A SPACE FOR COLLECTIVE SPIRIT AND CREATION IN THE ARTS

COMING SOON !!!

SALA MONOLOG

30 – 31 Oktober 2019

19:30 WIB

Studio Plesungan

Karanganyar

Studio Plesungan, mendukung Sala Monolog, program yang dirancang, ditekuni dan dikuratori oleh Turah Hananto.

Teater, silakan mengambil panggung, dan penonton, silakan bergabung bersama kami !

Baitarengka

Naskah                    : Trisno Santoso

Sutradara               : Bambang Sugiarto

Pemain                   : Pelok Trisno Santoso

Musik                      : Gendhut Dalang Berijasah Sak Anane

Artistik                   : Deba, Beja Mulyono, Jojo, Dwi Cs

Rias busana          : Tarja W K

Boneka                     : Fery Ludiyanta Pawira

Sugiman Kecrut batur sing diweling dening bendarane  “Suk yen mati sak durunge dikubur njaluk dishalatke”.  Batur sing banget taat marang wasiate bendarane, yaiku salah sawijining pensiunan punggawa negara sing disuyudi lan diwedeni dening para punggawa liyane, bebasan idu geni apa sakpanjaluke mesthi dituruti dening pejabat liyane nadyan pangkate luwih dhuwur. Nanging nalika tinimbalan Pangeran, sadurunge dikubur wis padha ditinggal dening para pelayat. Si batur saya bingung amarga wiwit saka kanca kenthel, tangga teparo, sedulur ora ana sing padha gelem ngenteni penguburane. Malah anake cacah lima sing padha nyambut gawe ana njaban kutha, lan njaban pulo padha ora bisa mulih merga alesan sing werna-werna. Nganti layone juragane mau diinepke meksa ora ana sing gelem nglakoni panjaluke bendarane.  Aneh kanggone priyayi sing sadurunge mati padha diajeni, padha dipundhi-pundhi, padha dieringi gek ora tau tumindak ala, tur ya sugih sisan, nanging mung kepengin sakdurunge dikubur dishalatke wae kok ya meksa ora bisa klakon. Mula layone Raden Mas Handayaningrat Sastra Kamandanu nganti diinepke punjul saka sedina sewengi.

“Oh”

Karya                        : Putu Wijaya

Sutradara              : Irvan Adi Suwoto

Astrada                   : Thomas Adven K. W.

Aktor                        : Nanda Ryan Fuadillah

Set & Properti          : Kukuh Aji Saputro

Lighting                    : Egi Solihin

Musik                       : Yohanes Roy Suryo & Natanael Supriyadi

Make up                 : Yona Restu Dian Dini & Rizka Kurnia Ramadanti

Kostum                    : Arfani Nindya Prihaningsih

” Ketika seorang penjahat besar musuh rakyat berhasil aku bebaskan, apapun alasannya, itu akan menyulutkan peradilan rakyat. Tapi tak ada jaminan akan berjalan lurus seperti rencanaku. Itulah bencana yang melanda negeri kita sekarang ini !”

“PATRON”

Karya                      : Sophiyah

Performer             : Sophiyah

Video mapping  : Bayu Roy Pradhana, Ali Yafie

Sound designer  : Aldo Ahmad

Dokumentasi      : Erik Zuli Praditha

Video ilustrator : Yokoyon

Work in progress “Patron” merupakan karya yang merespon tentang sophi saat stalking atau menguntit banyak hal di instagram. Ketika stalking, Sophi merasa terjun bebas dan diajak loncat kesana kemari menjelajahi timeline dengan isi dari feed yang berhamburan tanpa mengetahui dengan tuntas . Ada beberapa titik yang menjadi pemberhentian yaitu tentang perempuan ideal, tubuh-tubuh yang didomestikasi, narsisme, sensualitas, motivasi serta kata-kata dengan berbagai kalimat yang lebih banyak tidak dihiraukan. Ada momen dimana Sophi merasa aneh saat menstalking IGnya sendiri. Seperti tanpa sadar terjebak dalam kontemplasi untuk melihat pola-pola yang sebenarnya tidak tahu esensinya. Realitas yang dilihat bukan sebuah justifikasi akan ‘benar’ atau ‘salah’ dan ‘baik’ atau ‘buruk’. bisa jadi “non sense” atau hanya ‘’stereotip” adalah memang kenyataan yang sangat relevan.

