Artist in Residency

Li, Wen hao

Artist In Residence

15 – 31 July 2025

Li, Wen Hao

Li, Wen Hao: Bengawan Solo dan Arwah Sebuah Lagu

Proyek residensi Li, Wen Hao di Studio Plesungan berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana namun beresonansi panjang: bagaimana sebuah lagu berpindah tempat, dan apa yang terjadi padanya ketika melintasi batas bahasa, wilayah, dan sejarah? Sejak 2021, Wen Hao meneliti fenomena musik cover di Asia Timur dan Asia Tenggara, menelusuri bagaimana satu melodi dapat memiliki banyak kehidupan, masing-masing dibentuk oleh konteks politik, kultural, dan emosional yang berbeda. Bagi Wen Hao, musik cover bukanlah praktik turunan, melainkan ruang tempat ingatan, sirkulasi, dan transformasi saling berkelindan.

Perhatiannya kemudian tertuju pada Bengawan Solo, lagu ciptaan Gesang tahun 1940 yang menjadi salah satu karya musik paling abadi dalam sejarah Indonesia. Meski dikenal luas hingga hari ini, perjalanan lintas wilayah lagu ini menyimpan lapisan sejarah yang dibentuk oleh perang, migrasi, dan perkembangan teknologi rekaman. Pada periode pasca perang, kemajuan teknologi rekaman suara memungkinkan produksi musik dalam durasi yang lebih panjang dengan biaya yang lebih efisien. Dalam konteks ini, mengadaptasi lagu populer dari negara lain menjadi jauh lebih murah dibandingkan menciptakan karya orisinal. Akibatnya, melodi-melodi populer beredar luas di Asia, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan gaya. Bengawan Solo pun diaransemen ulang dan dinyanyikan di Jepang, Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan wilayah lainnya, sering kali menjadi lebih dikenal melalui versi-versi terjemahannya dibandingkan versi aslinya.

Riset Wen Hao mengungkap bahwa penyebaran Bengawan Solo berkaitan erat dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia pada Perang Dunia II. Lagu ini digemari oleh masyarakat Jepang dan dibawa kembali ke Jepang setelah 1945, sebelum kemudian menyebar ke Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan kawasan Asia Timur serta Asia Tenggara lainnya. Seiring waktu, konteks asalnya perlahan memudar, dan di beberapa tempat, versi cover justru dianggap sebagai sumber asli. Proses ini, yang tampak janggal namun lazim, memperlihatkan bagaimana ingatan kultural dibentuk bukan hanya oleh asal-usul, melainkan oleh pengulangan, adaptasi, dan kelupaan.

Pada tahun 2024, Wen Hao menampilkan SOLO, sebuah pertunjukan tunggal berdurasi satu jam yang menelusuri evolusi Bengawan Solo di Asia Timur dan Asia Tenggara dari tahun 1940 hingga 2000. Namun karya tersebut juga membuka sebuah kesadaran penting. Meskipun mengikuti perjalanan lagu ini ke berbagai negara, Wen Hao belum pernah mengunjungi Indonesia, apalagi Sungai Bengawan Solo yang menjadi sumber penamaan lagu tersebut. Untuk mendorong proyek ini lebih jauh, ia menyadari perlunya kembali ke titik awal kemunculan lagu, ke Kota Solo tempat Gesang hidup dan di mana musik keroncong masih berdenyut dalam keseharian masyarakat.

Residensinya di Studio Plesungan, dan berada di Solo menandai momen kembali tersebut. Alih-alih mencari versi asli atau autentik dari lagu ini,  Wen Hao memandang Solo sebagai arsip hidup, tempat bunyi, ruang, dan sejarah terus dinegosiasikan. Dengan menyelami sungai, kota, dan tradisi musik yang mengitari Bengawan Solo, proyek ini melampaui kajian musik semata dan berkembang menjadi riset yang bersifat spasial dan berbasis pengalaman tubuh. Ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana lagu menyimpan jejak sejarah kolonial, pergeseran teknologi, dan hasrat manusia, serta bagaimana jejak-jejak tersebut terus bergema ketika sebuah melodi melintasi samudra dan generasi.

Melalui residensi ini, proyek Wen Hao memposisikan Bengawan Solo sebagai konstelasi bergerak dari suara, ingatan, dan terjemahan. Proyek ini mengusulkan praktik mendengarkan sebagai sikap kritis: sebuah cara untuk menyimak bagaimana bunyi berpindah, bagaimana sejarah dibawa tanpa disadari, dan bagaimana satu lagu dapat memuat kisah-kisah yang saling terjalin dari sebuah kawasan.

ditulis oleh Melati Suryodarmo

Li, Wen Hao adalah seniman performance kontemporer interdisipliner asal Taiwan. Praktiknya meliputi tari kontemporer, performance art, musik, fotografi, dan riset sejarah. Ia menempuh pendidikan sarjana di bidang hukum dan meraih gelar magister dalam teori seni pertunjukan, yang membentuk perhatiannya pada relasi kuasa dan negosiasi politik di antara berbagai disiplin.

Dalam praktik artistiknya, Wen Hao menelaah sejarah samudra melalui perspektif “pulau”—sebuah kondisi yang sekaligus terisolasi namun saling terhubung oleh laut. Dikelilingi perairan, Taiwan sejak era Penjelajahan (Age of Discovery) menjadi titik pertemuan dan perebutan berbagai rezim dan kekuatan kolonial, yang digerakkan oleh arus dan angin. Lapisan sejarah, budaya, dan politik yang saling bertaut ini terus membentuk posisi geopolitik Taiwan yang kompleks hingga abad ke-21.

Berangkat dari kajian sejarah laut, Wen Hao menaruh perhatian pada budaya musik populer dan kuliner di Taiwan, serta pengaruh silang dari Jepang, Hong Kong, Indonesia, Amerika Serikat, dan kawasan Indo-Pasifik yang dihubungkan oleh perairan. Melalui karya performance yang menggabungkan citra visual, musik, gerak tubuh, memasak, dan arsip, ia menantang narasi sejarah yang berpusat pada rezim, sekaligus menegaskan samudra sebagai ruang sirkulasi, keterhubungan, dan pengalaman berbagi.

Li, Wen Hao: Bengawan Solo and the Afterlives of a Song

Li, Wen Hao’s residency project at Studio Plesungan departed from a simple yet resonant question: how does a song travel, and what happens to it as it moves across borders, languages, and histories? Since 2021, Li has been researching the phenomenon of cover music across East and Southeast Asia, tracing how a single melody can acquire multiple lives, each shaped by its own political, cultural, and emotional context. For him, cover music is not a derivative practice, but a site where memory, circulation, and transformation converge.

His attention turned to Bengawan Solo, composed by Gesang in 1940, one of Indonesia’s most enduring songs. While widely known today, the song’s transnational journey reveals a layered history shaped by war, migration, and recording technologies. In the postwar period, advances in sound recording made it easier and more economical to reproduce existing songs than to commission new compositions. As a result, popular melodies circulated rapidly across Asia, adapted into different languages and styles. Bengawan Solo was covered in Japan, Taiwan, Hong Kong, Singapore, and beyond, often becoming more familiar in its translated versions than in its original form.

Li’s research uncovered that the spread of Bengawan Solo was closely tied to the Japanese occupation of Indonesia during the Second World War. The song was embraced by Japanese listeners and carried back after 1945, where it continued to circulate across East Asia in various incarnations. Over time, the original context faded, and in some places, the cover versions came to be mistaken as the source. This process, both common and paradoxical, reveals how cultural memory is shaped not by origin alone, but by repetition, adaptation, and forgetting.

In 2024, Li presented SOLO, a one-hour solo performance tracing the evolution of Bengawan Solo across East and Southeast Asia from 1940 to 2000. Yet the work also revealed a gap. Despite following the song’s journeys abroad, Li had never visited Solo itself, nor encountered the Bengawan Solo River that gave the song its name. To deepen the project, he recognized the need to return to the point of emergence, to the city where Gesang lived and where kroncong music continues to resonate within everyday life.

His residency in Solo marked this return. Rather than seeking an original or authentic version of the song, Li approached Solo as a living archive, where sound, place, and history remain in constant negotiation. By engaging with the river, the city, and the musical traditions surrounding Bengawan Solo, the project extended beyond musicology into an embodied and spatial inquiry. It asked how songs carry the traces of colonial histories, technological shifts, and human longing, and how these traces continue to echo as melodies cross oceans and generations.

Through this residency, Li, Wen Hao’s project reframed Bengawan Solo not as a fixed cultural artifact, but as a moving constellation of voices, memories, and translations. It proposed listening as a critical practice, one that attends to how sound travels, how histories are carried unknowingly, and how a single song can hold within it the intertwined stories of a region.

Written by Melati Suryodarmo

Li, Wen Hao is a Taiwanese interdisciplinary contemporary performance artist whose practice spans contemporary dance, performance art, music, photography, and historical research. Trained in law at the undergraduate level and holding a master’s degree in performing arts theory, he is particularly attentive to the dynamics of power and political negotiation across disciplines.

Li’s artistic research engages with oceanic histories through the lens of the “island”—a condition that is at once isolated and deeply connected by water. Surrounded by the sea, Taiwan has long been a site where regimes and colonial powers converged and contested, shaped by currents and winds since the Age of Discovery. This layered entanglement of cultures, histories, and political forces continues to define Taiwan’s complex geopolitical position in the twenty-first century.

Drawing from studies of ocean history, Li focuses on popular music and food cultures in Taiwan, tracing their entangled influences from Japan, Hong Kong, Indonesia, the United States, and the wider Indo-Pacific region. Through performances that integrate image, sound, movement, cooking, and archival materials, he challenges regime-centered historical narratives and foregrounds the ocean as a space of circulation, connection, and shared experience.

Li, Wen hao’s residency project is supported by Studio Plesungan and the National Culture and Art Foundation Taiwan

Li, Wen Hao has presented his performance for the On Stage.

Li, Wen Hao has shared his practice methods and research in our Lecture Series Program

KENTA MASUKAWA

Artist In Residence

KENTA MASUKAWA

18 Dec 2025 – 19 Jan 2026

Perjalanan Memasak dan Mebuat Koreografi Kenta Masukawa

Bekerja sama dengan Kyoto Art Center, Studio Plesungan dengan senang hati menyambut Kenta Masukawa sebagai seniman residensi.

