Tag: #onstage

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24 

Pertunjukan Lintas Budaya yang Mengeksplorasi Ingatan, Migrasi, dan Identitas Lewat Sebuah Lagu Rakyat

ON STAGE #24  SOLO oleh Li, Wen-Hao

Jumat, 25 Juli 2025

19:30 WIB – selesai

di  Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir Sutami 16, Surakarta

____________________________________________________

Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.

Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.

ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.

______________________________________________________

Tracing a River of Memory: Studio Plesungan Presents ON STAGE #24 

“SOLO” by Li, Wen-Hao

A Cross-Cultural Performance Exploring Memory, Migration, and Identity Through a Folk Song

Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan proudly announces the 24th edition of its signature performance program, ON STAGE, featuring the work SOLO by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

At the heart of SOLO is the legendary Indonesian folk song Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940. Reverberating through Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian adaptations, this iconic melody becomes the starting point of Li’s exploration of post-war cultural flows, ethnic formation, and the poetics of migration across Asia. Through his singular performance, SOLO becomes a metaphorical river—carrying with it half a century of personal and collective dreams, displacements, and histories.

Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an academic background in law and a master’s degree in performance theory, Li’s work investigates the intersections of power, memory, and politics across disciplines.

ON STAGE is a regular program curated by Studio Plesungan to highlight diverse voices in contemporary performance. Presented once every two months, the program invites selected artists to perform and engage in dialogue with the public, fostering a deeper appreciation for performance art in Indonesia and beyond.

Acara tambahan: Diskusi publik bersama seniman

TICKET

Harga Tiket:

Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;

Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;

Kategori C (early booking umum) Rp30.000;

Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:

https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9

___
Kontak Info:

HP/Whatsapp +6282133229593

info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Wahyu Thoyyib Pambayun

ON STAGE

Rabu, 12 Juli 2023
19:30 WIB
di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl Ir. Sutami 57, Kentingan, Surakarta 57126
_________________________________

JAGAD GÊNDÈR GUMÊLAR

oleh Wahyu Thoyyib Pambayun

On Stage edisi ke-16 mempersembahkan Jagad Gêndèr Gumêlar, sebuah karya komposisi musik dari Wahyu Thoyyib Pambayun, komposer muda asal Solo. Pertunjukan ini akan digelar pada Rabu, 12 Juli 2023, di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah.

Jagad Gêndèr Gumêlar merupakan rangkuman perjalanan artistik Wahyu dalam mengeksplorasi instrumen gêndèr. Melalui lima komposisi yang disusun antara tahun 2017 hingga 2022, Wahyu berupaya memperluas bahasa musikal gêndèr, merombak struktur ritmis yang baku menjadi lebih cair, serta mengolah garis-garis melodi yang biasanya jernih menjadi lebih bergejolak. Karya ini menawarkan pendekatan yang terbuka terhadap gêndèr, sebagai instrumen maupun sebagai ruang eksperimentasi, guna menghadirkan pengalaman musikal yang mendalam dan beragam.

Jagad Gêndèr Gumêlar mengeksplorasi beragam pola permainan, laya, dinamika, dan pengembangan teknik secara luwes terhadap pakem dan batas-batas tradisi.


Komposisi-komposisi yang Disajikan:

GUMRINING (2021)
Disusun untuk gender barung dan gender penerus, Gumrining mengeksplorasi teknik pipilan pada dua instrumen yang menggunakan laras berbeda: slendro dan pelog nem. Penggabungan dua laras ini menciptakan tantangan dalam posisi duduk, tata letak instrumen, serta permainan pithetan. Komposisi ini menyoroti interferensi gelombang bunyi dari interval laras yang berbeda.
Telah dipentaskan dalam:”Jelajah Bunyi Nusantara”, Taman Budaya Cak Durasim, Jawa Timur (2021), Pergelaran Virtual Nasional Bali-Dwipantara Adinatya, ISI Denpasar (2021),Gamelan Composers Forum (2022)

UMBARAN (2022)
Diciptakan untuk proyek komisi Gamelan Pacifica di Seattle, USA. Komposisi ini mengeksplorasi teknik umbaran—memainkan bilah-bilah gêndèr tanpa menahan resonansinya, yang menghasilkan efek bunyi gemrumbyung. Dalam tradisi, gemrumbyung dianggap “tidak bersih”, tetapi dalam karya ini justru ditawarkan sebagai bentuk keindahan alternatif.

SRAWUNG PENGUNG (2020)
Dalam bahasa Jawa, “srawung” berarti berinteraksi, sedangkan “pengung” berarti bodoh. Komposisi ini merupakan ajakan untuk saling mengenal dengan menanggalkan ego dan kepandaian. “Pengung” juga merujuk pada bunyi gaung bilah gêndèr. Komposisi ini lahir dari proses eksperimentasi lintas budaya dan menyatukan Gender Wayang Bali, Gender Barung Jawa, Calung Banyumas, serta musik elektronik.