Besut jajah deso milang kori

Pemain                   : Meimura.

Pendukung           : Tribroto Wibisono.

Artistik                   : Puji,Harun.

Musik                       : Cak Pardi,Mulut, Karsono, Kadis.

Kemarahan Besut terhadap Sumo gambar sudah tidak terbendung lagi, kebiasaan Sumo gambar nderek yang menang yang berkuasa sejak dahulu kala membuat Besut pitam, Sumo gambar digelandang oleh Besut dan diminta mengakhiri perbuatannya mengingat zaman sudah berubah, bangsa ini membutuhkan kerja gotong royong bukan seenaknya sendiri bahkan suka “nyolong betek ditukangan” . Besut berhasil membuat Sumo gambar sadar, kini Sumo gambar senantiasa bersama Besut Jajah Deso Milang kori, mengabarkan kebersamaan, seduluran.

Balada Sumarah

Pemain                   : Indah KoLalung

Karya                        : Tentrem Lestari

Sutradara              : Tri H.

” Kematian ku adalah sebuah contoh ketidakadilan dan kebobrokan sebuah sistem “

BASIC TRAINING CLASS
Kelas Latihan Dasar

REGISTRATION OPEN NOW !
Dibuka Pendaftaran !

Setiap Rabu sore dan Sabtu pagi

Basic training class is a twice in a week training sessions which focuses on some basic trainings methods developed by professional dance trainers. In the basic training class, we will introduce exercises which can generate your techniques in dance for improvisation and choreography, how to understand movement and the resource of energy , and to relate your body with space and time.

Kelas dasar adalah kelas pelatihan dasar yang diberikan satu minggu dua kali dan bertujuan untuk berfokus pada metoda-metoda pelatihan tubuh yang mendasar yang dikembangkan oleh pelatih-pelatih profesional. Dalam kelas ini, kami akan memberikan materi-materi latihan yang bisa memicu anda untuk mengembangkan tehnik tari untuk kebutuhan improvisasi dan koreografi Anda, memahami gerak yang dilakukan dan sumber energi, dan menghubungkan tubuh dengan ruang dan waktu.

PAST EVENTS

PERFORMANCE ART

IF WE WERE XYZ

MELATI SURYODARMO

with Jessika Keeney and Anthonius Oki Wiriadjaja
Thu 17 Oct 2019

3 – 6 p.m.

Fri 18 Oct 2019

5 – 8 p.m.

Asia Society
725 Park Avenue
New York, NY 10021

 

ARTIST TALK

BODY AS CONTAINER
Tue 15 Oct 2019

6:30 – 8 p.m.

Asia Society
725 Park Avenue
New York, NY 10021

ON STAGE

20 – 21 SEPTEMBER 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org

On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR

Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR

www.studioplesungan.org

One of Asia’s most important contemporary artists, Melati Suryodarmo, has been creating powerful, immersive performance work for nearly twenty-five years. She premieres a durational performance, entitled IF WE WERE XYZ at Asia Society Museum. In this new work, she explores dreams—both in the sense of the subconscious experiences we have while sleeping and the conscious aspirations we have when awake. Drawing upon Javanese mysticism, the artist’s own dreams documented in a self-devised sleep laboratory, and other sources, Suryodarmo’s intensive research process leads to a visceral three-hour performance. IF WE WERE XYZ will feature a live journeying through a powerful dreamscape; Suryodarmo collaborated with technologist Antonius Oki Wiriadjaja to decipher dreams collected in her sleep laboratory which inspired the compositions vocalist/composer Jessika Kenney has created for the piece.

Entry with museum admission and permitted at any point during the three-hour performance. Space limited.

This performance also occurs on Friday, October 18 from 5–8 p.m.

On Tuesday, October 15, Suryodarmo discusses her artistic practice, developed over 25 years and influenced by Javanese meditation, Japanese butoh, and study of performance art with Marina Abramović, in the artist talk Body As Container.

