Workshop Series adalah ruang tumbuh yang diinisiasi oleh Studio Plesungan, tempat di mana pengetahuan teknis dan bentangan wacana bersilang dan berkembang. Di sini, para penggiat seni yang telah menempuh jalan panjang—dengan reputasi yang teruji dan pengalaman yang dalam—dihadirkan untuk berbagi pengetahuan dan metode kerja mereka.
Program ini terbuka bagi siapa saja yang ingin menyelami lebih jauh praktik tari, musik, teater dan sastra, seni visual dan seni performans. Workshop Series mengundang kita semua untuk merengkuh seni dalam keberagamannya—sebagai bentuk pencarian, pemahaman, dan penyatuan yang terus-menerus.
Workshop Series is a space for growth initiated by Studio Plesungan—a meeting ground where technical knowledge and critical discourse intertwine and evolve. Within this space, seasoned art practitioners with long-standing reputations and deep experience are invited to share their wisdom and insights.
This program is open to anyone seeking to delve deeper into the movements of dance and the resonances of music, the breath of theatre and the curves of literature, the visual form and the performative body.
Workshop Series invites us to embrace art in all its diversity—as an ongoing journey of discovery, understanding, and unity.
____________________________________________
Butoh with Akihito Ichihara

Workshop Butoh
oleh Akihito Ichihara
(ELF / Sankai Juku)
Tanggal : 12-14 Maret 2025
Waktu : 13:00 – 18:00 WIB
Lokasi : Studio Plesungan

Akihito Ichihara adalah penari Butoh asal Jepang (ELF, Sankai Juku). Ichihara mulai mendalami seni peran sejak remaja. Pada tahun 1980-an, ia sangat terpengaruh setelah menonton kelompok Butoh ternama Sankai Juku di televisi, yang menginspirasinya untuk mengeksplorasi ekspresi fisik yang lebih luas di atas panggung. Pada tahun 1993, Ichihara mengambil jurusan teater di Nihon University College of Art. Ichihara terdorong untuk menekuni karier Butoh pada tahun 1994, kemudian pada tahun 1996, ia belajar di bawah bimbingan Semimaru, salah satu anggota pendiri Sankai Juku. Pada tahun 1997, Ichihara tampil sebagai penari dalam sebuah opera yang disutradarai oleh Ushio Amagatsu, direktur artistik dan koreografer Sankai Juku, dan kemudian bergabung dengan kelompok tersebut. Sejak saat itu, ia tampil dalam seluruh repertoar Sankai Juku dan mengikuti sebagian besar tur dunia kelompok tersebut.
Praktik artistik Ichihara termasuk seni pertunjukan: teater, tari, dan Butoh. Selain proyek tunggalnya, ia juga bekerja sama dengan penari dan kelompok Butoh paling berpengaruh dalam sejarah Butoh kontemporer. Sejak re-creation karya “Kinkan Shonen” pada tahun 2005 (yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1978), ia menari solo dalam beberapa pertunjukan Sankai Juku dan memimpin tarian kelompok sebagai salah satu penari utama. Ia juga bertanggung jawab atas desain dan produksi aksesori yang dikenakan para penari di atas panggung.
Sejalan dengan pekerjaannya di Sankai Juku, Ichihara berkolaborasi dengan berbagai koreografer, sutradara, dan kelompok tari dari seluruh dunia. Ia juga menjadi dosen tamu di Sekolah Pascasarjana Universitas Okayama dan pembicara tamu di forum internasional.
Pada tahun 2022, Ichihara mendirikan company tari “ELF” bersama para penari muda. Sejak saat itu, ELF telah mengadakan lokakarya dan menampilkan karya-karyanya di institusi dan universitas ternama di seluruh dunia.
Pada musim semi 2023, ELF melakukan tur di Amerika Latin, termasuk di Bogota, Kolombia, serta di berbagai lokasi di Meksiko, Taiwan, dan San Francisco. Kegiatan ini mendapat pujian kritis dan undangan berulang. ELF berencana mengadakan tur dunia pada tahun 2024.
Selama bertahun-tahun, Sankai Juku terus menyempurnakan dan mensistematisasi teknik mereka sambil melakukan pertunjukan di seluruh dunia. Ichihara percaya bahwa “Metode Sankai Juku” adalah “dance d’école” dalam Butoh dan bangga telah terlibat secara mendalam dalam pengembangannya. Ichihara dan ELF telah mendapat pengakuan tinggi di seluruh dunia melalui lokakarya dan pertunjukan mereka yang didasarkan pada Metode Sankai Juku.
Akihito Ichihara is Japanese Butoh dancer (ELF, Sankai Juku). Ichihara started acting in his teenage years. In the 1980s, he was greatly influenced by watching the renowned Butoh troupe Sankai Juku on TV, which inspired him to explore a greater range of physical expression on stage. In 1993, he majored in theater at Nihon University College of Art. He was moved to pursue a Butoh career in 1994; in 1996, he studied under Semimaru, a founding member of Sankai Juku. In 1997, he appeared as a dancer in an opera directed by Ushio Amagatsu, the artistic director and choreographer of Sankai Juku, and later joined Sankai Juku. Since then, he has been featured in Sankai Juku’s entire repertoire and most of Sankai Juku’s world tours.
Ichihara is very active in various media, including the performing arts: theater, dance, and Butoh. In addition to his solo projects, he has worked with the most significant butoh dancers and butoh troupes in the history of contemporary Butoh. Since the 2005 recreation of “Kinkan Shonen” (which premiered in 1978), he has danced solos in some of Sankai Juku’s performances and has led the group dances as one of the principal dancers. He is also in charge of the design and production of the accessories dancers wear on stage.
Parallel to his work with Sankai Juku, he collaborates with various choreographers, directors, and dance groups worldwide. He is also a guest faculty at Okayama University Graduate School and a guest speaker at international forums.
In 2022, he founded the dance company “ELF” with young dancers. Since then, ELF has held workshops and presented works at renowned institutions and universities worldwide.
In the spring of 2023, ELF went on tour in Latin America in Bogota, Colombia, and various locations in Mexico, Taiwan, and San Francisco. These activities received critical acclaim and repeat invitations. The company plans a world tour in 2024.
For many years, Sankai Juku has continued to refine and systematize its techniques while performing around the world. Ichihara believes that this “Sankai Juku method” is the “dance d’école” of Butoh and is proud to have been deeply involved in this. Ichihara and ELF have received high acclaim worldwide with their workshops and performances based on the Sankai Juku method.
While many underground and grotesque expressions exist in Butoh, Ichihara, and ELF’s Butoh dance has deeply resonated with people worldwide. This dance is based on the “Sankai Juku Method,” a method accessible to everyone. By developing this method, Ichihara aims to go beyond Butoh by developing a dance technique that can bring a higher level of excellence to professional dancers in ballet, modern, and contemporary dance.
Workshop Participants:
1. Agata Sokół
2. Ari Dharminalan Rudenko
3. Autar Abdillah
4. Boy Mahmudi
5. Chrisnar Bagas Pamungkas
6. Irninta Dwitika
7. Monica Hapsari
8. Nurhayati
9. Puspita Putri Mahanani
10. Razan Wirjosandjojo
11. Samuel David
12. Sekar Tri Kusuma
13. XUE
14. Yuliana Meneses Orduño
____________________________________________
Solo Butoh #3
Workshop Sesi 1:
Listening with the Body 2
oleh Katsura Kan
14 Desember 2023
09:00 – 12:00 WIB
di Studio Plesungan,
(Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar)

