About Studio Plesungan

Team

MELATI SURYODARMO Director
Melati Suryodarmo
Director

Melati Suryodarmo (lahir 1969, Solo, Indonesia) adalah seniman multidisipliner yang dikenal melalui seni performans berdurasi panjang yang menuntut kekuatan fisik, serta eksplorasinya atas hubungan tubuh dengan diri dan dunia. Menggabungkan pengaruh Butoh, tari, budaya Jawa, serta sejarah personal dan politik, karya-karyanya meliputi performans, instalasi, fotografi, dan film, dengan tema seputar rumah, spiritualitas, ingatan, dan aktivisme.

Lulusan Hochschule für Bildende Künste Braunschweig, Jerman, Suryodarmo telah menampilkan karyanya di berbagai institusi dan festival bergengsi, termasuk Van Gogh Museum (Amsterdam), Videobrasil (São Paulo), Museum of Contemporary Art Kiasma (Helsinki), Mori Art Museum (Tokyo), Para Site (Hong Kong), QAGOMA (Brisbane), Singapore Biennale, Museum MACAN (Jakarta), dan Asia Society Triennial (New York). Karya koreografinya juga telah dipresentasikan di TPAM (Yokohama), Sophiensaele (Berlin), Europalia Festival (Brussels), dan Indonesia Dance Festival (Jakarta).

Pada tahun 2012, ia mendirikan Studio Plesungan, sebuah ruang eksperimental untuk seni pertunjukan di Solo, Indonesia, dan sejak 2007 ia telah menyelenggarakan festival tahunan PALA dan Undisclosed Territory. Suryodarmo pernah menjabat sebagai Direktur Artistik Jakarta Biennale ke-17 (JIWA) pada 2017, serta Indonesia Bertutur, Festival Seni dan Budaya Nasional, pada 2022 dan 2024. Pada tahun 2022, ia menerima Bonnefanten Award for Contemporary Art (BACA) yang disertai dengan pameran tunggal di Bonnefanten Museum, Maastricht.

______________________________

Melati Suryodarmo (b. 1969, Solo, Indonesia) is a multidisciplinary artist known for her physically demanding durational performances and explorations of the body’s relationship to the self and the world. Drawing from Butoh, dance, Javanese culture, and personal and political histories, her work spans performance, installation, photography, and film, engaging with themes of home, spirituality, memory, and activism.

A graduate of the Hochschule für Bildende Künste Braunschweig, Germany, Suryodarmo has presented her work at major institutions and festivals including the Van Gogh Museum (Amsterdam), Videobrasil (São Paulo), Museum of Contemporary Art Kiasma (Helsinki), Mori Art Museum (Tokyo), Para Site (Hong Kong), QAGOMA (Brisbane), Singapore Biennale, Museum MACAN (Jakarta), and the Asia Society Triennial (New York). Her choreography has been featured at TPAM (Yokohama), Sophiensaele (Berlin), Europalia Festival (Brussels), and the Indonesia Dance Festival (Jakarta).

In 2012, she founded Studio Plesungan, a platform for experimental performance art in Solo, Indonesia, and has organized the annual festivals PALA and Undisclosed Territory since 2007. Suryodarmo served as Artistic Director of the 17th Jakarta Biennale (JIWA) in 2017 and of Indonesia Bertutur, Festival of Arts and Culture, in 2022 and 2024. In 2022, she received the Bonnefanten Award for Contemporary Art (BACA), accompanied by a solo exhibition at the Bonnefanten Museum, Maastricht.

Halim HD
Collective Advisor

Halim HD (lahir dengan nama Liem Goan Lay, 25 Juni 1952 di Serang, Banten) adalah seorang penulis, kritikus sastra, kurator seni pertunjukan, dan pegiat jaringan kebudayaan independen di Indonesia.

Sejak tahun 1972, ia aktif mengorganisir berbagai program kebudayaan dan menulis esai-esai yang dipublikasikan di berbagai jurnal dan media massa. Antara tahun 1989 hingga 1992, Halim mengajar Bahasa Indonesia di University of Michigan dan menjadi asisten riset untuk proyek Modern Indonesia di Cornell University.

