Tag: studio plesungan

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24 

Pertunjukan Lintas Budaya yang Mengeksplorasi Ingatan, Migrasi, dan Identitas Lewat Sebuah Lagu Rakyat

ON STAGE #24  SOLO oleh Li, Wen-Hao

Jumat, 25 Juli 2025

19:30 WIB – selesai

di  Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir Sutami 16, Surakarta

____________________________________________________

Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 dari program seni pertunjukan dua bulanan ON STAGE, yang kali ini menampilkan karya SOLO oleh seniman lintas disiplin asal Taiwan, Li, Wen-Hao. Pertunjukan akan diselenggarakan di Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

Karya SOLO berakar pada lagu rakyat legendaris Indonesia Bengawan Solo, ciptaan Gesang pada tahun 1940. Lagu ini, yang telah mengalir ke berbagai bahasa—Taiwan, Jepang, Kanton, hingga Indonesia, menjadi titik tolak eksplorasi Li atas arus budaya pasca perang, pembentukan identitas etnis, dan puisi migrasi di Asia. Dalam pertunjukan solonya, SOLO menjadi sungai metaforis, mengalirkan impian, sejarah perpindahan, dan ingatan kolektif selama lebih dari setengah abad.

Li, Wen-Hao adalah seniman pertunjukan kontemporer asal Taiwan dengan praktik multidisipliner yang mencakup tari kontemporer, seni pertunjukan, musik, fotografi, dan riset sejarah. Berbekal latar belakang pendidikan hukum dan gelar magister teori seni pertunjukan, karya-karyanya menyoroti relasi kuasa, memori, dan politik lintas disiplin.

ON STAGE adalah program rutin yang digagas Studio Plesungan untuk menampilkan keragaman suara dalam praktik seni pertunjukan kontemporer. Program ini digelar dua bulan sekali dan mengundang seniman terpilih untuk tampil serta berdialog langsung dengan publik, guna mendorong apresiasi yang lebih dalam terhadap seni pertunjukan di Indonesia.

______________________________________________________

Tracing a River of Memory: Studio Plesungan Presents ON STAGE #24 

“SOLO” by Li, Wen-Hao

A Cross-Cultural Performance Exploring Memory, Migration, and Identity Through a Folk Song

Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan proudly announces the 24th edition of its signature performance program, ON STAGE, featuring the work SOLO by Taiwanese interdisciplinary artist Li, Wen-Hao. The performance will take place at Teater Arena – Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Surakarta.

At the heart of SOLO is the legendary Indonesian folk song Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940. Reverberating through Taiwanese, Japanese, Cantonese, and Indonesian adaptations, this iconic melody becomes the starting point of Li’s exploration of post-war cultural flows, ethnic formation, and the poetics of migration across Asia. Through his singular performance, SOLO becomes a metaphorical river—carrying with it half a century of personal and collective dreams, displacements, and histories.

Li, Wen-Hao is a contemporary performance artist from Taiwan whose multidisciplinary practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. With an academic background in law and a master’s degree in performance theory, Li’s work investigates the intersections of power, memory, and politics across disciplines.

ON STAGE is a regular program curated by Studio Plesungan to highlight diverse voices in contemporary performance. Presented once every two months, the program invites selected artists to perform and engage in dialogue with the public, fostering a deeper appreciation for performance art in Indonesia and beyond.

Acara tambahan: Diskusi publik bersama seniman

TICKET

Harga Tiket:

Kategori A (on the spot umum) Rp40.000;

Kategori B (on the spot pelajar) Rp25.000;

Kategori C (early booking umum) Rp30.000;

Kategori D (early booking pelajar) Rp 20.000

Pemesanan tiket:

https://forms.gle/56tLsaeqqBBJLX4r9

___
Kontak Info:

HP/Whatsapp +6282133229593

info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Studio Plesungan

Studio Plesungan present nine young artists with various background who have studied at the Studio Plesungan since 2020. Under the mentorship of Melati Suryodarmo and Halim HD, they are encouraged to be independent artists in dance and choreography, performance and visual arts practices.

In Solo Butoh #3, they perform 2 pieces, Whisper , choreographed by Katsura Kan and Rite of Spring, a work in progress choreographed by Melati Suryodarmo

Performances

Saturday, 16 Dec 2023 :
Whisper , choreographed by Katsura Kan

Sunday, 16 Dec 2023 :
Rite of Spring, a work in progress choreographed by Melati Suryodarmo
Music : Igor Stravinski

Wahyu Thoyyib Pambayun

ON STAGE

Rabu, 12 Juli 2023
19:30 WIB
di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl Ir. Sutami 57, Kentingan, Surakarta 57126
_________________________________

JAGAD GÊNDÈR GUMÊLAR

oleh Wahyu Thoyyib Pambayun

On Stage edisi ke-16 mempersembahkan Jagad Gêndèr Gumêlar, sebuah karya komposisi musik dari Wahyu Thoyyib Pambayun, komposer muda asal Solo. Pertunjukan ini akan digelar pada Rabu, 12 Juli 2023, di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah.

Jagad Gêndèr Gumêlar merupakan rangkuman perjalanan artistik Wahyu dalam mengeksplorasi instrumen gêndèr. Melalui lima komposisi yang disusun antara tahun 2017 hingga 2022, Wahyu berupaya memperluas bahasa musikal gêndèr, merombak struktur ritmis yang baku menjadi lebih cair, serta mengolah garis-garis melodi yang biasanya jernih menjadi lebih bergejolak. Karya ini menawarkan pendekatan yang terbuka terhadap gêndèr, sebagai instrumen maupun sebagai ruang eksperimentasi, guna menghadirkan pengalaman musikal yang mendalam dan beragam.

Jagad Gêndèr Gumêlar mengeksplorasi beragam pola permainan, laya, dinamika, dan pengembangan teknik secara luwes terhadap pakem dan batas-batas tradisi.


Komposisi-komposisi yang Disajikan:

GUMRINING (2021)
Disusun untuk gender barung dan gender penerus, Gumrining mengeksplorasi teknik pipilan pada dua instrumen yang menggunakan laras berbeda: slendro dan pelog nem. Penggabungan dua laras ini menciptakan tantangan dalam posisi duduk, tata letak instrumen, serta permainan pithetan. Komposisi ini menyoroti interferensi gelombang bunyi dari interval laras yang berbeda.
Telah dipentaskan dalam:”Jelajah Bunyi Nusantara”, Taman Budaya Cak Durasim, Jawa Timur (2021), Pergelaran Virtual Nasional Bali-Dwipantara Adinatya, ISI Denpasar (2021),Gamelan Composers Forum (2022)

UMBARAN (2022)
Diciptakan untuk proyek komisi Gamelan Pacifica di Seattle, USA. Komposisi ini mengeksplorasi teknik umbaran—memainkan bilah-bilah gêndèr tanpa menahan resonansinya, yang menghasilkan efek bunyi gemrumbyung. Dalam tradisi, gemrumbyung dianggap “tidak bersih”, tetapi dalam karya ini justru ditawarkan sebagai bentuk keindahan alternatif.

