Artist in Residence

Workshop membuat kertas dan melukis “Tangan: A Handmade Paper + Painting” oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba

Workshop Series

Tangan: A Handmade Paper + Painting
oleh Ben John Albino and Rachel Anne Lacaba

Senin, 28 July 2025
Jam : 14:00 – 18:00
di Studio Plesungan

Workshop ini berfokus pada penggunaan bahan daur ulang dan alat-alat sederhana yang mudah ditemukan untuk membuat kertas menjadi lebih mudah diakses dan berkelanjutan. Workshop ini merespons kebutuhan yang semakin besar untuk mendaur ulang banyaknya kertas yang dibuang, sebuah sumber daya yang melimpah namun sering diabaikan. Dengan menjaga proses untuk tetap sederhana, workshop ini memudahkan peserta untuk belajar dan terlibat, sekaligus menunjukkan bagaimana tindakan kreatif kecil dapat berkontribusi pada cara hidup yang lebih ramah lingkungan.

Program ini diselenggarakan sebagai bagian dari keterlibatan Ben Albino dan Rachel Anne Lacaba dalam Artist-In-Residence oleh Studio Plesungan dari 17 – 29 Juli 2025.

Workshop ini terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang

Donasi workshop: Rp. 20.000 (akan digunakan untuk penyediaan alat dan bahan-bahan workshop)

Pendaftaran melalui pranala berikut:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8

Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
Whatsapp : +62 821-3322-9593

_________________________________________

This workshop focuses on using recycled materials and simple, easily accessible tools to make papermaking more approachable and sustainable. It responds to the growing need to recycle the large amount of paper waste—an abundant yet often overlooked resource. By keeping the process simple, the workshop enables participants to learn and engage easily, while also demonstrating how small creative actions can contribute to a more environmentally conscious way of living.

This program is presented as part of Ben Albino and Rachel Anne Lacaba’s participation in the Artist-in-Residence program at Studio Plesungan, running from 17 to 29 July 2025.

The workshop is open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.

Workshop Donation: Rp. 20,000
(This contribution will support the provision of tools and materials)

Register via the following link:
https://forms.gle/RYwUtJgeqsH12spd8

For more information, contact us via WhatsApp:
+62 821-3322-9593

Studio Plesungan
Desa Plesungan RT03 RW02
Plesungan, Gondangrejo
Karanganyar 57181

info@studioplesungan.org
www.studioplesungan.org

Workshop Tari di Studio Plesungan: “It needs two to solo” oleh Chun Han

Workshop Series

Artist In Transit

Studio Plesungan

“It needs two to solo”
oleh Chun Han

Sabtu, 19 July 2025

14:30 – 18:00 WIB

Di Studio Plesungan

Dalam sesi workshop ini, Chun-Han akan menilik kembali latar belakang dan beberapa proses penciptaan karya tari yang pernah ia kerjakan sebelumnya. Ia juga akan membagikan beberapa praktik fisik dan teknik, mempertemukan berbagai praktik gerak dan tari, juga dengan praktik bela diri wushu. “Tarian tunggal itu tidak ada; penari menari bersama dengan lantai” ujar Steve Paxton, prakarsa praktik gerak contact improvisation, di dalam artikelnya “Drafting Interior Techniques”. Melihat dari sudut pandang ini, Chun-Han mengajak untuk bersama-sama menyusuri konsep kehadiran di panggung, hubungan antar penampil, cara memperhatikan, dan bergerak dengan pasangan yang tak terlihat.

Chen Chun-Han tumbuh di tengah  komunitas teater dan tari. Ia tertarik untuk memperhatikan percakapan dan kemauan orang-orang untuk bercakap. Praktiknya saat ini sebagian besar membahas isu-isu identitas budaya dan rasa memiliki. Chen Chun-Han sangat terkesan dengan dinamika wacana, pengalaman, dan emosi: George Orwell memilih “He loves Big Brother”, sebuah kalimat cinta, untuk mengakhiri novel distopia “1984”.

