko is the President of Takasago Butoh Co-op, established in 2001. Under her leadership, the company participated in the prestigious Edinburgh Fringe Festival, where they received a five-star rating for a performance directed by Katsura Kan in 2001. Kiyoko is an active participant in numerous Butoh events, performing both in Japan and internationally. Takasago Butoh Co-op consists of six members and regularly publishes the newsletter ODORI TIMES to keep the community engaged. Kiyoko’s artistic journey is driven by her exploration of Butoh in every individual, dancing with profound sensitivity and attunement to the unseen world that surrounds us.

Kiyoko Yamamoto, "Dream Catcher", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Kiyoko Yamamoto, "Dream Catcher", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania

At the Beach

At the Beach is a creation based on improvisation.

Di Pantai

Di Pantai imerupakan karya ciptaan Noriko yang berbasis pada improvisasi.

Noriko Omura (Presiden Butoh Tosaha) lahir pada tahun 1952 di Kochi, Jepang. Ia memulai perjalanan artistiknya pada tahun 1970 dengan bergabung dalam gerakan pertunjukan bawah tanah sebagai anggota kelompok Tenshougikan. Pada tahun 1991, ia menjadi koreografer untuk film Yumeji dan mendirikan studio tari miliknya, DANCECREAM. Pada tahun 2003, ia tampil dalam film Akame Shijuyataki Shinju Misui.
Setelah pensiun dari pengelolaan studionya, Omura tetap aktif berkarya sebagai instruktur tari lepas, koreografer, dan penari.
Pada tahun 2014, ia bertemu dengan Katsura Kan, yang menjadi awal keterlibatannya secara mendalam dalam dunia Butoh. Empat tahun kemudian, pada tahun 2018, ia mendirikan Butoh Tosaha dan berpartisipasi dalam Kyoto International Butoh Festival.

Noriko Omura (President of Butoh Tosaha) was born in 1952 in Kochi, Japan. She began her artistic journey in 1970 by joining the underground performance movement as a member of the Tenshougikan group. In 1991, she worked as a choreographer for the film Yumeji and founded her own dance studio, DANCECREAM. In 2003, she appeared in the film Akame Shijuyataki Shinju Misui.
After retiring from managing her studio, Omura continued her artistic activities as a freelance dance instructor, choreographer, and performer.
In 2014, she encountered Katsura Kan, which marked the beginning of her deep engagement with Butoh. In 2018, she founded Butoh Tosaha and took part in the Kyoto International Butoh Festival.

Noriko Omura, "On the Beach", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Noriko Omura, "On the Beach", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania

Wendy HS mempelajari teater sejak tahun 1990-an di kelompok Teater Plus, INS Kayutanam, Sumatera Barat. Ia merupakan alumni INS Kayutanam, Jurusan Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, serta program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Wendy tinggal di Yogyakarta sejak 1996 hingga 2006. Sejak tahun 2006, ia menjadi pengajar di Program Studi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang, dan mendirikan Teater Tambologi Padangpanjang pada tahun 2007.

Sebagai aktor, Wendy telah terlibat dalam berbagai produksi, di antaranya Perguruan karya Wisran Hadi (sutradara Yusril) di Graha Bhakti Budaya, TIM (1995); Mal Praktik karya Molière (sutradara Puthut Buchori) di Societet Militer dan TVRI Yogyakarta (2001); Orang-Orang yang Bergegas karya Puthut EA (sutradara Landung Simatupang), tur di lima kota di Pulau Jawa (2003); serta sejumlah pementasan monolog di HRV Jakarta dan lainnya.

Sebagai sutradara, Wendy pernah mengarahkan Ionesco di Societet Militer Yogyakarta (2004); dan produksi-produksi Teater Tambologi Padangpanjang seperti Tambologi 1: Retroaksi yang dipentaskan di Tambud Sumatera Barat, Tambud Lampung, dan Jakarta Art Festival (2007–2008); serta Tambo Rantau: Kabar dari Nagari Laki-Laki (2009), produksi kerja sama dengan Sanggar Sikambang Manih, Rantau Batuah, Malay Residence, Singapura.