SRAWUNG PENGUNG (2020)
Dalam bahasa Jawa, “srawung” berarti berinteraksi, sedangkan “pengung” berarti bodoh. Komposisi ini merupakan ajakan untuk saling mengenal dengan menanggalkan ego dan kepandaian. “Pengung” juga merujuk pada bunyi gaung bilah gêndèr. Komposisi ini lahir dari proses eksperimentasi lintas budaya dan menyatukan Gender Wayang Bali, Gender Barung Jawa, Calung Banyumas, serta musik elektronik.

BRAWALA (2019)
Berasal dari kosakata Sanskerta yang berarti saling bersahutan, Brawala menyatukan dua karakter suara yang kontras: gender barung dari perunggu dan gambang dari kayu. Interaksi antara dua timbre ini menjadi dasar eksplorasi komposisi.

Telah dipresentasikan dalam, Konser “Walayagangsa”, Jagongan Wagen PSBK Yogyakarta (2019), Konser “New Tradition: Pertunjukan Seni di Ruang New Normal”, TBJT Surakarta (2020), October Meeting – Contemporary Music & Musicians (2021)

ARUHARA (2018)
Merupakan eksplorasi teknik dan pola dari Genderan Ada-Ada Ngobong Dupa gaya Nyi Sumiyati/Bu Pringgo/Mbah Drigul. Komposisi ini didesain untuk menampilkan dan mengasah virtuositas pemain gender.
Telah dipertunjukkan dalam Solo International Gamelan Festival (2018), Yogyakarta Gamelan Festival (2018), Bukan Musik Biasa (2018), Pertemuan Musik Surabaya (2018)


Komposer
Wahyu Thoyyib Pambayun

Pengrawit
Nanang Bayu Aji
Harun Ismail
Laurentius Hanan Dwi Atmaja
Muh. Ainun Zibran
Tommy Yudha Prasetya
Maulana Prayogo
Ramdan Ardianto
Ni Made Ayu Dwi Sattvitri
Guruh Purbo Pramono
Dwiki Akhsan Muzaki

ON STAGE

Wednesday, 12th of  Juli 2023
19:30 WIB
di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl Ir. Sutami 57, Kentingan, Surakarta 57126
_________________________________

JAGAD GÊNDÈR GUMÊLAR

by Wahyu Thoyyib Pembayun

The 16th edition of On Stage presents Jagad Gêndèr Gumêlar, a musical composition by Wahyu Thoyyib Pambayun, a young composer from Solo. The performance will be held on Wednesday, July 12, 2023, at Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Jagad Gêndèr Gumêlar showcases Wahyu Thoyyib Pambayun’s artistic journey in exploring the gêndèr instrument. The concert features five musical compositions created between 2017 and 2022, emphasizing the expansion of the gêndèr’s musical language through flexible rhythmic structures and the transformation of transparent melodic lines into more turbulent ones. This project offers a space for openness in approaching the gêndèr, aiming to present a deep and diverse musical experience. It plays with variations in playing patterns, tempo, dynamics, and flexible techniques that engage with — and transcend — traditional cultural boundaries.

Presented Compositions:

GUMRINING (2021)
Gumrining is a composition for gendèr barung and gendèr penerus. The composer developed the pipilan technique and applied it to two gendèrs tuned to different scales: slendro and pelog nem. This combination presents challenges in player positioning, layout, and gendèr striking technique (pithetan). Gumrining focuses on the wave interference between tones from the slendro and pelog nem gendèrs. The piece has been performed at: 1) Jelajah Bunyi Nusantara, Taman Budaya Cak Durasim, East Java (2021); 2) National Virtual Performance “Bali-Dwipantara Adinatya” by ISI Denpasar (2021); 3) Gamelan Composers Forum (2022).

UMBARAN (2022)
Commissioned by the Pacifica Gamelan Ensemble based in Seattle, USA, Umbaran explores the technique of umbaran — striking the gendèr bars without dampening the vibrations. The resulting sound creates overlapping resonances, producing what is known as gemrumbyung. In traditional contexts, gemrumbyung is often avoided as it reflects poor gendèr technique. In this work, the composer reclaims gemrumbyung as a source of alternative sonic beauty within Javanese musical expression.

SRAWUNG PENGUNG (2020)
Srawung means “to interact,” while pengung means “foolish.” Together, Srawung Pengung refers to a state of open, mutual interaction achieved by setting aside ego and expertise. Interestingly, pengung is also an onomatopoeia representing the gendèr’s resonant echoes. This concept informed the composer’s collaborative experiments with musicians from various cultural backgrounds. The composition features interactions between Balinese Gender Wayang, Javanese Gendèr Barung, Calung from Banyumas, and electronic music.

BRAWALA (2019)
Derived from the Sanskrit term for “call and response,” Brawala explores the interaction between gendèr barung and gambang. It contrasts the sonic qualities of bronze gendèr and wooden gambang instruments. This composition has been presented at: 1) “Walayagangsa” concert, Jagongan Wagen at PSBK Yogyakarta (2019); 2) “New Tradition: Performing Arts in the New Normal Space” at TBJT Surakarta (2020); 3) October Meeting – Contemporary Music & Musicians (2021).

ARUHARA (2018)
Aruhara is a composition based on the elaboration of techniques, patterns, and melodies from the Genderan Ada-Ada Ngobong Dupa style as performed by Nyi Sumiyati, Bu Pringgo, and Mbah Drigul. This piece was composed to showcase and challenge the virtuosity of gendèr players. It has been performed at: 1) Solo International Gamelan Festival (2018); 2) Yogyakarta Gamelan Festival (2018); 3) Bukan Musik Biasa (2018); 4) Pertemuan Musik Surabaya (2018).


Composer:
Wahyu Thoyyib Pambayun

Musicians:
Nanang Bayu Aji
Harun Ismail
Laurentius Hanan Dwi Atmaja
Muh. Ainun Zibran
Tommy Yudha Prasetya
Maulana Prayogo
Ramdan Ardianto
Ni Made Ayu Dwi Sattvitri
Guruh Purbo Pramono
Dwiki Akhsan Muzaki

Wahyu Thoyyib Pambayun adalah komponis, pengrawit, dan pengajar. Karya-karyanya menunjukkan eksplorasi mendalam terhadap gamelan Jawa, baik dalam konteks tradisi maupun penciptaan bentuk-bentuk musikal baru. Ia juga aktif menyusun musik untuk seni pertunjukan seperti wayang, tari, dan film. Pada tahun 2016, ia bersama koleganya mendirikan komunitas Gamelan Kalatidha, kelompok pengrawit multi-instrumen yang memainkan repertoar tradisional maupun komposisi kontemporer.
Wahyu dan Gamelan Kalatidha telah tampil di berbagai festival, termasuk China-ASEAN Culture & Art Weeks, Festival Musik Tembi, International Gamelan Festival Solo, Yogyakarta Gamelan Festival, Pekan Komponis Indonesia, dan Gamelan Composers Forum.

Wahyu Thoyyib Pambayun is a composer, pengrawit, and educator. As a composer, he creates new compositions grounded in a strong foundation of traditional gamelan practice and deep research into expanding the musical language of Javanese gamelan. He composes music for concerts as well as for interdisciplinary collaborations with wayang, dance, and film. In 2016, he co-founded the Gamelan Kalatidha community with fellow musicians. Gamelan Kalatidha consists of multi-instrumentalist pengrawit capable of performing both traditional repertoires and new compositions. Wahyu and the ensemble have performed in various events including: the Opening Concert of China ASEAN Culture & Art Weeks, Festival Musik Tembi, Yogyakarta Gamelan Festival, International Gamelan Festival Solo, Pekan Komponis Indonesia, October Meeting: Contemporary Music and Musicians, Festival Bali Sangga Dwipantara, Bukan Musik Biasa, Pertemuan Musik Surabaya, Festival Gugus Bagong (Padepokan Seni Bagong Kussudiharja Yogyakarta), Jelajah Bunyi Nusantara, Kombo: Festival of Free Improvised Music, and Gamelan Composers Forum.