Concept and performance: Melati Suryodarmo
Music: Jessika Kenney
Technologist and interactive systems design: Antonius Oki Wiriadjaja

Suryodarmo’s performances are part of Asia Society’s Creative Common Ground, an initiative focused on the commissioning of interdisciplinary works that bring together artists and talents from different disciplines. Creative Common Ground is supported in part by a three-year grant from The Andrew W. Mellon Foundation.

ON STAGE
menghadirkan karya tari
RETNO SULISTYORINI

ON STAGE hadir untuk ketiga kalinya dengan menampilkan Waktu Lingkar dan Noise , dua karya Retno Sulistyorini, seniman peraih Hibah Seni Kelola 2019.

“Waktu Lingkar” terinspirasi dari aktifitas yang dilakukan berulang kali hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Semua terlihat sama, apa yang dilihat, suasana yang dirasakan, waktu yang dipakai, dan masih banyak lagi. Namun rutinitas selalu memunculkan pergolakan batin yang berubah-ubah. Suasana hati sangat mempengaruhi ekspresi kejiwaan untuk mempresentasikan apa yang dirasakan. Karya ini adalah sebuah ekpresi tubuh tentang pergolakan batin dalam menghadapi sebuah rutinitas. Selain menggunakan media gerak dan tubuh, “Waktu Lingkar” juga melibatkan vokal. Karya ini pertama kali dipentaskan dalam program Dance in Asia di Teater Arena oleh Retno Sulistyorini dan Cahwati. Pada pementasan kedua ini Retno Sulistyorini akan tampil bersama Hana Yulianti.

Sementara karya berjudul “Noise” bertitik tolak dari pengamatan pada keriuhan suasana yang terjadi disekitar. Suasana tersebut sangat mempengaruhi pikiran dan perasaan manusia. Keriuhan bagi beberapa orang bisa sangat mengganggu dan mempengaruhi emosi, tapi tidak terlalu mengganggu untuk beberapa orang lainnya. Pada pementasan perdananya, “Noise” akan ditampilkan oleh David Bima Sakti Perdana, Prasetya Dwi Adi Nugroho, Kristiyanto, Hana Yulianti dan Yezyuruni Forinti.

Tentang Retno Sulistyorini

Retno Sulistyorini atau biasa disapa Enno, lahir di Jakarta tahun 1981. Enno belajar tari secara formil di SMKI Surakarta dan melanjutkannya ke jurusan tari jalur kepenarian di ISI Surakarta. Saat kuliah Enno juga mulai mengenal dan belajar pada seniman seni pertunjukan dan koreografer-koreografer senior di Surakarta seperti Suprapto Suryodarmo, Mugiyono Kasido, dan Eko Supriyanto sehingga ia kemudian memutuskan untuk mengubah jalur studinya dari kepenarian menjadi koreografi. Baginya menjadi koreografer sangat menantang karena dituntut untuk terus berkarya. Enno punya ketertarikan besar pada isu-isu perempuan. Setelah karya „Pisau“ (2000), Enno menciptakan “Nafas” (2003) yang bercerita tentang tradisi pingit untuk perempuan Jawa. Enno memperlakukan karya-karyanya sebagai sesuatu yang terus berkembang dan berubah setiap kali dipentaskan. Contohnya seperti karya “Pisau” yang selalu dipentaskan dengan format visual yang variatif di tiap pementasannya. Karya “Pisau” pula melatarbelakangi penciptaan “Ruang dalam Tubuh” yang didukung program Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola tahun 2010 silam. Saat berkarya, Enno juga senang mengeksplorasi keruangan dan bentuk visual. Dalam karya “Samparan Moving Space”, Enno memadukan tari dengan beragam sudut pandang seperti instalasi, seni rupa dan teater. Karya yang meraih dukungan Hibah Seni Kelola 2007 ini menjadi karya yang paling berkesan bagi Enno, karena tampil pada pertunjukan tunggal perdananya. Bahkan, ia mendapatkan undangan pentas dan diskusi di berbagai tempat berkat karya ini, di antaranya beberapa kota Italia, Belanda dan Belgia. Enno yang karyanya banyak berpijak pada keseharian kembali mendapatkan Hibah Seni Kelola 2019, untuk karya yang berjudul “Waktu Lingkar”. Karya-karya Enno diantaranya: WAKTU LINGKAR (2019), SELAPAN (2018), KANAN DAN KIRI (2018), API (2018), ROMAN (2016), GARBA (2016), LABIRIN (2015), PAGI YANG DIPUNGUT (2013), KLISE (2011), RUANG DALAM TUBUH (2010), TUBUH BISU (2009), SAMPARAN MOVING SPACE (2007), KUMARI (2006), NAFAS (2004), PISAU (2000).