Wendy HS began studying theatre in the 1990s with Teater Plus at INS Kayutanam, West Sumatra. She is an alumna of INS Kayutanam, the Theatre Arts Department at the Faculty of Performing Arts, Indonesian Institute of the Arts (ISI) Yogyakarta, and the Graduate Program at Gadjah Mada University (UGM), Yogyakarta. Wendy lived in Yogyakarta from 1996 to 2006. Since 2006, she has served as a lecturer in the Theatre Arts Program at the Faculty of Performing Arts, ISI Padangpanjang, and in 2007, she founded Teater Tambologi Padangpanjang.

As an actor, Wendy has performed in numerous productions, including Perguruan by Wisran Hadi (directed by Yusril) at Graha Bhakti Budaya, TIM (1995); Mal Praktik by Molière (directed by Puthut Buchori) at Societet Militer and TVRI Yogyakarta (2001); and Orang-Orang yang Bergegas by Puthut EA (directed by Landung Simatupang), which toured five cities across Java Island (2003). She has also appeared in several monologue performances at HRV Jakarta and other venues.

As a director, she staged Ionesco at Societet Militer Yogyakarta (2004); and led various productions by Teater Tambologi Padangpanjang, including Tambologi 1: Retroaksi, performed at Tambud West Sumatra, Tambud Lampung, and the Jakarta Art Festival (2007–2008); and Tambo Rantau: Kabar dari Nagari Laki-Laki (2009), a production in collaboration with Sanggar Sikambang Manih, Rantau Batuah, and the Malay Residence in Singapore.

Wendy HS, "Tanpa Judul", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Wendy HS, "Tanpa Judul", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania

Air yang Teriris

Suara angin, cahaya dan bayangan, aroma awan hujan, menari bersama bayangan diri sendiri.

Mengambil noda tinta dan serpihan kata, menjelajah melalui titik dan garis.

Waktu tak terbatas, pergi tanpa jejak langkah.

Apa yang akan tertinggal?

Apa yang akan kau tinggalkan?

Koreografi/Tari: Yuko Kaseki
Karya Seni: Morvarid K

Sliced Water

The sound of the wind, light and shade, the smell of rain clouds, dance with own shadow.

Pick up ink smudges and fragments of words, and travel through dots and lines.

The time is infinite, leaving without footsteps.

What will be left behind?

What will you leave?

Choreography/ Dance: Yuko Kaseki
Art work: Morvarid K

Yuko Kaseki adalah seorang sutradara, koreografer, penari Butoh, performer, dan pengajar yang berbasis di Berlin sejak tahun 1995. Ia mempelajari tari Butoh dan Seni Pertunjukan di HBK Braunschweig bersama Anzu Furukawa, dan menari dalam kelompok Dance Butter Tokio serta Verwandlungsamt dari tahun 1989 hingga 2000.

Pada tahun 1995, Yuko Kaseki mendirikan kelompok tari cokaseki dan sejak itu terlibat dalam berbagai proyek bersama musisi internasional seperti Kazuhisa Uchihashi, Antonis Anissegos, Emilio Gordoa, Audrey Chen, Axel Dörner; seniman visual seperti Chiharu Shiota, Nikhil Chopra, Arata Mori; serta penari/performer seperti Shinichi Iova Koga, Minako Seki, Christine Bonansea, Isak Immanuel, Sherwood Chen, dan lainnya.

Pertunjukan solo dan kelompok, serta improvisasi, telah ia tampilkan di lebih dari 30 negara. Karya-karyanya merupakan akumulasi dari citra-citra puitis dan penuh warna yang menggabungkan semangat Butoh, seni pertunjukan, dan seni hidup (live art). Pertunjukannya bertujuan untuk merefleksikan keberadaan mereka yang berada di pinggiran (outsider).

Kolaborasinya dengan Teater Disabilitas Theater Thikwa (Berlin) mengguncang konsep tari yang ia miliki dan memberikan pengaruh besar terhadap praktik artistiknya selanjutnya. Minatnya yang kuat untuk menembus batas-batas ekspresi tubuh telah membawanya pada banyak kolaborasi dengan seniman difabel, seperti Roland Walter (Berlin), Sung Kuk Kang (Seoul), dan Zan-Chen Liao (Taipei).

Kolaborasi internasional lainnya meliputi kerja sama dengan kelompok seperti inkBoat (San Francisco), Tableau Stations (San Francisco), CAVE (New York), Poema Theater (Moskow), Salad Theater (Seoul), dan lainnya.

www.cokaseki.com

Yuko Kaseki is a Director, choreographer, Butoh dancer, performer, and teacher in Berlin since 1995. She studied Butoh dance and Performing Art in HBK Braunschweig with Anzu Furukawa and danced in her company Dance Butter Tokio and Verwandlungsamt in 1989-2000.