Workshop ini gratis dan terbuka untuk umum dari segala usia dan latar belakang

_________________________

Workshop with Chen Chun-Han

In this workshop session, Chun-Han will revisit the background and creative processes behind several of his past choreographic works. He will also share physical practices and techniques that intersect various movement and dance forms, including elements from the martial art of Wushu.

“There is no such thing as a solo dance; the dancer dances with the floor,” wrote Steve Paxton, the originator of Contact Improvisation, in his article Drafting Interior Techniques. From this perspective, Chun-Han invites participants to explore the concept of presence on stage, the relationship between performers, the art of attention, and moving with an invisible partner.

Chen Chun-Han was raised in a community of theatre and dance. He is drawn to observing how people engage in conversation and their willingness to communicate. His current practice largely explores themes of cultural identity and belonging. Chun-Han is deeply moved by the interplay of discourse, lived experience, and emotion—much like how George Orwell chose the phrase “He loves Big Brother”, a declaration of love, to close his dystopian novel 1984.

This workshop is free and open to the public, welcoming participants of all ages and backgrounds.

Pendaftaran melalui pranala berikut:

https://forms.gle/y8Yeeg73eneCQZ7t8

Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:

Whatsapp : +62 821-3322-9593

info@studioplesungan.org

www.studioplesungan.org

Artist In Residence “Open House” Razan Wirjosandjojo and Nicholas Tee

ARTIST IN RESIDENCE

OPEN HOUSE

RAZAN WIRJOSANDJOJO (INDONESIA) DAN NICHOLAS TEE (SINGAPORE)

“You will not feel this way forever (加油)” oleh Nicholas Tee
Performance Art berdurasi panjang
2 Maret 2023
04:00– 18:00 (14 Jam)

“Open House” oleh Razan Wirjosandjojo dan Nicholas Tee
Kunjungan ke rumah Kabin Kayu
4 Maret 2023
15:00 – 18:00 (3 jam)

Dimulai sebagai ‘kencan buta seniman/ artist blind date’, residensi ini menjadi kesempatan untuk memulai hubungan artistik antara Razan Wirjosandjojo dan Nicholas Tee. Selama dua minggu, Razan dan Nick bekerja di ‘Kabin Kayu’ – akomodasi untuk seniman residensi – baik sebagai ruang maupun subjek, memperlakukannya sebagai co-performer dalam proses artistik mereka. Penelusuran ini berfokus pada demokratisasi hubungan komunal antara manusia dan benda-non-gerak, menempati ruang yang tidak diketahui dengan kepekaan untuk saling mendengarkan satu sama lain.

Pada saat yang sama, Razan dan Nick melakukan serangkaian penelitian paralel yang diperluas dari pengertian “rumah”, berangkat oleh keingintahuan yang sama terhadap musik pesta rumahan (house dance music) di Indonesia (Dangdut, Funkot, Orgen Tunggal Palembang), juga pada ragam kebiasaan pindah rumah di Indonesia.

Residensi yang berlanngsung dari tanggal 18 Februari hingga 5 Maret 2023 ini merupakan program kerjasama antara Studio Plesungan dengan Dance Nucleus Singapore.

Initially set up as a ‘artists blind date’, this residency has been going as an opportunity to knit a new artistic relationship between Razan Wirjosandjojo and Nicholas Tee. Since the last two weeks, Razan and Nick have been working with ‘Kabin Kayu’ – the artist residency accommodation – as both the site and subject of our research, treating it as a co-performer in the artistic process. The research has focused on democratizing the communal relationship between human and inanimate object(s), occupying the unknown space through a process of sensitive listening to each other.

During the same time, Razan and Nick pursue parallel strands of research expanded from the notion of “house”, guided by our common curiosity in Indonesian house dance music (e.g Dangdut, Funkot, OT Palembang) and several tradition of house moving in Indonesia.