Tentang Kelola

Keanekaragaman seni dan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang tak ternilai dan dikagumi di seluruh dunia. Kreativitas anak bangsa yang menciptakan inovasi yang membanggakan perlu terus dipupuk dan didukung oleh kita semua. Sebagai organisasi nirlaba berjangkauan nasional, Kelola memberi perhatian khusus agar generasi ke generasi seni dan budaya Indonesia terus hidup dan berdaya saing di dunia internasional. Didirikan pada 1999, Kelola menyediakan peluang belajar, pendanaan dan informasi. Kelola juga mewujudkan pertukaran budaya dengan menjalin kerjasama antar pelaku seni untuk berdialog, berbagi ketrampilan serta pengetahuan, dan membangun jejaring kerja dengan masyarakat seni dan budaya nasional maupun internasional. Program-program Kelola disusun sebagai tanggapan terhadap berbagai kebutuhan dan permasalahan yang diungkapkan oleh masyarakat seni visual, tari, musik dan teater Indonesia. Bila kebutuhan masyarakat-masyarakat seni dan budaya bergeser dan berubah, program Kelola pun akan ikut berubah. Program-program Kelola dimungkinkan berkat kemitraan dengan HIVOS, The Ford Foundation, The Asian Cultural Council, The Asialink Centre, Biyan Wanaatmadja, First State Investments Indonesia, donatur perorangan, dan berbagai organisasi seni budaya Sejak 1999, Kelola telah mendukung lebih dari 3500 seniman dan pekerja seni Indonesia untuk berkarya, mengembangkan kapasitas, dan memperluas jaringan mereka di bidang tari, musik, teater, dan seni visual.

ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.

Studio Plesungan adalah ruang nir-laba yang didirikan oleh Melati Suryodarmo pada tahun 2012 di Desa Plesungan, Karanganyar. Studio Plesungan merupakan ruang terorganisir yang menyediakan kesempatan untuk riset, proses kreatif, presentasi karya khususnya seni performan, seni rupa dan seni pertunjukan lainnya. Studio Plesungan menyediakan ruang-ruangnya untuk program workshop, kuliah terbuka, pengkajian, diskusi umum dan artist in residence. Studio Plesungan berpihak pada prinsip pengolahan kedaulatan ilmu dan ekonomi para pelaku kesenian serta peningkatan sumber daya manusia terutama di bidang penciptaan dan produk pengetahuan.

__________________________________________________

Workshop Series

Butoh

with Yuliana M. Orduño (Mexico)

Saturday, 3 August 2019

10:00 AM – 13:00PM

FREE !!!

Studio Plesungan

Desa Plesungan RT03 RW02

Plesungan , Gondangrejo

Karanganyar 57181

Contact: 082223289788

Workshop ini akan menitikberatkan pada prinsip-prinsip gerak dan pemikiran dalam Butoh. Pelatihan yang akan diberikan terdiri dari beberapa teknik berdasarkan teknik tubuh dari Noguchi, Body Weather, Linklater dan lainnya, yang bertujuan untuk membangkitkan kondisi relaksasi dan kesadaran tuppbuh. Melalui bimbingan khusus, peserta akan diajak mendalami proses menciptakan “imaji-imaji tubuh” dan gerakan dalam Butoh, seperti sensasi menggantung, tubuh yang kosong dan digerakkan.

Yuliana belajar Sejarah dan Teater di Faculty of Philosophy and Letters of the National Autonomous di University of Mexico (UNAM). Menjadi asisten professor pada Corporal Expression and Art Virreinal History di Department of Dramatic Literature and Theater UNAM dan researcher assistant di Institute of Bibliographical Research (IIB, UNAM).

Dia berkolaborasi dengan Scenic Laboratory Dance Theater Ritual (LEDTR) dalam produksi, promosi dan koordinasi akademik untuk banyak workshop dan pertunjukan dengan seniman Butoh nasional dan internasional, serta produksi lainnya di laboratorium tari dan teater tersebut.