Yuko Kaseki founded the dance company cokaseki in 1995 and she has been involved in various projects with international musicians such as Kazuhisa Uchihashi, Antonis Anissegos, Emilio Gordoa, Audrey Chen, Axel Dörner, visual artist such as Chiharu Shiota, Nikhil Chopra, Arata Mori, dancer/performer such as Shinichi Iova Koga, Minako Seki, Christine Bonansea, Isak Immanuel, Sherwood Chen and others.

Solo and ensemble performances, improvisations are performed in 30 countries. These creations are accumulation of poetic and vivid images that incorporate the spirit of Butoh, performance and live art. Her performance aims to reflect the outsider’s existence.

Collaboration with the Disabled Theater Company Theater Thikwa (Berlin) overturns the concept of her dance and has a great influence on subsequent activities. Her strong interest in breaking borders of physical expression led and lead to many collaborations with mixed ability artists such as Roland Walter (Berlin), Sung Kuk Kang (Seoul) and Zan-Chen Liao (Taipei).

International collaboration such as inkBoat (San Francisco), Tableau Stations (San Francisco), CAVE (New York), Poema Theater (Moscow), Salad theater (Seoul) and others.

www.cokaseki.com

Yuko Kaseki, "Sliced Water", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania
Yuko Kaseki, "Sliced Water", Solo Butoh #2, 2019. Photo by Shania

Suprapto Suryodarmo (1945 – 2019)

Lahir pada tahun 1945 di Solo, Suprapto Suryodarmo tinggal dan berkarya di kota kelahirannya, Solo, Indonesia. Sejak tahun 1970, ia mendalami gerakan bebas, meditasi Vipassana, dan Sumarah—sebuah teknik meditasi tradisional Jawa. Pada tahun 1974, ia menciptakan Wayang Buddha, sebuah bentuk seni pertunjukan yang mencerminkan pencarian spiritualnya.

Karya-karya Suprapto berangkat dari niat utama untuk mengeksplorasi bagaimana seni gerak dapat membebaskan manusia dari keterikatan identitas. Dari proses tersebut, ia mengembangkan teknik dan ajaran gerak yang dikenal sebagai Gerakan Amerta. Penampilannya berakar kuat pada esensi ritual serta relasinya dengan alam dan spiritualitas, dengan Gerakan Amerta sebagai elemen utama dalam praktik artistiknya.

Pada tahun 1986, ia mendirikan Padepokan Lemah Putih di Solo sebagai pusat pembelajaran dan praktik Gerakan Amerta. Ia juga menggagas berbagai festival seni, baik di Indonesia maupun mancanegara, di antaranya Pasamuan Seni dan Ketuhanan, Pasamuan Seni Desa, Grebeg Lawu, Gerakan Berbagi, dan Web Art Garden.

Sejak tahun 1983, Suprapto aktif memberikan lokakarya dan menampilkan karyanya di berbagai negara, termasuk Indonesia, Eropa, Australia, Filipina, Amerika Serikat, dan banyak negara lainnya.

Suprapto Suryodarmo (1945 – 2019)

Born in 1945 in Solo, Indonesia, Suprapto Suryodarmo lives and works in his hometown. Since 1970, he has studied free movement, Vipassana meditation, and Sumarah, a traditional Javanese meditation technique. In 1974, he created Wayang Buddha, a performative form that reflects his spiritual exploration.

His artistic journey has been driven by a desire to explore how movement-based art can help liberate individuals from the attachments of identity. From this exploration, he developed a technique and philosophy of movement known as Amerta Movement. His performances are deeply rooted in ritualistic essence and a connection to nature and spirituality, with Amerta Movement serving as the core element of his artistic practice.

In 1986, he founded Padepokan Lemah Putih in Solo as a center for learning and practicing Amerta Movement. He has also initiated numerous arts festivals, both in Indonesia and abroad, including Pasamuan Seni dan Ketuhanan (Gathering of Art and Divinity), Pasamuan Seni Desa (Village Arts Gathering), Grebeg Lawu, Gerakan Berbagi (Movement of Sharing), and Web Art Garden.

Since 1983, Suprapto has conducted workshops and performed across various countries, including Indonesia, Europe, Australia, the Philippines, the United States, and many others.