Retno Sulistyorini

 

WAKTU LINGKAR

by
RETNO SULISTYORINI

ON STAGE hadir untuk ketiga kalinya dengan menampilkan Waktu Lingkar dan Noise , dua karya Retno Sulistyorini, seniman peraih Hibah Seni Kelola 2019.

“Waktu Lingkar” terinspirasi dari aktifitas yang dilakukan berulang kali hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Semua terlihat sama, apa yang dilihat, suasana yang dirasakan, waktu yang dipakai, dan masih banyak lagi. Namun rutinitas selalu memunculkan pergolakan batin yang berubah-ubah. Suasana hati sangat mempengaruhi ekspresi kejiwaan untuk mempresentasikan apa yang dirasakan. Karya ini adalah sebuah ekpresi tubuh tentang pergolakan batin dalam menghadapi sebuah rutinitas. Selain menggunakan media gerak dan tubuh, “Waktu Lingkar” juga melibatkan vokal. Karya ini pertama kali dipentaskan dalam program Dance in Asia di Teater Arena oleh Retno Sulistyorini dan Cahwati. Pada pementasan kedua ini Retno Sulistyorini akan tampil bersama Hana Yulianti.

Sementara karya berjudul “Noise” bertitik tolak dari pengamatan pada keriuhan suasana yang terjadi disekitar. Suasana tersebut sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan manusia. Keriuhan bagi beberapa orang bisa sangat mengganggu dan mempengaruhi emosi, tapi tidak terlalu mengganggu untuk beberapa orang lainnya. Pada pementasan perdananya, “Noise” akan ditampilkan oleh David Bima Sakti Perdana, Prasetya Dwi Adi Nugroho, Kristiyanto, Hana Yulianti dan Yezyuruni Forinti.

Tentang Retno Sulistyorini

Retno Sulistyorini atau biasa disapa Enno, lahir di Jakarta tahun 1981. Enno belajar tari secara formil di SMKI Surakarta dan melanjutkannya ke jurusan tari jalur kepenarian di ISI Surakarta. Saat kuliah Enno juga mulai mengenal dan belajar pada seniman seni pertunjukan dan koreografer-koreografer senior di Surakarta seperti Suprapto Suryodarmo, Mugiyono Kasido, dan Eko Supriyanto sehingga ia kemudian memutuskan untuk mengubah jalur studinya dari kepenarian menjadi koreografi. Baginya menjadi koreografer sangat menantang karena dituntut untuk terus berkarya. Enno punya ketertarikan besar pada isu-isu perempuan. Setelah karya „Pisau“ (2000), Enno menciptakan “Nafas” (2003) yang bercerita tentang tradisi pingit untuk perempuan Jawa. Enno memperlakukan karya-karyanya sebagai sesuatu yang terus berkembang dan berubah setiap kali dipentaskan. Contohnya seperti karya “Pisau” yang selalu dipentaskan dengan format visual yang variatif di tiap pementasannya. Karya “Pisau” pula melatarbelakangi penciptaan “Ruang dalam Tubuh” yang didukung program Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola tahun 2010 silam. Saat berkarya, Enno juga senang mengeksplorasi keruangan dan bentuk visual. Dalam karya “Samparan Moving Space”, Enno memadukan tari dengan beragam sudut pandang seperti instalasi, seni rupa dan teater. Karya yang meraih dukungan Hibah Seni Kelola 2007 ini menjadi karya yang paling berkesan bagi Enno, karena tampil pada pertunjukan tunggal perdananya. Bahkan, ia mendapatkan undangan pentas dan diskusi di berbagai tempat berkat karya ini, di antaranya beberapa kota Italia, Belanda dan Belgia. Enno yang karyanya banyak berpijak pada keseharian kembali mendapatkan Hibah Seni Kelola 2019, untuk karya yang berjudul “Waktu Lingkar”. Karya-karya Enno diantaranya: WAKTU LINGKAR (2019), SELAPAN (2018), KANAN DAN KIRI (2018), API (2018), ROMAN (2016), GARBA (2016), LABIRIN (2015), PAGI YANG DIPUNGUT (2013), KLISE (2011), RUANG DALAM TUBUH (2010), TUBUH BISU (2009), SAMPARAN MOVING SPACE (2007), KUMARI (2006), NAFAS (2004), PISAU (2000).

Tentang Kelola

Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai dan dikagumi di seluruh dunia. Kreativitas anak bangsa yang menciptakan inovasi yang membanggakan perlu terus dipupuk dan didukung oleh kita semua. Sebagai organisasi nirlaba berjangkauan nasional, Kelola memberi perhatian khusus agar generasi ke generasi seni dan budaya Indonesia terus hidup dan berdaya saing di dunia internasional. Didirikan pada 1999, Kelola menyediakan peluang belajar, pendanaan dan informasi. Kelola juga mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin kerjasama antar pelaku seni untuk berdialog, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja dengan masyarakat seni dan budaya nasional maupun internasional. Program-program Kelola disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia. Bila kebutuhan masyarakat-masyarakat seni dan budaya bergeser dan berubah, program Kelola pun akan ikut berubah. Program-program Kelola dimungkinkan berkat kemitraan dengan HIVOS, The Ford Foundation, The Asian Cultural Council, The Asialink Centre, Biyan Wanaatmadja, First State Investments Indonesia, donatur perorangan, dan berbagai organisasi seni budaya Sejak 1999, Kelola telah mendukung lebih dari 3500 seniman dan pekerja seni Indonesia untuk berkarya, mengembangkan kapasitas, dan memperluas jaringan mereka di bidang tari, musik, teater, dan seni visual.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

 

20 – 21 SEPTEMBER 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

__________________________________________________