KATSURA Kan, berasal dari Kyoto, merupakan Master Butoh dari kalangan generasi senior Butoh Jepang. Ia tampil bersama kelompok Butoh, “白虎社/Byakkosha” pada tahun 1979-1981, kemudian melakukan penelitian di Indonesia dan Thailand selama 20 tahun. Pada tahun 2001, dia terkenal sebagai seniman tunggal dan kolaboratif, serta koreografer. Kan telah bekerja dengan apa yang disebutnya sebagai “penari golongan kecil” di seluruh dunia, di lokasi terpencil di seluruh Afrika, Eropa, Rusia, Tiongkok, Asia Tenggara, benua Amerika Latin, dan Amerika Utara selama 40 tahun terakhir. Pada April 2018, Kan memulai Festival Butoh Internasional Kyoto untuk pertama kalinya, mempelopori cakrawala baru dalam dunia tari, yang kemudian dilanjutkan Festival Butoh Internasional Kyoto ke-2 (2019) dan Festival Butoh Internasional Kyoto ke-3 (2020). Pada tahun 2020, Kan mendapat penghargaan Kyoto City Arts and culture Promotion Award.
_______________________________________________________________
Workshop Sesi 2:
Body Image and Transformation
oleh Sineenadh Keitprapai
14 Desember 2023
13:00 – 16:00 WIB
di Studio Plesungan,
(Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar)
Pada workshop ini, Sineenadh akan mengajak partisipan untuk mengeksplorasi body-mind dengan gerakan lambat, pikiran lambat, dan momen. Latihan ini menggunakan kesadaran tubuh, citra dan transformasi untuk mengeksplorasi kesadaran dan alam bawah sadar dengan setiap fleksibilitas tubuh dan lanskap batin. Kita akan bereksperimen dan mengeksplorasi tentang bergerak dan digerakkan oleh dinamika yang tidak terlihat.

Sineenadh Keitprapai adalah seorang aktor, sutradara, seniman performans, praktisi Butoh, dan pengajar seni pertunjukan. Karyanya menggunakan berbagai teknik dan gaya, antara lain teater, pertunjukan berbasis gerakan, teater fisik, perancangan performans, dan Butoh. Sebagian besar karyanya mengeksplorasi dan mencerminkan isu-isu perempuan, tubuh perempuan, dan persoalan sosial. Pada tahun 2008, ia menerima Silpathorn Award dalam seni pertunjukan. Sineenadh saat ini menjadi direktur artistik Crescent Moon Theatre. Ia menjadi dosen tamu bidang akting dan seni pertunjukan di beberapa universitas. Saat ini, ia tertarik pada pembelajaran, pendidikan dan laku praktik mandiri tentang gerak dengan alam dan praktis spiritual.
______________________________________________________________
Butoh Workshop
KARADA NI KIKU
with
KATSURA KAN
6 – 10 November 2018
LISTENING WITH THE BODY
Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat “tingkah laku misterius” manusia yang tersembunyi dari pandangan. Namun, kita senantiasa berusaha memperhalus cara kita mengamati, lalu memetiknya sebagai inspirasi di atas panggung.
Dalam lokakarya ini, Katsura Kan akan membagikan materi berdasarkan Kan Butoh Notation (Notasi Butoh Kan). Melalui pendekatan ini, peserta diajak mengeksplorasi gerak dalam beberapa tahap.
Tahap pertama adalah melakukan observasi terhadap kehidupan sehari-hari—suatu pendekatan yang dikenal luas dalam praktik Butoh sebagai sumber gerak utama.
Tahap berikutnya, melalui Notasi Kan, peserta diajak membangkitkan “suara” yang tersembunyi di dalam tubuh dan memasuki sisi lain dari kenyataan.
Pengalaman ini akan menjadi proses penemuan, di mana setiap peserta dapat menggali dan merumuskan notasi Butoh-nya sendiri.
In our daily lives, there are mysterious human behaviors that remain hidden from view. Yet we constantly refine the ways in which we observe—and from this observation, we harvest inspiration for the stage.
In this workshop, Katsura Kan will introduce material based on Kan Butoh Notation. Using this unique approach, participants will be guided through several stages of movement exploration.
The first stage involves observing everyday life—an approach widely recognized in Butoh as a fundamental source of movement.
The second stage invites participants to awaken the “voices” hidden within the body and to step into an alternate layer of reality.
This journey becomes a process of discovery, where each participant is encouraged to unearth and develop their own personal Butoh notation.
Katsura Kan bekerja dan tinggal di Kyoto. Keterlibatan serius dalam Butoh dimulainya dengan menjadi anggota „Byakosha“ kelompok Butoh dari Kyoto pada tahun 1979. Masih pada masa Byakosha, Kan mendirikan “Katsura Kan & Saltimbanques” pada tahun 1986. Sejak saat itu, Kan banyak melakukan proyek studi dengan seniman-seniman asia dan mengadakan Festival Lokakarya Internasional “Harvesting Beauty in the eld” di Kyoto 1991 ~ 1994. Pada tahun 1997, Kan pindah ke Bangkok untuk mencari jejak Gajah Putih di masyarakat pra-modern dan berkolaborasi dengan kelompok-kelompok teater kontemporer asia.
Pada tahun 2001, Kan memulai proyek penelitian tentang “minoritas” untuk berkolaborasi di Bosnia, Serbia dan Yunani. Tahun 2013, dia mengerjakan teks Samuel Beckett yang berjudul “Beckett Butoh Notation”. Katsura Kan terus memberi lokakarya dan pertunjukan Butoh di berbagai negara.
Katsura Kan lives and works in Kyoto. His deep engagement with Butoh began in 1979 when he became a member of Byakko-sha, a Kyoto-based Butoh group. During his time with Byakko-sha, he founded “Katsura Kan & Saltimbanques” in 1986. Since then, Kan has carried out numerous study projects with Asian artists and organized the International Workshop Festival Harvesting Beauty in the Field in Kyoto from 1991 to 1994.
In 1997, Kan moved to Bangkok in search of traces of the White Elephant within pre-modern societies, collaborating with various contemporary Asian theatre groups.
In 2001, he initiated a research project on “minorities,” which led to collaborations in Bosnia, Serbia, and Greece. In 2013, he developed Beckett Butoh Notation, a work based on the texts of Samuel Beckett.
Katsura Kan continues to lead Butoh workshops and performances in various countries around the world.