Hari Ghulur

ON STAGE

28 April 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

HARI GHULUR
WHITE STONE

White Stone adalah sebuah pertunjukan berbasis laboratorium tari yang lahir dari eksplorasi antara teknik gerak emosional-improvisasional dari Gaga Movement Language dan unsur gerak tradisional Pencak Silat Pamor khas Madura. Melalui pendekatan tubuh yang intuitif dan reflektif, karya ini menjadi ruang pencarian atas identitas, latar geografis, dan narasi sosial budaya masyarakat Madura.

Karya ini terinspirasi dari stereotip yang melekat pada masyarakat Madura—sering digambarkan sebagai keras, tegas, dan memiliki karakter yang kuat. Hari Ghulur tertarik menelusuri akar dari stereotip ini melalui hubungan antara karakter masyarakat dan kondisi geografis Madura yang kering, berbukit bebatuan, dan minim sumber daya air. Di tanah seperti ini, hanya tanaman seperti singkong, jagung, dan ubi yang dapat tumbuh—yang kemudian menjadi makanan pokok dan simbol ketahanan hidup masyarakatnya.

Budaya merantau yang kuat dan tradisi bela diri seperti pencak silat menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas sosial masyarakat Madura, terutama bagi laki-laki sejak usia dini. Gerak silat bukan hanya sebagai alat pertahanan diri, tapi juga sebagai cara menanamkan disiplin dan pengendalian. Meski kerap disalahartikan sebagai ekspresi kekerasan (carok), praktik ini sebenarnya mencerminkan sistem nilai dan respons terhadap tantangan hidup yang keras.

White Stone menghadirkan koreografi yang mengolah fisikitas tubuh dan emosi, memetakan ketubuhan yang dibentuk oleh alam dan kebudayaan. Di antara kekuatan gerak dan intensitas emosional, karya ini mengajak kita menyentuh sisi-sisi kemanusiaan yang jujur, rapuh, dan tangguh.

HARI GHULUR
WHITE STONE

White Stone is a dance laboratory performance born from the fusion of the emotional-improvisational techniques of Gaga Movement Language and the traditional movements of Pencak Silat Pamor from Madura. Through an intuitive and reflective bodily approach, this work explores identity, geography, and the social-cultural narratives of the Madurese people.

The piece is inspired by the widespread stereotype of the Madurese as a community with strong, assertive, and rigid characteristics. Hari Ghulur investigates the roots of this perception by looking at the relationship between the people and the harsh geographical conditions of Madura—an arid, rocky island where cassava, corn, and sweet potatoes are the primary crops and daily sustenance.

The Madurese tradition of migration and the early introduction of martial arts, particularly pencak silat, play a significant role in shaping social identity—especially among boys. Silat is not only a method of self-defense but also a means to develop discipline and self-control. While often misunderstood as a symbol of violence (carok), it in fact reflects a set of values and strategies for navigating a demanding environment.

White Stone presents a choreography that intertwines physical strength and emotional depth, mapping a bodily discourse shaped by landscape and cultural resilience. Between forceful gestures and intimate moments, this work invites the audience to encounter a raw, humanistic reflection of life’s tenacity and vulnerability.

Hari Ghulur

Hari Ghulur , lahir di Madura hidup dan bekerja di Surabaya. Ghulur menekuni dunia tari sejak studi di jurusan Sendratasik UNESA dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana dengan fokus Penciptaan Seni di Institute Seni Indonesia ( ISI ) Surakarta.

Hari Ghulur telah menciptakan beberapa karya tari diantaranya “Ghulur” dipentaskan di Bozar Studio, Brussels Belgia dalam Festival Europalia tahun 2017, Festival Salihara Jakarta 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore 2016, Choreo Lab di Dewan Kesenian Jakarta 2015, Indonesian Dance Festival 2014.

Pada tahun 2018, Hari mengikuti International Choreography Residency (ICR) American Dance Festival di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Karya Hari yang lain juga pernah dipentaskan di China, Malaysia. Hari telah mengikuti residency diantaranya Residency Europalia Festival di belgia selama 1 bulan, Residency di Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur Malaysia selama 20 hari, Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta dan Residency Indonesian Dance Festival. Saat ini Hari menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan prodi tari Univ Negeri Malang.

Bersama istrinya, Sekar Alit, Hari mendirikan Sawung Dance Studio. Bersama timnya, Hari Ghulur terus melakukan eksperimen dan disiplin proses kreatif untuk melahirkan karya karya inovatif.

Hari Ghulur, born in Madura, lives and works in Surabaya. Ghulur has been pursuing the world of dance since studying at the UNESA Graduate School and continuing his postgraduate education with a focus on Art Creation at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta.
Hari Ghulur has created several dance works including “Ghulur” performed at Bozar Studio, Brussels Belgium in the Europalia Festival 2017, Jakarta Salihara Festival 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore, Choreo Lab at the 2015 Jakarta Arts Council, 2014 Indonesian Dance Festival.
In 2018, he participated in the International Choreography Residency (ICR) of the American Dance Festival in Durham, North Carolina, United States. Other Day works have also been performed in China, Malaysia. Hari Ghulur has taken part in residencies include the Europalia Residency Festival in Belgium for 1 month, Residency at the Foot Art Art Exchange in Kuala Lumpur Malaysia for 20 days, Choreo Lab Jakarta Arts Council and Residency Indonesian Dance Festival. Today Hari is a lecturer at the Wilwatikta Arts College (STKW) and dance study program at Malang State University.
Together with his wife, Sekar Alit, Hari Ghulur founded Sawung Dance Studio. Together with his team, Hari Ghulur continued to conduct experiments and creative process disciplines to give birth to innovative works.

Artist In Residency

Program Residensi Studio Plesungan

Studio Plesungan berkomitmen untuk mendukung seniman dari berbagai wilayah di Indonesia maupun mancanegara dengan menyediakan ruang untuk tinggal, berkarya, dan berproses di kawasan Solo. Kami meyakini bahwa pengalaman residensi akan menjadi lebih bermakna apabila disertai dengan keterlibatan yang mendalam dan berkelanjutan dengan ekosistem seni serta kehidupan budaya setempat.

Sejak tahun 2015, Studio Plesungan secara konsisten menyelenggarakan program Artist-in-Residence yang memberikan kesempatan bagi para seniman untuk meresapi lingkungan kreatif sekaligus mengembangkan praktik mereka melalui dialog, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan dengan komunitas sekitar. Program residensi ini terbuka bagi praktisi lintas disiplin, termasuk seni rupa, tari, teater, musik, sastra, serta berbagai praktik eksperimental lainnya.

Jenis Program

Saat ini, Studio Plesungan menawarkan dua skema residensi:

ARTIST IN RESIDENCE

Program ini ditujukan bagi seniman yang ingin menghabiskan waktu lebih panjang, hingga maksimal satu bulan, untuk melakukan riset artistik, eksplorasi konseptual, atau pengembangan karya baru dalam konteks lokal Studio Plesungan.

Sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan sekaligus upaya membuka dialog dengan komunitas lokal, peserta Artist in Residence diharapkan berbagi praktik atau gagasan mereka melalui kegiatan publik berskala kecil, seperti artist talk, lokakarya, presentasi terbuka, ceramah singkat, atau diskusi.

Studio Plesungan menyediakan fasilitas berupa tempat tinggal, penggunaan ruang studio, serta akses jejaring. Selama masa residensi, seniman akan tinggal di salah satu dari tiga rumah sederhana yang fungsional. Setiap rumah dilengkapi dengan kamar mandi pribadi, dapur, dan akses Wi-Fi. Seluruh rumah berada di desa yang sama dan berjarak sekitar tiga menit berjalan kaki dari ruang utama Studio Plesungan, sehingga memungkinkan interaksi yang intens antara ruang tinggal, ruang kerja, dan komunitas.

ARTIST IN TRANSIT

Artist in Transit merupakan program singgah jangka pendek (maksimal satu minggu) yang ditujukan bagi seniman, kurator, penulis, atau peneliti seni dan budaya yang sedang dalam perjalanan melewati Solo.

Program ini dirancang sebagai ruang jeda yang ideal untuk refleksi, menulis, retreat singkat, membangun jejaring, serta berbagi praktik dalam skala kecil melalui kuliah umum atau presentasi publik. Studio Plesungan menyediakan fasilitas berupa tempat tinggal serta akses studio, sesuai dengan ketersediaan.

Studio Plesungan Residency Program

Studio Plesungan is committed to supporting artists from across Indonesia and around the world by providing a space to live, work, and engage in artistic processes in the Solo region. We believe that a residency experience becomes more meaningful when it is accompanied by deep and sustained engagement with the local artistic ecosystem and cultural life.

Since 2015, Studio Plesungan has consistently hosted its Artist-in-Residence program, offering artists the opportunity to immerse themselves in a creative environment while developing their practices through dialogue, collaboration, and knowledge exchange with the surrounding community. The residency program is open to cross-disciplinary practitioners, including visual arts, dance, theatre, music, literature, and a wide range of experimental practices.

Program Types

Studio Plesungan currently offers two residency formats:

ARTIST IN RESIDENCE

This program is intended for artists who wish to spend a longer period, up to a maximum of one month, conducting artistic research, conceptual exploration, or developing new work within the local context of Studio Plesungan.

As part of knowledge exchange and in order to open dialogue with the local community, Artist in Residence participants are expected to share their practice or ideas through small-scale public activities such as artist talks, workshops, open presentations, short lectures, or discussions.

Studio Plesungan provides accommodation, access to studio facilities, and networking opportunities. During the residency period, artists stay in one of three modest yet functional houses, each equipped with a private bathroom, kitchen, and Wi-Fi access. All residences are located within the same village and approximately a three-minute walk from Studio Plesungan, enabling close interaction between living spaces, working spaces, and the local community.

ARTIST IN TRANSIT

Artist in Transit is a short-term residency program (maximum one week) designed for artists, curators, writers, or arts and cultural researchers who are passing through Solo.

The program is conceived as an ideal pause for reflection, writing, a short retreat, networking, and informal sharing of practices through public lectures or presentations. Studio Plesungan provides accommodation and studio access, subject to availability.

Program Residensi Seniman

Studio Plesungan menawarkan program residensi yang sederhana dan berfokus, dirancang untuk mendukung seniman dalam mengembangkan proyek-proyek kreatif mereka melalui proses tinggal, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungan lokal.

Kriteria Seniman Residensi

Program residensi ini terbuka bagi seniman yang aktif berkarya di berbagai disiplin, termasuk  seni rupa, seni pertunjukan, performance art, seni intermedia, musik, sound art, sastra, fotografi, film, serta praktik-praktik eksperimental lainnya.

Fasilitas dan Kegiatan

1. Tempat Tinggal Selama Residensi

Studio Plesungan menyediakan fasilitas tempat tinggal yang fungsional dan nyaman dengan nuansa tradisional pedesaan Jawa. Ruang tinggal ini memungkinkan seniman untuk hidup sekaligus bekerja selama masa residensi dalam suasana yang kondusif dan berfokus.
Setiap unit tempat tinggal dilengkapi dengan dapur sederhana yang dapat digunakan oleh seniman residensi.

2. Ruang Studio

Studio Plesungan merupakan ruang kerja bersama (shared studio) yang digunakan untuk berbagai kegiatan rutin Studio Plesungan serta kebutuhan seniman residensi. Penggunaan ruang studio dilakukan berdasarkan jadwal yang diajukan dan disepakati bersama, guna memastikan seluruh kebutuhan pemakaian dapat terakomodasi dengan baik.

3. Makan

Studio Plesungan menyediakan makan siang dan makan malam sederhana. Pada waktu-waktu tertentu, seniman residensi akan makan bersama staf dan seniman Studio Plesungan sebagai bagian dari keseharian bersama. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan memasak bersama juga dilakukan di dapur studio.

4. Mengenal Solo dan Sekitarnya

Studio Plesungan akan mengajak seniman residensi untuk mengunjungi sejumlah museum serta situs-situs bersejarah di Kota Solo dan sekitarnya sebagai bagian dari pengenalan konteks budaya dan sejarah lokal.

5. Pendampingan Proses Riset

Apabila dibutuhkan, Studio Plesungan dapat memberikan arahan, saran, serta asistensi untuk proses riset lapangan sesuai dengan proposal yang diajukan. Ketentuan biaya asistensi akan dibicarakan dan disepakati bersama, menyesuaikan dengan kebutuhan riset dan proyek seniman residensi.

6. Workshop Kreatif

Jika seniman residensi membutuhkan pembelajaran praktik tertentu—seperti tari Jawa, pencak silat, batik, atau kebutuhan kreatif lainnya—Studio Plesungan dapat membantu menghubungkan dengan para praktisi atau ahli terkait. Biaya workshop ditanggung oleh seniman residensi.

7. Partisipasi dalam Program Studio Plesungan

Seniman residensi diperkenankan untuk berpartisipasi dalam berbagai program Studio Plesungan, seperti Kelas Menari Anak-anak, Kelas Menggambar Anak-anak, Kelas Melati Suryodarmo, dan program lainnya.
Bagi seniman di bidang pertunjukan dan seni performans, tersedia kesempatan untuk mengajukan proposal presentasi karya dalam program On Stage, program rutin dua bulanan Studio Plesungan.

8. Penyelenggaraan Workshop oleh Seniman Residensi

Apabila seniman residensi ingin menyelenggarakan workshop, Studio Plesungan akan memfasilitasi pelaksanaannya melalui penyediaan ruang, konsumsi, serta publikasi kegiatan.

9. Presentasi Publik

Setiap seniman residensi diharapkan melakukan presentasi publik dalam bentuk Artist Talk yang dilengkapi dengan sesi tanya jawab atau diskusi. Studio Plesungan akan menyediakan penerjemah, moderator, ruang diskusi, serta konsumsi.

10. Durasi Residensi

Durasi residensi bersifat fleksibel dan ditentukan berdasarkan karakter proyek yang diajukan, kebutuhan proses artistik, serta ketersediaan pendanaan.