Pendekatan pertamanya dalam gerak tubuh adalah melalui tarian Butoh, kemudian dengan tarian India dan tarian Jawa.

Ketertarikannya pada tari sebagai gerakan primordial atau primal, gerakan asli tubuh yang bentuknya muncul melalui hubungan dengan alam dan konteks di mana ia berkembang.

Berkat beasiswa Darmasiswa, saat ini ia mempelajari prinsip-prinsip gerakan tubuh dalam tarian klasik Jawa.

Yuliana memulai pelatihannya dalam tarian Butoh bersama Eugenia Vargas, direktur LEDTR, pada tahun 2008. Pada tahun 2015 ia bergabung dengan sebuah company dan belajar dengan Hiroko & Koichi Tamano, Makiko Tominaga, Yukio Waguri, Taketeru Kudo, Teresa Carlos, Espartaco Martínez, diantara yang lain.

ON STAGE

5 JULI 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

PEMESANAN TIKET
Via WA/SMS : 082223289788
EMAIL : info@studioplesungan.org

On the Spot
Catergory A Umum : 25.000 IDR
Category B Pelajar/Mahasiswa: 20.000 IDR

Early Booking
Category C Umum: 20.000 IDR
Catergory D Pelajar dan Mahasiswa: 15.000 IDR

www.studioplesungan.org

ON STAGE
menghadirkan karya tari
Muslimin Bagus Pranowo,

Hari/Tanggal: Jumat, tanggal 5 Juli 2019
Pukul: 19:30 WIB
Tempat: di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Bersama dua karya pilihan yang berjudul “GALLERY” dan “SAYA ATAU AKU ?”. Kedua karya ini merupakan karya Muslimin yang mewakili karakteristik kekaryaannya.
Usai sajian dua pertunjukan tersebut, akan dibuka sesi Artist Talk yang dipandu oleh Joned Suryatmoko.ON STAGE adalah program rutin Studio Plesungan yang menampilkan karya seni pertunjukan setiap dua bulan sekali di teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. ON STAGE diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya-karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik bersama seniman. “On Stage” dirancang juga untuk meningkatkan silaturahmi antar pekerja seni mandiri dan khalayak seni yang lebih luas.Tentang Muslimin Bagus Pranowo
Seniman tari yang lahir di Solo pada tahun 1982, telah mulai belajar menari dari sejak kecil dari ibunya dan mengikuti pelatihan tari Jawa di sanggar sejak usia lima tahun. Ketertarikannya dan bakatnya di dunia tari mendorong Muslimin untuk masuk ke jenjang pendidikan sekolah menengah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Surakarta (SMKI) dan melanjutkan ke jenjang pendidi- kan Tinggi di Institut Seni Indonesia Surakarta. Selain aktif sebagai guru dan pelatih tari; Muslimin melanjutkan proses kreatifnya dengan menciptakan beberapa karyanya dan terlibat aktif dalam proses karya kolaboratif dengan seniman lain. Karya-karya tari Muslimin antara lain “IM MIX”, “FIVE, SIX, SEVEN, EIGHT”, “KAMAR no 9”, “SAYA ATAU AKU?”, “TEMBUNG TEMBANG”, “WANITA, WANITA dan PEREMPUAN”, “GALLERY”, “DI MEJA; serta drama musikal “HINAMAT- SURI” dan “SAYA INDONESIA”.
__________________________________________________

ON STAGE

April 28, 2019

Teater Arena

Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta

Hari Ghulur

White Stone

ON STAGE #1 menampilkan karya Hari Ghulur yang berjudul WHITE STONE. Karya ini merupakan pertunjukan laboratorium tari yang dicapai melalui metode impresif dan emosional dengan teknik Gaga yang berbasis gerak Pencak Silat Pamor Madura.