BRAWALA (2019)
Berasal dari kosakata Sanskerta yang berarti saling bersahutan, Brawala menyatukan dua karakter suara yang kontras: gender barung dari perunggu dan gambang dari kayu. Interaksi antara dua timbre ini menjadi dasar eksplorasi komposisi.

Telah dipresentasikan dalam, Konser “Walayagangsa”, Jagongan Wagen PSBK Yogyakarta (2019), Konser “New Tradition: Pertunjukan Seni di Ruang New Normal”, TBJT Surakarta (2020), October Meeting – Contemporary Music & Musicians (2021)

ARUHARA (2018)
Merupakan eksplorasi teknik dan pola dari Genderan Ada-Ada Ngobong Dupa gaya Nyi Sumiyati/Bu Pringgo/Mbah Drigul. Komposisi ini didesain untuk menampilkan dan mengasah virtuositas pemain gender.
Telah dipertunjukkan dalam Solo International Gamelan Festival (2018), Yogyakarta Gamelan Festival (2018), Bukan Musik Biasa (2018), Pertemuan Musik Surabaya (2018)


Komposer
Wahyu Thoyyib Pambayun

Pengrawit
Nanang Bayu Aji
Harun Ismail
Laurentius Hanan Dwi Atmaja
Muh. Ainun Zibran
Tommy Yudha Prasetya
Maulana Prayogo
Ramdan Ardianto
Ni Made Ayu Dwi Sattvitri
Guruh Purbo Pramono
Dwiki Akhsan Muzaki

ON STAGE

Wednesday, 12th of  Juli 2023
19:30 WIB
di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl Ir. Sutami 57, Kentingan, Surakarta 57126
_________________________________

JAGAD GÊNDÈR GUMÊLAR

by Wahyu Thoyyib Pembayun

The 16th edition of On Stage presents Jagad Gêndèr Gumêlar, a musical composition by Wahyu Thoyyib Pambayun, a young composer from Solo. The performance will be held on Wednesday, July 12, 2023, at Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Jagad Gêndèr Gumêlar showcases Wahyu Thoyyib Pambayun’s artistic journey in exploring the gêndèr instrument. The concert features five musical compositions created between 2017 and 2022, emphasizing the expansion of the gêndèr’s musical language through flexible rhythmic structures and the transformation of transparent melodic lines into more turbulent ones. This project offers a space for openness in approaching the gêndèr, aiming to present a deep and diverse musical experience. It plays with variations in playing patterns, tempo, dynamics, and flexible techniques that engage with — and transcend — traditional cultural boundaries.

Presented Compositions:

GUMRINING (2021)
Gumrining is a composition for gendèr barung and gendèr penerus. The composer developed the pipilan technique and applied it to two gendèrs tuned to different scales: slendro and pelog nem. This combination presents challenges in player positioning, layout, and gendèr striking technique (pithetan). Gumrining focuses on the wave interference between tones from the slendro and pelog nem gendèrs. The piece has been performed at: 1) Jelajah Bunyi Nusantara, Taman Budaya Cak Durasim, East Java (2021); 2) National Virtual Performance “Bali-Dwipantara Adinatya” by ISI Denpasar (2021); 3) Gamelan Composers Forum (2022).

UMBARAN (2022)
Commissioned by the Pacifica Gamelan Ensemble based in Seattle, USA, Umbaran explores the technique of umbaran — striking the gendèr bars without dampening the vibrations. The resulting sound creates overlapping resonances, producing what is known as gemrumbyung. In traditional contexts, gemrumbyung is often avoided as it reflects poor gendèr technique. In this work, the composer reclaims gemrumbyung as a source of alternative sonic beauty within Javanese musical expression.

SRAWUNG PENGUNG (2020)
Srawung means “to interact,” while pengung means “foolish.” Together, Srawung Pengung refers to a state of open, mutual interaction achieved by setting aside ego and expertise. Interestingly, pengung is also an onomatopoeia representing the gendèr’s resonant echoes. This concept informed the composer’s collaborative experiments with musicians from various cultural backgrounds. The composition features interactions between Balinese Gender Wayang, Javanese Gendèr Barung, Calung from Banyumas, and electronic music.

BRAWALA (2019)
Derived from the Sanskrit term for “call and response,” Brawala explores the interaction between gendèr barung and gambang. It contrasts the sonic qualities of bronze gendèr and wooden gambang instruments. This composition has been presented at: 1) “Walayagangsa” concert, Jagongan Wagen at PSBK Yogyakarta (2019); 2) “New Tradition: Performing Arts in the New Normal Space” at TBJT Surakarta (2020); 3) October Meeting – Contemporary Music & Musicians (2021).