Butoh Workshop
BUTOH
with
Yuliana M. Orduño (Mexico)
3 Agustus 2019
Workshop ini akan menitikberatkan pada prinsip-prinsip gerak dan pemikiran dalam Butoh. Pelatihan yang akan diberikan terdiri dari beberapa teknik berdasarkan teknik tubuh dari Noguchi, Body Weather, Linklater dan lainnya, yang bertujuan untuk membangkitkan kondisi relaksasi dan kesadaran tuppbuh. Melalui bimbingan khusus, peserta akan diajak mendalami proses menciptakan “imaji-imaji tubuh” dan gerakan dalam Butoh, seperti sensasi menggantung, tubuh yang kosong dan digerakkan.
Yuliana belajar Sejarah dan Teater di Faculty of Philosophy and Letters of the National Autonomous di University of Mexico (UNAM). Menjadi asisten professor pada Corporal Expression and Art Virreinal History di Department of Dramatic Literature and Theater UNAM dan researcher assistant di Institute of Bibliographical Research (IIB, UNAM).
Dia berkolaborasi dengan Scenic Laboratory Dance Theater Ritual (LEDTR) dalam produksi, promosi dan koordinasi akademik untuk banyak workshop dan pertunjukan dengan seniman Butoh nasional dan internasional, serta produksi lainnya di laboratorium tari dan teater tersebut.
Pendekatan pertamanya dalam gerak tubuh adalah melalui tarian Butoh, kemudian dengan tarian India dan tarian Jawa.
Ketertarikannya pada tari sebagai gerakan primordial atau primal, gerakan asli tubuh yang bentuknya muncul melalui hubungan dengan alam dan konteks di mana ia berkembang.
Berkat beasiswa Darmasiswa, saat ini ia mempelajari prinsip-prinsip gerakan tubuh dalam tarian klasik Jawa.
Yuliana memulai pelatihannya dalam tarian Butoh bersama Eugenia Vargas, direktur LEDTR, pada tahun 2008. Pada tahun 2015 ia bergabung dengan sebuah company dan belajar dengan Hiroko & Koichi Tamano, Makiko Tominaga, Yukio Waguri, Taketeru Kudo, Teresa Carlos, Espartaco Martínez, diantara yang lain.
Workshop Series & Public Presentation
EKSPLORASI : Last chapter of the Artventure “Look What The World Did To Us” oleh Alxis Jestin
12 – 17 Januari 2026