Residensi Kenta Masukawa di Studio Plesungan berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: apakah gagasan tentang tubuh lokal masih dapat dipertahankan di era kapitalisme global dan sirkulasi yang semakin terhomogenisasi? Bagi Masukawa, tubuh lokal bukanlah identitas yang stabil, melainkan kehadiran yang rentan, terbentuk dari pertemuan sejarah, geografi, kebiasaan, dan kondisi hidup yang spesifik. Justru kerentanan inilah, serta rasa kehilangan terhadap tubuh-tubuh yang tak lagi dapat diakses, yang mendorong pencarian koreografisnya.

Masukawa mendekati tubuh melalui praktik arkeologis. Alih-alih merekonstruksi masa lalu yang autentik, praktiknya menggali tubuh-tubuh bayangan melalui tubuh masa kini, yang mana jejak pengetahuan yang terwujud dalam gestur, sensasi, dan praktik keseharian, sering kali berada di luar kesadaran. Penggalian ini tidak bersifat nostalgis, melainkan generatif: sebuah tindakan yang melahirkan kenikmatan, gerak, dan kemungkinan artikulasi baru.

Selama residensi, Masukawa menempatkan risetnya dalam praktik memasak sehari-hari di Jawa. Dengan mengunjungi keluarga-keluarga di sekitar Studio Plesungan, warung makan, pabrik tempe dan tahu, serta pasar tradisional, ia mengamati makanan bukan sebagai simbol budaya, melainkan sebagai proses tubuh yang dibentuk oleh kebiasaan, memori lintas generasi, struktur sosial, dan kondisi sejarah. Apa yang dimasak, mengapa dimasak, dan bagaimana proses memasaknya menjadi pintu masuk menuju koreografi berlapis dari kehidupan sehari-hari. Menu mengungkap preferensi yang diwariskan dan kebiasaan yang tak terucap. Dapur memperlihatkan sejarah material melalui alat, noda, bau, dan tata ruang. Gestur memasak seperti menggenggam, memotong, mengaduk, membawa intensitas taktil berupa berat, kelembapan, kecepatan, dan resistensi.

Alih-alih mendokumentasikan gestur-gestur tersebut secara visual, Masukawa menerjemahkannya ke dalam sensasi tubuh. Melalui perhatian yang ditingkatkan terhadap tekstur, tekanan, dan ritme, ia mengubah konteks hidup menjadi notasi tari, sebuah kosakata sensasi yang memperluas jangkauan ekspresif tubuh. Di Studio Plesungan, notasi-notasi ini dikembangkan menjadi gerak dan dibagikan sebagai karya dalam proses, dengan penekanan pada proses alih-alih hasil akhir.

Praktik Masukawa sangat dipengaruhi oleh Butoh, khususnya komitmennya untuk merasakan tubuh dari dalam dan penolakannya terhadap bentuk-bentuk yang mapan. Pada saat yang sama, ia tetap kritis terhadap bagaimana Butoh dan tubuhnya sendiri kerap dieksotisasi dalam sirkuit seni pertunjukan global. Semakin kuat lokalitas dirayakan, semakin besar risikonya untuk menjadi ilusi yang dikonstruksi. Ketegangan ini menjadi medan produktif bagi risetnya, memunculkan pertanyaan tentang bagaimana menjumpai budaya lain tanpa mereproduksi citra-citra yang dibentuk oleh wacana Barat atau stereotip Jepang yang telah terinternalisasi.

Dalam konteks ini, Studio Plesungan menyediakan ruang yang krusial. Berakar pada praktik tubuh, pertukaran, dan keterlibatan dalam kegiatan masyarakat di sekitarnya, residensi ini memungkinkan Masukawa mengeksplorasi cara-cara alternatif dalam perjumpaan lintas budaya melalui pengalaman fisik yang dibagikan, bukan melalui kerangka representasi. Ketertarikannya pada budaya padi, yang menjadi pusat risetnya untuk karya mendatang di Kyoto, menemukan resonansi yang kuat di Jawa. Dengan berinteraksi dengan masyarakat yang sama-sama berbasis beras, Masukawa memperluas pencariannya secara transnasional, sekaligus menelaah bagaimana makanan berfungsi bukan hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga sebagai ruang kuasa, sejarah, dan tata kelola negara terinskripsi, khususnya dalam kaitannya dengan masa kolonial Jepang di Indonesia.

Selama satu bulan residensi, dari 18 Desember 2025 hingga 19 Januari 2026, Masukawa secara aktif membagikan praktik artistiknya melalui keterlibatan publik. Pada 5 Januari, ia memimpin sebuah lokakarya di Studio Plesungan, memperkenalkan metode koreografi berbasis kata—sebuah pendekatan yang memahami bahasa sebagai pengalaman tubuh. Dengan menelusuri kata sebagai pemicu sensasi, para peserta diajak mengamati bagaimana tubuh memproses bahasa dan mentransformasikannya menjadi peristiwa gerak.

Ia juga menampilkan The Kitchen Under Skin, salah satu karya awalnya, dalam program On Stage pada 10 Januari. Program pertunjukan dua bulanan yang diinisiasi oleh Studio Plesungan ini diselenggarakan di Art Centre of Central Java (Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah), Surakarta.

Melalui memasak, gerak, dan dialog, residensi Masukawa berlangsung sebagai ruang pertukaran yang bersifat terwujud. Residensi ini mengusulkan tubuh bukan sebagai penanda identitas, melainkan sebagai arsip yang peka—mampu menyimpan, mengolah, dan membayangkan kembali sejarah melalui pengalaman fisik yang dibagikan bersama.

ditulis oleh  Melati Suryodarmo

 

Workshop Series 

Artist In Residence

KENTA MASUKAWA

18 Dec 2025 – 19 Jan 2026

A Journey of Masukawa’s Cooking and Choreography

Kenta Masukawa’s residency at Studio Plesungan began with a fundamental question. Could the idea of a local body still be sustained in an era shaped by global capitalism and homogenized circulation? For Masukawa, the local body was not a stable identity but a fragile emergence formed at the intersection of specific histories, geographies, habits, and lived conditions. It was precisely this fragility and the sense of loss surrounding bodies that were no longer accessible that drove his choreographic inquiry.

Masukawa approached the body archaeologically. Rather than attempting to reconstruct an authentic past, his practice excavated phantom bodies through the present body, traces of embodied knowledge that persisted in gestures, sensations, and daily practices, often beyond conscious awareness. This excavation was not nostalgic but generative. It was an act that produced pleasure, movement, and new forms of articulation.

During his residency, Masukawa situated his research within the everyday practice of cooking in Java. By visiting local families, and food stalls, tempe and tofu factories, and local markets, he observed meals not as cultural symbols but as embodied processes shaped by habit, intergenerational memory, social structure, and historical conditions. What was cooked, why it was cooked, and how it was prepared became entry points into a layered choreography of daily life. Menus revealed inherited preferences and unspoken customs. Kitchens disclosed material histories through tools, stains, smells, and spatial arrangements. Gestures of cooking such as grasping, cutting, and stirring carried tactile intensities of weight, humidity, speed, and resistance.

Rather than documenting these gestures visually, Masukawa translated them into bodily sensation. Through heightened attention to texture, pressure, and rhythm, he transformed lived contexts into dance notation, a vocabulary of sensations that expanded the body’s expressive range. At Studio Plesungan, these notations were developed into movement and shared as a work in progress, emphasizing process over product.

Masukawa’s practice was deeply informed by Butoh, particularly its commitment to sensing the body from within and its resistance to fixed forms. At the same time, he remained critically aware of how Butoh and his own body could be exoticized within global performing arts circuits. The more locality was celebrated, the more it risked becoming a constructed illusion. This tension became a productive site for his research, prompting questions of how to encounter other cultures without reproducing images shaped by Western discourse or internalized stereotypes of Japan.

In this context, Studio Plesungan offered a crucial space. Rooted in embodied practice, communal exchange, and local engagement, the residency enabled Masukawa to explore alternative modes of cultural encounter through shared physical experiences rather than representational frameworks. His interest in rice culture, which was central to his research for a future performance in Kyoto, found a resonant parallel in Java. By engaging with another rice based society, Masukawa expanded his inquiry transnationally and attended to how food operated not only as nourishment but also as a site where power, history, and governance were inscribed, particularly in relation to Japan’s colonial past in Indonesia.

During his one month residency from 18 December 2025 to 19 January 2026, Masukawa actively shared his artistic practice through public engagement. On 5 January, he led a workshop at Studio Plesungan, offering word-based choreographic method—an approach that embodies language as a bodily experience. By tracing words as triggers of sensation, participants are invited to observe how the body processes language and transforms it into a movement event.

He also presented The Kitchen Under Skin, of of his early work as part of On Stage on 10 January, the bi monthly performance program initiated by Studio Plesungan, held at the Art Centre of Central Java (Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah) in Surakarta.

Through cooking, movement, and dialogue, Masukawa’s residency unfolded as a space of embodied exchange. It proposed the body not as a marker of identity but as a sensitive archive capable of holding, transforming, and reimagining histories through shared physical experience.

written by Melati Suryodarmo

______

 

On Stage

RACHEL ANNE LACABA AND BEN ALBINO

Seniman Residensi

RACHEL ANNE LACABA DAN BEN JOHN ALBINO
17–29 Juli 2025

Studio Plesungan dengan senang hati menyambut Rachel Anne Lacaba dan Ben John Albino sebagai seniman residensi. Residensi ini memiliki makna khusus, karena kedua seniman menyatakan ketertarikan yang kuat untuk bekerja secara dekat dengan Kelas Melukis Anak, sebuah program yang telah berjalan secara berkelanjutan sejak tahun 2015 bagi anak-anak yang tinggal di desa dan wilayah sekitarnya.

Lokakarya yang mereka fasilitasi menjadi sebuah momen perjumpaan yang bermakna—terbentuk melalui rasa ingin tahu, permainan, dan proses berkarya bersama. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh anak-anak dan menghadirkan ruang di mana pembelajaran, imajinasi, dan kesadaran lingkungan tumbuh secara alami.

Lokakarya tersebut berfokus pada praktik pembuatan kertas handmade, menggunakan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah dijangkau. Menanggapi meningkatnya jumlah limbah kertas, yang merupakan sebuah sumber daya yang melimpah namun kerap terabaikan, para seniman memperkenalkan proses dasar  teknologi yang bersifat langsung, menekankan nilai keberlanjutan dan kepedulian. Dengan metode yang mudah dilakukan ini, anak-anak diajak untuk terlibat langsung dalam transformasi material, sekaligus memahami bagaimana tindakan kreatif kolektif yang sederhana dapat berkontribusi pada cara hidup yang lebih sadar lingkungan.