Administrasi

  1. Studio Plesungan tidak memungut biaya untuk semua fasilitas yang disediakan.

  2. Studio Plesungan tidak menyediakan dukungan dana dalam bentuk uang untuk proyek, produksi, atau biaya residensi. Namun, kami dengan senang hati dapat menerbitkan surat dukungan bagi seniman yang mengajukan pendanaan eksternal serta membantu penyediaan dokumentasi untuk keperluan aplikasi hibah, residensi, atau sponsorship.

  3. Studio Plesungan tidak menanggung biaya transportasi internasional maupun antar kota.

  4. Kebutuhan pribadi dan tambahan kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawab masing-masing seniman residensi.

  5. Studio Plesungan terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi, termasuk dalam pengelolaan proyek, penyusunan program kuratorial, maupun perencanaan anggaran. Kami mengundang seniman yang didukung secara mandiri maupun melalui institusi untuk mendaftar, serta membuka ruang dialog dengan mitra yang berminat mengembangkan kerangka residensi bersama, program pertukaran kreatif, atau kolaborasi jangka panjang lainnya.

Artist Residency Program

Studio Plesungan offers a focused and modest residency program designed to support artists in developing their creative projects through a process of living, working, and engaging with the local environment.

Residency Artist Criteria

The residency program is open to artists who are actively working across a range of disciplines, including but not limited to visual arts, performing arts, performance art, inter-media practices, music, sound art, literature, photography, film, and other experimental approaches.

Facilities and Activities

1. Accommodation

Studio Plesungan provides functional and comfortable accommodation with a traditional Javanese rural atmosphere. This living space allows artists to reside and work simultaneously during the residency period in a focused and conducive environment.
Each accommodation unit is equipped with a simple kitchen that can be used by the resident artists.

2. Studio Space

Studio Plesungan operates as a shared studio space used for the organization’s regular activities as well as for the needs of resident artists. Studio use is arranged based on a proposed schedule and mutual agreement to ensure that all usage requirements are accommodated effectively.

3. Meals

Studio Plesungan provides simple lunch and dinner. At certain times, resident artists will share meals together with Studio Plesungan staff and artists as part of daily communal life. On some occasions, collective cooking activities also take place in the studio kitchen.

4. Exploring Solo and Its Surroundings

Studio Plesungan will invite resident artists to visit selected museums and historical sites in the city of Solo and its surrounding areas as part of an introduction to the local cultural and historical context.

5. Research Process Support

If required, Studio Plesungan can provide guidance, feedback, and assistance for field research processes in accordance with the submitted proposal. Any costs related to research assistance will be discussed and agreed upon jointly, based on the needs of the artist’s project.

6. Creative Workshops

Should resident artists wish to learn specific practices—such as Javanese dance, pencak silat, batik, or other creative skills—Studio Plesungan can facilitate connections with relevant practitioners or experts. Workshop fees are to be covered by the resident artists.

7. Participation in Studio Plesungan Programs

Resident artists are welcome to participate in selected Studio Plesungan programs, including Children’s Dance Classes, Children’s Drawing Classes, the Melati Suryodarmo Class, and other ongoing activities.
Artists working in performance and performing arts are also invited to submit proposals to present their work within On Stage, Studio Plesungan’s bi-monthly public performance program.

8. Artist-Led Workshops

If resident artists wish to conduct a workshop, Studio Plesungan will support the program by providing space, refreshments, and assistance with publicity.

9. Public Presentation

Each resident artist is expected to conduct a public presentation in the form of an Artist Talk, accompanied by a Q&A session or discussion. Studio Plesungan will provide a moderator, translator, discussion space, and refreshments.

10. Residency Duration

The residency duration is flexible and determined based on the nature of the proposed project, the needs of the artistic process, and the availability of funding.

Administration

  1. All facilities provided by Studio Plesungan are offered free of charge.

  2. Studio Plesungan does not provide financial support in the form of project, production, or residency funding. However, we are happy to issue letters of support for artists applying for external funding and to assist with documentation required for grant, residency, or sponsorship applications.

  3. Studio Plesungan does not cover international or intercity transportation costs.

  4. Personal expenses and additional daily needs are the responsibility of each resident artist.

  5. Studio Plesungan is open to various forms of collaboration, including project management, curatorial program development, and budget planning. We welcome applications from independently funded artists as well as those supported by institutions, and we remain open to dialogue with partners interested in developing joint residency frameworks, creative exchange programs, or other forms of long-term collaboration.

Program Artist in Transit

Program Artist in Transit ditujukan bagi seniman, kurator, penulis, serta peneliti di bidang seni dan budaya yang sedang melakukan perjalanan di Indonesia dan ingin singgah sejenak di Solo. Program ini menawarkan residensi jangka pendek sebagai ruang jeda untuk beristirahat, merefleksikan praktik, serta berkenalan dengan ekosistem seni dan kehidupan budaya lokal di Solo dan sekitarnya.

Kriteria Artist in Transit

Program Artist in Transit terbuka bagi seniman, peneliti seni, dan kurator yang aktif berkarya di berbagai disiplin, termasuk namun tidak terbatas pada seni rupa, seni pertunjukan, performance art, seni intermedia, sastra, fotografi, film, serta praktik-praktik eksperimental lainnya.

Fasilitas

1. Tempat Tinggal Selama Residensi
Studio Plesungan menyediakan fasilitas tempat tinggal yang fungsional dan nyaman dengan nuansa tradisional pedesaan Jawa. Ruang tinggal ini memungkinkan seniman untuk tinggal sekaligus bekerja selama masa residensi dalam suasana yang tenang, kondusif, dan berfokus.
Setiap unit tempat tinggal dilengkapi dengan dapur sederhana yang dapat digunakan oleh seniman residensi.

2. Ruang Studio
Studio Plesungan merupakan ruang kerja bersama (shared studio) yang digunakan untuk berbagai kegiatan rutin Studio Plesungan serta kebutuhan seniman residensi. Penggunaan ruang studio dilakukan berdasarkan jadwal yang diajukan dan disepakati bersama, guna memastikan seluruh kebutuhan pemakaian dapat terakomodasi dengan baik.

3. Konsumsi
Studio Plesungan menyediakan makan siang dan makan malam sederhana. Pada waktu-waktu tertentu, seniman residensi akan makan bersama staf dan seniman Studio Plesungan sebagai bagian dari keseharian dan interaksi bersama.

4. Durasi Residensi
Durasi residensi maksimal satu minggu.

5. Program Publik
Jika diinginkan dan disepakati bersama, seniman Artist in Transit dipersilakan untuk berbagi praktik melalui presentasi publik berskala kecil, seperti artist talk, diskusi terbuka, atau ceramah singkat.

Administrasi

  1. Studio Plesungan tidak memungut biaya untuk seluruh fasilitas yang disediakan 

  2. Kami dengan senang hati dapat menerbitkan surat dukungan bagi seniman yang mengajukan pendanaan eksternal yang diperlukan untuk keperluan aplikasi hibah seni, residensi, atau sponsorship.

  3. Studio Plesungan tidak menanggung biaya transportasi internasional, antar kota, maupun transportasi dalam kota.

  4. Kebutuhan pribadi serta tambahan kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawab masing-masing seniman residensi.