Sebagai seorang networker budaya, Halim HD dikenal luas atas perannya dalam membangun jaringan seni lintas kota di Indonesia dan mancanegara. Ia aktif memperkuat ekosistem seni pertunjukan melalui berbagai inisiatif, forum, dan kolaborasi, termasuk keterlibatannya sebagai pembicara di berbagai konferensi dan seminar.

Jejak kontribusi Halim dalam dunia seni dan budaya Indonesia terdokumentasi dalam berbagai arsip penting, salah satunya di Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Dengan dedikasi panjang terhadap pengembangan seni lintas disiplin dan komunitas, Halim HD menjadi salah satu sosok penting dalam dinamika jejaring kesenian dan budaya di Indonesia.

_________

Halim HD  is a writer, literary critic, performing art curator, and a prominent advocate of independent cultural networks in Indonesia.

Since 1972, he has been actively organizing cultural programs and writing essays published in various journals and media outlets. Between 1989 and 1992, Halim taught Indonesian at the University of Michigan and served as a research assistant for the Modern Indonesia Project at Cornell University.

As a cultural networker, Halim HD is widely recognized for his role in building artistic networks across cities in Indonesia and abroad. He has been instrumental in strengthening the ecosystem of performing art through numerous initiatives, forums, and collaborations, and has frequently been invited as a speaker at various conferences and seminars.

Halim’s contributions to Indonesia’s arts and cultural landscape are well-documented in major archives, including the Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Through his long-standing dedication to cross-disciplinary artistic development and community engagement, Halim HD has become one of the key figures in the dynamic landscape of Indonesian art and cultural networks.

Achri Hendratno
Head of Administration

Achri Hendratno menempuh pendidikan seni lukis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Semasa kuliah, ia mulai aktif terlibat di Studio Plesungan, berkontribusi dalam berbagai kegiatan dan proyek seni. Sejak tahun 2012, Achri menjabat sebagai koordinator proyek untuk sebagian besar program yang diselenggarakan Studio Plesungan, mengelola pengembangan dan pelaksanaan berbagai inisiatif lintas disiplin. Di samping perannya dalam pengelolaan proyek, ia terus mengembangkan praktik artistiknya secara mandiri, menciptakan karya-karya lukis dan seni pertunjukan yang mengeksplorasi pertemuan antara ekspresi visual dan pengalaman tubuh.

_________________

Achri Hendratno studied painting at the Faculty of Art and Design, Sebelas Maret University, Surakarta. During his time as a student, he became actively involved with Studio Plesungan, where he began contributing to various artistic activities and projects. Since 2012, Achri has served as the project coordinator for the majority of Studio Plesungan’s programs, overseeing the development and execution of numerous interdisciplinary initiatives. Alongside his work in project management, he continues to pursue his own artistic practice, creating paintings and engaging in performance art, exploring the intersection between visual expression and embodied experience.

 Razan Wirjosandjojo
Program Coordinator

Razan Wirjosandjojo adalah seorang seniman yang saat ini berbasis di Solo, Indonesia. Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Tari, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 2022. Razan memulai perjalanan artistiknya di bidang tari sejak tahun 2010, dengan belajar berbagai disiplin gerak di berbagai ruang dan komunitas di Jakarta hingga tahun 2017. Setelah pindah ke Solo, ia melanjutkan pendalaman tari, seni pertunjukan, dan seni rupa di bawah bimbingan Melati Suryodarmo sejak tahun 2018. Pengalaman ini telah memperluas perspektif kritisnya, terutama dalam praktik seni pertunjukan dan karya film.
Karya-karyanya telah dipresentasikan dalam berbagai ajang, seperti On Stage (Solo, 2021), Imajitari Dance Film Festival (Jakarta, 2021), Galeri Nasional Indonesia (Jakarta, 2022), Indonesia Bertutur (Borobudur, 2022), dan STRE@M (Singapura/Korea, 2022), di antara lainnya.
Saat ini, Razan terus mengembangkan praktik artistiknya, sekaligus aktif sebagai murid dan bekerja di Studio Plesungan.