Workshop
Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026
Pukul : 13:00 – 18:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026
Pukul : 19:30 WIB – selesai
Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Program Workshop Series untuk awal tahun 2026 mendatang, Studio Plesungan akan menyelenggarakan workshop tari oleh Alexis Jestin (UNDERDOG Project). Workshop ini adalah bagian dari proyek Look What The World Did To Us, sebuah proyek pedagogis dan kreatif jangka panjang berskala internasional, dipandu dan diinisiasi oleh koreografer sekaligus direktur artistik dari UNDERDOG Project, Alexis Jestin.
Proyek ini mempertemukan para penari dari berbagai latar belakang dan bidang, dan telah diselenggarakan di sejumlah kota di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Melalui rangkaian proses telisik, penciptaan, dan laboratorium, proyek ini menjadikan gerak tubuh sebagai sarana untuk memahami wilayah-wilayah pengalaman yang dibentuk oleh pengasingan dan pengucilan sosial.
Workshop ini dirancang untuk mendorong proses pengamatan dan eksperimen yang dilakukan secara langsung, menempatkan tubuh sebagai pengamat sekaligus yang diamati. Dengan penuh kesadaran, seluruh peserta diajak untuk menempatkan diri dalam situasi uji coba, kegagalan, dan keberhasilan. Situasi tersebut dihadirkan untuk membuka ruang pencerapan baru, serta mendorong penelusuran, pengamatan, dan perenungan yang lebih mendalam. Melalui proses ini, peserta diajak menafsirkan makna dan fungsi baru dari berbagai peristiwa yang mereka alami selama workshop, sehingga dapat membuka kemungkinan lahirnya sudut pandang yang lebih otentik dalam praktik artistik masing-masing peserta.
Workshop ini juga menjadi babak penutup dari proyek Look What The World Did To Us. Sekaligus, kegiatan ini menjadi momen bagi Alexis untuk membagikan kumpulan pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan artistiknya, memberikan sudut pandang di balik panggung dan studio, serta pengalaman lintas batas yang ia alami di berbagai negara dan kebudayaan.
Pada presentasi publik yang diselenggarakan di akhir program, Alexis juga akan membahas bagaimana dan mengapa proyek tersebut berlangsung, komitmen politik yang terlibat, serta cara proyek ini dirancang, diproduksi, didanai, dan dihadirkan kembali dalam berbagai konteks budaya dan sosial. Sebagai penutup, workshop dan presentasi publik ini akan meninjau kembali pengalaman yang telah dijalani, perubahan yang muncul selama proses berlangsung, serta kemungkinan arah yang dapat ditempuh ke depan.
Workshop dan Public Presentation yang dibawakan oleh Alexis Jestin merupakan bagian dari program Artist-In-Residence yang diselenggarakan oleh Studio Plesungan, yang dimulai pada 11 Januari 2026 sampai 25 Januari 2026.
Alexis Jestin adalah seorang koreografer yang memulai karirnya pada tahun 2000 ketika ia diundang oleh koreografer Thierry Thieu Niang untuk menciptakan duet di Festival des Élançées. Ia menjalani pelatihan di konservatori Montpellier, Paris, dan program COLINE, memasuki dunia internasional sejak muda. Pada usia 20 tahun, ia bekerja untuk koreografer asal Israel, Emanuel Gat, yang kemudian membuka jalan bagi banyak kerjasama dengan seniman seperti Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, dan Yuval Pick.
Pada 2011, ia mengembangkan triptich video-tari bersama Mathieu Zurcher dan K. Labyrinth, yang menjadi dasar lahirnya Underdog Project Dance Company. Ia kemudian bekerja sebagai direktur latihan dan pengajar di Warsaw Dance Department serta mengajar di berbagai institusi di Eropa, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2018, Alexis meluncurkan LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, riset koreografis tentang isolasi sosial yang telah mengikutsertakan lebih dari 500 penari, dan meraih Villa Saigon Prize pada 2020. Sejak 2021, ia terus menciptakan karya baru, termasuk DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, serta dua karya solonya Redemption (2025) dan Invicta (2026)
Studio Plesungan adalah ruang seni yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performans, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.
________________________
As part of its Workshop Series program in early 2026, Studio Plesungan will host a dance workshop led by Alexis Jestin (UNDERDOG Project). This workshop is part of Look What The World Did To Us, a long-term international pedagogical and creative project initiated and guided by choreographer and artistic director of the UNDERDOG Project, Alexis Jestin.
The project brings together dancers from diverse backgrounds and disciplines and has been held in various cities across Europe, Asia, and Latin America. Through a series of investigative research processes, creation practices, and laboratory work, the project uses movement as a means to understand territories of experience shaped by exile and social exclusion.
The workshop is designed to encourage direct observation and experimentation, positioning the body as both observer and observed. Participants are consciously invited to place themselves in situations of trial, failure, and success. These conditions are created to open new modes of perception and to foster deeper exploration, observation, and reflection. Through this process, participants are encouraged to reinterpret the meanings and functions of the events they experience during the workshop, opening possibilities for more authentic perspectives within their individual artistic practices.
This workshop also serves as the concluding chapter of the Look What The World Did To Us project. At the same time, it becomes a moment for Alexis to share the accumulated experiences of his artistic journey, offering insights from behind the stage and studio, as well as cross-border experiences encountered across different countries and cultures.
In the public presentation held at the end of the program, Alexis will further discuss how and why the project unfolded, the political commitments involved, and how the project was conceived, produced, funded, and re-presented across diverse cultural and social contexts. As a closing moment, the workshop and public presentation will reflect on the experiences that have taken place, the changes that emerged throughout the process, and possible directions for the future.
The workshop and public presentation led by Alexis Jestin are part of the Artist-in-Residence program organized by Studio Plesungan, taking place from January 11 to January 25, 2026.
Alexis Jestin is a choreographer who began his career in 2000 when he was invited by choreographer Thierry Thieu Niang to create a duet at the Festival des Élançées. He trained at conservatories in Montpellier and Paris, as well as in the COLINE program, entering the international dance scene at a young age. At the age of 20, he worked with Israeli choreographer Emanuel Gat, an experience that opened the door to numerous collaborations with artists such as Hervé Robbe, Irad Mazliah, Angelo Llacono, Frédéric Celle, Moritz Ostruschjak, Shi Pratt, La Fronde, Harris Gkekas, Rachid Ouramdane, and Yuval Pick.
In 2011, he developed a video-dance triptych with Mathieu Zurcher and K. Labyrinth, which became the foundation for the creation of the Underdog Project Dance Company. He later worked as rehearsal director and teacher at the Warsaw Dance Department and taught at various institutions across Europe, Asia, and Latin America. In 2018, Alexis launched LOOK WHAT THE WORLD DID TO US, a choreographic research project on social isolation that has involved more than 500 dancers and received the Villa Saigon Prize in 2020. Since 2021, he has continued to create new works, including DOG EAT DOG (2022), Mira, Memoria, SOLI-X-VERITA, as well as two solo works, Redemption (2025) and Invicta (2026).
Studio Plesungan is an art space founded by Melati Suryodarmo in 2012 in Plesungan Village, Karanganyar. It is an organized space that provides opportunities for research, creative processes, and presentations, particularly in performance art, visual art, and other performing arts. Studio Plesungan hosts workshops, public lectures, study programs, public discussions, and artist-in-residence programs. The studio is committed to principles of artistic knowledge sovereignty and economic autonomy for art practitioners, as well as to the development of human resources, especially in the fields of artistic creation and knowledge production.
Workshop
Hari dan Tanggal Waktu :Senin – Jumat, 12 – 16 Januari 2026
Pukul : 13:00 – 18:00 WIB
Tempat : Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah 57181
Presentasi Publik
Hari dan Tanggal Waktu : Sabtu, 17 Januari 2026
Pukul : 19:30 WIB – selesai
Tempat : Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami No. 57, Surakarta, Jawa Tengah
Registrasi:
LINK: bit.ly/4iKvkzM