This residency program which has happened from February  18th to March 5th 2023 is a collaboration project   between Studio Plesungan and Dance Nucleus Singapore.

“You will not feel this way forever (加油)” oleh Nicholas Tee

Performance Art

Rabu,1 Maret  s/d  Kamis, 2 Maret 2023

10:00– 10:00 (24 Jam)

Esai Albert Camus ‘The Myth of Sisyphus’ Nick merenungkan absurditas Sisyphus yang terus menerus mengulangi aksi mendorong batu besar ke atas gunung hanya untuk melihatnya menggelinding lagi dan menyimpulkan bahwa “Perjuangan itu sendiri […] cukup untuk mengisii hati manusia. Orang harus membayangkan Sisyphus bahagia”.

Sepanjang pertunjukan durasi ini, rekaman suara diputar berulang-ulang – di satu sisi, suara seniman mengucapkan kata-kata “You will not this way forever” – berfungsi sebagai pengingat penuh harapan dan peringatan fatalistik, sementara di sisi lain, suara yang sama berteriak “加油! / Jiayou!” – frase Cina yang sering digunakan sebagai seruan untuk menyemangati orang lain yang juga diterjemahkan secara harfiah menjadi ‘tambahkan minyak’ – diwujudkan di sini sebagai tindakan Sisipusan saat Nicholas menuangkan minyak dari ember ke ember dalam pengulangan tanpa akhir.

In Albert Camus’ essay ’The Myth of Sisyphus’ he ponders the absurdity of Sisyphus forever repeating the task of pushing a boulder up a mountain only to see it roll down again and concludes that “The struggle itself […] is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy”. 

Throughout this durational performance, a sound recording plays on loop – on one side, the artist’s voice utters the words “YOU WILL NOT FEEL THIS WAY FOREVER” – serving as both a hopeful reminder and a fatalistic warning, while on the other side, the same voice yells “加油!” – a Chinese phrase often used as a rallying cheer to encourage others that also translates literally to ‘add oil’ – embodied here as Sisyphean action as he pours oil from bucket to bucket in endless repetition.

 

Open House oleh Razan Wirjosandjojo dan Nicholas Tee

Sabtu, 4 Maret 2023

15:00 – 18:00 (3 jam)

Para tamu secara bergiliran akan diajak untuk mengunjungi Kabin Kayu, sebuah rumah di mana proses kolaborasi antara Razan dan Nicholas berlangsung selama dua minggu terakhir.  Kabin Kayu merupakan rumah yang menjadi akomodasi Nicholas selama residensi dan sekaligus mereka jadikan tempat  tumbuhnya dialog dan gagasan-gagasan artistik dari kolaborasi ini.

Nicholas and Razan will take a small tour to visit  the Kabin Kayu, a wooden house where their collaboration process has been going on for the past two weeks. The Kabin Kayu was the accommodation house for Nicholas during his residency and at the same time it is a place where dialogues and artistic ideas of this collaboration were developed.

 

Tentang Seniman Residensi 

Razan Wirjosandjojo adalah seniman yang saat ini tinggal di Solo, Indonesia. Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Seni Tari, Institut Seni Indonesia Surakarta. Razan memulai praktik seni tarinya sejak tahun 2010, dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu dari berbagai ruang dan komunitas di Jakarta hingga tahun 2017. Setelah hijrah ke Solo, ia belajar seni tari, performans, dan seni rupa dengan Melati Suryodarmo sejak tahun 2018 hingga sekarang. Pengalaman ini telah memperluas perspektif kritis Dallam praktik artistiknya, yang diaplikasikan pada karya pertunjukan dan film. Beberapa karyanya pernah dipresentasikan di On Stage (Solo, 2021) Imajitari Dance Film Festival (Jakarta, 2021), Galeri Nasional (Jakarta, 2022), Indonesia Bertutur (Borobudur, 2022) STRE@M (Singapore/Korea, 2022) , dan lainnya. Saat ini, Razan adalah murid dan staf paruh waktu di Studio Plesungan.