______________

Razan Wirjosandjojo is an artist currently based in Solo, Indonesia. He completed his studies at the Dance Department of Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta in 2022. Razan began his artistic journey in dance in 2010, training across various disciplines within different spaces and communities in Jakarta until 2017. After relocating to Solo, he has been studying dance, performance, and visual art under the mentorship of Melati Suryodarmo since 2018. This ongoing experience has significantly broadened his critical perspective, particularly in the fields of performance and film.
His works have been presented at On Stage (Solo, 2021), Imajitari Dance Film Festival (Jakarta, 2021), Galeri Nasional Indonesia (Jakarta, 2022), Indonesia Bertutur (Borobudur, 2022), STRE@M (Singapore/Korea, 2022), among others.
Currently, Razan continues to develop his artistic practice while actively participating as a student and part-time staff member at Studio Plesungan.

 Annastasya Verina
Program Coordinator

Annastasya Verina adalah koreografer dan penari yang lahir dan dibesarkan di Jakarta, Indonesia. Ia mulai menari sejak usia tujuh tahun dengan mempelajari berbagai bentuk tari tradisional Indonesia. Pengalaman awal ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan praktik geraknya di ranah tari modern dan kontemporer. Ia menempuh pendidikan formal di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan lulus pada tahun 2022.

Setelah menyelesaikan studinya, Verina memilih untuk menetap di Surakarta dan terus mengembangkan praktik artistiknya melalui berbagai lokakarya intensif, pelatihan mandiri, serta keterlibatan jangka panjang dengan Studio Plesungan. Karyanya berangkat dari realitas keseharian, dengan memandang perubahan sebagai kondisi yang terus berlangsung. Bagi Verina, tari menjadi medium untuk mengamati, mengolah, dan merefleksikan konteks sosial, budaya, dan politik yang dialami tubuh secara langsung.

Riset koreografinya banyak terinspirasi oleh aktivitas sehari-hari dan gestur-gestur yang tampak sederhana. Melalui eksplorasi gerak yang halus dan penuh perhatian, ia menelusuri bagaimana tindakan rutin menyimpan jejak identitas, ingatan, serta kode-kode budaya. Dengan memperlambat dan mengolah ulang gestur tersebut, karya-karyanya menghadirkan ketegangan yang sunyi sekaligus kemungkinan puitik yang tersembunyi dalam kebiasaan sehari-hari.

Sebagai penari, Verina telah terlibat dalam karya-karya Melati Suryodarmo, Hartati, Sri Astari Rasjid, dan Razan Wirjosandjojo. Karya koreografinya telah dipresentasikan di berbagai konteks seni, antara lain Waktu Ku Kecil, Tidak Besar (ISI Surakarta, 2022), Helatari (Komunitas Salihara, Jakarta, 2023), Jangan Sampai Bolong (Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2023), A Brief History of Making Odd (Pekan Kebudayaan Nasional, Jakarta, 2023), Menitik Dengung (Dance Arts Gathering, Riau, 2023), serta Sebut Saja “n” (Indonesia Bertutur, Ubud, 2024). Pada tahun 2025, Verina mengikuti program Shifting Points, sebuah inisiatif bagi koreografer muda Asia Tenggara dan Jepang yang diselenggarakan oleh Kyoto Experiment dan Bangkok International Performing Arts Meeting.

___________________________________________

Annastasya Verina is a choreographer and dancer born and raised in Jakarta, Indonesia. She began dancing at the age of seven, initially training in various forms of traditional Indonesian dance. This early grounding in embodied tradition later became an important foundation for her contemporary movement practice. She pursued her formal education in dance at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta and graduated in 2022.

After completing her studies, Verina chose to remain in Surakarta, where she continues to develop her artistic practice through intensive workshops, independent training, and long-term engagement with Studio Plesungan. Her work is deeply rooted in everyday life, approaching change not as an exception but as a constant condition. Dance, for Verina, becomes a way to observe, process, and reflect upon social, cultural, and political realities as they are lived through the body.

Her choreographic research is often inspired by daily activities and ordinary gestures. Through subtle and attentive movement exploration, she investigates how habitual actions carry traces of identity, memory, and cultural codes. By slowing down and reworking these gestures, her work reveals the quiet tensions and poetic possibilities embedded in routine behavior.