Tentang Seniman

Rachel Anne Lacaba (lahir November 1990) dan Ben John Albino (lahir September 1991) adalah seniman otodidak asal Pangasinan, Filipina. Keduanya pertama kali bertemu di Liongoren Gallery, Dagupan City, pada tahap awal perjalanan mereka sebagai seniman penuh waktu, dalam sebuah pameran kelompok berjudul Liing (“Terjaga”). Sebagai anggota pendiri sebuah kolektif seniman lokal, mereka berperan penting dalam penyelenggaraan pameran bulanan di Dagupan City antara tahun 2013–2015—sebuah inisiatif yang berkontribusi besar dalam menghidupkan ekosistem seni lokal dan memperkuat keterlibatan masyarakat dengan seni kontemporer.

Seiring waktu, aktivitas kolektif mereka meluas ke berbagai kota dan provinsi di Filipina. Melalui partisipasi dalam pameran dan pertukaran seni di Asia Tenggara, keduanya mengembangkan kesadaran yang semakin kuat akan keterkaitan antara sejarah, budaya, dan realitas sosial.

Berangkat dari latar bimbingan dan pengaruh yang sama, praktik individual Lacaba dan Albino berakar pada realisme sosial, dengan perhatian pada isu kesehatan mental, lingkungan hidup, dan kondisi sosial sehari-hari. Pada tahun 2015, mereka menggelar pameran duo pertama di Liongoren Gallery, yang menjadi tonggak penting baik secara profesional maupun personal. Pada tahun yang sama, mereka menciptakan mural kolaboratif pertama di Dagupan City, yang kemudian berkembang menjadi rangkaian karya yang mengeksplorasi psikis manusia dan kesejahteraan mental. Antara tahun 2015–2016, mereka menyelesaikan sebelas mural publik di Pangasinan, yang tersebar di sekolah, ruang publik, dan bangunan terbengkalai.

Pada tahun 2017, kedua seniman melakukan perjalanan ke wilayah Visayas untuk proyek seni publik yang berfokus pada kesadaran lingkungan. Dengan terlibat langsung dalam komunitas lokal, mereka menerjemahkan cerita-cerita warga ke dalam mural yang menyoroti persoalan ekologis dan dampak perilaku manusia. Antara tahun 2017–2018, mereka berkolaborasi dengan seniman lain dari Pangasinan untuk menciptakan mural terbesar mereka hingga saat ini (100 x 35 kaki). Pada tahun 2019, mereka mendapat komisi dari ArtBGC untuk membuat First Discoveries, sebuah mural berukuran 50 x 30 kaki di Gedung BTC, Taguig, sebagai bagian dari program televisi anak yang mengangkat tema eksplorasi dan konservasi lingkungan.

Keduanya merupakan penerima berbagai program pendampingan penting, antara lain TUKLAS Mentorship Program bersama Alfredo Esquillo Jr. (2018–2020), Agos Studio Mentorship Program di bawah Renato Habulan (2021), serta Linangan Art Residency Mentorship Program bersama Emmanuel Garibay (2022). Pameran tunggal pertama mereka digelar secara berurutan pada tahun 2021 di Eskinita Art Farm, Batangas. Setelah menjalani residensi selama dua bulan pada tahun 2022, mereka kembali mempresentasikan pameran duo kedua di tempat yang sama.

Pada tahun 2023, menandai satu dekade perjalanan mereka sebagai seniman penuh waktu, Lacaba dan Albino melakukan perjalanan ke Thailand untuk mewujudkan serangkaian proyek seni publik bekerja sama dengan para aktivis lingkungan di Provinsi Chumphon, serta menghasilkan dua mural bertema lingkungan di Bangkok. Karya-karya mereka dikenal melalui keseimbangan antara realisme sosial dan ekspresi figuratif, memadukan refleksi kritis dengan sentuhan humor dan kemurahan visual.

Kertas Handmade sebagai Praktik

Lacaba dan Albino mulai bereksperimen dengan pembuatan kertas handmade sejak masa kuliah, dan secara bertahap mengintegrasikannya ke dalam praktik artistik mereka. Seiring waktu, eksplorasi material ini berkembang menjadi aktivitas pedagogis dan komunal. Mereka kemudian memfasilitasi berbagai lokakarya pembuatan kertas di sekolah negeri dan ruang komunitas, khususnya bersama anak-anak.

Pendekatan mereka menyatukan kreativitas, keterampilan tangan, dan kepedulian terhadap lingkungan—mengubah kertas bekas menjadi medium baru untuk berekspresi. Dalam konteks Studio Plesungan, praktik ini beresonansi kuat dengan semangat belajar melalui proses berkarya, di mana kepekaan material, keberlanjutan, dan pengalaman kolektif menjadi dasar dari pertukaran artistik.

Artist-in-Residence

RACHEL ANNE LACABA AND BEN JOHN ALBINO
17–29 July 2025

Studio Plesungan is pleased to welcome Rachel Anne Lacaba and Ben John Albino as artists-in-residence. This residency held particular significance, as both artists expressed a strong desire to work closely with the Children’s Painting Class—a program that has been running continuously since 2015 for children living in the village and surrounding areas.

Their workshop became a meaningful moment of encounter, unfolding through curiosity, play, and shared making. It was warmly received by the children and created a space where learning, imagination, and environmental awareness came together organically.

The workshop focused on handmade paper-making, using recycled materials and simple, easily accessible tools. Responding to the growing volume of discarded paper—an abundant yet often overlooked resource—the artists introduced a low-tech, hands-on process grounded in sustainability and care. By keeping the method approachable, the workshop invited children to engage directly with material transformation, demonstrating how small, collective creative actions can contribute to more environmentally conscious ways of living.

About the Artists

Rachel Anne Lacaba (b. November 1990) and Ben John Albino (b. September 1991) are self-taught artists from Pangasinan, Philippines. They first met at Liongoren Gallery in Dagupan City during the early stages of their careers, participating in a group exhibition titled Liing (“Awaken”). As founding members of a local artist collective, they played a key role in organizing monthly exhibitions in Dagupan City between 2013 and 2015—an initiative that significantly nurtured the local art scene and strengthened community engagement with contemporary art.

Over time, their collective activities expanded to other cities and provinces across the Philippines. Through exhibitions and exchanges throughout Southeast Asia, both artists developed a growing awareness of the deep interconnections between history, culture, and social realities.

Rooted in shared mentorships and influences, Lacaba and Albino’s individual practices draw from social realism, addressing themes such as mental health, environmental issues, and lived social conditions. In 2015, they held their first two-person exhibition at Liongoren Gallery, marking an important professional and personal milestone. That same year, they created their first collaborative mural in Dagupan City, initiating an ongoing series exploring the human psyche and mental well-being. Between 2015 and 2016, they completed eleven public murals across Pangasinan, installed in schools, public spaces, and abandoned buildings.

In 2017, the artists traveled across the Visayas for a public art project centered on environmental awareness. Immersing themselves in local communities, they translated residents’ stories into murals addressing ecological concerns and the impact of human behavior. From 2017 to 2018, they collaborated with fellow artists from Pangasinan on their largest mural to date (100 x 35 feet). In 2019, they were commissioned by ArtBGC to create First Discoveries, a 50 x 30-foot mural for the BTC Building in Taguig, produced as part of a children’s television program promoting exploration and environmental conservation.

Both artists have participated in major mentorship programs, including the TUKLAS Mentorship Program with Alfredo Esquillo Jr. (2018–2020), the Agos Studio Mentorship Program under Renato Habulan (2021), and the Linangan Art Residency Mentorship Program with Emmanuel Garibay (2022). Their first solo exhibitions were held consecutively in 2021 at Eskinita Art Farm, Batangas. Following a two-month residency in 2022, they presented their second two-person exhibition at the same venue.

In 2023, marking a decade of practice as full-time artists, Lacaba and Albino traveled to Thailand to realize a series of public art projects in collaboration with environmentalists from Chumphon Province, and produced two murals addressing environmental issues in Bangkok. Their work is recognized for its balance between social realism and figurative expression, combining critical reflection with moments of humor and visual generosity.

Handmade Paper as Practice

Lacaba and Albino began experimenting with handmade paper during their college years, gradually integrating it into their artistic practice. Over time, this material exploration evolved into a pedagogical and communal activity. They have since facilitated paper-making workshops in public schools and community spaces, particularly with children.

Their approach brings together creativity, craft, and environmental care—transforming discarded paper into new surfaces for expression. Within the context of Studio Plesungan, this practice resonates deeply with the ethos of learning through making, where material sensitivity, sustainability, and collective experience form the foundation of artistic exchange.

More information click here

KONSTANTIN HEUER

ARTIST IN RESIDENCE

Konstantin Heuer (DE) / SEDNOID

1 – 31 July 2025

Residensi ini berangkat dari mendengarkan.

Praktik Konstantin Heuer dibentuk oleh perhatian jangka panjang terhadap sistem-sistem tonal dan cara musik menyimpan serta membawa ingatan lintas budaya. Perjumpaan awalnya dengan gamelan Jawa—dengan waktu yang siklik, logika kolektif, dan sistem penalaan di luar temperamen Barat—terus beresonansi dalam komposisi elektroniknya. Alih-alih memperlakukan gamelan sebagai referensi atau kutipan, Heuer mendengarkannya sebagai sistem berpikir: sebuah cara mengorganisasi waktu, harmoni, dan perhatian.

Di Studio Plesungan, Heuer menempatkan risetnya dalam lingkungan hidup tempat praktik kontemporer, pengetahuan lokal, dan ritme keseharian saling bersinggungan. Residensi ini tidak dipahami sebagai proses ekstraksi, melainkan sebagai pertukaran—sebuah proses terbuka untuk belajar, menguji, dan memberi kembali melalui kehadiran, bunyi, dan kolaborasi. Bagi Heuer, keterlibatan dengan musik dan tari Indonesia bukanlah proyek yang terisolasi, melainkan kemungkinan titik balik dalam lintasan artistiknya yang lebih panjang.

Pencariannya berkembang melalui dua jalur yang saling terjalin: pertemuan antara maqam, gamelan, dan pemikiran tonal Renaisans melalui extended just intonation; serta pembangunan, dan pembongkaran secara sengaja atas struktur harmonik jangka panjang yang dibentuk oleh repetisi dan simetri.