Contact Person: Verina (HP / Whatsapp 0821 3322 9593 )
Email: info@studioplesungan.org

WORKSHOP KOREOGRAFI
oleh KENTA MASUKAWA

“The Whispered Spell Method”
Word-based choreography to embody movement
oleh Kenta Masukawa
🗓 Senin, 5 Januari 2026
🕒 15.00 – 18.00 WIB
di Studio Plesungan, Desa Plesungan rt03 rw02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar 57181
Pada workshop ini, Kenta tertarik untuk membagikan metode koreografi berbasis kata sebagai salah satu cara untuk menubuhkan gerak. Baginya, kata dapat memberi banyak inspirasi untuk tubuh, seperti salah satunya ketika seseorang menerima kalimat,”sebuah danau yang dingin berada di pinggul, permukaannya airnya berkilau” beberapa orang akan merasakan tanggapan di dalam pinggulnya, merasakan pinggulnya yang perlahan terasa tenang.
Ide ini berangkat dari satu ungkapan,“ketsuniku-ka” yang berarti “menerima pengetahuan atau kemampuan untuk menjadi miliknya”, seakan masuk dan menjadi bagian dari tubuhnya. Kata tersebut ditulis dengan gabungan antara kanji “darah”, “daging”, dan “perubahan”. Ungkapan ini menjadi titik tolak bagi Kenta dalam melihat proses seorang penari ketika menerima bunga gerak dari koreografer, atau bunga gerak yang ia ciptakan sendiri. Kenta tertarik untuk melihat bagaimana kata-kata dapat menjadi informasi yang diserap oleh tubuh sebagai gerak, membuat gerak sebagai proses menubuhkan pengetahuan.
Kenta Masukawa lahir di Tokyo pada tahun 1993 dan saat ini berbasis di Kyoto, di mana ia bekerja sebagai koreografer dan penari.
Praktiknya dipengaruhi oleh praktik seni gerak butoh, yang ia temui selama masa kuliahnya, karyanya mengeksplorasi tari sebagai ruang untuk memahami kembali tubuh dan perubahannya bersama dengan modernitas. Praktiknya melibatkan pengembangan bahasa koreografi yang secara aktif mengolah cara cerapan, baik bagi penari maupun penonton.
Dalam penelitian terbarunya, ia berfokus pada masakan dan budaya makanan Jepang dari periode sebelum perang hingga pasca perang di Jepang. Penelitian ini membentuk pengembangan skor gerak / tarinya saat ini, yang ia susun sebagai “resep” untuk memasak menggunakan kata-kata.
_______
In this workshop, Kenta is interested in sharing a word-based choreography method as a way to embody movement. For him, words can provide a lot of inspiration to the body, such as when someone receives the sentence, “a cold lake is in the pelvis, its water surface is shining,” some people will feel a response in their pelvis, feeling their pelvis slowly becoming calm.
This idea originates from the expression, “ketsuniku-ka,” which means “receiving knowledge or ability to make it one’s own,” as if entering and becoming part of the body. The word is written as a combination of the kanji for “blood,” “flesh,” and “transformation.” This expression becomes a starting point for Kenta in viewing the process of a dancer when receiving movement material from a choreographer, or movement material that they create themselves. Kenta is interested in seeing how words can become information absorbed by the body as movement, making movement a process of embodying knowledge.
Kenta Masukawa was born in Tokyo and currently based in Kyoto, where he works as a choreographer and dancer.
His practice has been influenced by butoh, which he encountered during his university years, his work explores dance as a space to re-examine the body as it has been transformed by modernity. His practice involves developing choreographic language that actively shapes the perception of both dancers and audience members.
In his recent research, he has focused on Japanese cooking and the food culture from the prewar to postwar periods in Japan. This research informs his current development of dance scores, which he structures as “recipes” for cooking using words. In February 2025, he presented The Recipe of Choreography: Harakiri Ninjin Show, a project organized by Kyoto Art Center.
📌 Pendaftaran:
https://bit.ly/workshopkenta

📞 Informasi lebih lanjut:
WhatsApp: (+62) 821 3322 9593
Email: info@studioplesungan.org
Workshop Series
It Needs Two to Solo
by Chen Chun Han
Duration: 3 hours
Sabtu, 19 Juli 2025
14:30 – 18:00 WIB
Di Studio Plesungan
Berdasarkan pengalamannya bekerja dengan berbagai komunitas penonton, Chen Chun Han menyadari bahwa metode dan bahasa artistiknya selalu berubah untuk merespons konteks yang berbeda. Dalam sesi berbagi ini, ia menelusuri kembali latar belakang dan proses dari sejumlah karya sebelumnya, untuk memperlihatkan dinamika-dinamika tersembunyi yang membentuk sebuah karya performans.
Lokakarya ini juga memperkenalkan praktik-praktik fisik yang berasal dari pelatihan performans. Mengutip pernyataan Steve Paxton, “Solo dancing does not exist: the dancer dances with the floor,” dari tulisan Drafting Interior Techniques, Chen Chun Han mengajak peserta untuk meninjau ulang gagasan tentang kehadiran solo. Melalui latihan tubuh, peserta diajak mengeksplorasi kehadiran di panggung, cara memberi perhatian, relasi antar-performer, serta keberadaan “mitra tak kasatmata” yang turut menentukan hasil performans.
Pendekatan ini mencerminkan cara Chen Chun Han bekerja dengan performer: memandang performans bukan sebagai tindakan individual yang terisolasi, melainkan sebagai proses relasional yang terus-menerus dinegosiasikan antara tubuh, ruang, dan perhatian bersama.
_______
It Needs Two to Solo
by Chen Chun Han
Drawing from his experience of working with diverse audience communities, Chen Chun Han continually adapts his artistic language and methods in response to different contexts. In this workshop-sharing, he revisits the backgrounds and processes of selected previous works in order to reveal the often invisible dynamics that underlie performance-making.
The session also introduces physical practices drawn from performance training. Referencing Steve Paxton’s statement, “Solo dancing does not exist: the dancer dances with the floor,” from Drafting Interior Techniques, Chen Chun Han invites participants to reconsider the idea of solo presence. Through embodied exercises, the workshop explores stage presence, attention, and relationality—between performers, space, and the “invisible partners” that shape performance outcomes.
These practices reflect Chen Chun Han’s broader approach to working with performers: treating performance not as an isolated act, but as a continuous negotiation between bodies, environments, and shared attention.
WORKSHOP TARI DAN VOKAL
oleh Juliet Burnett dan Karina Utomo