Program Artist in Transit diharapkan dapat menjadi ruang refleksi sekaligus membuka kemungkinan perjumpaan artistik, pembelajaran lintas budaya, serta pertukaran kreatif yang berlangsung secara organik dan spontan.

Artist in Transit Program

The Artist in Transit program is intended for artists, curators, writers, and researchers in the fields of arts and culture who are traveling in Indonesia and wish to make a short stop in Solo. The program offers a short-term residency as a space to pause, rest, reflect on one’s practice, and become acquainted with the local artistic ecosystem and cultural life of Solo and its surrounding areas.

Artist in Transit Criteria

The Artist in Transit program is open to artists, art researchers, and curators who are actively engaged in a wide range of disciplines, including but not limited to visual arts, performing arts, performance art, inter-media practices, literature, photography, film, and other experimental approaches.

Facilities

1. Accommodation During the Residency
Studio Plesungan provides functional and comfortable accommodation with a traditional Javanese rural atmosphere. This living space allows artists to both reside and work during the residency period in a calm, supportive, and focused environment.
Each accommodation unit is equipped with a simple kitchen that may be used by the resident artist.

2. Studio Space
Studio Plesungan operates as a shared studio space used for various regular activities of Studio Plesungan as well as for the needs of resident artists. Studio use is arranged based on a proposed schedule and mutual agreement, ensuring that all usage requirements can be accommodated effectively.

3. Meals
Studio Plesungan provides simple lunch and dinner. At certain times, resident artists will share meals with Studio Plesungan staff and artists as part of daily life and communal interaction.

4. Residency Duration
The residency duration is a maximum of one week.

5. Public Program
If desired and mutually agreed upon, Artist in Transit participants are invited to share their practice through a small-scale public presentation, such as an artist talk, open discussion, or short lecture.

Administration

  1. All facilities provided by Studio Plesungan are free of charge.
  2. We are happy to issue letters of support for artists applying for external funding for grant, residency, or sponsorship applications.
  3. Studio Plesungan does not cover international, intercity, or local transportation costs.
  4. Personal expenses and additional daily needs are the responsibility of each resident artist.

The Artist in Transit program is envisioned as a space for reflection while also opening possibilities for artistic encounters, cross-cultural learning, and creative exchange to unfold organically and spontaneously.

Pendaftaran

Kami terbuka untuk seniman yang membiayai sendiri atau didukung oleh institusi. Silakan kirim aplikasi Anda ke:

Annastasya Verina
info@studioplesungan.org

Mohon sertakan:

  • Surat pernyataan minat
  • Proposal proyek
  • Jadwal perjalanan
  • Curriculum Vitae (CV)
  • Tautan website atau portofolio (jika ada)

Kami saat ini belum menyediakan dana perjalanan maupun biaya produksi. Namun, kami dengan senang hati akan menyediakan surat dukungan untuk pengajuan hibah atau sponsor eksternal.

Kami juga membuka ruang dialog dengan mitra yang berminat untuk mengembangkan kerangka program residensi atau program pertukaran kreatif bersama.

HOW TO APPLY

We welcome proposals from self-funded artists or those supported by institutions. Please send your application to:

Annastasya Verina
info@studioplesungan.org

Your application should include:

  • Letter of intent
  • Project proposal
  • Travel schedule
  • Curriculum Vitae (CV)
  • Website or portfolio link (if available)

While we do not provide funding for travel or production costs, we are happy to issue letters of support for external grant or sponsorship applications.

We also welcome conversations with partners who are interested in co-developing residency frameworks or creative exchange programs.

THE ACCOMMODATION

Home

Public Presentation
Look What The World Did To Us ; Last Chapter
oleh Alexis Jestin (UNDERDOG) (Fr) dan peserta workshop

Sabtu, 17 Januari 2026   

19:30 WIB
WISMA SENI
Taman Budaya Jawa Tengah
Surakarta

Presentasi publik kali ini akan menampilkan hasil akhir dari “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US”, sebuah workshop tari yang dikembangkan oleh Alexis Jestin sebagai proyek pedagogis. Kental dengan pendekatan “belajar sambil bermain”, Alexis Jestin membagikan rangkaian latihan, permainan, dan diskusi selama 5 hari. Proyek ini mengolah gerak tari sebagai wahana utama untuk membantu peserta memahami seluk-beluk diri serta hubungannya dengan keadaan di sekitar. Sebagai babak penutup, proyek ini diselenggarakan di Kota Solo dan ditampilkan bersama 13 peserta.

Presentasi hasil workshop menampilkan kumpulan latihan, instruksi, dan permainan yang dirancang dan dikembangkan oleh Alexis Jestin sepanjang perjalanan proyek ini di berbagai negara, seperti Vietnam, Kolombia, dan Kuba, serta diperkaya oleh pengalamannya sebagai penari dalam berbagai karya dan proses kreatif sebelumnya. Penampilan akan ditutup dengan diskusi singkat bersama Alexis Jestin dan peserta workshop, untuk berbagi pertanyaan dan pengalaman yang dapat menjadi kesimpulan sekaligus bekal untuk perkembangan di waktu yang akan datang.

Presentasi hasil workshop ini merupakan bagian dari keterlibatan Alexis Jestin dalam program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan, berjalan sejak 11 – 25 Januari 2026.

This public presentation marks the culmination of LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a dance workshop developed by Alexis Jestin as a pedagogical project. Grounded in a strong “learning through play” approach, the workshop unfolded over five days, during which Alexis Jestin shared a series of exercises, games, and discussions. The project engages dance movement as its primary medium, inviting participants to explore a deeper understanding of themselves and their relationship to their surrounding conditions. As its closing chapter, the project takes place in the city of Solo and is presented together with 13 participants.

The workshop presentation brings together a selection of exercises, instructions, and games designed and developed by Alexis Jestin throughout the project’s journey across various countries, including Vietnam, Colombia, and Cuba. These materials are further informed by his experience as a dancer in numerous previous works and creative processes. The presentation will conclude with a short discussion involving Alexis Jestin and the workshop participants, offering a space to share questions and experiences that serve both as a reflection on the process and as groundwork for future development.

This workshop presentation forms part of Alexis Jestin’s participation in the Artist-in-Residence program organized by Studio Plesungan, taking place from 11–25 January 2026.


Presentasi ini terbuka untuk disaksikan umum dan gratis

Informasi lebih lanjut mengenai program ini dapat diakses melalui:
📞 +62 821 3322 9593
✉️ info@studioplesungan.org
🌐 www.studioplesungan.org


Workshop Series & Public Presentation
EKSPLORASI: Last Chapter of the Artventure Look What The World Did To Us
oleh Alexis Jestin

12–17 Januari 2026

Studio Plesungan menyelenggarakan EKSPLORASI: Last Chapter of the Artventure Look What The World Did To Us, sebuah rangkaian workshop dan presentasi publik yang dipandu oleh koreografer Alexis Jestin, pendiri dan direktur artistik UNDERDOG Project. Program ini menjadi babak penutup dari proyek pedagogis dan kreatif internasional Look What The World Did To Us, yang sejak 2018 telah melibatkan ratusan penari dari berbagai latar belakang di Eropa, Asia, dan Amerika Latin.