Proyek: Tessellated Burgeon

Tessellated Burgeon adalah proyek yang terus menjadi.

Proyek ini mengambil bentuk sebagai siklus komposisi musik elektronik yang akan terwujud sebagai rilisan extended play dalam format vinil, sekaligus tetap bersifat performatif—dapat hadir sebagai konser elektronik multi-kanal, terbuka terhadap kehadiran instrumen akustik dan tubuh yang bergerak. Kolaborasi menjadi bagian integral dari karya ini. Selama residensi, Heuer membuka kemungkinan perjumpaan dengan musisi dan penari lokal, membiarkan bunyi dan gestur saling mengomposisi. Jejak-jejak pertemuan ini—rekaman, aksi, momen berbagi—dapat muncul kembali dalam sebuah sesi berbagi publik di akhir masa tinggal.

Proyek ini digerakkan oleh gesekan: antara detail yang bermain dan spontan dengan formalisme yang ketat; antara warna dan batasan; antara intuisi dan sistem. Gamelan Jawa berfungsi bukan sebagai sumber gaya, melainkan sebagai horizon konseptual—yang mengusulkan waktu berlapis, pengulangan siklik, dan resonansi kolektif.

Tessellated Burgeon mengajukan techno sebagai bentuk musik seni: bukan genre yang ditinggalkan, melainkan medan yang dibingkai ulang, diperlambat, dan didengarkan secara berbeda. Melalui durasi yang memanjang, infleksi mikrotonal, dan transisi yang dipahat dengan cermat, musik ini membuka ruang bagi perhatian, keintiman, dan pengalaman mendengarkan yang berwujud tubuh.

Bekerja dengan Bunyi

Komposisi Heuer dibangun dari konfigurasi tonal yang terus bergeser. Akor pentatonik yang diturunkan dari tangga nada heptatonik menjadi material utama, diinformasikan oleh transformasi modus Gregorian dan tradisi maqam seperti Rast, Bayati, dan Sikah. Sistem-sistem ini ditala ulang melalui extended just intonation, memungkinkan harmoni tetap cair, relasional, dan tidak stabil.

Repetisi dan simetri berfungsi sebagai jangkar struktural, sementara inversi, modulasi, dan fragmentasi menghadirkan penyimpangan. Progresi harmonik membentang dalam lengkung waktu yang panjang, lalu dipotong, diselubungi, atau tererosi, membentuk struktur temporal yang menolak narasi linear.

Bidang sonik dibangun secara berlapis: pad sintetis, figur arpeggio, garis melodi berornamen, serta material yang dimainkan secara langsung, dirajut bersama elemen perkusi yang berakar pada praktik techno Heuer. Bunyi lingkungan hadir bukan sebagai latar, melainkan sebagai tekstur—jejak akustik dari sebuah tempat. Proyek ini tumbuh dari karya ark (GSXS, 2024), yang berfungsi sekaligus sebagai titik awal dan residu.

_________________________________________________

Konstantin Heuer (DE) / SEDNOID

This residency begins from listening.

Konstantin Heuer’s practice is shaped by long-term attention to tonal systems and the ways music carries memory across cultures. An early encounter with Javanese gamelan—its cyclical time, collective logic, and tuning beyond Western equal temperament—continues to resonate in his electronic compositions. Rather than approaching gamelan as a reference or quotation, Heuer listens to it as a thinking system: a way of organizing time, harmony, and attention.

At Studio Plesungan, Heuer situates his research within a lived environment where contemporary practice, local knowledge, and daily rhythms intersect. The residency is conceived not as extraction but as exchange—an open process of learning, testing, and giving back through shared presence, sound, and collaboration. For Heuer, engaging with Indonesian music and dance is not an isolated project, but a possible turning point in a longer artistic trajectory.

His inquiry unfolds along two intertwined lines: the meeting of maqam, gamelan, and Renaissance tonal thought through extended just intonation; and the construction—and deliberate destabilization—of long-form harmonic structures shaped by repetition and symmetry.

Project: Tessellated Burgeon

Tessellated Burgeon is a project in becoming.

It takes form as a cycle of electronic compositions that will materialize as a vinyl extended play, while remaining performative—capable of unfolding as a multi-channel concert, open to the presence of acoustic instruments, bodies, and movement. Collaboration is integral to the work. During the residency, Heuer seeks encounters with local musicians and dancers, allowing sound and gesture to co-compose the project. Traces of these encounters—recordings, actions, shared moments—may reappear in a public sharing at the end of the stay.

The project is driven by friction: between playful detail and strict formalism, between color and constraint, between intuition and system. Javanese gamelan operates here not as a stylistic source, but as a conceptual horizon—suggesting layered time, circular return, and collective resonance.

Tessellated Burgeon proposes techno as a form of art music: not a genre to be left behind, but a field to be re-framed, slowed down, and listened to differently. Through extended durations, microtonal inflections, and carefully sculpted transitions, the music opens a space for attention, intimacy, and embodied listening.

Working with Sound

Heuer’s compositions are built from shifting tonal constellations. Pentatonic chords derived from heptatonic scales form the core material, informed by transformed Gregorian modes and maqam traditions such as Rast, Bayati, and Sikah. These systems are re-tuned through extended just intonation, allowing harmony to remain fluid, relational, and unstable.

Repetition and symmetry function as structural anchors, while inversion, modulation, and fragmentation introduce deviation. Harmonic progressions stretch over long arcs, then are cut into, veiled, or eroded, producing temporal shapes that resist linear narrative.

The sonic field is layered: synthetic pads, arpeggiated figures, ornamented melodic lines, and live-played material are woven together with percussive elements drawn from Heuer’s techno practice. Environmental sounds enter not as background, but as texture—an acoustic trace of place. The project grows out of ark (GSXS, 2024), which serves as both origin point and residue.

_______________________________________________________

PRESENTASI PUBLIK

Tessellated Burgeon

Senin, 28 July 2025, 19:30 WIB
At Studio Plesungan

oleh Konstantin Heuer (SEDNOID)
bersama Wukir Suryadi dan Mike Hapsari

Presentasi publik ini bukanlah sebuah penutup, melainkan momen artikulasi.

Tessellated Burgeon dibagikan sebagai sebuah konstelasi langsung dari komposisi elektronik, dibentuk oleh ketegangan yang sama yang mendorongnya dalam proses residensi: antara ketelitian dan keterbukaan, struktur dan pelayangan. Bunyi terhampar sebagai pengalaman spasial, imersif, intim, dan hadir secara fisik. Pertunjukan ini mengundang pendengaran sebagai bentuk perhatian, bukan konsumsi.

Konstantin Heuer adalah komponis musik orkestra, vokal, dan musik kamar, serta produser musik elektronik yang bekerja dalam konteks mendengarkan imersif hingga lantai dansa melalui alias SEDNOID. Praktiknya berakar pada musik Renaisans, Barok, dan Klasik, tradisi gamelan dan maqam, serta riset artistik berkelanjutan mengenai extended just intonation sebagai cara membangun bahasa tonal baru.

Heuer memandang karyanya sebagai sebuah proposisi etis:

“Musik harus menjadi ruang penerimaan dan kepekaan yang menawarkan kejernihan formal, sensasi yang bernuansa, dan kejujuran emosional.”

___________________

Wukir Suryadi

The Forgotten Agricultural Technology Construction (Garu)

The Forgotten Agricultural Technology Construction (Garu) karya Wukir Suryadi mengaktifkan kembali sebuah alat pertanian yang dahulu tertanam dalam kerja keseharian, dan mentransformasikannya menjadi tubuh yang bersuara. Karya ini mendengarkan material sebagai pembawa ingatan—di mana fungsi, sejarah, dan resonansi saling berkelindan.

Melalui improvisasi, garu menjadi antarmuka antara masa lalu dan masa kini, antara kerja dan permainan, antara tanah dan bunyi.

Wukir Suryadi adalah seniman yang bekerja lintas musik, teater, dan bunyi. Lahir di Malang, Jawa Timur, dan kini berbasis di Tingkir, Salatiga, praktiknya bergerak antara keheningan meditatif dan intensitas ritmis. Dikenal melalui instrumen-instrumen ciptaannya sendiri, Wukir berkolaborasi secara luas dengan musisi dan seniman pertunjukan dari berbagai disiplin dan wilayah.

Ia pernah menerima bimbingan informal dari WS Rendra dan I Wayan Sadra, mengikuti residensi di Studio Amsterdam, serta terus aktif tampil dalam berbagai konser dan festival seni di Indonesia maupun secara internasional—sebagai komponis, pembuat instrumen, dan perancang instalasi bunyi.

______________________________

Tessellated Burgeon

Monday, 28 July 2025, 19:30 PM
At Studio Plesungan

 

by Konstantin Heuer (SEDNOID)
with Wukir Suryadi and Mike Hapsari

The public presentation is not a conclusion, but a moment of articulation.

Tessellated Burgeon is shared as a live constellation of electronic compositions, shaped by the same tensions that guide the residency process: rigor and openness, structure and drift. Sound unfolds as a spatial experience—immersive, intimate, and physically present. The performance invites listening as a form of attention rather than consumption.

Konstantin Heuer is a composer of orchestral, vocal, and chamber music, and an electronic music producer working across immersive listening contexts and the dance floor under the alias SEDNOID. His practice draws on Renaissance, Baroque, and Classical music, gamelan and maqam traditions, and ongoing artistic research into extended just intonation as a means of building new tonal languages.

Heuer frames his work as an ethical proposition:

“Music shall be a space of acceptance and sensibility, offering formal clarity, nuanced sensation, and emotional honesty.”

 

Collaborating Artist

Wukir Suryadi

The Forgotten Agricultural Technology Construction (Garu)

Wukir Suryadi’s The Forgotten Agricultural Technology Construction (Garu) reactivates an agricultural tool once embedded in everyday labor, transforming it into a sounding body. The work listens to materials as carriers of memory—where function, history, and resonance overlap.

Through improvisation, the garu becomes an interface between past and present, work and play, land and sound.

Wukir Suryadi is an artist working across music, theater, and sound. Born in Malang, East Java, and based in Tingkir, Salatiga, his practice moves between meditative stillness and rhythmic intensity. Known for his self-built instruments, Wukir collaborates widely with musicians and performance artists across disciplines and geographies.

He has received informal mentorship from WS Rendra and I Wayan Sadra, participated in a residency at Studio Amsterdam, and remains active in concerts and festivals throughout Indonesia and internationally—as a composer, instrument maker, and sound installation artist.