Nicholas Tee adalah seniman performans yang bekerja di antara Singapura & Melbourne. Ia menggabungkan aksi, gambar, suara, dan materi melalui penampilan, durasi, dan daya tahan berbasis tubuh. Karya Nicholas telah dipresentasikan secara internasional, terutama di Haus der Kunst (DE), Manchester Art Gallery (UK), ICA London (UK) dan Point Centre for Contemporary Art (CY). Pada 2019, karya mereka ditampilkan dalam jurnal British Art Studies yang diterbitkan oleh Paul Mellon Centre. Nicholas saat ini adalah Associate Artist dari Dance Nucleus (Singapura).

About the Artists

Razan Wirjosandjojo is an artist currently living in Solo, Indonesia.  He completed his studies at the Dance Department, Institut Seni Indonesia Surakarta. Razan started his artistic practice in dance since 2010, by learning various disciplines from different space and communities in Jakarta until 2017. After he moved to Solo, he has been learning dance, performance, and visual art with Melati Suryodarmo from 2018 until now. This experience has been expanding the critical perspective of his artistic practice on performance and film work. Some of his work has been presented in On Stage (Solo, 2021) Imajitari Dance Film Festival (Jakarta, 2021), Galeri Nasional (Jakarta, 2022), Indonesia Bertutur (Borobudur, 2022) STRE@M (Singapore/Korea, 2022), and more. Now Razan is an active student and part-time staff of Studio Plesungan.

Nicholas Tee is a live artist working between Singapore & Melbourne who collages action, image, sound and material through body-based performance, duration and endurance. Nicholas’ work has been presented internationally, notably at Haus der Kunst (DE), Manchester Art Gallery (UK), ICA London (UK) and Point Centre for Contemporary Art (CY). In 2019, their work was featured in the British Art Studies journal published by the Paul Mellon Centre. Nicholas is currently an Associate Artist of Dance Nucleus (Singapore).

Maoyi Qiu bicara tentang Soma Teknologi dan Pantauan Data Sonik dan Ekosistem Queer

 

Studio Plesungan
BINCANG SENIMAN
oleh Maoyi Qiu

Minggu, 19.02.2023
13.00 WIB
Studio Plesungan
(Desa Plesungan RT03/RW02, Plesungan Gondangrejo, Karanganyar 57181)

Bincang Seniman kali ini akan menyajikan kuliah umum berisikan materi visual, babak sonik, plot, dan anekdot dari praktik artistik dan aktivisme Maoyi Qiu. Ia akan membahas penelitian lintas geopolitik dan ruang waktu dan penelitiannya saat ini seputar soma-teknologi dan pantauan-data sonik.

Maoyi Qiu adalah seniman visual, suara, dan performans. Praktiknya melibatkan media suara, video, instalasi, dan pertunjukan. Ia fokus pada pembahasan yang berkaitan dengan praktik kritis spasial dan soma-teknologi. Penelitian mereka mencakup praktik somatik feminis, pantauan data sonik, dan hubungan antara sistem pengawasan dan tubuh.

Maoyi Qiu memperoleh gelar Master untuk Art Praxis dari Dutch Art Institute pada tahun 2022, dan anggota pendiri dari kolektif feminis queer “Q-Space” (2016-…..) di Beijing, Cina. Pada tahun 2022, ia menjadi anggota kolektif Soupspoon yang berbasis di Rotterdam, ia bersama anggota kolektif memulai kelompok kerja jangka panjang dalam penelitian yang mengolah ruang bersama berkontekstual Asia. Saat ini, Maoyi adalah residen di ruang seni independen Rotterdam selatan Available & the Rat.

Bincang Seniman ini dapat dihadiri secara gratis (tidak menarik biaya)

Kontak:
+62 821-3322-9593 (Achri)