ARUHARA (2018)
Aruhara is a composition based on the elaboration of techniques, patterns, and melodies from the Genderan Ada-Ada Ngobong Dupa style as performed by Nyi Sumiyati, Bu Pringgo, and Mbah Drigul. This piece was composed to showcase and challenge the virtuosity of gendèr players. It has been performed at: 1) Solo International Gamelan Festival (2018); 2) Yogyakarta Gamelan Festival (2018); 3) Bukan Musik Biasa (2018); 4) Pertemuan Musik Surabaya (2018).


Composer:
Wahyu Thoyyib Pambayun

Musicians:
Nanang Bayu Aji
Harun Ismail
Laurentius Hanan Dwi Atmaja
Muh. Ainun Zibran
Tommy Yudha Prasetya
Maulana Prayogo
Ramdan Ardianto
Ni Made Ayu Dwi Sattvitri
Guruh Purbo Pramono
Dwiki Akhsan Muzaki

Wahyu Thoyyib Pambayun adalah komponis, pengrawit, dan pengajar. Karya-karyanya menunjukkan eksplorasi mendalam terhadap gamelan Jawa, baik dalam konteks tradisi maupun penciptaan bentuk-bentuk musikal baru. Ia juga aktif menyusun musik untuk seni pertunjukan seperti wayang, tari, dan film. Pada tahun 2016, ia bersama koleganya mendirikan komunitas Gamelan Kalatidha, kelompok pengrawit multi-instrumen yang memainkan repertoar tradisional maupun komposisi kontemporer.
Wahyu dan Gamelan Kalatidha telah tampil di berbagai festival, termasuk China-ASEAN Culture & Art Weeks, Festival Musik Tembi, International Gamelan Festival Solo, Yogyakarta Gamelan Festival, Pekan Komponis Indonesia, dan Gamelan Composers Forum.

Wahyu Thoyyib Pambayun is a composer, pengrawit, and educator. As a composer, he creates new compositions grounded in a strong foundation of traditional gamelan practice and deep research into expanding the musical language of Javanese gamelan. He composes music for concerts as well as for interdisciplinary collaborations with wayang, dance, and film. In 2016, he co-founded the Gamelan Kalatidha community with fellow musicians. Gamelan Kalatidha consists of multi-instrumentalist pengrawit capable of performing both traditional repertoires and new compositions. Wahyu and the ensemble have performed in various events including: the Opening Concert of China ASEAN Culture & Art Weeks, Festival Musik Tembi, Yogyakarta Gamelan Festival, International Gamelan Festival Solo, Pekan Komponis Indonesia, October Meeting: Contemporary Music and Musicians, Festival Bali Sangga Dwipantara, Bukan Musik Biasa, Pertemuan Musik Surabaya, Festival Gugus Bagong (Padepokan Seni Bagong Kussudiharja Yogyakarta), Jelajah Bunyi Nusantara, Kombo: Festival of Free Improvised Music, and Gamelan Composers Forum.

OnStage menghadirkan karya Agus Margiyanto : ANJASMARA

Studio Plesungan

On Stage

“ANJASMARA” oleh Agus Margiyanto

Hari dan Tanggal : Kamis, 17 Maret 2022
Waktu: Pukul 19:30 – 22:00 WIB
*dilanjutkan dengan Bincang Seniman

Tempat:
TEATER ARENA
Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta
Jl. Ir. Sutami 57, Kentingan 57126 Surakarta

On Stage kesepuluh menghadirkan Anjasmara, karya Agus Margiyanto. Terinspirasi oleh karakter Anjasmara dalam Serat Damarwulan yang ditulis pada masa keruntuhan kerajaan Majapahit, karya ini akan disajikan sebagai koreografi untuk penari tunggal. Melalui perjalanan panjangnya sebagai penari, aktor dan koreografer, kali ini Agus Margiyanto akan mengajak penonton untuk menelusuri cara pandang atas keperempuanan melalui pemaknaan kembali kisah epik kuno ke waktu yang kini.

Koreografer : Agus Margiyanto @amargiyanto
Penata Musik : Wirid Nugroho @wiridnugroho
Penari : Retno Sulistyorini @ennodance
Penata Cahaya : Yonek @yonekLight

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di Teater Arena – TBJT Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman.

Untuk mencegah penyebaran COVID-19, semua penonton wajib mematuhi protokol kesehatan yang berlaku.

Harga Tiket:
Kategori A (on the spot umum) Rp25.000;
Kategori B (on the spot pelajar) Rp20.000;
Kategori C (early booking umum) Rp20.000;
Kategori D (early booking pelajar) Rp 15.000

Kontak dan pemesanan tiket:
HP / WA: 082133229593
Atau di
https://bit.ly/3w4Ndmy

website: www.studioplesungan.org

#studioplesungan #onstage #senipertunjukan #contemporarydance #tarikontemporer #performingarts #senipertunjukan #tari #dance