KAMELIA KENCHANA

Artist in Residence

Kamelia Kenchana

16 – 30 Juni 2025

Selama masa residensinya di Studio Plesungan, Kamelia Tufah Kenchana akan memperdalam eksplorasi artistiknya tentang ritual penyembuhan yang diwujudkan melalui keterlibatan langsung dengan jamu, obat herbal tradisional Indonesia. Residensi ini berangkat dari ketertarikannya pada pengetahuan yang diwariskan melalui tubuh—pengetahuan yang hidup dalam gestur, ritme, suara, dan relasi sosial sehari-hari.

Dalam prosesnya, Kamelia berupaya mengikuti keseharian perempuan jamu gendong di Solo, untuk mengamati dan merespons praktik meracik serta membagikan jamu sebagai tindakan perawatan yang bersifat komunal. Ia menempatkan jamu bukan semata sebagai objek etnografis, melainkan sebagai praktik hidup yang terus beradaptasi, sekaligus menyimpan ingatan budaya yang berlapis.

Residensi ini juga membuka ruang bagi Kamelia untuk menyelami konteks budaya Jawa melalui kunjungan ke museum, pertunjukan seni, serta dialog dengan seniman dan komunitas lokal. Pertemuan-pertemuan ini menjadi bagian penting dalam memperluas pemahamannya tentang ritual, tubuh, dan penyembuhan sebagai praktik yang bersifat relasional dan kontekstual.

Di akhir residensi, Kamelia akan membagikan proses riset dan refleksi artistiknya melalui sebuah presentasi publik dan diskusi seniman, sebagai bagian dari praktik berbagi pengetahuan dan proses yang masih terus berlangsung.

Kamelia Tufah Kenchana (lahir 2000) adalah seniman rupa asal Singapura yang praktiknya sangat dipengaruhi oleh latar belakang panjangnya dalam seni pertunjukan. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam pelatihan dan pementasan tari tradisional Melayu, Kamelia membawa kepekaan koreografis ke dalam karya-karya rupanya yang mencakup performans, instalasi, dan video. Ia meraih gelar BA (Hons) in Fine Art dari Nanyang Academy of Fine Arts, bekerja sama dengan University of the Arts London.

Berakar pada warisan budaya Jawa–Melayunya, praktik Kamelia menelusuri tema-tema tentang ingatan budaya, pengetahuan yang terpatri dalam tubuh, serta penyembuhan melalui ritual. Tubuh kerap hadir dalam karyanya sebagai subjek sekaligus medium—melalui gerak, gestur, dan pengalaman sensorik—untuk menavigasi narasi personal maupun kolektif. Dengan menggabungkan metodologi performans dan strategi visual, Kamelia memposisikan praktiknya dalam lintasan seniman yang menantang batas-batas disipliner. Melalui karyanya, ia mengundang audiens untuk terlibat dalam tindakan-tindakan intim: mengingat, merebut kembali, dan menyambung ulang ingatan serta identitas.

___________________________________

During her residency at Studio Plesungan, Kamelia Tufah Kenchana will deepen her artistic exploration of healing rituals through direct engagement with jamu, a traditional Indonesian herbal medicine. The residency is grounded in her interest in embodied forms of knowledge—knowledge that lives within gesture, rhythm, sound, and everyday social relations.

As part of her process, Kamelia seeks to follow the daily practices of a jamu gendong woman in Solo, observing and responding to the acts of preparing and sharing jamu as communal gestures of care. She approaches jamu not as an ethnographic object, but as a living practice—one that continually adapts while carrying layered cultural memory.

The residency also provides a space for Kamelia to engage with Javanese cultural contexts through visits to museums, traditional performances, and sustained dialogue with local artists and communities. These encounters form an integral part of her inquiry into ritual, the body, and healing as relational and situated practices.

At the conclusion of the residency, Kamelia will share her ongoing research and artistic reflections through a public presentation and artist talk, framing the residency as an open and evolving process.

Kamelia Tufah Kenchana (b. 2000) is a Singaporean visual artist whose practice is deeply informed by her extensive background in the performing arts. With over a decade of training and performance in traditional Malay dance, she brings a choreographic sensitivity to her visual works, which span performance, installation, and video. She holds a BA (Hons) in Fine Art from the Nanyang Academy of Fine Arts, in collaboration with the University of the Arts London.

Rooted in her Javanese–Malay heritage, Kamelia’s practice explores themes of cultural memory, embodied knowledge, and healing through ritual. The body frequently appears in her work as both subject and medium, employing movement, gesture, and sensory experience to navigate personal and collective narratives. By merging performance methodologies with visual strategies, she situates her practice within a lineage of artists who challenge conventional disciplinary boundaries. Through her work, Kamelia invites audiences into intimate acts of remembering, reclaiming, and reconnecting.


PRESENTASI PUBLIK

“Kembali ke Tanah Air Jamu”
oleh Kamelia Tufah Kenchana

Sabtu, 28 Juni 2025
Pukul 15.00 – 18.00 WIB
Studio Plesungan

Selama tiga minggu residensi di Solo, Kamelia berupaya berinteraksi dengan jamu bukan sekadar sebagai ramuan tradisional, melainkan sebagai praktik hidup yang tertanam dalam ingatan budaya Jawa. Meskipun tidak sepenuhnya dapat mendampingi seorang praktisi jamu gendong seperti yang direncanakan, ia menemukan berbagai cara bermakna untuk terhubung dengan komunitas jamu di tempat asalnya.

Melalui kunjungan ke kafe-kafe jamu, percakapan dengan perempuan jamu gendong di pasar, serta pertukaran cerita dengan warga setempat, jamu hadir sebagai bahasa perawatan yang diwariskan lintas generasi dan terus bertransformasi. Kunjungan ke fasilitas riset dan klinik jamu memperlihatkan bagaimana praktik penyembuhan tradisional tetap bertahan dan beradaptasi dalam konteks kontemporer.

Melalui tulisan, pengamatan, dan refleksi tubuh, Kamelia mulai merumuskan kemungkinan pengembangan karya performans di masa depan yang berfokus pada gestur, ritual, dan ingatan sensorik. Presentasi publik ini akan menjadi ruang berbagi atas proses yang masih berlangsung—sebuah riset jangka panjang tentang bagaimana penyembuhan dapat dipahami, dibagikan, dan dibayangkan kembali melalui praktik seni.

During her three-week residency in Solo, Kamelia approached jamu not simply as a traditional remedy, but as a living practice deeply embedded in Javanese cultural memory. Although she was unable to fully shadow a jamu gendong practitioner as initially planned, she found meaningful ways to connect with the jamu community in its place of origin.

Through visits to local jamu cafés, conversations with jamu gendong women in markets, and exchanges with community members, jamu emerged as a language of care—passed down through generations and continually transformed. Visits to a jamu research facility and an active clinic further revealed how traditional healing practices persist and evolve within contemporary contexts.

Through writing, observation, and embodied reflection, Kamelia began to imagine how these encounters might inform future performance-based works centered on gesture, ritual, and sensory memory. This public presentation offers insight into an ongoing process—part of a longer inquiry into how healing can be held, shared, and reimagined through artistic practice.

 

Kamelia Kenchana’s artist talk with Razan as translator at Studio Plesungan Photo: Arsip Studio Plesungan
Kamelia Kenchana’s artist talk with Razan as translator at Studio Plesungan Photo: Arsip Studio Plesungan

 

DARA LO

Artist in Residence

DARA LO

16-30 Juni 2025

Artist Talk with Dara Lo at Studio Plesungan, 2025. Photo : Achri Hendratno and Arsip Studio Plesungan

Selama masa residensinya di Studio Plesungan, Dara Lo akan memfokuskan pengembangan praktik performansnya pada eksplorasi pembubaran ego dan integrasi tubuh ke dalam ruang. Melalui pendekatan ini, Dara berupaya mengaburkan batas antara tubuh dan lingkungan, antara subjek dan lanskap material, dengan menjadikan tubuh sebagai medium yang sensitif terhadap perubahan, kehadiran, dan relasi spasial.

Sebagai bagian dari proses artistiknya, Dara akan menelusuri dan mengumpulkan objek-objek yang telah dibuang—kemungkinan dari ruang-ruang terbengkalai—untuk digunakan baik sebagai elemen performatif maupun sebagai pemicu refleksi. Material-material ini diperlakukan sebagai jejak waktu dan pengalaman, yang membuka pertanyaan tentang sisa, nilai, dan hubungan antara tubuh, ruang, dan benda dalam konteks sosial dan ekologis.

Residensi ini juga menjadi ruang bagi Dara untuk menyelami ekosistem budaya lokal melalui kunjungan ke museum, pertunjukan seni, kelas tari, serta interaksi langsung dengan seniman dan komunitas setempat. Pertemuan-pertemuan ini diharapkan memperkaya risetnya, memperluas sensibilitas tubuhnya terhadap konteks lokal, dan membuka kemungkinan dialog lintas praktik serta lintas pengalaman.

Di Studio Plesungan, residensi diposisikan sebagai proses terbuka—sebuah ruang jeda untuk observasi, eksperimentasi, dan pertemuan—di mana praktik performans berkembang melalui relasi yang cair antara tubuh, material, dan lingkungan sekitar.

Dara Lo adalah seniman multidisipliner asal Filipina yang saat ini berbasis di Singapura. Ia baru saja menyelesaikan studi BA (Hons) in Fine Arts di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), bekerja sama dengan University of the Arts London (UAL). Ia merupakan penerima AY24/25 Scholarship Award serta Woon Tai Jee Art Prize dari Woon Brothers Foundation.

Praktik artistik Dara berangkat dari wilayah-antara, menciptakan situasi dan lingkungan di mana batas antara tubuh, ruang, subjek, dan objek menjadi cair dan saling berkelindan. Melalui instalasi, performans, dan interaksi, ia mengundang penonton untuk berhadapan dengan ketidakmenetapan dan sifat sementara dari identitas diri. Karyanya menelusuri proses berkelanjutan dalam membongkar dan merakit kembali identitas—menanyakan apa yang tersisa ketika ego perlahan menghilang.

Karya Dara telah dipresentasikan di berbagai konteks di Asia Tenggara dan internasional, termasuk The Paper Menagerie II di ISA Art Gallery x Omah Budoyo (Yogyakarta), Realism Beyond Reality oleh Super Duper Gallery (Filipina), dan Escape To: di School of the Arts (Singapura). Ia juga berpartisipasi dalam pameran virtual Belonging oleh Visionary Art Collective. Pada tahun 2023, Dara menerima Artistic Talent Award dalam Jeune Pinceau International Young Artist Competition, dengan karya-karyanya dipamerkan di Prancis, Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok.