As a performer, Verina has collaborated with a range of artists, including Melati Suryodarmo, Hartati, Sri Astari Rasjid, and Razan Wirjosandjojo. Her choreographic works have been presented in various artistic contexts, including Waktu Ku Kecil, Tidak Besar (ISI Surakarta, 2022), Helatari (Komunitas Salihara, Jakarta, 2023), Jangan Sampai Bolong (Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 2023), A Brief History of Making Odd (National Cultural Week, Jakarta, 2023), Menitik Dengung (Dance Arts Gathering, Riau, 2023), and Sebut Saja “n” (Indonesia Bertutur, Ubud, 2024). In 2025, she participates in Shifting Points, a program for emerging choreographers from Southeast Asia and Japan initiated by Kyoto Experiment and Bangkok International Performing Arts Meeting.

Studio Plesungan Children Education Team

Luna Dian S.A
Coordinator for Education Program
Teacher for Children’s Painting Class

Luna Dian Setya lahir di Surakarta pada tahun 1993, dan saat ini tinggal serta berkarya di kota tersebut. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana di Jurusan Seni Rupa Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada tahun 2015, kemudian melanjutkan studi Pascasarjana di universitas yang sama hingga tahun 2019.

Sebagai seniman independen, Luna bekerja lintas medium, meliputi gambar, lukisan, dan seni performans. Ia aktif berkolaborasi dengan pelaku seni dari berbagai disiplin, termasuk penulis, musisi, dan aktor, serta senantiasa membuka diri terhadap kemungkinan teknik dan bentuk artistik baru dalam praktiknya.

Sejak tahun 2020, Luna mengajar kelas menggambar dan melukis anak di Studio Plesungan. Pengalamannya sebagai juri lomba lukis anak sejak masa kuliah menumbuhkan ketertarikannya pada hubungan antara seni rupa, anak, dan pendidikan. Bagi Luna, seni untuk anak bukan semata ruang kompetisi, melainkan sarana memperkaya pengalaman, mengenalkan beragam teknik dan medium, serta membuka ruang eksplorasi ide. Mengajak anak untuk mengekspresikan diri dan bercerita melalui karya menjadi tujuan utamanya, seiring dengan pembentukan karakter anak.

__________________________

Luna Dian Setya was born in Surakarta in 1993 and currently lives and works in the city. She completed her undergraduate studies in Fine Art at the Faculty of Art and Design, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta in 2015, and continued her postgraduate studies at the same institution until 2019.

Working as an independent artist, Luna engages with drawing, painting, and performance art. She frequently collaborates with practitioners from other disciplines, including writers, musicians, and actors, and remains open to exploring new techniques and artistic forms within her practice.

Since 2020, Luna has been teaching children’s drawing and painting classes at Studio Plesungan. Her experience as a judge in children’s painting competitions during her student years sparked a sustained interest in the relationship between visual art, childhood, and education. For Luna, art for children is not merely about competition, but about enriching experience—introducing diverse techniques and media, and opening space for imaginative exploration. Encouraging children to express themselves and tell stories through art remains central to her pedagogical approach, alongside character development.

Putri Erpi Cahyaning Asri
Instructor for Children’s Dance Class

Putri Erpy Cahyaning Asri lahir di Surakarta pada 30 April 1999. Ia telah mengenal dan mempelajari tari klasik Jawa gaya Surakarta sejak usia dini melalui lingkungan keluarga, Sanggar Seni Metta Budaya Surakarta (2005), serta pendidikan di dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sejak tahun 2011.

Erpy mengembangkan kompetensi tari secara formal di SMK Negeri 8 Surakarta (SMKI) pada tahun 2015 dengan mengambil jurusan seni tari. Pada masa ini, ia terlibat dalam proses kreatif karya tari Topeng Suminten untuk ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), yang meraih Juara I Tingkat Nasional pada tahun 2017 di Nusa Tenggara Timur.