Melalui pendekatan yang menempatkan tubuh sebagai ruang pengalaman dan pengetahuan, workshop ini mengajak peserta untuk mengeksplorasi gerak sebagai cara membaca pengalaman pengasingan, kerentanan, dan pengucilan sosial. Proses kerja difokuskan pada praktik observasi langsung, eksperimen fisik, serta keberanian untuk memasuki wilayah uji coba, kegagalan, dan refleksi. Tubuh diperlakukan sebagai subjek sekaligus objek pengamatan, membuka kemungkinan munculnya bahasa gerak yang lebih jujur dan kontekstual.

Sebagai koreografer yang telah bekerja lintas negara dan budaya sejak awal kariernya, Alexis Jestin membawa pengalaman panjang dalam kerja kolaboratif, pedagogi tari, dan riset koreografis yang berangkat dari realitas sosial. Melalui program ini, ia juga membagikan refleksi atas perjalanan artistiknya, termasuk proses, metode kerja, serta komitmen artistik dan politik yang melatarbelakangi proyek Look What The World Did To Us.

Program ini ditutup dengan presentasi publik yang merefleksikan keseluruhan proses, membahas bagaimana proyek ini dirancang, dijalankan, dan dihadirkan kembali dalam berbagai konteks budaya.

—–

Studio Plesungan presents EKSPLORASI: Last Chapter of the Artventure Look What The World Did To Us, a series of workshops and a public presentation led by choreographer Alexis Jestin, founder and artistic director of UNDERDOG Project. This program marks the concluding chapter of Look What The World Did To Us, an international pedagogical and creative project that, since 2018, has engaged hundreds of dancers from diverse backgrounds across Europe, Asia, and Latin America.

Adopting an approach that positions the body as a site of experience and knowledge, the workshop invites participants to explore movement as a means of engaging with lived experiences of isolation, vulnerability, and social exclusion. The working process emphasizes direct observation, physical experimentation, and the willingness to enter states of trial, failure, and reflection. The body is treated simultaneously as subject and object of inquiry, opening space for the emergence of more honest and context-sensitive movement languages.

As a choreographer whose practice has evolved through extensive cross-cultural collaboration, Alexis Jestin brings with him a long-standing engagement with collective work, dance pedagogy, and choreographic research grounded in social realities. Through this program, he shares insights from his artistic journey, including working methods, creative processes, and the artistic and political commitments that underpin Look What The World Did To Us.

The program culminates in a public presentation that reflects on the overall process and discusses how the project has been conceived, developed, and re-contextualized across different cultural settings. The workshop and public presentation form part of Studio Plesungan’s Artist-in-Residence program.

Pendaftaran dan Informasi Selengkapnya / registration and more information : HERE


ON STAGE

“The Kitchen Under Skin”

Kenta Masukawa

Sabtu, 10 Januari 2026

19.30 WIB
di Teater Arena , Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Seberapa dekat kita hari ini dengan kegiatan memasak? Menghadapi arus bandang budaya warung dan makanan siap santap, adakah ruang dan waktu untuk benar-benar menyadari apa yang kita makan, serta hubungan tubuh kita dengan makanan tersebut? Melalui kerja koreografi, Kenta membuka kemungkinan untuk kembali mengalami makna memasak melalui apa yang ia sebut sebagai “koreografi resep”.

Apa yang dimaksud dengan koreografi resep, dan bagaimana proses memasak dapat dihadirkan sebagai sebuah pertunjukan?

Pertunjukan ini mengalihwahanakan susunan resep ke dalam rangkaian kata sebagai panduan gerak. Kata-kata ini menuntun tubuh untuk bergerak dari dalam, membangkitkan sensasi, ingatan, dan pengalaman yang tidak selalu terlihat. Bagi Kenta, memasak menjadi momen peralihan yang menghadirkan hubungan antara tubuh, makanan, dan pengalaman sebelum makanan tersaji. Karya ini juga menyinggung keterikatan kita pada jaringan industri pangan, sekaligus mengajak penonton mengingat kembali budaya pangan yang perlahan terhapus dan menunggu untuk dirasakan kembali.
Selengkapnya …

How close are we today to the act of cooking? In the face of the overwhelming flow of food stalls and ready to eat meals, is there still space and time to truly become aware of what we eat and of our bodily relationship with food? Through choreographic practice, Kenta opens up the possibility of re-experiencing the meaning of cooking through what he calls a “recipe choreography.”

What is meant by recipe choreography, and how can the process of cooking be presented as a performance?

The performance translates the structure of a recipe into a sequence of words that function as a movement guide. These words lead the body to move from within, evoking sensations, memories, and experiences that are not always visible. For Kenta, cooking becomes a moment of transition that creates a relationship between the body, food, and experience before the food is served. The work also touches on our entanglement with the food industry network, while inviting audiences to recall food cultures that are gradually disappearing and waiting to be felt again.

More about it …

Ticket

Pesan tiket di QR atau WA: 082133229593
Early Booking
Umum : 30 K
Pelajar : 20 K

On the Spot
Umum : 40 K
Pelajar : 25 K

Workshop Series
“The Whispered Spell Method”

Word-based choreography to embody movement

oleh Kenta Masukawa

Senin, 5 Januari 2026

15.00 – 18.00 WIB
di Studio Plesungan, Desa Plesungan rt03, rw02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181

Pernahkah kamu merasa tubuhmu tergugah hanya dengan membaca sebuah kalimat?

Atau merasakan getaran tertentu ketika mendengar puisi, mantra, atau syair yang melagu?

Bagaimana jika kata-kata tidak hanya dibaca atau didengar, tetapi menjadi titik awal terciptanya gerak?

Dalam workshop ini, Kenta Masukawa akan membagikan metode koreografi berbasis kata, sebuah pendekatan untuk menubuhkan bahasa menjadi pengalaman tubuh. Menelusuri kata sebagai pemicu sensasi, peserta diajak mengamati bagaimana tubuh mengolah bahasa menjadi peristiwa gerak.

Metode ini berangkat dari ungkapan ketsuniku-ka, pengetahuan yang diserap hingga menyatu dengan tubuh. Bagi Kenta, kata dapat menjadi pemantik yang dapat diserap, diolah, dan diwujudkan sebagai gerak. Dalam proses ini, koreografi menjadi cara tubuh belajar, mengingat, dan menubuhkan pengetahuan.

Workshop ini merupakan bagian dari program Artist in Residence Kenta Masukawa di Studio Plesungan, yang diselenggarakan melalui kerja sama dan dukungan dari Kyoto Art Center.
_____

Have you ever felt your body intrigued simply by reading a sentence?
Or sensed a certain vibration when hearing poetry, a mantra, or a melodic verse?
What if words were not only read or heard, but became the starting point for the creation of movement?

In this workshop, Kenta Masukawa shares a word-based choreographic method—an approach that embodies language as a bodily experience. By tracing words as triggers of sensation, participants are invited to observe how the body processes language and transforms it into a movement event.

This method departs from the concept of ketsuniku-ka, a form of knowledge absorbed until it becomes one with the body. For Kenta, words can function as stimuli that are internalized, processed, and manifested as movement. Through this process, choreography becomes a way for the body to learn, remember, and embody knowledge.

This workshop is part of Kenta Masukawa’s Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, organized in collaboration with and supported by Kyoto Art Center

  • Workshop gratis dan terbuka bagi praktisi dengan latar belakang tari/koreografi
  • Dibawakan dalam Bahasa Inggris dengan terjemahan Bahasa Indonesia
  • Kuota terbatas untuk 10 peserta

📌 Pendaftaran:

https://bit.ly/workshopkenta

📞 Informasi lebih lanjut:

WhatsApp: (+62) 821 3322 9593

NEWS !