Selain praktik personalnya, Dara pernah bekerja sebagai pelukis mural lepas untuk Mural Lingo, serta menjadi seniman tamu dalam acara 150 Years of 501 oleh Levi’s di Filipina, di mana ia mengerjakan desain khusus pada material denim. Ia juga pernah bekerja sama dengan Peres Projects dalam konteks Art SG 2024, serta dengan Singapore Art Museum.

________________________________________________________

During her residency at Studio Plesungan, Dara Lo will focus on developing her performance practice through an exploration of ego dissolution and the integration of her body into space. Through this approach, she seeks to blur the boundaries between body and environment, subject and material landscape, positioning the body as a porous medium responsive to presence, change, and spatial relations.

As part of her artistic process, Dara will explore and collect discarded objects—potentially from abandoned or overlooked sites—to be used both as performative elements and as catalysts for reflection. These materials are treated as traces of time and lived experience, opening questions around residue, value, and the relationship between body, space, and material within social and ecological contexts.

The residency also provides a framework for Dara to immerse herself in the local cultural environment through visits to museums, performances, dance classes, and sustained interactions with local artists and communities. These encounters are intended to deepen her research, attune her embodied practice to local contexts, and foster exchanges across disciplines and lived experiences.

At Studio Plesungan, the residency is conceived as an open-ended process—a space for observation, experimentation, and encounter—where performance practice unfolds through fluid relationships between body, material, and environment.

Dara Lo is a multidisciplinary artist from the Philippines, currently based in Singapore. She recently graduated with a BA (Hons) in Fine Arts from the Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA), in partnership with the University of the Arts London (UAL). She is a recipient of the AY24/25 Scholarship Award and the Woon Tai Jee Art Prize from the Woon Brothers Foundation.

Dara’s practice inhabits the in-between, creating situations where the boundaries between body, space, subject, and object dissolve. Through installations, performance, and interaction, she invites viewers to engage with impermanence and the fluid nature of selfhood. Her work traces an ongoing process of deconstructing and reconstructing identity, asking what remains when the ego gradually slips away.

Her work has been presented across Southeast Asia and internationally, including The Paper Menagerie II at ISA Art Gallery x Omah Budoyo (Yogyakarta), Realism Beyond Reality by Super Duper Gallery (Philippines), and Escape To: at the School of the Arts (Singapore). She also participated in Belonging, a virtual exhibition by Visionary Art Collective. In 2023, she received the Artistic Talent Award at the Jeune Pinceau International Young Artist Competition, with her work exhibited in France, Singapore, Hong Kong, and China.

Beyond her individual practice, Dara has worked as an ad-hoc mural painter for Mural Lingo and was a guest artist for Levi’s 150 Years of 501 event in the Philippines, where she created custom designs on denim. She has also collaborated with Peres Projects during Art SG 2024 and with the Singapore Art Museum.

 

Public Presentation

Presentasi Publik

“Paglaho Sa Anyo” dan “Katawang Tahanan”

Oleh Dara Lo 

 

Sabtu, 28 Juni 2025

15:00 – 18:00 WIB

Di Studio Plesungan

 

Paglaho Sa Anyo (Larut dari Bentuk) terbentuk dari saling-silang antara tubuh, benda, dan lingkungan. Objek-objek menjadi wadah bagi ingatan dan perubahan, sementara pelarutan ego muncul—bukan sebagai penghapusan, melainkan sebagai proses menjadi.

Melalui aktivasi performans, elemen diri melebur dengan ruang; batas-batas kabur, larut, dan membentuk ulang dirinya. Dengan membenamkan, menyamarkan, dan menyingkap, karya ini mengundang para penonton untuk masuk dalam proses penguraian yang terus berlanjut—sebuah perwujudan ata diri yang terus-menerus berubah, hadir dalam ketidakhadiran.

Katawang Tahanan (Tubuh-Rumah) mengeksplorasi keselarasan antara tubuh dan rumah sebagai struktur kulit dan napas, wadah yang menyimpan ingatan dan merekam jejak setiap yang melaluinya. Tubuh adalah penghuni sekaligus fondasi—sebuah situs bagi pembangunan, keruntuhan, dan transformasi yang hening.

Sebuah tindakan meditatif dalam membangun, karya ini merefleksikan bagaimana kita menyusun identitas, rumah, dan makna di sekitar diri kita—lapis demi lapis yang rapuh—hanya untuk kemudian dihadapkan pada ketidakabadiannya. Rumah, seperti ego, adalah sesuatu yang sementara. Apa yang melindungi juga bisa membelenggu. Apa yang menjadi pelindung, pada akhirnya bisa runtuh.

Katawang Tahanan merefleksikan ilusi bentuk, kerapuhan keberadaan diri, dan kekerasan yang sunyi dalam melepaskan. Saat dinding-dinding runtuh, tubuh pun tersingkap—bukan sebagai sesuatu yang terpisah dari struktur, melainkan sebagai ruang itu sendiri, tempat dari mana ia muncul dan ke mana ia akan kembali.


Paglaho Sa Anyo
, translating to “to dissolve from form,” intertwines body, object, and environment. Objects become vessels of memory and transformation, and ego dissolution emerges—not as an erasure, but as a becoming.

Through performance activation, the self merges with space, where boundaries blur, dissolve, and reconfigure. By embedding, obscuring, and revealing, the work invites viewers into a continuous unraveling—a perpetual reconfiguration of self, a presence within absence.

Katawang Tahanan (Body-House) explores the parallels between body and house as structures of skin and breath, vessels that shelter memory and bear the trace of all that pass through them. The body is both inhabitant and foundation—a site of construction, collapse, and quiet transformation. 

 A meditative act of construction, it echoes how we build identities, homes, and meanings around ourselves—layer by fragile layer—only to confront their impermanence. The house, like the ego, is temporary. What shelters can also confine. What protects may eventually fall apart.

Katawang Tahanan reflects on the illusion of form, the fragility of selfhood, and the quiet violence of letting go. As the walls fall, the body is revealed—not as separate from the structure, but as the very space from which it rose, and to which it will return.

“Paglaho Sa Anyo”, Dara Lo, Studio Plesungan, 2025. Photo : Achri Hendratno and Arsip Studio Plesungan

 

“Paglaho Sa Anyo”, Dara Lo, Studio Plesungan, 2025. Photo : Achri Hendratno and Arsip Studio Plesungan

 

“Paglaho Sa Anyo”, Dara Lo, Studio Plesungan, 2025. Photo : Achri Hendratno and Arsip Studio Plesungan
“Katawang Tahanan”Dara Lo, Studio Plesungan, 2025. Photo : Achri Hendratno and Arsip Studio Plesungan
“Katawang Tahanan”, Dara Lo, Studio Plesungan, 2025. Photo : Achri Hendratno and Arsip Studio Plesungan

 

EISA JOCSON and VENURI PERERA

Artist in Residence
Eisa Jocson and Venuri Perera

1 – 10 July 2024

Magic Maids – work in Progress, Eisa Jocson and Venuri Perera, at Teater Arena TBJT Surakarta, 2024. Photo: Jauhari and Arsip Studio Plesungan

 

Magic Maids – work in Progress, Eisa Jocson and Venuri Perera, at Teater Arena TBJT Surakarta, 2024. Photo: Jauhari and Arsip Studio Plesungan

Residensi Eisa Jocson dan Venuri Perera di Studio Plesungan merupakan bagian dari rangkaian residensi ARTEFACT#10, yang didukung oleh Dance Nucleus. Selama masa tinggal mereka di Studio Plesungan, kedua seniman melanjutkan pengembangan karya “Magic Maids, sebuah proyek pertunjukan yang menelusuri sejarah dan kondisi kontemporer eksploitasi pekerja rumah tangga migran.

Magic Maids membangun hubungan konseptual antara perburuan penyihir dalam sejarah Eropa dan kerja domestik modern—dua medan kekerasan yang, meskipun terpisah secara waktu dan konteks, sama-sama ditandai oleh kontrol atas tubuh perempuan, ketakutan terhadap yang asing, serta kerja perawatan yang tidak terlihat dan tidak diakui. Dalam proyek ini, kerja domestik dipahami bukan sekadar sebagai aktivitas sehari-hari, melainkan sebagai medan politik yang sarat relasi kuasa, kelas, gender, dan migrasi.

Selama residensi, Eisa dan Venuri akan melakukan lokakarya serta wawancara dengan pekerja rumah tangga migran asal Filipina dan Sri Lanka, sebagai bagian dari proses riset berbasis tubuh dan pengalaman hidup. Pertemuan-pertemuan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang sensitif, di mana narasi personal, gestur kerja, dan ingatan tubuh diperlakukan sebagai arsip hidup yang membentuk struktur artistik karya.

Residensi ini juga berfungsi sebagai fase penting dalam persiapan pemutaran perdana “Magic Maids” yang akan dipresentasikan dalam program Connect Asia Now di Esplanade – Theatres on the Bay, Singapura. Di Studio Plesungan, karya ini dikembangkan sebagai proses terbuka—melalui eksplorasi gerak, diskusi, dan dialog dengan konteks lokal.

Sebagai bagian dari keterlibatan publik, Eisa Jocson dan Venuri Perera akan menampilkan pertunjukan publik untuk Magic Maids sebagai karya bertumbuh (work in progress) yang diikuti dengan diskusi seniman dalam program dua bulanan On Stage, membuka ruang percakapan tentang kerja, tubuh, dan politik perawatan dalam konteks Asia Tenggara dan lintas wilayah.

Eisa Jocson adalah koreografer dan penari kontemporer asal Filipina, dengan latar belakang pendidikan seni rupa dan balet. Praktik artistiknya menyoroti politik tubuh dalam industri jasa dan hiburan, dibaca melalui kondisi sosio-ekonomi Filipina. Ia meneliti bagaimana dan mengapa tubuh bergerak—baik dalam kerangka mobilitas sosial maupun migrasi tenaga kerja. Dalam karya-karyanya, seperti pole dance, macho dancing, kerja hostes, hingga Princess dan The Zoo, kapital berfungsi sebagai kekuatan pendorong yang mengarahkan tubuh-tubuh terikat ke dalam geografi kerja tertentu. Ia menerima 13 Artists Award dari Cultural Center of the Philippines (2018), Hugo Boss Asia Art Award (2019), SeMa-HANA Award (2021), serta Tabori International Award (2023).