Sejak tahun 2018, Erpy melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia Surakarta dan memperdalam praktik seni tari serta koreografi. Ia aktif terlibat dalam berbagai proyek kolaboratif bersama seniman, antara lain Eko Supriyanto (Land of Diversity), Widya Ayu Wardhani (Suwun Pamrih), Garin Nugroho (Film Musikal Melodrama), Muslimin Bagus Pranowo (Innong Bale), Anggita Shelly Alvionika (Srikandhi Senopati), serta Septia Pramudya Wardhani Karsaning Tyas (Lintas).

Selain kolaborasi, Erpy juga menciptakan karya-karya koreografi independen, di antaranya Swayamvara (2018), Tedhak (2022), dan Budaya Jawi (2023).

______________________________________

Putri Erpy Cahyaning Asri was born in Surakarta on April 30, 1999. She has been immersed in classical Javanese dance of the Surakarta style since an early age, learning through her family environment, Sanggar Seni Metta Budaya Surakarta (2005), and later within the cultural sphere of the Kasunanan Surakarta Hadiningrat Palace beginning in 2011.

In 2015, Erpy pursued formal training in dance at SMK Negeri 8 Surakarta (SMKI), majoring in dance. During this period, she participated in the creative process of the dance work Topeng Suminten, which won First Prize at the National Student Arts Festival and Competition (FLS2N) in 2017, held in East Nusa Tenggara.

She continued her studies in dance and choreography at Institut Seni Indonesia Surakarta in 2018. Alongside her academic training, Erpy has been actively involved in collaborative projects with artists such as Eko Supriyanto (Land of Diversity), Widya Ayu Wardhani (Suwun Pamrih), Garin Nugroho (Musical Melodrama Film), Muslimin Bagus Pranowo (Innong Bale), Anggita Shelly Alvionika (Srikandhi Senopati), and Septia Pramudya Wardhani Karsaning Tyas (Lintas).

In parallel with her collaborative practice, Erpy has developed her own choreographic works, including Swayamvara (2018), Tedhak (2022), and Budaya Jawi (2023).

Ahmad Saroji
Instructor for Children’s Dance Class

Ahmad Saroji lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 30 Agustus 1997. Ia memulai perjalanan sebagai seniman tari dengan menempuh pendidikan di SMKI Surakarta pada tahun 2013, kemudian melanjutkan studi Sarjana di Institut Seni Indonesia Surakarta dan lulus pada tahun 2019.

Dalam praktik profesionalnya, Ahmad Saroji aktif sebagai penari dalam berbagai karya seniman tari profesional, serta telah beberapa kali tampil di luar negeri. Selain berkarya sebagai seniman, ia juga berperan sebagai pendidik. Saat ini, Ahmad Saroji mengajar di SMKI Surakarta dan di Sanggar Studio Plesungan.

Sebagai pengajar, ia telah membimbing dan menciptakan karya-karya tari yang berpartisipasi dalam berbagai lomba dan festival hingga tingkat nasional. Ia juga kerap dipercaya sebagai juri lomba tari di tingkat daerah maupun provinsi.
____________________________________________

Ahmad Saroji was born on August 30, 1997, in Pati, Central Java. He began his artistic training in dance at SMKI Surakarta in 2013, and later completed his undergraduate studies at Institut Seni Indonesia Surakarta, graduating in 2019.

Throughout his career, Ahmad Saroji has been actively engaged as a dancer in the works of professional choreographers and has performed internationally on several occasions. Alongside his artistic practice, he is deeply involved in arts education. He currently teaches at SMKI Surakarta and at Studio Plesungan.

As an educator, he has guided and created dance works that have participated in competitions and festivals at regional and national levels. He is also frequently invited to serve as a jury member for dance competitions at both regional and provincial levels.