Senin, 19.12.2022
10.00 – 15.00 WIB
Workshop ini akan membagikan praktek tari dan vokal dengan dua pemateri, Juliet Burnett dan Karina Utomo. Juliet Burnett mengeksplorasi paduan antara tari Jawa dan aliran seni klasik dan kontemporer yang telah ia geluti. Wokrshop tari akan dilakuakn melalui proses yang bersifat meditatif dan beberapa teknik improvisasi gerak. Juliet akan berbagi beberapa teknik yang berfokus secara internal, untuk mengungkap ekspresi diri yang jujur. Lalu akan dilanjutkan oleh Karina Utomo akan mengadakan workshop pengembangan kekuatan internal suara. Utomo akan membagikan pengantar dengan berbagai latihan dan teknik untuk suara ekstra normal dan panduan pemula untuk ekspresi vokal ekstrem.
—
Juliet Burnett dari Indonesia-Australia lahir di tanah Gadigal (Sydney). Dia adalah salah satu penari paling terkenal di Australia setelah bertahun-tahun di The Australian Ballet, serta keserbagunaannya dalam repertoar koreografer kontemporer seperti Wayne McGregor dan Jiri Kylian. Setelah 13 tahun di sana dia pergi untuk mengejar karir lepas, bekerja dengan koreografer kontemporer dan menjadi penampil Chunky Move, Dutch National Ballet dan West Australian Ballet. Pada tahun 2016, dia bekerja dengan Opera Ballet Vlaanderen di Belgia, di mana dia menarikan repertoar dari Pina Bausch, Alain Platel, William Forsythe, Akram Khan dan Trisha Brown antara lain, dan kreasi dibuat olehnya Édouard Lock dan Sidi Larbi Cherkaoui. Pada tahun 2022, ia kembali ke Australia sebagai seniman lepas, dan berbasis di tanah Yugambeh (Gold Coast).
Karina Utomo adalah vokalis, komposer, dan salah satu pendiri proyek extreme metal Rinuwat, KILAT, dan High Tension. Latihan vokal Utomo mengeksplorasi bentuk multi-disiplin dari metal ekstrim, praktik lintas budaya eksperimental, dan suara ekstra normal. Dia telah berkolaborasi secara ekstensif dengan seniman internasional dan Australia di berbagai genre industri, improvisasi avant-garde, grindcore dan black metal. Praktik gubahan Utomo mengeksplorasi dualitas trauma dan kekuasaan antargenerasi, serta ketegangan antara tradisi dan pemberontakan. Ia pernah tampil di festival musik dan seni seperti Download, Dark Mofo, Mona Foma, Soft Center x VIVID, Soundrenaline (Indonesia) dan Melbourne Writer’s Festival.
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, vokal, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Workshop diadakan di Studio Plesungan:
Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar 57181
Registrasi dapat dilakukan dengan menghubungi:
+62 821-3322-9593 (Razan/Verina)
VOICE AND INNER MOVEMENT: A SHARING-WORKSHOP SESSION
Sunday, November 13th, 2022
10:00 – 13:00
at Studio Plesungan
Free Admission !

Using themes gleaned from their personal and training experiences, the facilitator will conduct a two-part sharing and workshopping session for the group to collectively explore vocal sounding as a primary modality of inner movement. ‘Voice’ is introduced as a multi-layered notion that can move between different scales and times of the self: from one’s most intimate and psychological sense of ‘I’ to a shared social-political identity with a community, other species, and life itself. To deepen this reflection, participants are invited to explore the creative and physical act of vocalising—through tones, textures, utterances, etc—after two short preparatory exercises in vocal sound production (diaphragmmatic breathing and glottal awareness). The group improvisation exercise will be loosely supported through sonic cues provided by the facilitator, until it organically comes to a close. The session closes with participants each sharing and listening to one another’s impressions of the improvised chant.
ANJELINE DE DIOS (b.1982, Manila) is a chant artist who explores listening and other sonic infrastructures of healing. Jeline’s formative experiences of singing in her home communities of family and university choir eventually led to her specialising in Western classical and popular styles of vocal performance. Parallel to her singing, she maintained an exploratory meditation practice in hatha yoga, Jesuit contemplative, vipassana, Tibetan, ayahuasca, and nondual Christian contexts. She also pursued academic degrees in philosophy (BA, MA, Ateneo de Manila University), applied ethics (MA, Linkoping University), and cultural geography (PhD, National University of Singapore), where she studied the cultural politics of work, migration, sound, and identity. She is co-editor of the Elgar Handbook on the Geographies of Creativity (Elgar, 2020) and is writing a monograph based on her dissertation on migrant Filipino musicians.
From 2015, Jeline has blended her varied histories of learning into an interdisciplinary performance inquiry that ‘listens to listening’ as a guiding ethic of healing and creative potential. In private listening sessions and public workshop offerings, she uses her practices of improvised loop chanting and ethnographic research to facilitate sonic experiences of inner resonance and collective thinking. Her pedagogical approach is informed by her teaching and research experiences as a transnational Filipina academic, notably as Postdoctoral Fellow at the Asia Research Institute (2016) and as Assistant Professor in the Department of Cultural Studies at Lingnan University, Hong Kong (2017-2021). Anjeline’s performance experience is rooted in collaborations across/from Southeast Asia with artists and collectives such as Ryan Villamor, Tusa Montes, Ea Torrado/Daloy DC, WSK, and White Space Wellness (PH); Spring Workshop Improvised Music Collective, Ascolto Studio, and Wong Kit Yi (HK); Singing Bowl Gallery and HOM Studio (SG); and Mele Yamomo, Carla Boregas, and Ballhaus Naunyanstrasse (DE). She recently completed the Regional Open Source Hardware and Art (ROSA) group residency at Lifepatch and Hackteria (Yogyakarta), where she conducted listening workshops at Kebun Kali Code, Omah Kebun, and Studio Plesungan (Solo). She lives in Quezon City, Philippines. Her website is anjeline.net.
Workshop & Lecture
Claudia Bosse