Venuri Perera adalah koreografer, seniman pertunjukan, kurator, dan pendidik asal Kolombo. Karyanya mengeksplorasi relasi kuasa antara visibilitas dan opasitas, dengan tujuan menggoyahkan cara kita memahami “yang lain.” Praktik solonya maupun kolaboratif membahas nasionalisme yang penuh kekerasan, patriarki, imigrasi, warisan kolonial, dan kelas sosial. Karyanya telah dipresentasikan di berbagai festival, biennale, dan simposium di Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Ia adalah penggagas Colombo Dance Platform (2015–2020) dan lulusan DAS Theatre, saat ini berbasis di Amsterdam.


________________________________________________

Eisa Jocson and Venuri Perera’s residency at Studio Plesungan is part of their ongoing ARTEFACT#10 residency, supported by Dance Nucleus. During their time at Studio Plesungan, they continue the development of Magic Maids, a performance project that critically examines the exploitation of migrant domestic workers through historical and contemporary lenses.

Magic Maids draws conceptual connections between the historical witch hunts in Europe and modern domestic labor—two sites of violence that, despite their temporal distance, are marked by control over women’s bodies, fear of the “other,” and the invisibilisation of care work. Domestic labor is approached not merely as everyday activity, but as a political terrain shaped by power relations of gender, class, migration, and racialisation.

Throughout the residency, Jocson and Perera will conduct workshops and interviews with migrant domestic workers from the Philippines and Sri Lanka. These encounters form a body-based research process in which lived experience, working gestures, and embodied memory are treated as living archives that inform the choreographic and dramaturgical structure of the work.

The residency also serves as a crucial phase in the preparation for the premiere of Magic Maids within the Connect Asia Now programme at Esplanade – Theatres on the Bay, Singapore. At Studio Plesungan, the project unfolds as an open process—developed through movement exploration, critical dialogue, and engagement with the local artistic context.

As part of Studio Plesungan’s public programming, Eisa Jocson and Venuri Perera will present Magic Maid as work in progress  performance followed by an artist talk within the bi-monthly On Stage program, inviting audiences into a broader conversation on labor, embodiment, and the politics of care across Southeast Asia and beyond.

Eisa Jocson is a contemporary choreographer and dancer from the Philippines, trained as a visual artist with a background in ballet. Her practice exposes the politics of the body within the service and entertainment industries, viewed through the socio-economic conditions of the Philippines. She investigates how bodies move and what compels them to move—whether through aspirations of social mobility or through labor migration. Across works ranging from pole dance and macho dancing to hostess work, Princess, and The Zoo, capital emerges as the driving force that pushes indentured bodies into specific spatial and labor geographies. She is a recipient of the 13 Artists Award (2018), Hugo Boss Asia Art Award (2019), SeMa-HANA Award (2021), and the Tabori International Award (2023).

Venuri Perera is a choreographer, performance artist, curator, and educator from Colombo. Her work explores power dynamics between visibility and opacity, seeking to destabilise dominant ways of perceiving the “other.” Her solo and collaborative projects address themes of violent nationalism, patriarchy, immigration, colonial legacies, and class. Since 2008, her work has been presented at festivals, biennales, and symposia across Europe, South and East Asia, the Middle East, and Africa. She is the founder and curator of the Colombo Dance Platform (2015–2020), a graduate of DAS Theatre, and is currently based in Amsterdam.

Magic Maids – work in Progress, Eisa Jocson and Venuri Perera, at Teater Arena TBJT Surakarta, 2024. Photo: Jauhari and Arsip Studio Plesungan
Magic Maids – work in Progress, Eisa Jocson and Venuri Perera, at Teater Arena TBJT Surakarta, 2024. Photo: Jauhari and Arsip Studio Plesungan

 

NAFA SINGAPORE STUDENTS RESIDENCY 2025

NAFA SINGAPORE STUDENTS RESIDENCY 2025

MARYAM BINTE TAYEB, BONG CHAI LEE, NURUL ATIQAH ZAIDI 

13 May – 4 Juni 2025

Maryam Binte Tayeb

“Menunda (delay)”Maryam Binte Tayeb , Studio Plesungan, 2025. Photo : Jauhari
“Menunda (delay)”Maryam Binte Tayeb , Studio Plesungan, 2025. Photo : Jauhari
“Menunda (delay)”Maryam Binte Tayeb , Studio Plesungan, 2025. Photo : Jauhari
“Menunda (delay)”Maryam Binte Tayeb , Studio Plesungan, 2025. Photo : Jauhari

Dalam program residensi Studio Plesungan, Maryam Binte Tayeb mengembangkan praktik seni performansnya yang berfokus pada identitas, tubuh perempuan, dan warisan budaya melalui pendekatan kritis dan performatif. Selama residensi, ia menelusuri kembali akar warisan Jawa serta mempelajari ekosistem seni kontemporer dan tradisi pertunjukan di Indonesia, termasuk tari Jawa dan Reog.
Melalui partisipasi dalam lokakarya dan pembelajaran berbasis praktik, Maryam memperdalam riset dan metode tubuhnya, serta mengembangkan arah karya baru yang beresonansi dengan konteks sosial dan budaya Studio Plesungan.

Maryam Binte Tayeb seniman multidisipliner yang dinamis dengan praktik yang mencakup media lukisan, 3D, dan 4D. Dengan berakar kuat pada warisan budaya Melayu, karya Maryam merupakan eksplorasi terhadap tubuh, keadilan sosial, dan kompleksitas identitas melalui lensa feminis. Melalui ekspresi kreatifnya, ia berupaya menantang dan membongkar struktur sosial dan politik yang telah lama mengungkung, khususnya yang secara historis membatasi perempuan.

Dalam perjalanan ekspresi dan penemuan dirinya yang terus berlangsung, praktik Maryam tidak hanya menantang norma sosial, tetapi juga membangun komunitas. Karyanya mendorong dialog dan mengundang refleksi kolektif mengenai isu-isu gender, kekuasaan, dan transformasi sosial. Ia membayangkan karyanya sebagai kontribusi terhadap industri seni Asia Tenggara, dengan membangun kehadiran yang bertahan lama untuk mendorong perubahan sosial dan memperkuat suara-suara yang terpinggirkan.

As part of the Studio Plesungan residency program, Maryam Binte Tayeb developed her performance practice centered on identity, the female body, and cultural heritage through a critical and performative approach. During the residency, she revisited her Javanese roots and engaged with Indonesia’s contemporary art ecosystem and traditional performance practices, including Javanese dance and Reog.
Through workshops and hands-on learning, Maryam deepened her research and embodied methodologies, contributing to the development of new work responsive to the social and cultural context of Studio Plesungan.

Maryam Binte Tayeb is a dynamic, multi-disciplinary artist whose practice spans painting, 3D, and 4D mediums. Drawing on her deep-rooted Malay heritage, Maryam’s work is an exploration of the body, social justice, and the complexities of identity through a feminist lens.Through her creative expression, she seeks to challenge and dismantle long-held social and political structures, particularly those that have historically confined women. 

In her ongoing journey of self-expression and discovery, Maryam’s practice not only challenges societal norms but also serves to build community. Her art fosters dialogue and invites collective reflection on issues of gender, power, and societal transformation. She envisions her work contributing to the Southeast Asian arts industry, steadily establishing a lasting presence that encourages social change and amplifies marginalized voices.

Nurul Atiqah Zaidi

“Kulit: Siapa Bilang Gadis Melayu Tak Melawan” Nurul Atiqah Zaidi, Studio Plesungan, 2025 Photo: Angga
“Kulit: Siapa Bilang Gadis Melayu Tak Melawan” Nurul Atiqah Zaidi, Studio Plesungan, 2025 Photo: Angga
“Kulit: Siapa Bilang Gadis Melayu Tak Melawan” Nurul Atiqah Zaidi, Studio Plesungan, 2025 Photo: Angga
“Kulit: Siapa Bilang Gadis Melayu Tak Melawan” Nurul Atiqah Zaidi, Studio Plesungan, 2025 Photo: Angga

Dalam residensinya di Studio Plesungan, Nurul Atiqah Zaidi mengembangkan proyek Bodies of Water: Ritual, Purification, and the Female Form. Proyek ini mengeksplorasi ritual pemurnian dalam tradisi Asia Tenggara dan Melayu-Muslim serta dampaknya terhadap persepsi dan pengaturan tubuh perempuan.
Melanjutkan risetnya mengenai otonomi tubuh, batasan gender, dan praktik ritualistik, proyek ini menandai pergeseran pendekatan artistik Nurul—dari metafora minyak sebagai simbol hiperseksualitas menuju air sebagai simbol pemurnian, penghapusan, dan transformasi.

Nurul Atiqah Zaidi adalah seniman interdisipliner yang karya-karyanya berpusat pada tubuh perempuan berkulit cokelat sebagai arsip, pertanyaan, dan ruang perlawanan. Praktiknya mengeksplorasi tema-tema seperti ritual, feminitas, pemurnian, dan kesalahpahaman budaya. Berakar pada identitasnya sebagai perempuan Melayu-Muslim, karya Atiqah menjelajahi ketegangan antara visibilitas dan perlawanan, kemarahan dan kelembutan, tontonan dan keheningan.

During her residency at Studio Plesungan, Nurul Atiqah Zaidi developed the project Bodies of Water: Ritual, Purification, and the Female Form. The project examines purification rituals within Southeast Asian and Malay-Muslim traditions and their influence on perceptions of the female body.
Building on her ongoing research into bodily autonomy, gendered constraints, and ritualistic practices, the project marks a shift in her artistic approach—from oil as a metaphor for hypersexualisation to water as a symbol of purification, erasure, and transformation.

NURUL ATIQAH ZAIDI is an interdisciplinary artist whose work centres on the brown female body as archive, question, and site of resistance. Her practice explores themes of ritual, femininity, purification, and cultural misreading. Rooted in her identity as a Malay-Muslim woman, Atiqah’s work navigates the tension between visibility and defiance, rage and softness, spectacle and stillness.