Studio Plesungan Freelance Team

Zanudhimas Safrudin
Technical Director and Collective Member
Riski Ade
Lighting Designer and Collective Member
Mahawang Agung Probowo
Sound Operator and Collective Member
Ali Maksum
Technical Crewand Collective Member
Dwi
Technical Crew
Sanji Bagus Gumelar
Lighting Crew and Collective Member
Fajri
Sound Technician
Dwi
Technical Crew and Collective Member
Technical Crew and Collective Member
Fajar Ritus
Videographer and Collective Member
Jauhari
Photographer and Collective Member
A. Semali
Media Archivist and Collective Member

Studio Plesungan Collective Members

Dani S Budiman
Collective Member

Dani S Budiman (lahir 1999, Cilacap, Jawa Tengah) adalah penari dan seniman pertunjukan yang tumbuh dalam lingkungan seni tradisi. Sejak 2018, ia menetap di Surakarta dan menyelesaikan studi Sarjana di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 2022. Praktiknya bergerak di antara desa dan kota, menelusuri ruang antara yang sakral dan eksperimental, serta mencoba mengartikulasikan “kedesaan tubuh” dalam dialog dengan wacana seni kontemporer.

Karya-karya Dani berangkat dari dorongan spekulatif yang ia kelola melalui berbagai pendekatan artistik. Ia menelusuri jejak kerja, relasi kuasa, spiritualitas, dan representasi nilai yang terarsip di dalam tubuh-tubuh desa dan praktik tradisi. Saat ini, ia aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan terlibat dalam produksi karya bersama seniman nasional dan internasional, termasuk pelatihan intensif bersama Melati Suryodarmo, serta menjadi bagian dari komunitas Studio Plesungan.

Sejak 2020, Dani mulai mengembangkan karya-karya mandiri yang dipresentasikan dalam berbagai konteks pertunjukan, di antaranya Buruh Tubuh #1 (2020), U Feel, Two Chair, Me Time, Jerat Jerit (2021), Buruh Tubuh (2022), Jantur (2023), The Sign dan Senandika (2024), serta Symtomp (2025).

______________________________

Dani S Budiman (b. 1999, Cilacap, Central Java) is a dancer and performance artist who grew up within a traditional arts environment. Since 2018, he has been based in Surakarta, where he completed his Bachelor’s degree at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta in 2022. His practice moves between village and city contexts, navigating the space between the sacred and the experimental, and articulating what he describes as a “rural body” in dialogue with contemporary artistic discourse.

His works emerge from speculative impulses shaped through diverse artistic approaches. Dani investigates traces of labor, structures of power, spirituality, and embodied values embedded within village bodies and traditional practices. He is currently active in various training programs and collaborative productions with national and international artists, including intensive training with Melati Suryodarmo, and is a member of the Studio Plesungan community.

Since 2020, Dani has developed and presented a series of independent works, including Buruh Tubuh #1 (2020), U Feel, Two Chair, Me Time, Jerat Jerit (2021), Buruh Tubuh (2022), Jantur (2023), The Sign and Senandika (2024), and Symtomp (2025).

Sekar Tri Kusuma
Collective Member

Sekar Tri Kusuma (lahir 1999, Surakarta) adalah seniman tari yang telah berkarya sejak usia dini. Praktiknya mencakup pertunjukan, kolaborasi lintas disiplin, serta pengembangan riset gerak berbasis memori tubuh. Ia memiliki pengalaman tampil dalam berbagai konteks nasional dan internasional, antara lain Muara Festival oleh Era Dance Theatre di Singapura (2016), Global Youth Culture Forum di Jeju (2018), Asian Para Games Jakarta (2018), serta Pekan Kebudayaan Nusantara Mighty Indonesia karya Eko Supriyanto (2020).

Sekar terlibat dalam berbagai proyek seni dan festival, termasuk Undisclosed Territory #15 “Pilgrim”, SIPA, Indonesia Bertutur 2022, serta kolaborasi dengan MAD Laboratory Project dan berbagai platform pertunjukan di Indonesia. Sejak 2023, ia mengembangkan Sinekar, sebuah laboratorium gerak yang berfokus pada pengarsipan memori tubuh serta pembacaan ulang ruang domestik dan digital sebagai strategi penciptaan.

Ia menyelesaikan studi Magister Seni di Institut Seni Indonesia Surakarta dan saat ini terlibat dalam Sea of Silence Project bersama Tamara Cubas, yang telah dipresentasikan di berbagai panggung internasional, termasuk Teatro Solís (Montevideo), Festival d’Avignon, dan Tanz im August.