Minggu, 20 November 2022
13.00 – 18.00 WIB
di Studio Plesungan
—
Claudia Bosse tinggal di Wina dan Berlin. Ia adalah seorang sutradara, koreografer, dan direktur dari jaringan transdisipliner “theatercombinat”. Karyanya-karyanya bernegosiasi dengan bentuk-bentuk kekerasan, sejarah, dan utopia yang konkrit. Ia memahami perluasan koreografinya sebagai “sebuah seni komunitas temporer” – juga dengan makhluk non-manusia – di dalamnya, ia merajut mitos, rituals, teks, dan arsip dari tubuh, bahasa, benda, dan paduan suara dalam penciptaan karya-karyanya. Di dalam dan luar Eropa, museum, arsitektur, teater, lanskap, dan ruang urban, ia menciptakan karya situs-spesifik, performans, dan intervensi.
Claudia aktif mengajar sebagai professor tamu, menyampaikan kuliah dan menulis beberapa publikasi. Ia menginisasi dan berpartisipasi dalam beberapa proyek penelitian, dan terus bekerjasama dengan seniman dan ilmuwan dari berbagai genre.
Saat ini Claudia Bosse bersama Teatercombinat sedang berada di Studio Plesungan sebagai seniman residensi. Akhir dari residensi ini, mereka akan mementaskan “Oracle and Sacrifice”, salah satu karya mereka yang diproduksi pada tahun 2020 dengan adaptasi di lingkungan alam Studio Plesungan.
Pada workshop ini, Claudia Bosse akan memberikan metode kerja artistiknya tentang pemikiran ekologis, tubuh, dan ruang. Workshop akan mengikutsertakan praktik yang berhubungan dengan tubuh dan ruang, serta material dari karya-karyanya yang telah dikerjakan maupun yang sedang dalam proses penciptaan.
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Workshop diadakan di Studio Plesungan:
Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar 57181
Pendaftaran dibuka sampai tanggal 18 November 2022
Registrasi dapat dilakukan dengan menghubungi:
+62 821-3322-9593 (Razan/Verina)

Wendy HS
Total Body Performance Method untuk Pertunjukan Kontemporer, teater tubuh, tari, dan musik performatif

Sabtu, 4 Maret 2023
09:00 – 14:00 WIB
di Studio Plesungan
Pada workshop ini, Wendy HS akan membagikan pengenalan tentang sistem pelatihan tubuh Total Body Performance Method. Metode ini dikembangkan dari elemen artistik Tapuak Galemboang dalam tradisi Randai di Minangkabau Sumatera Barat. Secara umum, dasar elemen artistik Tapuak Galembong menggabungkan unsur bebunyian (musicing) dan unsur gegerakan (dancing) dengan formasi dasar ketubuhan Silek (Minangkabau Martial Art). Riset pengembangan yang dilakukan Wendy HS, kemudian menambahkan unsur lelakuan (acting) sebagai pilihan sistem ketubuhan untuk pertunjukan kontemporer. Wendy HS akan membagikan Total Body Performance Method sebagai formulasi dari ketiga elemen tersebut.
Wendy HS menekuni teater sejak tahun 90-an di kelompok Teater Plus, INS Kayutanam, Sumatera Barat. wendy merupakan alumni INS Kayutanam, alumni Jurusan Seni Teater ISI Yogyakarta, dan alumni PSPSR Sekolah Pascasarjana, UGM Yogyakarta. Ia tinggal di yogyakarta sejak 1996 sampai 2006, lalu kembali ke kampung halamannya menjadi pengajar di Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang. wendy HS mendirikan Teater Tambologi Padangpanjang. Sejak tahun 2016 hingga saat ini, Wendy aktif memimpin proses kreatif penciptaan pertunjukan kontemporer berbasis Total Body Performance Method yang dikembangkannya di kelompok Indonesia Performance Syndicate.
—
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Workshop diadakan di Studio Plesungan:
Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar 57181
Pendaftaran dibuka sampai tanggal 2 Februari 2023
Registrasi dapat dilakukan melalui:
https://bit.ly/3SsDTCe
Kontak:
+62 821-3322-9593 (Razan/Verina)
Workshop Series

Tangan: A Handmade Paper + Painting
oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba
Senin, 28 July 2025
Jam : 14:00 – 18:00
di Studio Plesungan
Workshop ini berfokus pada penggunaan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan untuk membuat kertas menjadi lebih mudah diakses dan berkelanjutan. Workshop ini merespons kebutuhan yang semakin besar untuk mendaur ulang banyaknya kertas yang dibuang, sebuah sumber daya yang melimpah namun sering diabaikan. Dengan menjaga proses untuk tetap sederhana, workshop ini memudahkan peserta untuk belajar dan terlibat, sekaligus menunjukkan bagaimana tindakan kreatif kecil dapat berkontribusi pada cara hidup yang lebih ramah lingkungan.
Program ini diselenggarakan sebagai bagian dari keterlibatan Ben Albino dan Rachel Anne Lacaba dalam Artist-In-Residence oleh Studio Plesungan dari 17 – 29 Juli 2025.
Workshop ini terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang
Donasi workshop: Rp. 20.000 (akan digunakan untuk penyediaan alat dan bahan-bahan workshop)
Pendaftaran melalui pranala berikut:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593
_________________________________________
This workshop focuses on using recycled materials and simple, easily accessible tools to make papermaking more approachable and sustainable. It responds to the growing need to recycle the large amount of paper waste—an abundant yet often overlooked resource. By keeping the process simple, the workshop enables participants to learn and engage easily, while also demonstrating how small creative actions can contribute to a more environmentally conscious way of living.
This program is presented as part of Ben Albino and Rachel Anne Lacaba’s participation in the Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, running from 17 to 29 July 2025.
The workshop is open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.
Workshop Donation: Rp. 20,000
(This contribution will support the provision of tools and materials)
Register via the following link:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8
For more information, contact us via WhatsApp:
+62 821-3322-9593
Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02
Plesungan, Gondangrejo
Karanganyar 57181
DAVID REUTER and SABINE BEYERLE
22 – 25 APRIL 2026 AT STUDIO PLESUNGAN
David Reuter (1964) berasal dari Berlin dan seorang seniman dan pengajar seni rupa, teater dan action art dan kurator, dengan pengalaman berkarya dan mengajar di beberapa sekolah dan beberapa perguruan tinggi seni di Jerman. David telah banyak terlibat di berbagai pameran dan proyek seni komunitas di banyak negara termasuk di Jerman, Venezuela, Peru, Bolivia, Namibia, Maroko, Tanzania, Portugal.
Sabine Beyerle (1975) tinggal dan bekerja di Berlin, adalah seorang pelukis dan telah banyak mengikuti proyek action art dan juga sebagai penata desain panggung untuk berbagai pertunjukan teater di Berlin. Karya-karya lukis Sabine bisa merupakan lukisan di atas kanvas maupun sebagai proyeksi video.