Alexis Jestin Tutup Workshop Tari “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” dengan Presentasi Publik di Solo

Alexis Jestin Tutup Workshop Tari “LOOK WHAT THE WORLD DID TO US” dengan Presentasi Publik di Solo Sabtu, 17 Januari 2026 19:30 WIB Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta Studio Plesungan menggelar presentasi publik LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, sebuah workshop tari yang dikembangkan oleh penari dan koreografer Alexis Jestin sebagai proyek pedagogis. Presentasi ini menjadi penutup […]

Cita Rasa dari Solo dan Kyoto: Koreografi dari Budaya Memasak

PUBLIC PRESENTATION Cita Rasa dari Solo dan Kyoto: Koreografi dari Budaya Memasak Kenta Masukawa, seorang seniman pertunjukan yang kini berdomisili di Kyoto, melakukan residensi seni selama satu bulan di Studio Plesungan, untuk mengembangkan praktik artistiknya yang erat dengan budaya kuliner. Dalam penciptaan karya pertunjukannya telah dikembangkan di Kyoto, Kenta menciptakan skor koreografi dari proses pengolahan resep masakan yang kemudian  dijadikannya […]

Menyusun Gerak dari Memasak, Kenta Masukawa hadir pada On Stage di bulan Januari ini

On Stage edisi kali ini akan menghadirkan The Kitchen Under Skin, karya tunggal seniman asal Jepang, Kenta Masukawa. Karya ini berangkat dari praktik memasak sebagai inspirasi koreografi, dengan menyoroti gestur tubuh sehari-hari yang kerap dilakukan tanpa disadari. Aktivitas kecil di dapur, seperti menyentuh bahan mentah, memotong, menekan, dan menimbang dipahami sebagai pengalaman inderawi yang kaya. Pertunjukan ini mengalihwahanakan susunan resep […]

Kata-kata sebagai sumber koreografi dalam workshop “The Whispered Spell Method” bersama Kenta Masukawa

Workshop Series Kata-kata sebagai sumber koreografi dalam workshop “The Whispered Spell Method” bersama Kenta Masukawa “The Whispered Spell Method” Word-based choreography to embody movement oleh Kenta Masukawa 🗓 Senin, 5 Januari 2026 🕒 15.00 – 18.00 WIB Pernahkah kamu merasa tubuhmu tergugah hanya dengan membaca sebuah kalimat? Atau merasakan getaran tertentu ketika mendengar puisi, mantra, atau syair yang melagu? Bagaimana […]

Workshop Series “EKSPLORASI” – Latest chapters of the Artventure LOOK WHAT THE WORLD DID TO US – Workshop bersama Alexis Jestin dari UNDERDOG Project

Workshop Series & Public Presentation EKSPLORASI : Last chapter of the Artventure “Look What The World Did To Us” oleh Alxis Jestin 12 – 17 Januari 2026   Workshop Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026 Pukul : 13:00 – 18:00 WIB Tempat : Studio Plesungan Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181 […]

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24

Menelusuri Sungai Ingatan: “SOLO” oleh Li, Wen-Hao dalam ON STAGE #24  Pertunjukan Lintas Budaya yang Mengeksplorasi Ingatan, Migrasi, dan Identitas Lewat Sebuah Lagu Rakyat ON STAGE #24  SOLO oleh Li, Wen-Hao Jumat, 25 Juli 2025 19:30 WIB – selesai di  Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jl. Ir Sutami 16, Surakarta ____________________________________________________ Surakarta, Indonesia — Studio Plesungan dengan bangga mempersembahkan edisi ke-24 […]

Workshop membuat kertas dan melukis “Tangan: A Handmade Paper + Painting” oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba

Workshop Series Tangan: A Handmade Paper + Painting oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba Senin, 28 July 2025 Jam : 14:00 – 18:00 di Studio Plesungan Workshop ini berfokus pada penggunaan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan untuk membuat kertas menjadi lebih mudah diakses dan berkelanjutan. Workshop ini merespons kebutuhan yang semakin besar untuk mendaur […]

Multi-Universe of Pop Music in Post-War Asia, Kuliah Umum oleh Li, Wen-Hao

Lecture Series The Multi-Universe of Pop Music in Post-War Asia: A Public Lecture by Li Wen-Hao   Selasa, 22 Juli 2025 19:00 – 21:00 WIB di Studio Plesungan Apakah Anda pernah menyanyikan ulang lagu favorit dan mengunggahnya ke media sosial? Lagu cover adalah fenomena yang umum, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Taiwan, Hong Kong, dan Jepang pada era […]

Workshop Tari di Studio Plesungan: “It needs two to solo” oleh Chun Han

Workshop Series Artist In Transit Studio Plesungan “It needs two to solo” oleh Chun Han Sabtu, 19 July 2025 14:30 – 18:00 WIB Di Studio Plesungan Dalam sesi workshop ini, Chun-Han akan menilik kembali latar belakang dan beberapa proses penciptaan karya tari yang pernah ia kerjakan sebelumnya. Ia juga akan membagikan beberapa praktik fisik dan teknik, mempertemukan berbagai praktik gerak […]

Lecture Series : “Meretas Ingatan, Mewujudkan Dalam Tulisan” oleh Prof. Sumarsam

Lecture Series “Meretas Ingatan, Mewujudkan Dalam Tulisan” oleh Prof. Sumarsam (Profesor Winslow-Kaplan di Universitas Wesleyan, Connecticut, Amerika Serikat) Sabtu, 12 Juli 2025 10:00 – 12:00 WIB di Studio Plesungan – Desa Plesungan rt03rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181 (https://g.co/kgs/h7Kt6tx) Gagasan yang baik akan lebih baik lagi jika bisa disampaikan melalui tulisan, sehingga apa yang diinginkan bisa sampai kepada publik. […]

Hari Berganda: Pertunjukan “PING” Ela Mutiara dan Workshop Choy Ka Fai: Mengungkap Tubuh, Gender, dan Teknologi

Hari Berganda: Pertunjukan “PING” Ela Mutiara dan Workshop Choy Ka Fai: Mengungkap Tubuh, Gender, dan Teknologi Pada Sabtu mendatang, 24 Mei 2025, Studio Plesungan akan menggelar dua program menarik yang terbuka untuk publik di Solo dan sekitarnya. Kedua program ini menawarkan eksplorasi atas tubuh dalam kesenian melalui dua pendekatan yang berbeda. Pada siang hari, workshop “Telepresence in the Age of […]

Workshop Series: Butoh bersama Akihito Ichihara (ELF/Sankai Juku) di Studio Plesungan

Workshop Series Butoh bersama Akihito Ichihara (ELF / Sankai Juku)   Selama 3 hari, Akihito Ichihara membagikan workshop butoh yang berdasar pada pengalaman artistiknya sendiri dan keterlibatannya bersama Sankai Juku selama 31 tahun. Pada workshop ini, peserta workshop ikut serta dalam menciptakan pertunjukan bersama dengan Akihito Ichihara, untuk dipentaskan pada akhir program. For three days, Akihito Ichihara conducted a Butoh […]

PAST EVENTS

CALENDAR