Bong Chai Lee

Bong Chai Lee melanjutkan eksplorasi artistiknya terhadap isu marginalisasi dan narasi yang kerap terabaikan selama residensinya di Studio Plesungan. Dengan menjadikan seni sebagai medium refleksi atas pengalaman manusia yang kompleks, ia menempatkan residensi ini sebagai ruang untuk refleksi personal dan eksperimentasi artistik yang berakar pada konteks lokal.
Selain fotografi, Bong Chai Lee mempelajari berbagai teknik tradisional setempat—seperti batik, tari, seni pertunjukan, pewarnaan tekstil, keramik, dan anyaman—untuk memperluas keterampilan serta memperdalam relasi dengan komunitas lokal, membangun dialog artistik yang kontekstual dan berkelanjutan.

Bong Chai Lee adalah seniman kelahiran Malaysia yang saat ini tinggal di Singapura. Ia sedang menempuh pendidikan Bachelor of Arts (Hons) dalam bidang Seni Rupa di Nanyang Academy of Fine Arts. Melalui karyanya, ia bertujuan menggambarkan pengalaman manusia dan menyampaikan cerita-cerita yang bermakna. Dengan menyoroti isu-isu yang sering diabaikan dan terpinggirkan, ia berupaya memberikan suara bagi pemikiran-pemikiran yang kerap tak terungkapkan.

During her residency at Studio Plesungan, Bong Chai Lee continued her exploration of marginalisation and overlooked narratives, using art as a means to reflect on complex human experiences. She approached the residency as a space for personal reflection and artistic experimentation grounded in local contexts.
In addition to photography, she engaged with traditional local practices—including batik, dance, performance art, textile dyeing, pottery, and weaving—to expand her skills and deepen connections with the local community, fostering meaningful and contextually grounded artistic dialogue.

Bong Chai Lee is a Malaysian-born artist currently living in Singapore. She is pursuing a Bachelor of Arts (Hons) in Fine Art at the Nanyang Academy of Fine Arts. Through her work, she aims to illustrate the human experience and tell meaningful stories. By highlighting often overlooked and marginalized issues, she strives to give voice to thoughts that frequently remain unexpressed.

“Canned Can”, Bog Chai Lee, Studio Plesungan, 2025. Photo: Angga
“Canned Can”, Bog Chai Lee, Studio Plesungan, 2025. Photo: Angga
“Canned Can”, Bog Chai Lee, Studio Plesungan, 2025. Photo: Angga

CHOY KA FAI

Artist In Residence

Choy Ka Fai

11-29 Mei 2025

Studio Plesungan dengan senang hati menyambut Choy Ka Fai sebagai seniman residensi pada bulan Mei ini. Selama masa residensinya, Ka Fai mengadakan pertemuan dan sesi latihan perdana bersama para penari dari Indonesia di ruang dalam Studio Plesungan. Kegiatan ini menandai dimulainya proses produksi Kanan Kiri Kanan, sebuah karya pertunjukan yang direncanakan untuk dipentaskan di Utrecht pada tahun 2026.

Studio Plesungan is pleased to welcome Choy Ka Fai as an artist-in-residence this May. During his residency, Ka Fai held an initial meeting and rehearsal session with Indonesian dancers in the indoor space of Studio Plesungan. This gathering marks the beginning of the production process for Kanan Kiri Kanan, a performance work scheduled to premiere in Utrecht in 2026.

Choy Ka Fai adalah seniman asal Singapura yang berbasis di Berlin. Praktik seni multidisiplinernya berada di persimpangan antara tari, seni media, dan pertunjukan. Melalui ekspedisi riset, eksperimen pseudosaintifik, dan pertunjukan dokumenter, Ka Fai mengapropriasi teknologi dan narasi untuk membayangkan masa depan baru bagi tubuh manusia.

Proyek-proyek Ka Fai telah dipresentasikan di berbagai institusi besar di seluruh dunia, termasuk Sadler’s Wells (London), ImPulsTanz Festival (Wina), dan Kyoto Experiment (Jepang). Ia pernah menjadi seniman residensi di tanzhaus nrw di Düsseldorf (2017–2019) dan Künstlerhaus Bethanien di Berlin (2014–15). Ka Fai lulus dengan gelar M.A. dalam Design Interaction dari Royal College of Art, London, Inggris.

Choy Ka Fai is a Berlin-based Singaporean artist. His multidisciplinary art practice situates itself at the intersection of dance, media art and performance. Through research expeditions, pseudo-scientific experiments and documentary performances, Ka Fai appropriates technologies and narratives to imagine new futures of the human body. 

Ka Fai’s projects have been presented in major institutions worldwide, including Sadler’s Wells (London), ImPulsTanz Festival (Vienna) and Kyoto Experiment (Japan). He was the resident artist at tanzhaus nrw in Düsseldorf (2017–2019) and Künstlerhaus Bethanien in Berlin (2014-15). Ka Fai graduated with a M.A. in Design Interaction from the Royal College of Art, London, United Kingdom.

 

Workshop Series:

“Telepresence In The Age Of Extreme Self”

oleh Choy Ka Fai

Sabtu, 24 Mei 2025, 14:00 – 17:00 WIB

di Studio Plesungan, Desa Plesungan rt03 rw02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181

 

Bagaimana yang digital, virtual, immaterial, atau ekspresi non-manusia mendorong kita untuk memikirkan ulang dan memperluas pengertian tentang tubuh kita?

Telepresence In the Age of Extreme Self  adalah sebuah kuliah dan lokakarya yang dibawakan oleh Choy Ka Fai, berangkat dari gagasan tentang budaya pasca-manusia yang diambil dari ranah fiksi ilmiah, seni kontemporer, dan filsafat. Gagasan ini dipaparkan melalui serangkaian proses penciptaannya yang menghadirkan pembayangan atas masa depan tentang kesatuan metafisik dalam praktik seni—yang berpeluang  menciptakan dorongan untuk melampaui batas fisik diri kita. Workshop ini akan berbagi proses penciptaan berbagai proyek digital disertai demonstrasi langsung untuk para peserta. Kegiatan ini akan mengulas eksperimen sang seniman dalam teknologi motion capture, desain gim, dan spekulasi koreografi.

How does the digital, the virtual, the immaterial or non-human expressions push us to rethink and expand the notion of our body?

Telepresence in the age of extreme self is a lecture and workshop based on the idea of post-human culture from from the field of science fiction, contemporary art and philosophy. The plausible future of a meta-physical unity in artistic practices is here and maybe we are all have an itch to transcend beyond our physical self.

This workshop will shares on the creation of various digital project with demonstration for the participant. It will detail the artist experiment in motion capture, game design and choreographic speculations.

NUR IZZAH

Artist-In-Residence

Nur Izzah

18 – 31 Januari 2025

Nur Izzah berfokus pada eksplorasi tema identitas, pelarian (escapism), dan penceritaan dalam praktik animasinya melalui keterlibatan langsung dengan budaya Jawa. Ia berupaya memperdalam pendekatan naratifnya dengan merespons pengalaman-pengalaman lokal, seperti kunjungan ke museum serta menyaksikan pertunjukan gamelan tradisional.

Terinspirasi oleh pertemuan antara warisan budaya dan seni kontemporer, Nur Izzah membuka ruang kolaborasi dengan seniman lain sekaligus merefleksikan bagaimana narasi tradisional dan modern dapat saling berdialog dan hidup berdampingan dalam ekosistem seni yang dinamis.

Nur Izzah adalah seorang seniman yang berbasis di Singapura. Ia saat ini menempuh pendidikan sarjana dalam program Bachelor of Arts (Honours) Fine Art di Nanyang Academy of Fine Art (NAFA). Sebagai seorang seniman muda yang tinggal di Singapura, Izzah fokus menciptakan berbagai representasi visual untuk mendongeng melalui media digital dan instalasi.

Ia bertujuan menyusun narasi yang mampu menyentuh audiensnya secara mendalam, baik secara emosional maupun intelektual. Sebelum ini, Izzah lulus dari Singapore Polytechnic (SP) dengan Diploma Desain Interior. Dengan pengalaman di bidang desain, ia memanfaatkan keterampilan perangkat lunak dan pengetahuannya untuk menciptakan karya yang lebih beragam

____________

Nur Izzah focuses on exploring themes of identity, escapism, and storytelling within her animation practice through direct engagement with Javanese culture. She seeks to deepen her narrative approach by responding to local experiences, including visits to museums and encounters with traditional gamelan performances.

Inspired by the intersection of cultural heritage and contemporary art, Nur Izzah aims to collaborate with other artists while reflecting on how traditional and modern narratives can coexist and enter into dialogue within a dynamic artistic environment.

Nur Izzah is an artist based in Singapore. She is an Undergraduate Degree student pursuing a Bachelor of Arts (Honours) Fine Art in Nanyang Academy of Fine Art (NAFA). As a student artist residing in Singapore, her artistic endeavors primarily revolve around creating diverse visual representations of storytelling through digital media and installations. 

She aims to craft narratives that deeply resonate with her audience, compelling them to engage on both emotional and intellectual levels. Prior to this, she graduated from Singapore Polytechnic (SP) with a Diploma in Interior Design. With experience in the design field, she uses her software skills and knowledge to create more diverse works. 

Public Presentation

“HIRAETH” 

oleh  Nur Izzah

Rabu, 29 Januari 2025, 13:00 – 15:00 WIB

di Studio Plesungan, Desa Plesungan RT 03 RW 02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181

Hiraeth menelusuri peralihan antar kenyataan sebagai sebuah potret diri. Karya ini mewakili konsep eskapisme, sebuah tema yang kerap dimuncukan dalam karya-karya Izzah.

Proses penciptaan di balik karya “Hiraeth” berakar pada pengamatan dan pengalaman pribadi seniman. Tesisnya yang berjudul ”Digital Masks: Exploring the Authenticity of Identity and Escapism in Online Spaces” menelaah bagaimana identitas di dalam dunia nyata dan ruang digital terbangun dan terarahkan. Animasi ini tertuju pada merrefleksi atas tema-tema tersebut, sebagai metafora atas kecairan identitas dan daya tarik dari kenyataan alternatif.

___________

Hiraeth explores the transition between alternate realities as a self-portrait. The piece visually represents the concept of Escapism, a recurring theme in Izzah’s works. 

The creative process behind Hiraeth was deeply rooted in the artist’s research and personal experiences. Her thesis, Digital Masks: Exploring the Authenticity of Identity and Escapism in Online Spaces, examines how individuals construct and navigate their identities in real life and digital spaces. The animation aims to reflect these themes, as a metaphor for the fluidity of identity and allure of alternate realities

Program ini terbuka untuk umum dan gratis.

Diskusi berlangsung dalam bahasa Inggris dengan penerjemah bahasa Indonesia.