_______________________________

Sekar Tri Kusuma (b. 1999, Surakarta) is a dance artist whose practice has developed since early childhood. Her work encompasses performance, interdisciplinary collaboration, and movement research grounded in bodily memory. She has performed in various national and international contexts, including Muara Festival by Era Dance Theatre in Singapore (2016), the Global Youth Culture Forum in Jeju (2018), the Asian Para Games Jakarta (2018), and Mighty Indonesia by Eko Supriyanto at the Nusantara Cultural Week (2020).

Sekar has been involved in numerous artistic platforms and festivals, such as Undisclosed Territory #15 “Pilgrim,” SIPA, Indonesia Bertutur 2022, and collaborative projects with MAD Laboratory Project, among others. Since 2023, she has been developing Sinekar, a movement laboratory that functions as a navigational tool for her artistic creation, focusing on the archiving of bodily memory and the deconstruction of domestic and digital spaces.

She holds a Master of Arts degree from the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta and is currently involved in Sea of Silence Project with Tamara Cubas, which has been presented internationally at venues including Teatro Solís (Montevideo), Festival d’Avignon, and Tanz im August.

Mekratingrum Hapsari
Collective Member

Mekratingrum Hapsari (lahir 1995, Surakarta) adalah penari dan koreografer dengan latar belakang seni tradisi Indonesia serta ketertarikan kuat pada praktik seni modern dan kontemporer. Karyanya mengeksplorasi pengetahuan tubuh, ritus, dan pertunjukan lintas disiplin. Ia mengikuti residensi La Biennale College Danza di Venesia (2018) serta tampil dalam karya Marie Chouinard dan Daina Ashbee.

Sejak 2019, Hapsari belajar secara intensif bersama Melati Suryodarmo, dan aktif di Studio Plesungan. Sebagai performer, ia telah bekerja dengan seniman nasional dan internasional seperti Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ari Rudenko, Nina Dipla, dan Otniel Tasman. Karya koreografinya antara lain Daring, Meniti, Thank You, Satu Garis Menurun, a Day to Remember, Letak, dan Gereja Muda.

Ia terlibat dalam proyek Bodies of Care serta menciptakan Thank You, sebuah karya berbasis instruksi bersama LIGNA Hamburg, didukung Goethe-Institut Indonesia dan Sasikirana Bandung. Hapsari meraih gelar Magister Seni dari Institut Seni Indonesia Surakarta pada 2024 dan saat ini tengah mengembangkan karya baru melalui program pertukaran Solo x Naarm, bekerja sama dengan Yuiko Masukawa untuk presentasi di Naarm dan Solo pada 2026.
______________________________________________

Mekratingrum Hapsari (b. 1995, Surakarta) is a dancer and choreographer with a background in Indonesian traditional arts and a strong engagement with modern and contemporary practices. Her work explores embodied knowledge, ritual, and interdisciplinary performance. She participated in La Biennale College Danza in Venice (2018) and has performed in works by Marie Chouinard and Daina Ashbee.

Since 2019, Hapsari has been studying intensively with Melati Suryodarmo and is actively involved with Studio Plesungan. As a performer, she has collaborated with national and international artists including Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ari Rudenko, Nina Dipla, and Otniel Tasman. Her choreographic works include Daring, Meniti, Thank You, Satu Garis Menurun, a Day to Remember, Letak, and Gereja Muda.

She has participated in the Bodies of Care project and co-created Thank You, an instruction-based performance with LIGNA Hamburg, supported by Goethe-Institut Indonesia and Sasikirana Bandung. Hapsari earned her Master of Arts degree from the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta in 2024 and is currently developing a new choreographic work through the Solo x Naarm exchange program, in collaboration with Yuiko Masukawa, to be presented in Naarm and Solo in 2026.

Dimas Eka Prasinggih
Collective Member
Mohammad Risqi Alfandi
Collective Member
Maulidia Nur Vonjiana
Collective Member
Sulaiman
Collective Member
Suntoro Aji
Collective Member
Suntoro Aji
Collective Member
Vanstie Ocxy Christ M
Collective Member
Yunianto Dwi Nugroho (Yonex)
Collective Member
Collective Member