Kerasnya karakter masyarakat Madura menjadi ide gagasan penciptaan. Letak geografis yang sangat gersang dengan bukit bebatuan terjal dan kering. Tanah yang hanya dapat ditanami singkong, ubi, jagung merupakan hasil bumi utama yang menjadi konsumsi setiap hari. Karakteristik masyarakat madura yang keras dipengaruhi dari bagaimana mereka bersosialisasi. Sejak kecil (utamanya laki-laki) belajar pencak silat sebagai basic pengendalian dan perlindungan diri karena notabene masyarakat madura pergi merantau. Ini yang sering disalah artikan dengan kekerasan fisik (carok). Seiring perkembangan zaman, kini mengalami penggeseran makna menjadi hal yang positif membangun citra masyarakat Madura dengan kerja keras tanpa mengenal lelah terus mengejar pendidikan sehingga prestasi itu mengubah pola fikir masyarakat Madura menjadi lebih fleksibel, luas dan inovatif.

ON STAGE akan diselenggarakan untuk pertama kalinya pada hari Minggu tanggal 28 April 2019 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah dengan mengundang Moh. Hariyanto atau biasa dipanggil Hari Ghulur, seniman tari asal Madura yang saat ini berdomisili di Surabaya.

Hari Ghulur menekuni dunia tari sejak studi di jurusan Sendratasik UNESA dan melanjutkan ke Penciptaan Seni ISI Surakarta. Juli 2018 lalu hari mengikuti International Choreography Residency (ICR) American Dance Festival di Durham, North Carolina, Amerika Serikat. Melalui ICR, pengalaman ketubuhan hari mendapat banyak pengetahuan dan experience yang mendorong hari untuk segera menciptakan karya baru. Selama ICR di ADF, Hari menciptakan karya solo berjudul “SILA” dan saat ini sedang mengerjakan laboratorium tari yang diberi judul “WHITE STONE”

Sebelumnya, hari telah menciptakan beberapa karya tari diantaranya “Ghulur” dipentaskan di Bozar Studio, Brussels Belgia dalam Festival Europalia tahun 2017, Festival Salihara Jakarta 2017, M1Contact Southeast Asian Choreographer Singapore 2016,Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta 2015, Indonesian Dance Festival 2014. Karya Hari yang lain juga pernah dipentaskan di China, Malaysia. Hari kerap mengikuti residency diantaranya Residancy Europalia Festival di belgia selama 1 bulan, Residency di Kaki Seni Art Exchange di Kuala Lumpur Malaysia selama 20 hari, Choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta dan Residency Indonesian Dance Festival. Saat ini Hari menjadi dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan prodi tari Univ Negeri Malang. Hari mendirikan Sawung Dance Studio dan bersama timnya terus melakukan eksperimen dan disiplin proses kreatif untuk melahirkan karya karya inovatif.

CONTACT IMPROVISATION WORKSHOP

DON’T MISS IT !!

WORKSHOP SERIES

CONTACT IMPROVISATION

with

BEN SUNARJO

SUNDAY/ Minggu, 10 March 2019

14:00 – 17:00 PM

at Studio Plesungan

FREE ! GRATIS !

Benjamin has been practicing contact improvisation for almost 10 years, using it as a core part of his artistic practice. He originally studied with Rick Nodine, Adrian Russi, and Caroline Waters. He takes a functional approach to teaching, developing a sense of applied biomechanics in order to stay oriented in the constantly changing field of gravity.

Benjamin Sunarjo telah melakukan contact improvisation selama hampir 10 tahun, dan menggunakannya sebagai bagian inti dari praktik seninya. Pada awal karirnya Benajmin  belajar dengan Rick Nodine, Adrian Russi, dan Caroline Waters. Dia mengambil pendekatan fungsional untuk mengajar, mengembangkan rasa biomekanik terapan agar tetap berorientasi di bidang gravitasi yang terus berubah.

DANCE IN ASIA”    Dance Laboratory Project #3 

D-LAP #3 is hosting a collective initiative project which is called DANCE IN ASIA. The first Dance in Asia was held in Osaka, Japan in February 2018, and the second one was held in May 2018 in Taipei, Taiwan. It is a collaboration among Century Contemporary Dance Company (CCDC) Taipei, Taiwan; Js Wong Dance Company, Kuala Lumpur, Malaysia; NIBROLL Dance Company, Tokyo, Japan and Studio Plesungan, Karanganyar, Indonesia.

D-Lap #3 is a third platform for the collective which should create a kind of blue print for the continuation of the collective projects. It is planned to take place in four countries: Indonesia, Malaysia, Taiwan and Japan.