LISETTE ROS
“The Construction of Identity, and the Fluidity Thereof”

Minggu, 20 Agustus 2023
13:00 – 17:00 WIB
di Studio Plesungan
Desa Plesungan rt03 rw02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181
Workshop ini akan menelusuri (de)konstruksi identitas, beserta fluiditasnya. Lisette akan mengajak peserta untuk mengamati keadaan tubuh dan perilaku, mengeksplorasi berbagai cara berpikir dan berekspresi, mengaktivasi rasa, memberdayakan kerentanan diri, dan pembebasan atas kendali.
Workshop ini berbasis dari perjalanan Lisette dalam membuka dan membongkar kerentanan dalam diri, ia juga akan berbagi beberapa inspirasi dan acuan yang berkaitan secara tematik. Lisette mengharapkan workshop ini dapat menjadi proses yang membebaskan pikiran, kreativitas, serta perjalanan untuk mengenal diri sendiri.
—
Lisette Ros adalah seniman konseptual dan performans dari Hilversum, Belanda. Tema utama yang dibahas Lisette adalah: identitas dan fluiditasnya, keragaman penampilan, performativitas gender; mempertanyakan cara berpikir pendek, prasangka, tindakan dangkal, dan sistem sehari-hari. Baginya, yang terpenting adalah untuk belajar melihat ke dalam, mengenal kerentanan, perasaan, dan mengkondisikan diri sendiri. Lisette tertarik dengan proses membuka diri dan bagaimana menerapkannya sebagai kekuatan. Semua dalam konteks penerapan kreatif dan melihat dirinya sebagai perangkat dan wadah penampung. Sebelumnya, Lisette Ros memperoleh pengalaman selama beberapa tahun dalam membentuk dan mengajar kelas tentang (in)toleransi, diskriminasi, identitas, keragaman, dan komunitas LGBTQI+. Lisette bekerja sebagai pengajar seni performans, yang juga mengembangkan program-program kreatif untuk remaja dan dewasa.
Workshop ini terbuka untuk peserta dengan latar belakang tari, teater, dan seni performans. Jumlah peserta terbatas dan wajib mengikuti seluruh rangkaian workshop. Workshop ini tidak menarik biaya pendaftaran (gratis).
Pendaftaran dibuka sampai tanggal 18 Agustus 2023
Registrasi dapat dilakukan melalui:
https://forms.gle/ax94TjiFF9A1g5Lc8
Kontak:
+62 821-3322-9593 (Verina)
CONTACT IMPROVISATION
WITH
BEN SUNARJO
SUNDAY
10 March
2019

Benjamin Sunarjo is a dancer, performance artist, and environmental scientist based in Biel/Bienne, Switzerland. Having studied at Trinity Laban Conservatoire London and Bern University of the Arts, he shows his work at festivals, galleries, in theaters, and most recently, in public spaces throughout Switzerland, England, and Germany. As a member of the transdisciplinary SPINE performance group, he is also interested in collective structures. In addition to his artistic work, Benjamin curates the annual ACT Performance Festival in Bern. He has worked for Tino Sehgal, Boris Charmatz, Alexandra Bachzetsis, Simone Forti, Rachel Lopez / Dog Kennel Hill, and Rirkrit Tiravanija, among others.
Benjamin has been practicing contact improvisation for almost 10 years, using it as a core part of his artistic practice. He originally studied with Rick Nodine, Adrian Russi, and Caroline Waters. He takes a functional approach to teaching, developing a sense of applied biomechanics in order to stay oriented in the constantly changing field of gravity.
Benjamin Sunarjo adalah penari, seniman performans, dan ilmuwan lingkungan hidup yang tinggal di Biel / Bienne, Swiss. Setelah belajar di Trinity Laban Conservatoire London dan Universitas Seni Bern, ia telah banyak menghadirkan karyanya di berbagai festival, galeri, bioskop, dan yang terbaru, di berbagai ruang publik di Swiss, Inggris, dan Jerman. Sebagai anggota SPINE, sebuah kelompok performance transdisipliner, ia juga tertarik pada struktur kolektif. Selain menampilkan karya seninya, Benjamin juga aktif sebagai kuratori di Festival Performance ACT yang diselenggarakan tahunan di Bern. Benjamin telah bekerja untuk Tino Sehgal, Boris Charmatz, Alexandra Bachzetsis, Simone Forti, Rachel Lopez / Dog Kennel Hill, dan Rirkrit Tiravanija, antara lain.
Benjamin telah melakukan contact improvisation selama hampir 10 tahun, dan menggunakannya sebagai bagian inti dari praktik seninya. Pada awal karirnya Benajmin belajar dengan Rick Nodine, Adrian Russi, dan Caroline Waters. Dia mengambil pendekatan fungsional untuk mengajar, mengembangkan rasa biomekanik terapan agar tetap berorientasi di bidang gravitasi yang terus berubah.



























